
Bisma mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Ia begitu tenang seolah tidak punya beban sama sekali. Bahkan ia bersenandung sambil menikmati pemandangan di sekitar. Jalanan masih beraspal sejauh ini, walau kanan kirinya sudah didominasi pohon-pohon rindang. Rumah-rumah homestay sudah mulai terlihat. Sepanjang jalur ini, memang dikhususkan untuk wisata yang menuju air terjun. Dan homestay milik Pak Hermawan berdiri kokoh di kanan kiri jalan. Ada sekitar sepuluh rumah yang ia bangun untuk resort ini. Sejak ada isu pembunuhan berantai di desa Amethys, home stay mulai sepi pengunjung. Karena polisi juga membatasi pengunjung yang datang dan pergi, untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan lain yang akan terjadi.
Bisma terus melajukan mobilnya hingga jalanan beraspal kini berganti jalanan berbatu dan lembab karena hujan beberapa hari ini yang intens turun saat malam hari. Ia sampai di sebuah home stay paling dalam dekat air terjun. Suara riak air membuat suara bising khas. Ia memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman rumah yang bercat cokelat. Bisma turun dan berjalan ke bagasi mobil belakang. Kunci ia masukan ke dalam keyhole, sebelum membukanya ia sempatkan melihat sekitar. Walau ia tau kalau lokasi ini sangat sepi dan jarang ada orang lewat, tapi setidaknya ia tetap harus waspada.
Feliz di bopong di bahu kanan Bisma, dan mulai memasuki rumah itu. Sebelum masuk, Bisma tengak tengok ke sekitarnya. Tempat ini memang sangat tepat untuk menyembunyikan korbannya. Bisma menyeringai dan menghilang di balik pintu. Home stay ini memang tidak terlalu besar. Hanya ada ruang tamu yang merangkap ruang keluarga, dua kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Bisma terus berjalan hingga sampai dapur. Ia berhenti di sebuah lukisan besar replika Monalisa. Bisma meraba lukisan itu lalu saat jarinya sampai di mata wanita itu, ia menekannya. Saat itu juga tembok sampingnya terbuka otomatis. Ruang rahasia.
Begitu pintu itu terbuka, ada lorong yang terdapat tangga untuk akses ke bawah. Bisma masuk dan pintu otomatis kembali tertutup. Langkah demi langkah di tiap pijakan anak tangga, membuat lampu otomatis menyala di atasnya. Walau ini adalah ruang rahasia, tapi keadaan di bawah tidak buruk, bahkan terkesan sangat nyaman. Lebih bagus dan rapi timbang bagian atas rumah ini. Bisma meletakan Feliz di kasur. Ia lantas mengikat tangan dan kaki Feliz di tiap sudut ranjang.
Bisma melepas jaketnya, melemparnya asal, dan berjalan menuju mini bar yang tak jauh dari Feliz. Ruangan ini cukup luas, hanya saja tidak ada sekat untuk bagian ruang satu dan ruang lainnya. Ia mengambil bir kalengan yang ada di lemari pendingin. Bunyi khas botol bir dibuka. Mengeluarkan uap dingin dari lubang kaleng itu. Ia meneguknya agak lama. Mulutnya berdecak merasakan lezat bir yang masuk ke mulut dan seolah merambat ke tubuhnya.
______
Abi, Gio, dan Adi kembali ke cafe. Pencarian terasa membuang waktu karena tidak ada jejak dan tanda apa pun di sekitar tempat pencarian. Cafe sudah mulai lenggang saat Abi menginjakkan kaki di sana. Adi segera mengambil minuman soda yang ada di lemari pendingin yang memang menyediakan berbagai minuman ringan, sementara Gio langsung merebahkan tubuhnya di sofa kosong yang ada di dalam. Mereka terlihat kelelahan, karena mobil tidak bisa menjelajah ke seluruh penjuru hutan, mereka tetap harus turun dan menggunakan kaki untuk mencari di tiap sudutnya.
"Bagaimana cafe? Aman?" tanya Abi ke dua karyawannya yang sedang berdiri di balik meja barista. Wajah mereka berdua sudah lebih segar daripada beberapa jam lalu. "Aman, Bang. Bisalah kami handle berdua. Siapa dulu dong, Emil dan Ridwan," jawab Emil mengangkat kerah bajunya, bangga. Ridwan hanya menunduk dan tersenyum tipis. "Padahal tadi ada yang mau pingsan lho, Bang," sindir Ridwan yang melirik ke teman di sampingnya. Emil menyikut Ridwan lalu berdesis. Abi hanya tertawa dan segera masuk ke ruang pribadinya.
"Si Bisma udah balik?" tanya Adi yang duduk di kursi depan meja barista.
"Sudah, Om. Tadi udah agak lama."
__ADS_1
"Cafe ramai?"
"Lumayan, Om."
"Ya sudah, nanti kita tutup lebih cepet saja. Istirahat." Dua pemuda itu langsung melebarkan senyum dan bersorak dalam hati.
Abi duduk di kursi kebanggaannya. berputar-putar dengan pikiran yang menerawang ke mana- mana. Ia sedikit frustasi. Entah kenapa sulit sekali menemukan Feliz di desanya sendiri yang sebenarnya tidak begitu luas itu. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Ia melepaskan kancing kemeja dan berjalan menuju toilet. Abi berniat ingin mandi karena tubuhnya terasa lengket dan letih. Saat ia sampai di pintu, ia memutar gagang pintu dan merasakan rasa lengket di telapak tangannya. Abi menatap tangannya sendiri dan beralih ke gagang pintu toilet. Ia tidak mengerti, mungkin ada pelanggan yang membawa anak kecil yang tangannya kotor akibat permen atau susu. Ia tidak lagi memikirkannya dan memilih mencuci tangannya di wastafel tengah toilet.
Mata Abi terbelalak saat melihat ada setitik noda merah di pinggir wastafelnya. Abi mengerutkan kening lalu jongkok dan melihat cairan merah itu dari dekat. Abi kemudian menyentuhnya, dan mengendusnya. "Amis." Telapak tangannya lengket lagi dan merah. Ia lalu beralih ke gagang pintu tadi, karena rasa lengket yang sama. Awalnya ia yang tidak punya pikiran buruk, lantas berpikir tyang tidak-tidak. Mata nya liar mencari kemungkinan bukti lain yang ia dapatkan. Rupanya lantai toilet terlihat aneh karena titik titik merah di beberapa tempat. ubin lantai yang memang bukan keramik, membuat noda merah itu akan tidak terlihat karena ubinnya yang sengaja dibuat dengan keramik yang berwarna gelap. Abi bahkan sampai jongkok untuk memeriksanya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat ke toilet. "Bi?! Ngapain?" tanya Adi yang melihat keponakannya aneh. Ia lantas mendekat.
"Padahal sebelum kita pergi, noda ini nggak ada loh."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Kamu aja baru nemuin ini sekarang!"
"Paman, kalau memang noda ini ada sejak awal kita mencari Feliz, pasti nggak mungkin tetesan darah itu masih utuh, karena kalu sudah ada sejak tadi, pasti sudah terinjak orang."
Adi sempat diam sejenak dan berpikir kalau anggapan Abimanyu memang benar adanya. Abi lantas mengikuti tetesan itu. Adi mengikutinya dari belakang. Mereka keluar toilet dan berjalan ke pintu belakang cafe. Tapi setelah itu, jejak itu tidak lagi terlihat. "Oh sial!" umpat Adi menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"Pada ngapain?" tanya R idwan yang tiba tiba suda ada di belakang mereka. "Wan, sejak kami pergi tadi, siapa aja yang dateng ke toilet?" tanya Abi. Ridwan tida langsung menjawab dan menatap dua pria di depannya aneh.
"Siapa, ya? Eum, perasaan tadi nggak ada pengunjung yang ke toilet. Ya paling cuma aku sama Bisma saja tadi."
Abi dan Adi saling tatap. "Kamu ngapain saja di toilet?"
"Cuma nyampein pesan Bang Abi, nyuruh Bisma pulang."
"Masuk?"
"Enggak sih, cuma dari depan pintu. Bisma lagi cuci muka di dalem. Kenapa, Bang?"
"Eum, pintu tadi rasanya lengket nggak?"
"Pintu? Ah enggak. Kalau pun lengket pasti aku sudah bersihin tadi." Abimanyu pun yakin, kalau noda itu memang belum lama.
"Kalau Bisma ngapain saja tadi?" tanya Adi.
"Bisma ... apa, ya. Iya dia yang dari tadi di sini terus ke ruangan Bang Abi juga, buat istirahat. Terus dia balik pakai mobil abang lewat pintu belakang. Adi dan Abimanyu saling pandang. seolah pemikiran mereka sama. "Bisma!"
__ADS_1