pancasona

pancasona
Part 30 Kemah


__ADS_3

Empat tenda sudah didirikan dengan sempurna. Api unggun menyala dengan kobaran yang pelan namun tetap membuat sekitar terang. Semua tenda menghadap ke sungai. Jarak antara sungai dan tenda kami tidak begitu jauh, hanya sekitar lima meter saja.


Om Opon sedang duduk di dekat perapian. Beberapa potong ikan dia masak. Hasil dari sungai di dekat kami. Dia cukup lihai mencari ikan walau dengan alat seadanya. Mungkin karena terbiasa tinggal di daerah ini, membuat dirinya ditempa oleh keadaan dan menjadikannya mandiri. Aku saja sampai berdecak kagum atas tangkapan ikannya, sejak ikan pertama yang menggelepar di rumput tadi. Dengan cekatan dia membersihkan sisik, sekaligus isi perut makhluk perairan tersebut. Aku terus menemaninya sambil melemparkan beberapa pertanyaan singkat tentang proses menangkap, memilih ikan yang bagus, hingga memasak ikan tersebut dengan bahan seadanya.


"Nih cobain," kata Om Opon lalu memberikan bambu yang sudah di isi satu ekor ikan. Aku yang duduk di sampingnya lantas menerima dengan riang. Mencium aroma ikan bakar tersebut yang terasa menggugah selera. Baunya harum, dan lezat. Tanpa disuruh, aku segera mencicipi ikan bakar tersebut. Sensasi panas yang ada diujung jariku tidak begitu ku hiraukan. Sedikit demi sedikit daging ikan berhasil ku cuil sambil meniupkan nya agar lekas dingin.


"Hm." Aku menggumam dengan mulut yang sibuk mengoyak ikan bakar di tangan.


"Gimana?" tanya Om Opon dengan tatapan serius. Tak langsung memberikan jawaban, aku justru kembali mengambil potongan daging dengan ukuran lebih besar.


"Ada nasi nggak?" tanyaku dan langsung gelak tawa tercipta dari pria di hadapanku ini. "Enak, Om, sumpah. Ini tadi pakai bumbu itu doang?" tanyaku seolah tidak percaya.


"Iyalah. Pakai itu doang. Enak, kan?" tanyanya dengan bersemangat.


"Enak banget, Om. Beneran. Ini Om Opon aku bawa ke Jawa aja, yuk. Kita buka restoran. Pasti laris."


"Kamu nih, ada ada saja. Saya nggak bisa meninggalkan tanah Borneo."


"Memangnya kenapa? Nanti kalau pergi dari tanah Borneo, ilmunya ilang, kah?" tanyaku serius. Alhasil aku justru mendapat jitakan di kepala. Tapi dia malah tertawa.


Tante Rani dan Tante Jean baru saja keluar dari tenda. Mereka berdua lantas bergabung dengan kami, dan menikmati makan malam sederhana tapi istimewa. Beruntung hujan tidak turun malam ini. Kami dapat menikmati malam dengan lebih tenang. Apalagi hidangan ikan bakar ini tentu akan gagal jika api unggun di guyur hujan.

__ADS_1


Beberapa obrolan membuat suasana tidak terlalu sunyi. Kami bahkan mampu tertawa walau hanya dengan candaan ringan. Sedikit melupakan masalah yang akan kami hadapi. Aku tau, tidak akan mudah. Tapi aku yakin bisa. Menemukan Papa dan membawa mereka semua pulang.


"Eh, Om, tadi Om Opon bilang, kalau ada penghuni di seberang sana yang berbahaya? Memangnya siapa, Om?"


"Bil, Bisa nggak kamu manggil saya yang benar?"


"Hah? Salahnya di mana, Om?"


"Kalau mau panggil nama, Septian saja. Jangan Om sama Opon juga kamu bawa," tegas Om Opon. Tante Rani terkekeh sambil menatapku yang masih bengong. Setelah beberapa detik, aku lantas mengangguk setuju.


"Tapi bener juga pertanyaan Nabila, jadi apa sebenarnya yang ada di seberang sana, Sep?" Tante Jean menambahkan.


Om Opon diam sejenak, menatap ke sudut gelap yang kami bicarakan itu. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam, aku sudah bersiap mendengar cerita yang akan keluar dari mulut nya. Aku yakin dia memiliki alasan besar kenapa tidak akan mendatangi kawasan itu.


"Wow, mengerikan."


"Apa pernah ada warga desa yang menjadi korban?"


"Pernah. Kami bahkan mencari ke wilayah itu, tapi justru tidak ada yang kembali dalam serangan saat itu. Sejak saat itu, kami semua pantang masuk ke sana."


"Apakah kematian Om Dewa karena dia masuk ke sana, Om?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


Om Opon menarik nafas panjang, lalu mengangguk. "Bahkan salah satu warga desa menemukan mayat Dewa ada di hulu sungai sana," tunjuk Om Opon ke selatan.


"Tapi kenapa sejak awal kalian bilang ini hanya kecelakaan? Naik tebing?"


"Yah, karena kami tidak ingin membuat yang lain cemas, Bil. Agar tidak terjadi pertikaian nanti, atau balas dendam dari kelompok kita. Kakek takut kejadian dulu akan kembali terulang. Kami sudah tidak mungkin kehilangan anggota kelompok lagi."


Tante Rani terlihat sangat terpukul, dia menangis, dan aku ikut merasakan sakit yang dia rasakan.


"Jadi Papa ku ke sini mau balas dendam, begitu, kah?"


"Awalnya kami memang hanya ingin melihat sampai batas ini saja. Tapi mereka lantas nekat menyeberang saat kami melihat beberapa pasang mata berwarna merah yang bersembunyi di semak-semak sana. Kami mengintai dari kejauhan, hanya sebatas ingin mengetahui apakah memang benar mereka pelaku pembunuhan Dewa. Tapi salah satu dari mereka menyebutkan namamu, Bil. Itulah alasan Papamu nekat menyeberang ke sana. Dia cemas kalau kamu akan menjadi target selanjutnya."


"Apa? Menyebutkan namaku? Kok bisa?" aku terpekik dengan berjuta pertanyaan di kepala.


"Itu yang sedang Papamu cari tau."


Gemuruh guntur terdengar memecah kesunyian malam. Walau pada awalnya suara jangkrik mengalun merdu di sepanjang hutan sekitar. Semua menatap ke langit gelap di atas. Makanan sudah habis tak tersisa.


"Lebih baik kalian masuk tenda, seperti akan turun hujan," kata Om Opon.


Aku kembali menatap ke atas, saat sesuatu terdengar tidak asing. Suara yang sering aku dengar beberapa waktu terakhir. Walau tidak ada apa pun di atas sana, tapi entah mengapa aku yakin kalau ada yang sedang mengawasi kami sejak tadi.

__ADS_1


Aku segera masuk ke dalam tenda. Begitu pun Dua tante dan Om Opon. Api unggun dibiarkan begitu saja sebagai penghangat kami, dan juga agar hewan buas tidak mendekat saat kami tertidur nanti. Sekalipun aku sudah masuk ke dalam tenda, tak berarti aku lantas akan langsung tidur. Justru aku ingin mengawasi keadaan di sekitar dari dalam tenda. Aku harus waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Apalagi kami sudah sangat dekat dengan wilayah mereka. Wilayah yang disinyalir adalah tempat yang pantang untuk disinggahi. Tapi setidaknya aku tau di mana Papa, Om Gio dan Opa berada. Hanya saja aku berharap kalau mereka masih hidup di sana.


__ADS_2