
Semua orang sudah berkumpul di pinggir danau. Memperhatikan lekat lekat ke arah pusaran air yang awalnya terlihat kencang, namun kini sudah kembali tenang. Di sisi lain danau ada sebuah keluarga yang masih histeris menunjuk ke dalam air tersebut. Nayla memutuskan mendekat, dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Anak saya! Terseret arus danau!" kata ibu dengan rambut blonde. Ia terlihat sangat terpukul dan bersedih.
"Terseret?" tanya Nayla mengulangi perkataan tadi. Pria dengan kepala botak yang sejak tadi berdiri di samping wanita itu, lantas menjelaskan perihal naas yang menimpa putra mereka.
Tak lama, sebuah mobil polisi dan ambulance datang. Mereka pun mulai menyusuri danau di malam hari ini. Semua anggota polisi berpencar dengan perahu kecil yang biasa dipakai wisatawan memutari danau untuk mencari anak dari pasangan suami istri yang tinggal tak jauh dari home stay mereka.
Nayla mengajak yang lain ikut bergabung. Ia merasa ada hal aneh di danau tersebut. Desas desus mulai terdengar, kalau ada hewan air yang berbahaya. Hal itu membuat beberapa pengunjung ketakutan. Sebagian dari mereka masih penasaran dan tetap tinggal di sekitar danau. Sebagian lainnya memilih kembali ke penginapan mereka.
Sebuah mobil datang, pengemudinya lantas segera keluar dan menghampiri petugas polisi yang ada di sana. Seorang pria berumur sekitar 50 tahunan itu memakai sweater abu abu. Menatap ke tengah danau dengan tatapan nanar sambil terus mengangguk mendengar penjelasan polisi tersebut. Ia lantas menghampiri kedua orang tua korban.
"Maaf, perkenalkan, saya pemilik home stay ini. Saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa putra bapak dan ibu," katanya dengan raut wajah bersedih. Ia terlihat merasa bersalah dengan wajah yang ketakutan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Pak? Ada apa di danau itu?!" tanya sang ibu sambil menunjuk ke tengah danau. "Kenapa anak saya bisa terseret hingga ke tengah danau sana! Padahal air di sini semuanya tenang! Lihat, kan? Pasti ada hewan buas di dalam sana!" rengek wanita itu, sambil mencengkeram sweater yang dipakai pria tersebut. Ia hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Menatap ke arah danau dengan tatapan kosong.
Polisi mulai menertibkan para pengunjung agar kembali ke penginapan masing masing. Penyisiran terus dilakukan walau semua terasa percuma. Kedalaman danau yang memang cukup dalam di tengah, membuat mereka sulit menemukan tubuh korban tenggelam itu. Dan akhirnya, pencarian dihentikan karena semua anggota yang bertugas juga sudah kelelahan.
Korban dinyatakan meninggal karena waktu dia hilang sudah cukup lama. Dan tidak ada satu pun manusia yang bisa bertahan di dalam air dalam waktu selama itu.
Wira terus menatap ke arah danau. Di mana kerlap kerlip lampu dari mobil polisi terlihat mencolok. Terlebih suasana di luar memang masih ramai dengan penelusuran yang belum menemukan hasil apa pun. Arya mendekat ke pria tersebut. Ikut melihat keluar jendela, menyingkap korden yang menutupinya.
"Coba kalau aku masih punya kekuatanku, pasti aku bisa menemukan anak itu hanya dalam hitungan detik," gumam Wira tanpa melepas pandangan dari danau di luar. Arya yang mengerti kondisi Wira, lantas tersenyum tipis. "Bukan salahmu, Ra, kalau kekuatanmu hilang. Lagi pula ini sudah takdir Tuhan," tutur Arya dengan bijak.
"Tapi ... bagaimana kita menghadapi masalah kita nanti? Aku yakin kita pasti akan menghadapi masalah berat nanti. Masih 9 kunci lagi, Ya. Dan aku sudah kehilangan kekuatanku!" cetus Wira dengan penuh emosi. Sorot matanya yang menatap ke Arya penuh kemarahan dan keputus asaan.
Tangan Arya menepuk bahu Wira, mencoba untuk menguatkan pria tersebut. Tapi ia justru merasa seperti tersengat aliran listrik. Dan kembali bayangan siluet kejadian masa lalu melintas di ingatannya.
"Ya? Arya?! Kenapa?" panggil Wira yang kini malah mencemaskan keadaan Arya. Arya yang seolah kembali pada kesadarannya, lantas menatap Wira yang sedang menatapnya nanar. "Kenapa?" tanya Wira lagi karena tidak mendapat jawaban apa pun dari pria di depannya itu.
Arya menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Ia merasa terhuyung, hingga membuat Wira makin cemas melihat keadaannya. "Kita duduk dulu," ajak Wira lalu duduk di sofa yang paling dekat dengan jendela. Teman teman mereka yang lain sedang ada di ruang santai karena asyik menonton film kesukaan mereka. Setelah duduk, mereka berdua menoleh ke arah teman teman yang riuh menonton film. Rasanya merupakan kebahagiaan tersendiri saat melihat senyum mengembang di bibir mereka yang ada di sana. Apa yang ada di pikiran Arya tentu sama seperti yang ada di pikiran Wira. Apalagi setelah mereka mengalami kejadian mendebarkan kemarin kemarin, rasanya melihat senyum itu mengembang di antara mereka adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Wira dan Arya. Wira yang merasa bertanggung jawab penuh akan keselamatan mereka tentu merasakan beban berat tersebut setelah kekuatannya hilang.
"Akhir akhir ini aku perhatikan kamu banyak diam, Ya?" tanya Wira serius. Ia menatap ke arah pemuda di dekatnya itu. Arya balik menatap sorot mata tajam Wira.
__ADS_1
"Eum, sebenarnya aku ... aku akhir akhir ini sering mendapat semacam ingatan," jelas Arya agak ragu. Namun justru kalimat itu membuat rasa penasaran besar dari benak Wira. "Ingatan? Maksudnya?" tanya Wira meminta penjelasan lebih detail.
Arya membetulkan posisi duduknya. Ia menatap lagi ke arah teman temannya yang masih sibuk menonton di ruang tengah. Di rumah ini semua ruangan tidak diberi sekat pemisah, dan otomatis semua kegiatan penghuninya akan tampak jelas. Kecuali kamar.
"Beberapa siluet bayangan yang asing buatku, Ra. Tapi ... sekali pun itu nggak jelas, bayangan itu akan tampak jelas kalau itu sebenarnya kalian."
"Kalian? Maksudnya ... aku, Nayla, Abi, Gio? Begitu?" tanya Wira dengan tebakan yang memang tepat sekali. Arya langsung mengangguk semangat, membetulkan perkataan Wira barusan. Wira makin antusias. Ia mendekatkan tubuhnya pada Arya, lalu menoleh ke arah teman temannya. "Jadi kamu sudah ingat semuanya?" tanya Wira berbisik. Namun, Arya justru menggeleng. "Belum semua. Hanya beberapa saja. Terutama ... saat kamu mati dulu. Dan Nayla menangis terus," cetus Arya agak sebal. Wira diam beberapa detik, lalu tertawa keras, membuat teman teman mereka ikut menoleh dan menatap dua pria yang sedang mengobrol berdua itu, aneh. Arya mendesis, dan menyuruh Wira menghentikan tawanya. "Oke, sorry, sorry. Sebentar, jadi kamu cemburu?"
"..."
"Pantesan saja. Kamu agak dingin belakangan ini. Apalagi Nayla akhir akhir ini sering bantu aku, kan? Astaga Arya, sorry. Aku nggak ada maksud apa pun. Beneran," jelas Wira.
"Iya. Tau," sahut Arya ketus. Ia kembali menoleh ke danau yang mulai sepi, karena rupanya beberapa anggota polisi yang tadinya bertugas di sekitar danau, mulai pergi satu persatu. Kasus ini rasanya akan membutuhkan waktu cukup lama dalam menyelidikinya.
"Mungkin, besok pencarian dilanjutkan lagi. Kasihan ibu itu, dia pasti benar benar terpukul," kata Wira yang satu pemikiran dengan Arya sekarang.
Sebuah mobil jeep warna hitam mulai masuk ke jalan aspal di depan rumah mereka. Mobil itu lantas berhenti, dan parkir tak jauh dari rumah penginapan mereka. Dua orang lantas keluar dari dalam mobil itu. Pria dan wanita itu, memakai setelan mewah, mirip seorang penyidik yang biasanya ada di film film yang mereka tonton selama ini. Wira yang mulai merasakan sakit di perutnya, kembali mengelus perban yang baru saja diganti dua jam lalu. Arya masih memperhatikan dua orang yang baru saja datang itu. Mereka tengah berbicara dengan beberapa polisi yang memang masih berjaga di luar. Namun saat salah satu dari mereka menoleh ke rumah penginapan itu, Arya langsung berdiri. Jantungnya terasa berdesir tak karuan. Wira menoleh ke Arya yang terlihat aneh. Lalu ia ikut menatap keluar jendela seperti Arya. Wira lantas melotot saat melihat orang yang ia kenali.
"Apa?!" pekik Wira tidak percaya.
Pintu sudah dibuka lebar, kepergian Wira dan Arya keluar, menarik perhatian teman teman mereka yang ada di dalam. Mereka lantas menyusul hingga sampai ke depan pintu. Semilir angin terasa menusuk tulang. Udara di malam hari ternyata jauh lebih dingin dari sebelumnya. Gio melotot saat ia juga mengenali kedua orang di dekat danau tersebut.
Kaki Gio seolah otomatis mendekat. Bagai magnet yang menemukan kutub yang berlawanan, ia terus mendekat mengikuti jejak kedua temannya itu. Kedua kakinya seolah gemetaran. Telapak tangannya terasa dingin, terutama di ujung ujung jarinya. Gio mengepalkan kedua tangannya di samping. Kedua bola matanya mulai memburam, karena air matanya mulai menggenang di kedua kelopak matanya itu.
"Hans? Jean?" panggil Arya, kedua orang yang ia panggil langsung menoleh dan terkejut saat melihat Arya ada di tempat ini. Hans dan Jean lantas tersenyum menyambut Arya, tapi tiba tiba senyumnya luruh seketika, saat melihat Wira ada di belakang Arya. Tubuh mereka seolah terpaku, tidak bisa bergerak atau bereaksi apa pun. Arya yang merasa sikap kedua saudaranya itu aneh, lantas menoleh ke arah yang mereka tatap. Rupanya Wira yang membuat Hans dan Jean bengong.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Arya saat mereka sudah berdiri berdekatan. Hans yang awalnya masih bengong, lantas menjawab pertanyaan Arya. Tetapi Jean justru langsung berhambur memeluk Wira diiringi tangis yang terisak. Arya tentu terkejut melihat reaksi Jean yang aneh. Seolah olah mereka sudah lama saling mengenal. Arya menunjuk Wira dan Jean yang masih saling berpelukan, melepas kerinduan yang sudah membuncah. Hans berdeham, karena sikap Arya yang masih menuntut jawaban atas apa yang ada di hadapan mereka. Belum sempat Hans menjawab, Gio muncul dan langsung memeluk Hans erat. Tentu hal ini membuat Arya mulai mengerti. Kalau ternyata dua orang yang ia kenal sebagai saudara selama ini, juga bagian dari masa lalunya dulu. Dan Arya butuh penjelasan sekarang.
***
Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Kedatangan dua orang yang baru saja muncul tersebut tentu membutuhkan penjelasan untuk mereka semua. Terutama untuk Arya.
"Jadi kalian sebenarnya saudaraku atau bukan?" tanya Arya serius.
__ADS_1
Hans dan Jean saling pandang sebelum menjawab pertanyaan Arya yang mereka takutkan sejak dulu. Jean menarik nafas panjang, Hans mengangguk. Jean berdeham, "Begini, Ya. Secara silsilah sebenarnya kita ini bukan keluarga. Tapi kami yang membawa kamu, ke keluargamu yang baru. Jadi kami memang ditugaskan untuk menjaga kamu selama ini," jelas Jean. Wanita itu menatap ke Nayla, dan tersenyum tipis.
"Tunggu! Maksudmu? Menjaga aku? Dan kalian siapa?! Membawaku ke keluargaku?" tanya Arya agak emosi. Hans dan Jean saling pandang. Kini Hans yang gantian menjawab. "Maaf, Arya, kalau mungkin penjelasan dari kami ini akan membuat kamu terpukul, tapi mungkin sudah saatnya kami menceritakan semua rahasia kamu selama ini."
Arya adalah seorang bayi yang terlahir dari rahim seorang wanita. Ibu kandungnya meninggal sesaat setelah melahirkan dirinya. Ayahnya juga tewas saat dalam perjalanan ke rumah sakit. Hans dan Jean memang sudah ditugaskan sejak dulu untuk menjaga Arya dan Nayla. Juga Wira. Tapi ada beberapa kejadian yang membuat mereka tidak bisa melacak ketiga orang tersebut. Tapi Jean dan Hans dapat menemukan Arya karena sebuah tanda lahir yang ada di telapak tangannya. Mereka yang memang mencari bayi dengan telapak tangan itu, langsung menemukan Arya di rumah sakit tempat Arya dilahirkan dulu.
Hans dan Jean terpaksa mengambil bayi Arya, dan mencarikan sebuah keluarga yang aman dan membutuhkan seorang anak untuk mereka asuh. Akhirnya Arya tinggal di lingkungan sederhana, bersama orang tua angkatnya itu.
Tanda lahir itu memang tidak bisa sembarangan dilihat oleh manusia biasa. Nayla dan Wira juga memiliki tanda yang sama. Sebuah tanda yang mengisyaratkan kalau mereka adalah malaikat. Tanda itu juga yang merupakan simbol kekuatan mereka. Tapi untuk Arya dan Nayla yang masih menyandang status malaikat yang dibuang, tidak akan terlihat jelas, dan mereka sendiri tidak tau kalau ada tanda itu di telapak tangan mereka. Dan kini, tanda yang ada di telapak tangan Wira pun itu juga agak memudar. Karena kekuatannya yang hilang karena ulah Galiyan kemarin.
"Jadi kalian siapa sebenarnya?" tanya Arya.
"Kami maid of archangel."
"Hah?" beberapa orang menatap ke arah Ellea, yang dulu disebut sebut adalah pembantu malaikat. Namun pada akhirnya dia adalah nephilim.
"Serius, Hans? Jean? Jadi kalau maid of archangel itu, kalian ini... Eum, bukan manusia?" tanya Gio yang sama terkejutnya. Karena mereka dulu memang cukup dekat, dan Gio sama sekali tidak tau kalau Hans dan Jean bukan manusia seperti dirinya. Gio yang kini lebih sering membaca buku, memang makin banyak tau tentang hal hal yang aneh dan tidak diketahui orang banyak.
"Iya, semacam itulah. Kami bukan seperti kamu. Yah, begitulah," jelas Jean yang sebenarnya tidak begitu gamblang menjelaskan.
Hans menatap Wira intens. Merasakan ada hal aneh yang ada di dalam diri pria itu. "Kekuatanmu, hilang?" tanyanya. Wira mengangguk, lesu.
"Siapa yang mengambilnya?"
"Galiyan."
"...."
"Kalian punya cara agar aku bisa mendapatkannya kembali?"
"Hm, tidak bisa, Ra. Karena hanya Galiyan yang bisa memberikannya lagi."
Rasanya makin sulit bagi Wira untuk dapat kembali seperti dulu. Namun setidaknya, kalimat tadi memberikan setitik harapan, jika kekuatannya bisa kembali. Dengan cara mencari Galiyan.
__ADS_1