pancasona

pancasona
Episode 172 Kemunculan Wira


__ADS_3

Retno diantar pulang oleh Arya dan Nayla. Rumah Retno yang letaknya berada di samping rumah Arya, membuat Nayla kembali bertemu dengan Pak Muh, Bapak Arya. Gadis itu menyapa pria berperut buncit itu ramah.


"Loh kenapa Retno, Neng?" tanyanya.


"Eum ... Retno ...." Nayla melirik ke Arya, meminta ia mencari jawaban masuk akal agar ayahnya tidak bertanya macam-macam.


"Pingsan tadi, Pak. Masih lemes." Arya menuntun Retno masuk ke dalam rumahnya. "kamu di sini saja." Mendapat mandat seperti itu, Nayla mengurungkan niatnya untuk ikut masuk ke dalam.


"Neng mampir ke rumah, yuk," ajak Pak Muh. Tangannya melambai, dan ajakkan itu tak mampu ditolak oleh Nayla. Gadis itu menoleh sebentar ke dalam rumah Retno, tapi tak lama ia menyusul Pak Muh ke sebuah rumah yang berada di sampingnya persis.


"Bu ... Ini loh, ada tamu jauh," jeritnya ke dalam rumah bercat hijau muda itu. Nayla masuk dengan sungkan, hingga Muh mempersilahkannya untuk duduk di kursi ruang tamu. "Baru pulang kuliah toh?"


Nayla terkejut, namun segera dapat mengendalikan situasi. "Tadi kami ke perpustakaan dulu, Pak. Ada beberapa buku yang harus dipinjam untuk keperluan tugas kampus," ujar Nayla.


Seorang wanita setengah baya keluar dari dalam rumah, ia berparas manis dan terlihat lemah lembut. "Oh ada tamu. Siapa ini, Pak?" tanyanya lalu duduk di samping Muh.


"Ini loh, yang semalam bapak ceritakan. Teman kampusnya Arya."


"Oh, yang beli ayam bakar semalam?" tanya wanita itu.


"Nah iya, ini orangnya. Cantik, kan, Bu?"


"Cantik banget, Pak. Rumahnya di mana, Neng? Di sini nge-kos?" tanya Bu Farida antusias.


Arya melangkah masuk ke dalam rumah, menatap Nayla dan kedua orang tuanya lekat-lekat. Ia lalu menggaruk hidungnya sambil menggumam, "Eum, itu Retno sudah pulang, paling istirahat sebentar besok dia bisa masuk kuliah lagi. Sudah aman. Kamu bagaimana? Mau pulang sekarang atau nanti? Biar barengan sama aku saja. Sekalian aku ambil motor di tempat Bang Ucok."


"Loh, orang belum juga dikasih minum, sudah diajak pergi saja, kamu ini bagaimana sih?!"


"Sudah malam loh, Bu. Kasihan Nayla, capek. Mau istirahat." Arya melirik ke gadis itu, "yuk."


Nayla yang berada dalam situasi tidak menyenangkan karena pengusiran halus dari Arya, akhirnya memutuskan pamit dari rumah itu. "Besok-besok main lagi ke sini, Neng," pinta Muh dengan senyum ramah seperti biasanya. "Iya, Pak. Permisi, pulang dulu."


Gadis itu mengejar Arya yang sudah berjalan lebih dulu ke tempat mobilnya di parkir. Arya menatap ke langit gelap di atasnya. Kilat petir membuatnya mengerutkan dahi. Bintang begitu banyak di sana, tetapi anehnya ada kilat petir yang datang tiba-tiba. Bagi Arya, itu salah satu hal aneh selain kemunculan sekte pemuja simbol ANKH tadi.


"Cepet banget sih jalannya, Arya!" runtuk Nayla sambil membungkukkan tubuhnya seperti posisi ruku'. Ia mengambil nafas dalam-dalam karena lelah.


"Lemah!" ejeknya lalu membuka pintu samping sopir, mengisyaratkan Nayla agar segera masuk ke dalam. Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan masuk ke mobil dalam keadaan kesal. Ia lantas melipat kedua tangannya ke depan. Tak lagi menatap ke arah lain, hanya depan dan samping kirinya. Rasanya untuk menoleh ke samping kanan adalah hal menyesatkan baginya.


Perjalanan kali ini bukan suatu momen yang menyenangkan. Kedua manusia itu hanya diam sambil memperhatikan lalu lintas di sekitar mereka, tanpa ada kata dan ucap. Nayla menyalakan pemutar musik yang sudah dia atur dengan beberapa lagu kesukaannya. Lama kelamaan ia jengah karena sikap Arya yang sering kasar dan menyebalkan. Tapi dia merasa nyaman saat terus berada di dekatnya.

__ADS_1


"Aneh," gumam Arya, membuka kaca jendela sampingnya dan menatap langit. Hal itu membuat Nayla tergoda untuk menyahut ucapan pemuda di sampingnya itu. "Apanya?" jawab Nayla, ikut menatap ke jendela samping Arya.


"Langit cerah, tapi kenapa ada kilat petir, ya? Apa mau hujan?"


"Oh, artinya pada iblis lagi turun ke bumi. Mereka lagi berantem sama malaikat!" sahut Nayla santai. Namun dalam sepersekian detik kemudian, ia langsung menutup mulut dengan telapak tangannya sendiri. "Bodoh. Ngapain bilang begitu, nanti dikatain halusinasi lagi," gumamnya sambil melihat ke jendela sampingnya. Tentu kalimat Nayla mampu didengar dengan jelas oleh Arya. Ia tersenyum tipis melihat tingkah Nayla sekarang.


"Memangnya kalau malaikat sama iblis berantem bisa bikin langit begitu?"


"Nggak tau, katanya begitu," sahut Nayla ketus.


"Oh iya, Nay. Soal sekte ... apa tadi? Dewa RA ... ah itu tadi pokoknya, kira-kira niat mereka apa? Dan Retno itu mau diapakan?" Mendengar pertanyaan Arya yang terlihat penasaran, Nayla kini lebih antusias.


"Jadi kalau menurut kepercayaan Mesir kuno, mereka itu memakai simbol ANKH untuk hidup abadi. Dan tentunya mereka butuh tumbal untuk itu, Retno adalah tumbal mereka. Biasanya mereka membutuhkan tumbal satu orang perawan setiap satu tahun satu kali."


"Untuk hidup abadi, begitukah?" Arya nampak tidak percaya atas penjelasan Nayla barusan.


"Iya. Mereka biasanya membentuk satu kelompok sekte pemujaan untuk dewa mereka. Aku rasa nggak cuma untuk mendapatkan hidup abadi, untuk kejayaan atau kekayaan juga."


"Jadi Retno bakal dibunuh, begitu?"


"Eum, bukan dibunuh rasanya. Justru Retno akan dijadikan budak **** untuk mereka. Karena untuk mendapatkan energi dewa RA, mereka harus melakukan hubungan **** dengan gadis perawan."


"Kamu kenal anggota sekte itu?"


"Beberapa aku tau wajahnya, tapi sebagian lainnya kabur dan belum sempat aku kenali."


"Besok kita harus mencari mereka satu persatu, Ya. Karena mereka ini berbahaya, aku yakin mereka pasti akan mencari tumbal lain karena waktu mereka terbatas."


"Okelah."


Kembali mobil kembali melaju cepat menembus jalanan kota. Rumah kost Nayla sudah hampir dekat. Hanya tinggal melewati beberapa blok lagi, dan mereka sudah sampai di tempat itu.


Lampu sein menyala, menandakan mobil itu hendak berbelok ke kiri, kini Arya sudah mematikan mesin mobil dan hendak turun. Sampai akhirnya Nayla menahannya sebentar. "Ya! Kamu bagaimana pulangnya?"


"Gampang." Ia lantas turun tak lagi menghiraukan panggilan Nayla.


"Arya! Ih, jangan gampang gampang! Aku anter saja ke warung Bang Ucok? Arya!" Saat Nayla ada di dekat Arya, entah berapa panggilan yang ia ucapkan agar pemuda itu berhenti membuatnya kesal. Arya menoleh, "santai. Aku bisa pulang sendiri. Sana kamu masuk saja!" suruhnya sambil menunjuk ke gerbang kost. Arya kembali berjalan menuju warung Bang Ucok, tak lagi mempedulikan panggilan nyaring Nayla.


Nayla menghentak-hentakkan kakinya ke tanah. Begitulah perilakunya jika sedang kesal. Mirip anak kecil yang tidak dibelikan mainan. Begitulah dia, polos, lugu, dan cerewet. Ia terus menggerutu sambil menatap kepergian Arya yang perlahan mulai samar. "Dasar! Cowok nyebelin!" umpatnya lalu berjalan kembali ke rumahnya. Remote mobil ia tekan untuk mengunci kendaraannya itu, ia lantas berjalan menuju tempat tinggalnya. Suasana nampak sunyi. Nayla berhenti berjalan saat menyadari ada seseorang yang mengikutinya, ia menoleh namun tak mendapati orang lain ada di belakangnya. Rasa takut yang ia rasakan, akhirnya membuatnya segera berlari menuju kamarnya. Ia berusaha membuka pintu dengan tergesa-gesa. Hingga kunci kamarnya sempat jatuh ke lantai. Tangannya gemetaran dan membuatnya berulang kali salah memasukkan kunci ke key hole itu.

__ADS_1


"Kak Nayla? Baru pulang?" sapa seseorang yang baru saja lewat di belakangnya.  Nayla menoleh sambil tersenyum, "Iya ini. Ada tugas kuliah, hehe." Ia mampu bernafas lega sekarang, karena apa yang ada di pikirannya tidak terjadi. Gadis itu lantas masuk ke dalam kamar dan segera menutup dan menguncinya rapat-rapat.


Di sudut gelap halaman kos, ada sebuah bayangan sedang berdiri. Diam dan mengamati. Bagai penembak runduk yang memang melakukan penyamaran agar posisinya tidak diketahui musuh. Smirk tampak dari wajahnya, sorot lampu jalan dapat menemukan keberadaannya yang berdiri tak jauh dari kamar kos Nayla.


        ____________


Pagi-pagi sekali Nayla sudah datang ke kampus. Sekarang dia punya kebiasaan baru, bangun pagi dan datang ke kampus pagi-pagi sekali. Tapi kali ini bukan Arya tujuannya, tetapi gedung kosong kemarin. Ia mulai menapaki tangga menuju lantai atas gedung. Langkahnya pelan, karena khawatir ada orang di atas, atau bahkan salah satu anggota sekte ANKH kemarin.


Sampai akhirnya ia tiba di ruangan itu, namun tubuhnya kaku saat melihat ada seseorang berdiri membelakanginya. Seorang pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Nayla mengambil sebuah kayu yang akan dia gunakan sebagai senjata, jika posisinya terancam. Tiba-tiba pria itu menoleh, tersenyum sambil memegang beberapa buku yang sangat Nayla kenal. "Eh itu punyaku! Kamu siapa?!" jeritnya sambil berjalan mundur dengan kayu yang ia todongkan pada pria di hadapannya.


"Oh, maaf, aku nggak tau," katanya dengan kedua tangan terangkat ke atas, seperti musuh yang tidak bisa berkutik karena telah terpojok.


"Siapa kamu?!" raung Nayla masih dengan posisi yang sama.


"Eum, aku mahasiswa baru, tadi ke sini karena aku pikir ruangan Rektor di atas sini," tunjuknya ke ujung koridor dengan papan yang bertuliskan 'REKTOR'. wajar saja dia ke atas sini, karena dulu tempat ini memang dipakai untuk kantor REKTOR, DEKAN, dan beberapa ruangan penting lainnya. Nayla sempat ragu, tapi melihat gelagat pria itu yang nampak santai ia lantas menurunkan kayu di tangannya. "Salah alamat kamu. Bukan di sini. Ruangan di sini sudah pindah ke gedung itu," tunjuk Nayla ke gedung seberang yang lebih terlihat rapi dan bersih.


"Oh begitu, ya. Makasih, ya, informasinya. Eum, aku Wira," katanya lagi sambil mengulurkan tangan kanan. Sementara tangan kirinya dipakai untuk mendekap buku-buku perpustakaan milik Nayla. Walau ragu, akhirnya Nayla menerima uluran tangan itu. "Nayla."


"Oh iya, katanya ini punya kamu? Nih, aku kembalikan, aku pikir buku ini dibuang begitu saja di sini."


"Enak saja. Bisa-bisa aku kena denda kalau buku ini hilang!" cetusnya sambil meraih buku-buku itu dan membaca ulang judulnya sekaligus menghitung jumlahnya.


"Kamu suka dengan buku-buku macam itu, Nay?"


"Huum." Nayla masih menunduk sambil memperhatikan apa yang ada di genggamannya. "Kamu pindahan baru?"


"Iya, aku baru pindah ke sini. Hari ini baru bisa masuk kuliah. "


Ponsel Nayla bergetar, menampilkan nama Arya di layar pipih itu.


"Apa?" sapa Nayla lebih dulu ketus, sebelum ia mendapat perlakuan itu dari Arya.


"Lagi di mana?"


"Kenapa memangnya?"


"Ada titipan dari ibu ini. Buruan ah. Atau ku kasihkan ke orang saja?"


"Eh, apa itu?"

__ADS_1


"Sarapan." Telepon segera dimatikan sepihak. Membuat bibir Nayla mengerucut tajam, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Aku duluan, kamu ke sana saja itu. Bye!" Tanpa menunggu jawaban Wira, Nayla segera berlalu dari hadapannya. Senyum getir menghiasi wajah Wira. Bagaimana pun juga, gadis itu pernah menjadi kekasihnya dulu. Kenangan bersamanya masih tercetak jelas di ingatannya. Wira lantas berjalan pelan ke tangga, menyusul Nayla yang sudah mengambil langkah seribu meninggalkannya.


__ADS_2