pancasona

pancasona
48. Makan siang di desa


__ADS_3

Rea menyentuh tengkuknya tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding. Obrolan itu terasa sangat sensitif baginya. Namun semuanya kembali menghangat karena suguhan teh hangat dan pisang goreng mulai berikan oleh Ibu Kepala Desa. Mereka pun melupakan  kisah mengenai Amon dan hutan tersebut.


"Tapi Kalau kami dilarang masuk lagi ke hutan itu, kami harus lewat mana untuk bisa pulang Pak?"


"Ada hutan lain yang ada di sisi Selatan Desa ini. Kalian bisa melewatinya untuk bisa sampai ke kota. Tidak jauh dari hutan itu akan ditemukan Jalan Raya."


"Oh syukurlah kalau begitu. Akhir nya kita bisa pulang, gaes," ucap Hani semangat.


"Terus gimana kita jadi pulang jam berapa nih?" tanya Apri yang tidak sabaran.


"Eh, maaf, kalau saya lancang memotong pembicaraan kalian. Sebaiknya kalian jangan pergi hari ini. Karena ini adalah malam satu suro. Ada pantangan yang tidak membolehkan ada manusia yang berkeliaran di hutan dan tempat-tempat yang jauh lainnya. Sebaiknya Kalian pergi besok pagi saja. Malam ini menginap saja di desa kami. Apalagi saya Lihat kondisi kalian masih sangat kelelahan setelah perjalanan panjang kemarin bukan?"


Tawaran dari kepala desa tidak langsung di iyakan  oleh mereka. Mereka kembali berdiskusi untuk menentukan langkah selanjutnya.


"Eum baiklah, Pak. Tapi apakah kami tidak merepotkan? Kami tidur di tenda kami saja yang ada di dekat rumah Pak Warto tadi. Toh, tenda Itu juga sudah berdiri tegak di sana." perkataan Dana memang ada benarnya.


"Jangan begitu mas mbak. Tidak enak jika tidur di tenda. Apalagi kalau nanti malam turun hujan. Sebaiknya kalian tidur di rumah Mbok Darsih yang ada di sebelah rumah saya ini," Tunjuk kepala desa ke samping rumahnya.


Mereka semua saling tatap dengan ragu-ragu. Tentu saja rencana itu seakan-akan memberatkan mereka.

__ADS_1


Mereka tentu tidak nyaman jika harus menginap di rumah orang lain yang sama sekali tidak mereka kenal. Apalagi kondisinya mereka datang 9 orang. Jumlah yang tidak biasa untuk sebuah regu tersesat di hutan. Mereka Paham kalau rumah rumah di desa tidak memiliki kamar yang cukup untuk bisa menampung mereka semua. Itu sebabnya mereka lebih memilih tidur di dalam tenda saja.


" Pak Kades maaf, Bukannya kami menolak Maksud baik dari bapak. Tapi kami pikir akan sangat merepotkan jika kami harus tinggal di rumah salah satu warga desa ini. Jadi kami putuskan kalau kami akan tidur di tenda saja seperti sebelumnya. Hanya saja tenda akan kami pindah ke dekat rumah Pak Kades. Jadi kami akan tetap terpantau oleh Bapak dan juga warga desa yang lain," jelas dana yang membuat Pak Kades diam beberapa saat. Namun akhirnya Pak Kades pun mengangguk dengan senyum tipis di bibirnya.


"Baiklah kalau itu mau kalian. Saya tidak akan memaksa. Begitupun juga tidak masalah. tapi tawaran saya tidak akan berubah, Jika sewaktu-waktu kalian ingin pindah ke dalam rumah, Silakan masuk saja. Karena kebetulan rumah itu memang kosong."


"Loh kok kosong, Pak. Saya pikir ada penghuninya. Bu ... Siapa tadi ya?" tanya Hana.


" yang rumah itu memang milik Bu Darsih. Tapi Bu Darsih itu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jadi rumah itu kosong. Hanya saja memang rumah itu sering kami pakai untuk kegiatan-kegiatan lain. Saya hanya cemas jika nanti malam turun hujan lebat."


"Begitu ya pak. Terima kasih atas tawarannya. Nanti malam jika memang hujan lebat dan kami butuh tempat untuk beristirahat dengan layak, Maka kami akan pindah ke rumah Bu Darsih itu," jelas Dana tanpa berdiskusi lagi dengan yang lain.


Tanpa terasa kegiatan mereka hari ini tampak lebih menyenangkan. Tawa tercipta di antara mereka semua. Tanpa terasa hari sudah siang. Mereka juga sudah membuat makanan yang dimasak sendiri.


Tapi tiba-tiba Ibu Kepala Desa keluar dengan sebuah nampan yang diduga berisi makanan. " Silakan dimakan untuk makan Siang kalian," ucap Bu kepala desa ramah.


" waduh Bu. Kok jadi merepotkan. Kami padahal sudah membuat makan siang sendiri Bu. Kebetulan persediaan bekal kami masih banyak," jelas Rea yang saat itu sedang menggoreng tempe.


" Tidak apa-apa kok Mbak. Kalian juga bisa makan ini, supaya kalian semakin kenyang."

__ADS_1


Rea mnerima nampan itu lalu diteruskan ke Leni yang duduk di sampingnya.


"Di sini enggak ada anak kecil ya, Bu?" tanya Rea basa-basi sambil memperhatikan sekitar.


" Ya sudah saya permisi masuk dulu Silakan dimakan," kata bu kepala desa sambil melirik tajam.


Hal ini tentu membuat Rea sedikit kebingungan. Dia tidak tahu kalau pertanyaan barusan membuat bu kepala desa menjadi sinis padanya. Padahal apa yang Rea tanyakan adalah sesuatu yang wajar. Saat masuk ke dalam rumah pun, kepala desa Masih melirik Rea dengan Tatapan yang sinis


"Kenapa, ya?" gumam Rea berbicara sendiri. Padahal apa yang ditanyakan Rea memang sesuatu yang sejak tadi menggelitik hatinya. Karena sejak mereka masuk ke desa itu tidak ada satupun anak kecil yang terlihat. Hal itu tentu aneh.


Dia pun tidak terlalu mengambil pusing dengan kejadian tersebut dan kembali berkutat dengan masakannya. Setelah masakan matang, mereka berencana akan makan bersama-sama. Sebuah tikar digelar di antara tenda pria dan tenda wanita. Aneka masakan sudah terjadi tersaji di sana. Rea dan para gadis memang sengaja memasak banyak makanan.


Saat makanan dari Ibu Kepala Desa dibuka, Rea sedikit bergidik, karena dia tidak terlalu menyukai masakan tersebut. Terong dengan bumbu balado bagi Rea adalah masakan yang sangat buruk. Seenak Apapun makanannya itu tidak akan pernah Rea sentuh.


Rupanya tidak hanya Rea saja yang tidak menyukai masakan dari ibu Kades.


"pedes banget," bisik Hani sambil memuntahkan makanan tersebut. Dia membuang sisa makanan itu dengan menyembunyikannya di dalam tanah. Tujuannya agar Bu kades tidak tersinggung karena Hani tidak akan menyentuh makanan darinya. Beberapa teman yang lain pun merasakan hal yang sama.


Akhirnya acara makan Siang pun telah usai. untuk mengisi waktu luang, Mereka pun berbaur dengan masyarakat yang ada di desa tersebut. Hanya Rea dan Leni saja yang tinggal di dalam tenda. Mereka sedang mendiskusikan hal Serius dan penting. Sehingga mereka tidak ikut teman-teman yang lain untuk mengelilingi desa.

__ADS_1


Sampai akhirnya rea menatap sisi lain desa dengan tatapan aneh. Rea akhirnya melihat ada satu sosok anak kecil yang sedang bersembunyi. Dia sedang mengintip Rea dan Leni yang duduk di depan tenda


__ADS_2