pancasona

pancasona
15 emosi yang berlebihan


__ADS_3

...Rasa sakit ini kembali kurasakan, saat kamu pergi dulu, dan kini... Kita sama sama saling pergi meninggalkan... ...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Tok tok tok..


"Assalamualaikum ... Ai ... Ai ... Ai ... " teriak Haga di depan pintu rumah Manda.


Manda berjalan sempoyongan keluar dari kamar menuju pintu depan.


Klek!


"Wa alaikum salam... Ada apa? Kamu nggak liat ini jam berapa? " omel Manda sambil menunjuk jam dinding di ruang tamu dengan wajah yang berantakan.


"Maaf... Maaf... Aku ganggu tengah malem gini. Aku mau minta tolong..., " kata Haga memelas.


"Untuk?"


"Hassha..., "


Seketika mata Manda terbelalak, "Hassha kenapa? " tanya Manda serius.


"Dia kerasukan! " tandas Haga.


"Apa? Kerasukan? Kok bisa? Ustadz yang kemaren itu kemana?" Sergah Manda.


"Lagi nggak ada di Rumah. Ayok... Buruan. Gimana itu Hassha..., " rengek Haga.


"Bentar... Aku pake jaket. " seru Manda lalu berlari kecil ke dalam.


" Ai ... Buruan ..., " pinta Haga setengah berteriak.


" Iyaaaaaaa ..., " seru Manda sambil menutup pintu Rumah dengan tergesa - gesa, " Yuk buruan..., " Ajak Manda sedikit berlari ke mobil Haga sambil memakai jaket nya.


Saat dalam perjalanan ...


"Gimana cerita nya sih?" Cecar Manda.


"Aku juga nggak tau, Mama nelponin aku, terus nyuruh aku pulang. Sampai di Rumah, Hasha udah lagi menggeram, suara nya nyeremin banget." ungkap Haga sambil fokus menyetir.


Sesampainya di Rumah Haga, Manda segera masuk ke dalam Rumah tanpa sungkan. Ia terus berlari hingga sampai di Kamar Hasha. Di depan kamar, sudah Ada Mama dan Papa Haga yang terlihat cemas.


"Nak Manda...!! Akhirnya datang juga. " sergah Bu Fatma.


"Hasha gimana, Tante? "


"Di dalam... Kami takut untuk masuk. Hasha selalu melempar barang - barang. " ungkap wanita paruh baya itu.


"Memang nya awal mula nya kenapa, Tante? Hasha habis dari mana? Atau habis ngapain? "


Hhhrrrrrrrrr....


Suara geraman Hasha terdengar sampai luar. Mereka bertiga menatap pintu kamar yang tertutup itu dengan tatapan cemas. Haga pun segera menyusul ke dalam.


"Nggak kemana - mana. Tiba- tiba aja kayak gitu. Sewaktu kami tidur, kami mendengar suara cakaran di tembok. Lalu, kami mencoba mencari asal suara itu, dan rupa nya itu dari Kamar Hasha. Langsung saja, Haga Tante telpon. " jelas Bu Fatma.


Manda mengangguk paham, lalu perlahan Ia mendekat ke gagang pintu Kamar Hasha. Haga sempat menahan Manda, tapi Manda meyakinkan nya kalau Manda akan baik- baik saja.


Ceklek.


Pintu terbuka, Manda terus mengedarkan pandangan nya ke tiap sudut kamar. Dan saat melihat Hasha, Manda sedikit terhenyak.


"KAMU!!! " seru Manda dengan tatapan penuh kebencian. Emosi nya memuncak. Tangan nya menggengam kencang, Ia pun mengatupkan raham menahan amarah yang makin besar.


Sosok itu menyeringai. Lalu berjalan mendekati Manda melalui Hasha. Hawa kamar terasa pengap dan panas.


"HAHAHAHA... AKHIRNYA KAMU DATANG JUGA!! " kata makhluk itu melalui tubuh Hasha.


"Jadi kamu! " cibir Manda.


"IYA. AKU!! "


"Pergi dari sana!!! " suruh Manda.


"TIDAK AKAN! TUBUH NYA BAGUS UNTUK KU TEMPATI!! "


"PERGI SEKARANG JUGA!!! " Teriak Manda sambil membuka lengan baju panjang nya.


Ia hendak menunjukan tato yang ada di pergelangan tangan nya. Manda perlahan maju dan makin masuk ke dalam Kamar Hasha.


Manda mulai memperlihatkan tato miliknya dan terus mendekat ke Hasha. Namun, dengan segera tangan Hasha menjulur ke depan, tiba - tiba Manda terlempar begitu saja menghantam tembok belakang nya.


Buuug!!


"Aww..., " erang Manda. Sambil meringis kesakitan memegangi bahu nya.


Padahal se senti pun, Hasha sama sekali belum menyentuh Manda.


Tawa Hasha makin kencang melihat Manda meringis kesakitan. Tawanya berubah, bukan tawa anak kecil yang manis dan lucu lagi, tapi tawa pria dewasa dengan suara berat.

__ADS_1


Haga berlari mendekat ke Manda.


Sejuk.


Nyaman.


"Kamu nggak apa- apa, Ai?" Tanya Haga sambil membantu Manda berdiri.


Manda menatap Haga dengan tatapan bingung.


"Aku nggak apa-apa. Kamu bantu aku ya. Pegangin Hasha! " suruh Manda lalu terus menatap tajam Hasha.


"Oke... " Haga mulai menatap putri nya dengan tatapan dingin. Ia sadar, bahwa gadis kecilnya kini bukan putri yang di kenalnya. Haga mulai berjalan pelan mendekat ke Hasha.


Dengan gerakan cepat, Haga berhasil memegang Hasha. Hasha berontak dan berusaha melepaskan diri. Dipeluknya putri kecilnya erat. Walau kekuatan Hasha sangat besar, namun tubuh kecil Hasha dapat dengan mudah di peluk Haga, hingga Hasha sulit bergerak. Geraman dan teriakan Hasha terus terdengar. Kini giliran Manda yang mendekat. Sambil membaca doa doa, Ia menempelkan tato di kening Hasha. Hasha berteriak histeris dan mengerikan. Manda pun makin menguatkan bacaan doa nya dan makin menekan kuat tato ke kening Hasha.


"Aaarrgghhhh...!! " lengkingan terakhir Hasha lalu Ia pun melemah dan tak sadarkan diri.


Haga menatap Manda, Manda mengangguk sekali, menandakan keadaan sudah aman dan terkendali.


Haga mengangkat Putri nya naik ke Ranjang.


"Hasha gimana? Nggak apa - apa kan, Ai? " tanya Haga cemas.


"Nggak apa- apa kok... Kamu jangan khawatir. Dia cuma kecapean, tenaga nya terkuras habis. Sebentar... " ucap Manda lalu menempelkan telapak tangan kanan nya ke dada Hasha, sambil memejamkan mata Manda merapalkan doa doa agar tenaga Hasha cepat pulih.


Beberapa saat kemudian, Orang tua Haga masuk kamar cucu nya. Terlihat kelegaan dari wajah kedua orang tua itu.


"Terima kasih Nak Manda... " kata Bu Fatma.


"Sama - sama, Tante. Eum.. Sebentar... " Manda melepaskan kalung miliknya. Dulu kalung ini adalah pemberian Habibi, untuk melindungi nya dari gangguang Makhluk halus. Setidak nya sejak memakai kalung itu, Manda tidak mudah di rasuki oleh 'mereka'.


"Buat Hasha. Jangan sampai dilepas ya, Tante..." Kata Manda sambil memakaikan kalung nya ke leher Hasha.


"Oh iya. Terima kasih sekali lagi... Tapi Hasha nggak apa - apa kan sekarang? " tanya Bu Fatma lagi.


"Insha Allah udah nggak apa apa kok. " terang Manda.


Manda memijat bahu nya sambil berjalan keluar kamar menuju teras.


Haga pun menyusul nya.


"Hmm... Kamu luka? " tanya Haga lembut.


Manda tersenyum tipis, "nggak apa apa kok. Pegel aja dikit. "


"Makasih ya, udah mau bantu Hasha. Aku pikir kamu nggak mau... " lirih Haga.


"Kamu masih marah sama aku? " tanya Haga pelan.


"Hmm. Enggak kok. Biasa aja. " sahut Manda dingin.


"Hmm.. Kita balik besok aja ya. Kamu istirahat aja dulu disini. Kamu pasti capek.. " saran Haga.


"Enggak... Aku mau pulang! "


"Ai... "


"Apa sih? "


"Salahku apa? Aku salah ya kemarin? Kamu belum siap nikah sama aku? Oke, aku nggak maksa kok... Kamu bisa pikirin lagi yang kemarin... " ungkap Haga dengan wajah memelas.


"Coba aja kamu nggak bilang itu disana kemarin... " gumam Manda lirih.


"Apa Ai? Maksud kamu? " tanya Haga lagi.


"Nggak apa apa... " kata Manda sinis lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


Haga menarik tangan Manda dan membuat Manda menoleh ke arahnya.


"Maksud kamu apa? Aku salah tempat? Oke.. Oke.. Kamu mau aku bilang itu dimana? Bilang Ai... Di Pantai? Eum.. Atau di..... "


"AKU NGGAK MAU!! " Ucap Manda Dengan nada yang sedikit meninggi.


Mendengar perkataan Manda, perlahan Haga melepaskan tangan Manda. Dan membiarkan nya masuk ke dalam. Haga diam membeku. Pikiran dan hati nya berkecamuk mendengar penolakan Manda. Haga pikir, Manda akan menerima nya kembali, setelah kemarin malam saat mereka ada di Penatapan dan pemandian air panas, Manda terlihat sudah mau membuka diri nya kepada Haga. Tapi ternyata Haga salah.


Wanita memang sulit dimengerti, batin Haga.


Malam ini juga Manda dan Haga kembali ke Medan. Manda menolak menginap di rumah orang tua Haga.


\=\=\=\=\=\=\=


" Maaaaaaaan ... Viiiiiit ... Buruuaaaan!! " teriak Kevin sambil menyilangkan tangan didepan. Dan berdiri di teras dengan kacamata hitam bertenger di hidungnya.


"Bawel deh ... " gerutu Manda diikuti Vita sambil bersamaan menyeret koper mereka masing- masing.


"Eh ... Tunggu tunggu ... Kita nggak pamit sama temen- temen di kantor sini? " tanya Vita sambil berhenti berjalan didepan Manda.


"Udah pamit ke Pak Diki inih kan... Ya udah. " sahut Manda cuek lalu berjalan mendahului Vita menuju mobil.

__ADS_1


Vita dan Kevin hanya saling beradu pandang lalu sama sama mengangkat kedua bahu mereka dan mengekor Manda.


Dalam perjalanan ke Bandara, Manda banyak diam. Hari ini mereka bertiga harus kembali ke Kantor pusat. Ada hal mendesak yang memaksa mereka harus kembali, padahal mereka baru 2 minggu disini.


"Elu udah pamit Haga, Man? " tanya Kevin sambil melirik Manda yang masih terus menatap jendela samping nya.


"Nggak perlu! "


"Kalian berantem? " tambah Vita.


"Biasa aja... " jawab Manda malas malasan.


"Bukan nya tadi malem kalian pergi? Kemana? " cecar Kevin.


Manda tak menjawab, malah memakai earphone di telinga nya.


Kevib dan Vita mendengus sebal. Ini lah kebiasaan Manda jika sedang malas membahas masalah pribadi nya. Dia lebih sering diam tak banyak berkomentar. Sesampai nya di Bandara. Ternyata penerbangan mereka harus delay selama satu jam.


Mereka pun menunggu di ruang tunggu sambil sibuk memainkan ponsel masing masing.


Tak berapa lama, seruan untuk penerbangan mereka pun terdengar. Mereka pun beranjak.


Kevin berjalan di depan, diikuti Vita lalu Manda dibelakang nya.


"Man, serius, nggak pamit Haga dulu. Kasian loh. Pasti dia nyariin kamu nanti... " ucap Kevin sambil berjalan mundur.


Manda yang masih terus fokus pada game di ponsel nya tak menanggapi serius. "Males... " jawab Manda singkat.


"Ow.. Ow.. Manda.. Elu kudu liat kebelakang deh... " suruh Kevin.


Manda mengalihkan pandangan nya dari ponsel, lalu sebentar menatap Kevin yang sedang melongo melihat ke belakang Manda. Saat Manda menoleh, ternyata Haga sedang berlari ke arahnya dengan tergopoh - gopoh.


Haga sudah ada di hadapan Manda sekarang. Keringan bercucuran membasahi kening nya. Nafasnya tersengal sengal.


"Kamu mau kemana? " tanya Haga dengan berusaha mengatur nafas nya.


"Pulang... "


"Kenapa nggak bilang sama aku? Tadi malem kamu nggak bilang mau pulang hari ini kan? Kenapa aku nggak tau? " tanya Haga sedikit emosi.


"Penting ya? " sahut Manda santai.


"Apa kamu bilang? Penting ya?" tanya Haga menirukan kalimat Manda. "KAMU...!! PENTING BUAT AKU!! INGET ITU!! " terang Haga dengan sedikit berteriak.


Manda diam sesaat. Di tatap nya Haga dalam dalam.


"Man... Gue duluan ya... Jangan lama - lama... " ujar Kevin lalu menggandeng Vita.


Manda menoleh, " Iya. Bentar lagi... " jelasnya. Di tatapnya lagi pria di hadapan nya yang tidak pernah berpaling sedikitpun dari terus menatap nya. Sorot mata nya yang tajam seakan menyiratkan gurat kekecewaan yang sangat besar.


Manda menyadari dan memaklumi kemarahan Haga saat ini. Hanya saja, dia terus berlagak cuek dan masa bodo pada perasaan Haga.


"Ya udah. Aku balik dulu ya... Kamu hati- hati. Dah... " Manda berjalan menjauh dari Haga.


"Ini cara kamu? " sindir Haga.


Manda menoleh kembali, "maksud kamu? "


"Ini cara kamu membalasku? Iya? " nada bicara Haga mulai meninggi.


"Membalas kamu? " tanya Manda seolah tak mengerti maksud Haga.


"Iya, jadi ini cara kamu membalas ku? Kamu pergi tanpa pamit? Kamu nggak peduli gimana aku disini setelah kamu pergi? " tanya Haga lagi dengan mata berkaca- kaca.


Manda menarik nafas dalam - dalam.


"Iya... Ini balas dendam dariku!! " ucap Manda sinis.


Haga menggangguk paham.


"Aku terima!! SILAHKAN PERGI SEKARANG JUGA!! " Teriak Haga sambil menunjuk pintu dimana Kevin dan Vita pergi. "Makasih buat semua nya! " tambah Haga sambil berbalik meninggalkan Manda sendirian.


Hati Manda sedikit teriris. Ia pun menekan dada nya menahan rasa sakit yang mulai menjalar di sekujur tubuh nya. Manda bahkan sampai terduduk di lantai begitu saja. Ia tidak peduli pandangan orang terhadapnya. Air mata mulai mengalir melihat kepergian Haga yang makin lama makin menjauh.


"Man... " seseorang menepuk bahu Manda pelan.


"Aku salah, Vit? Aku udah bikin dia marah... " rengek Manda sambil menangis.


Vita memeluk nya erat. "Udah ya... Kamu nyesel, Man? " tanya Vita sambil membelai belakang kepala Manda.


"Iya... Aku salah... Huhuhu.. " tangis manda terus saja terdengar.


"Ya udah, kejar dia! Minta maaf! " suruh Vita.


Manda melepaskan pelukan Vita.


"Enggak!! Biar aja! Ini yang terbaik buat dia.. " ujar Manda lalu berusaha berdiri dan menghapus air mata nya.


"Yuk... Kita pergi... " gumam nya lirih.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2