
Sebuah mobil jeep melesat membelah jalanan berlumpur. Desanya baru saja diguyur hujan lebat. Kabar kematian Cindy seolah membuat seluruh desa berkabung, atau ... Ketakutan?
Jalanan nampak sepi, beberapa rumah juga terlihat tertutup rapat. Bahkan sejauh mereka berkendara, belum satupun manusia yang terlihat di luar.
"Ini orang pada ke mana, ya? Sepi bener!" tukas Gio sambil fokus menyetir.
"Mungkin hujan, jadi malas keluar rumah," sahut Abi santai. Adi hanya diam menatap pemandangan di luar jendela.
"Eh, itu! Rumah Cindy, kan?" tanya Adi menunjuk sebuah rumah dengan bendera putih di depan.
"Ah, iya. Kita ... Melayat ke sana?" tanya Gio meminta persetujuan mereka berdua. Adi dan Abi saling pandang tak lama mengangguk. Mobil belok ke arah rumah bercat kuning itu. Dari kejauhan terlihat hanya ada beberapa orang saja yang sedang ada di rumah itu.
"Permisi." Adi masuk ke dalam rumah. Mengucapkan bela sungkawa pada orang tua Cindy. Kedatangan mereka justru membuat tangis ibu Cindy meledak. Rupanya hanya sedikit orang yang datang melayat. Warga merasa ketakutan atas berita kematian Cindy. Itu hal wajar, tapi alangkah lebih baiknya, sebagai warga desa juga hadir di upacara pemakamannya.
"Bagaimana awal mulanya, Pak?" tanya Adi pada ayah Cindy yang duduk di kursi teras. Ibu Cindy terus meraung karena kematian anak satu satunya yang ia punya.
"Cindy selalu pulang sore. Karena di sekolahnya setiap hari ada pelajaran tambahan. Saya tidak bisa jemput dia kemarin. Sampai malam, Cindy belum juga pulang. Akhirnya kami menelpon polisi. Nggak lama, Cindy ketemu. Tapi sudah meninggal. Dia jatuh di pinggir sungai." Tak dapat dipungkiri hal paling menyakitkan tentang kehilangan adalah orang terdekat kita yang pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Dan tentunya tidak ada orang yang merasa baik-baik saja jika orang terdekat nya meninggal dunia.
Jerit ibu nya Cindy meraung raung. Ia kembali histeris. Emosinya belum terkontrol. Ayah Cindy pamit untuk menenangkan istrinya. Sebentar lagi jenazah gadis itu akan segera dimakamkan. Abi, Gio dan Adi memutuskan akan menghadiri pemakaman itu sampai selesai.
Jarak makam dengan desa cukup jauh. Jenazah Cindy dibawa menggunakan mobil jenazah. Hanya pihak keluarga dan tetangga terdekat saja yang mengantarnya sampai tempat peristirahatan terakhir.
Bunga disebar melintang, menandakan makam itu masih baru. Sebuah payung menancap di kepala nisan Cindy. Tradisi ini memang berlaku bagi orang yang baru saja meninggal.
Tangis air mata seolah kembali membanjiri makam Cindy. Andrew juga terlihat datang ke pemakaman. Ia berdiri dekat Abimanyu dengan setelan kemeja dan kaca mata hitam bertenger di hidungnya.
"Kembali dimulai, ya." Kalimat Andrew membuat Abi dan Adi menoleh. Menatap pria itu dengan tatapan bingung dan curiga.
"Apa maksud anda?" tanya Abi.
"Pembunuhan dengan motif ini pernah terjadi 7 tahun lalu. Mungkin aja pembunuh itu kembali, kan?"
"Pembunuhan? Tunggu, kalau nggak salah, polisi bilang Cindy kepleset di sungai soalnya hujan semalam kan deras. Pembuluh darahnya pecah. Terus nggak ada orang tau. Jadi pas Cindy ketemu semua terlambat," sahut Gio mencoba menarik kembali benang merah dari apa yang ia dengar dan baca.
"Ini bukan kecelakaan tapi pembunuhan! Ada satu kesamaan. Aku yakin pembunuhnya orang yang sama."
"Kesamaan apa, Pak?"
"Gantungan kunci ini!" tunjuk Andrew ke foto usang yang ia ambil dari saku jaket.
"Kenapa sama gantungan kunci ini?"
"Kamu lupa? Kalau 7 tahun lalu ada tiga pembunuhan di desa ini?" tanya Andrew ke Abimanyu.
"7 tahun lalu? Masa, sih? Bi?" tanya Gio menyenggol Abimanyu yang berdiri di sampingnya.
Abimanyu kembali mengingat hal yang dimaksud pria itu. Pembunuhan 7 tahun lalu? Memori otaknya ditarik mundur jauh ke belakang. 7 tahun lalu memang pernah ada pembunuhan 3 orang anak SD. Ia tidak mengerti jika ada gantungan kunci seperti yang ada di foto.
__ADS_1
"Bagaimana bapak bisa tau?" tanya Abi balik.
"Karena saya yang mengurus kasus ini," kata Andrew dengan tatapan kosong ke makam.
______
Cafe baru buka saat siang hari. Padahal Ridwan, Emil, dan Bisma sudah datang sejak pagi. Mereka bersyukur karena Abi meminta mereka membuka cafe saat matahari sudah naik lebih tinggi. Setidaknya mereka memiliki waktu untuk membereskan tempat itu lebih banyak. Pekerjaan semalam yang masih menumpuk, kini sudah beres. Piring dan gelas sudah bersih di tempatnya. Lantai sudah dipel. Dan halaman pun sudah bersih dari dedaunan kering. Hujan semalam cukup besar. Dahan pohon mangga di depan cafe pun tumbang. Beruntung tidak mengenai kaca jendela. Padahal jaraknya lumayan dekat.
Abi masih memikirkan kematian Cindy dan ucapan Andrew tadi. Ia yakin Andrew pasti memiliki dasar hukum, mengapa ia berkata seperti tadi. Dan dilihat dari cara dia bicara, tidak ada kebohongan dalam ucapannya.
"Wan," panggil Abi pada Ridwan yang akan membuat roti bakar pesanan pelanggan. "Iya, Bang?"
"Kamu tau soal Pak Andrew?"
"Maksudnya tau yang mana?"
"Semuanya. Terutama soal pembunuhan 7 tahun lalu. Kamu ingat, Wan? Emangnya dia polisi yang ngurus kasus itu? Pembunuhan yang mana sih, Wan?"
"Pembunuhan 7 tahun lalu?" Ridwan terlihat menatap langit-langit, pikirannya menerawang jauh. "Oh iya! Ada, Bang. Abang ingat, kematian anak anak SD yang misterius dulu itu, kah?"
"Anak SD yang mana sih?"
"Itu, Diva, Chandra sama Amel. Mereka meninggal dalam satu bulan terakhir. Masa abang nggak tau?!" tanya Ridwan heran.
Wajar saja Abimanyu tidak tau, karena dulu kedua orang tuanya sangat membatasi lingkungan bermainnya. Lagipula rumah korban cukup jauh dari rumah Abi. Dan konon kabarnya, kasus itu ditutup seminggu setelah jasad Amel, korban terakhir, ditemukan. Isu yang beredar, mereka korban penculikan anak. Pembunuhnya belum tertangkap karena diduga sudah pindah ke luar kota.
Karena sejak saat itu tidak ada lagi berita kematian aneh di desa. Desa kembali aman dan damai seperti semula.
_____
"Siapa mereka?" tanya Adi yang mulai paham siapa saja warga lokal dan pendatang. Abimanyu menatap sekilas ke 4 orang tadi, ia mengerdikan kedua bahunya pertanda tidak tau. "Aku cuma tau Pak Karso. Dia kepala sekolah di sekolah dasar ujung desa," sahut Abi sembari mengelap gelas.
"Sekolah yang pernah ada tragedi pembunuhan 7 tahun lalu, Bi?"
Abi berhenti mengelap gelas. Dan baru sadar kalau sekolah yang baru ia sebutkan adalah tempat korban pembunuhan 7 tahun lalu. Karena hanya itu sekolah dasar di desa ini.
"Wah, cantik juga." Gio menyambar sambil menatap dua gadis yang duduk di sudut cafe. Pak Karso membawa 3 orang guru honorer yang akan mengajar di sekolahnya. Ini hari pertama mereka datang ke desa. Desa ini memang masih kekurangan tenaga medis dan pengajar. Kerap kali orang kota yang mengajar di desa ini hanya akan bertahan sebentar saja. Lalu digantikan orang baru. Begitu seterusnya. Jadi Abi tidak heran jika melihat Pak Karso membawa guru baru.
Anehnya, salah satu wanita yang memakai jaket maroon terus memperhatikan Abi. Bahkan terkadang kepergok tengah mencuri pandang pada Abimanyu.
"Bi ... Ellea gimana?"
"Apanya?" sahut Abi santai.
"Hubungan kalian lah! Pakai nanya lagi!" hardik Gio yang juga sadar kalau sejak tadi Abi memperhatikan guru dari kota itu.
"Nggak tau. Ellea nggak ada kabar sama sekali. Dia bilang, ibunya sakit. Terus pindah ke luar negeri buat pengobatan."
__ADS_1
"Jadi gantung dong?"
Abi hanya tertawa getir. Bahkan kini ia sudah lama tidak memikirkan Ellea lagi. Baginya Ellea sudah memiliki kehidupan di sana. Abi hanya berharap Ellea menemukan kebahagiaan lain di tempat barunya.
"Kalau gitu, pepet itu cewek! Cantik, Bi!" bisik Gio merujuk pada gadis yang sejak tadi Abi lihat.
Ada yang aneh dengan tatapan wanita itu padanya. Bukan perasaan suka atau naksir seperti kebanyakan orang, tapi ... Entahlah. Abi sendiri ragu dan tidak berani berasumsi.
Pak Karso mendekat ke meja barista. Menyapa Abimanyu dan Gio dengan ramah. Ia juga menceritakan tentang tiga guru baru yang baru saja ia jemput dari stasiun. "Mereka datang dari jakarta. Yah, desa kita memang masih butuh banyak guru pengajar." Pak Karso yang sudah terlihat renta masih semangat menjalani profesinya. Ia terkenal sebagai guru teladan hingga kini menjabat sebagai kepala sekolah.
_____
"Yash! Lu pesen apa?" tanya gadis itu yang kini ada di meja barista bersama laki- laki yang berseragam sama dengannya. "Black coffe aja," jerit salah seorang pria yang masih duduk di kursi bersama rekannya.
"Sin?"
"Capucino, Bil."
Gadis itu lantas menoleh ke Abimanyu selaku barista cafe. "Mas, black coffe satu, capucinnonya dua, ya." Senyum tersungging di bibirnya.
"Oh, baik, mba. Silakan ditunggu sebentar."
"Eum, toilet di mana, ya?" tanya gadis itu sedikit berbisik ke arah Abimanyu.
"Ujung sana, mba. Lurus aja."
Nabila menatap ke arah yang Abi tunjuk. Lalu mengangguk. Ia segera bergegas ke toilet.
Lonceng yang digantung di pintu cafe berbunyi. Padahal pintu dalam keadaan tertutup. Abi melirik sekilas dan mendapati sesosok mendekat dan berdiri di depan meja barista nya. Seorang ibu paruh baya kini Tenga menatap sendu ke arah Emil. Abi yang memang melihatnya justru berpura-pura tidak melihat. Hanya saja kehadiran sosok itu memang mengusik ketenangan nya. Abi sedikit gugup dan beberapa kali menatap sosok itu.
Nabila baru saja keluar dari toilet, ia menepuk nepuk lengan bajunya yang sedikit basah karena terciprat air saat dirinya mencuci tangan. Sambil menunduk karena tetap fokus pada lengan bajunya, ia mendekat ke meja barista lagi. "Mas, minta tissue dong," pinta Nabila.
"Oh tissue? Ini, mba." Abi menyodorkan beberapa lembar tissue. Saat Nabil meraihnya, kedua netra gadis itu justru melihat ke sosok ibu yang masih berdiri di depan meja barista, lebih tepatnya berdiri di depan dirinya. Sekujur tubuh wanita itu basah, karena lantai cafe terlihat menggenang air di tempatnya berdiri. Tubuhnya mengeluarkan air. Pakaiannya basah terdapat banyak robekan di beberapa tempat. Kakinya kotor penuh lumpur. Rambutnya panjang terurai meneteskan air yang tak kunjung habis. Matanya terus menatap pria yang ada di dekat Abimanyu, Emil.
Abimanyu yang mendapati gadis itu terdiam lantas menyadari satu hal. Kalau dia dapat melihat sosok itu juga. "Eum, mba?"
Nabila menoleh, sedikit terkejut. "Eh kenapa, Mas?"
"Eum, kenapa?" tanya Abimanyu.
"Ibu ini kangen anaknya," tunjuk Nabila ke sosok ibunda Emil. Abimanyu melotot mendengar ucapan gadis di depannya. "Aku yakin kamu juga ngeliat dia, kan?" tanya Nabila lagi.
"Eum, huum," sahut Abi bingung harus berkomentar apa. Ia cukup terkejut dan tidak menyangka akan ada orang lain yang juga melihat apa yang ia lihat.
"Kopi ku udah jadi belum, ya?"
"Eh, sudah, mba. Sebentar lagi saya anter ke meja." Abi yang mang baru selesai membuat kopi terakhir lantas sedikit gugup, mengambil nampan untuk mengantarkan ke meja Nabila.
__ADS_1
"Eh, Mas. Jangan lupa di pel lantainya. Nanti ada yang kepleset, bahaya." Nabila segera kembali ke mejanya, meninggalkan wajah Abi yang makin bingung dibuatnya.
______