
Sudah hampir satu minggu lamanya Rea kembali pulang ke rumah dan sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Dia juga sudah berangkat kuliah sama seperti kawan kawan nya yang lain. Kampus sudah seperti rumah kedua bagi Rea. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di kampus ketimbang di rumah. Untungnya kesibukan Habibie juga berbanding lurus dengan Rea. Sehingga mereka tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut karena sudah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Sampai di rumah Rea sudah tidak lagi mendapatkan teror. Dia bahkan menghabiskan waktu seharian untuk tidur demi memulihkan tenaga dan stamina nya. Tapi untungnya tubuhnya cukup kuat dan tidak jatuh sakit. Berbeda dengan Apri yang tubuhnya memang sangat lemah. Apalagi setelah kejadian yang sudah menimpanya kemarin. Apri perlu dirawat inap di Rumah Sakit selama 3 hari lamanya. Tapi untungnya Sekarang dia sudah sehat dan sudah ceria kembali seperti biasanya.
Setelah aktif di kampus Rea mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Yang biasa disebut UKM. Dia memilih ikut bergabung bersama organisasi sosial, menjadi relawan. Kegiatan ini memperluas jaringan pertemanan Rea sembari mengasah kepekaan sosial nya terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Walau dia baru bergabung tapi dia sudah berapa kali mengikuti kegiatan sosial bersama dengan teman-teman yang lain. Seperti membagi-bagikan sembako pada janda tua dan fakir miskin, lalu membantu pengungsi yang mendapatkan musibah kebakaran.
Kegiatan itulah yang membuat Rea lebih sering berada di kampus bahkan hingga sampai malam hari. Hanya saja teman-temannya berpencar dengan kegiatan yang berbeda-beda. Hana, Blendoz, dan Dana mengikuti kegiatan pencak silat kampus. Sementara Hani memilih bergabung bersama grup band kampus.
Ita dan Diah bergabung dalam kegiatan olahraga. Mereka suka bermain voli dan kini sibuk dalam latihan setiap hari. Untungnya Leni dan Apri justru mengikuti jejak Rea. Sehingga mereka bertiga masih sering bertemu bahkan terkadang di waktu-waktu tertentu sering menginap di rumah Leni yang letaknya paling dekat dengan kampus. Apalagi keluarga Leni termasuk orang tua yang mudah akrab dengan orang lain. Khususnya Rea sendiri yang merupakan sahabat Leni sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Mereka sudah terbiasa bertengkar lalu kembali akur layaknya persahabatan lainnya.
Dalam organisasi sosial di kampus tersebut sudah dibentuk pengurus inti yang memang menjabat sejak 3 tahun yang lalu. Mereka adalah senior yang tetap berkecimpung dalam bidang sosial sejak masuk kuliah hingga sampai semester akhir seperti sekarang. Walau beberapa dari mereka sudah mulai sibuk dengan kegiatan kuliah tapi mereka masih menyempatkan diri untuk bergabung dengan kegiatan sosial seperti biasanya. Ada enam anggota inti yang menjabat di organisasi relawan kampus. Ketua organisasi merupakan mahasiswa dari fakultas Teknik, yang bernama Gama. Dia adalah mahasiswa semester lima. Sekretaris merupakan mahasiswi jurusan kedokteran yang sudah masuk semester 4. Dia adalah Lian. Asistennya bernama Mona yang bisa disebut sebagai sekretaris 2. Sementara bendahara dipegang oleh Denta, dan wakilnya Rea.
Walaupun Rea baru saja masuk ke dalam organisasi tersebut tapi dia sudah ditunjuk sebagai salah satu pengurus inti organisasi. Hal itu adalah merupakan keputusan dari ketua organisasi yaitu Gamma. Sejak kemudian mereka tersesat di hutan Kalimantan, dalam sekejap mereka seakan-akan menjadi Artis Dadakan. Tapi bukan karena alasan itu saja real dipilih menjadi salah satu pengurus inti organisasi. Tentu kembali lagi kepada kinerja real selama bergabung dengan relawan yang lain.
Dalam organisasi relawan itu tidak ada istilah senior ataupun Junior. Semua dianggap sederajat dan berhak mengemukakan pendapat. Bahkan Gama selaku ketua organisasi tidak pernah berlaku sok berkuasa atau tinggi hati. Dia justru adalah seseorang yang cukup bijaksana dan dewasa dalam menghadapi segala permasalahan yang terjadi diantara teman-temannya. Menjadi seorang relawan tidaklah mudah. Banyak ujian dan cobaan yang selalu mendatangi mereka terutama saat berada di lapangan.
"Kita harus bekerja sama organisasi lain untuk program selanjutnya. Karena kita butuh bantuan banyak orang. Baik material maupun spiritual," cetus Denta
"Lo sudah mengajak organisasi lain?" tanya Gamma.
" sudah. Tapi jawaban mereka seakan-akan malas untuk ikut rencana ini."
" Memangnya kenapa? Bukannya seharusnya hal ini didukung oleh semua orang?" tanya Rea.
"Yah, biasalah, Re. Alasan klasik. Sibuk sama organisasi mereka masing-masing. Mereka itu kalau nggak diteriakin sama ketua BEM nggak ada gerakannya!" sahut Lian.
"Kok malah jadi ke ketua BEM?"
"Soalnya ketua BEM itu terkenal galak, dia sadis juga. Denta tuh pernah di maki maki pas awal masuk kuliah angkatan tahun kemarin. Gara gara dia bikin kegiatan ospek yang gila," sahut Mona.
"Oh, ya? Gila bagaimana?"
"Enggak gila ah. Cuma agak beda dari yang lain," sahut Denta tidak terima
"Beda dari yang lain gundulmu! Masa ya, Re, Dia nyaranin supaya mahasiswa baru masuk ke Sungai Ciliwung menyelam untuk mencari dan mengumpulkan sampah-sampah."
"Loh bukannya itu ide yang bagus? Demi kebersihan sungai, dan menjaga kelestarian ekosistem air. Jadi kalau hujan nanti banjir bisa berkurang."
"Bagus apanya, dodol! Lo mikir dong, masa iya ada manusia yang rela nyelam di dalam kubangan air yang keruh kayak gitu dan bau lagi! Kayak sendirinya mau aja!" ejek Lian.
"Terus? akhirnya nggak jadi dong. Untung baru rencana. Aku juga nggak mau sih kalau disuruh masuk ke sungai itu!" kata Rea.
"Rencana apaan! Itu kegiatan udah mau dilakuin. Ada satu regu yang udah ada di lokasi kejadian. Pas ketua regu nya udah mau masuk ke sungai, tiba-tiba ketua BEM kita datang. Seketika itu juga di Denta dimaki-maki di situ! Mampus!" jelas Lian dengan penuh semangat.
"waw. Tapi ngomong-ngomong, Emangnya nggak ada yang menentang Denta waktu itu? Lagian kegiatan itu juga agak nggak wajar sih menurut logika orang normal. Kok masih aja dilakuin dan nggak ada yang ngelarang??"
"Bukan agak nggak wajar, Re. Emang nggak wajar!" sindir Mona melirik ke arah Denta.
"Denta ini dulu anak Genk motor. ya istilahnya Preman Kampus lah. Jadi dia itu termasuk orang yang ditakuti di kampus. Akhirnya nggak ada yang berani nantang dia. Kecuali anak BEM."
" Hah serius? Denta dulu preman kampus?"
"Yah, enggak percaya lo, Re!" gerutu Denta.
"Masa sih? hahahaha."
Rea lantas memperhatikan postur tubuh Denta yang kurus dan kecil. Tidak ada satupun hal dari tubuhnya yang bisa menguatkan pernyataan tersebut. Hanya ada satu hal yakni tato yang ada di lengannya dan juga di betis kaki kirinya. Walaupun tidak semua orang yang bertato adalah preman, Tapi selama ini image orang bertato sudah negatif ditambah dengan anting yang ada di bibir, alis, dan hidung. Seperti yang ada pada diri Denta sekarang. Rea Saja sedikit bingung, karena dengan penampilan seperti itu, dia masih diperbolehkan menjadi mahasiswa kampus.
__ADS_1
"Lo ngejek gue!" Sindir Denta.
"Hahahaha enggak kok. Enggak. Tapi terus kelanjutnya gimana? Memangnya itu kegiatan udah mau dilakuin? Terus ketua BEM nya kok bisa tahu?" Tanya Rea penasaran.
"Nih mereka pada ngadu!" tunjuk Denta ke Lian dan Mona.
Kedua gadis tersebut lantas tertawa terbahak-bahak.
"Kamu tahu enggak, Rea, ekspresi Genta saat itu?" tanya Mona. Rea hanya menggeleng sambil bersiap untuk tertawa lagi. Karena dia yakin kalau kisah ini justru menggelikan.
"Jadi kan Ceritanya ada satu regu yang udah dibawa ke pinggir sungai Ciliwung. Mereka tuh udah mau siap buat di cemplungin ke dalam. Cuman pas ngeliat keruhnya air sungai itu, mereka tuh kayak ragu-ragu. Eh sama si kunyuk ini, salah satu dari anggota regu itu ditarik paksa. Nah, datanglah ke BEM ini!" jelas Mona sambil menunjuk Denta dengan sangat kesal.
"Terus si Denta kupingnya langsung dijewer, dan ditarik mundur ke belakang. Denta tadinya mau ngelawan, tapi pas ngeliat yang jewer kupingnya itu anak BEM, dia langsung nggak berani berkutik lagi. Cuma bisa ngangguk-ngangguk aja. Di situlah Denta dimarahin habis-habisan. Dikatain nggak punya otak lah, dikatain nggak punya hati lah, lah sih aku setuju sama omongan Hagana. Nyatanya ni anak emang kunyuk banget! Nggak tahu punya nurani apa enggak!" Lian langsung menoyor kepala Denta. Denta justru tertawa lepas.
"Oh namanya Hagana?"
"Ah, Namanya juga anak muda. Biasa darah muda kan masih suka tantangan. Tapi sekarang kan udah enggak," cetus Denta santai.
" tapi mungkin kalau yang waktu itu jewer bukan Hagana, pasti Denta malah ngajak berantem orang itu," kelakar Gamma ikut bergabung dengan obrolan ini.
"Kok gitu? Memangnya kenapa, Den?"
"Hagana itu kan pernah nolongin Denta. Jadi dia hutang Budi."
"Bukan hutang budi. Gue cuman merasa segan sama dia. Mana itu orangnya tegas, berkarakter dan dia nggak takut sama apapun."
"Tapi tetap kan lo itu mau hutang Budi sama Hagana?"
"Iya Lo kan pernah ditolongin sama dia, pas lagi nonton kuda lumping. Tau enggak, Re, masa si Denta bisa kesurupan setan!" kata Lian.
Rea pun menjadi penasaran dengan sosok yang bernama Hagana. Apalagi setelah mendengar penjelasan teman-temannya tentang bagaimana sepak terjang ketua BEM kampus mereka itu. Karena sejak Rea masuk kuliah, konon Hagana sedang cuti.
" Jadi gimana nih sama kegiatan kita? Apa kita tunggu Hagana balik aja?" tanya Gamma menatap mereka satu persatu.
" ya kalau diantara kita bisa membujuk anak organisasi lain untuk ikut dalam kegiatan ini yang malah bagus. Jadi kita nggak usah buang waktu lagi dan bisa bergerak dengan lebih cepat.".
" Gue sih yakin enggak ya bisa," sahut Mona melirik Lian agar sadar dengan perkataannya itu.
" gue juga males ngajakin yang ada nanti malah berantem. Ntar gue mulu yang disalahin!" sindir Denta dengan wajah yang ditekuk.
" Ya udah kalau gitu nunggu Haga aja."
"Rea, kamu udah rinci anggaran yang harus kita kumpulkan?" tanya Gamma
" baru sebagian sih. Nanti malam aku kerjakan lagi. Kebetulan Kami mau menginap di rumah Leni."
" siapa aja?"
" Bertiga doang. Apri, aku, Leni."
" Oh ya udah bagus deh kalau gitu. Yang penting usahakan besok selesai. Jadi kalau misalkan Haga udah balik, kita bisa langsung ngobrolin hal ini sama dia secara resmi. Karena ini kan menyangkut kepentingan organisasi dan orang banyak, jadi kita nggak bisa main-main dengan diskusinya. Lagian kita nggak akan diskusi cuma sama Haga aja, tapi juga sama pengurus inti mereka," jelas Gamma.
"Oke, siap! Besok udah kelar kok. Tinggal dikit doang."
"Oke deh. Ya udah pada balik kelas sana. Gue mau pulang." Gamma beranjak dari duduk dan mengakhiri sesi diskusi. Sambil membereskan berkas yang ada di hadapannya, Lian justru tampak menatapnya secara intens. Hal ini terbaca oleh Rea. Gadis itu hanya menarik salah satu sudut bibirnya dan ikut berdiri untuk segera kembali ke kelasnya.
"Ya sudah. Aku balik kelas dulu. Sekalian mau cari Apri sama Leni."
__ADS_1
"Iya. Hati hati, Re," sahut Gamma lembut.
Sontak Lian melirik ke arah Rea sedikit sinis. Rea justru terkekeh dalam hati. Saat Rea melangkah menuju pintu keluar, dia sempatkan mendekat ke Lian sambil membisikkan sesuatu. "Tenang aja, Gamma nggak akan aku ambil."
"Heh! Apaan sih! Ngaco aja. Enggak enggak!" elak Lian sambil cengengesan menahan malu karena ketahuan oleh Rea.
Rea baru saja selesai mandi dan kini sedang mengeringkan rambutnya yang basah memakai hairdryer milik Leni. Kedua sahabatnya sudah menunggu di dalam kamar. Mereka memang sudah sepakat untuk menemani Leni yang sedang ditinggal sendirian di rumah. Kedua orang tua Leni sedang pergi keluar kota dan menginap beberapa hari lamanya. Hanya saja mereka bertiga saja yang bisa menemani Leni di rumah. Diah dan Ita sedang sibuk dengan urusan masing masing. Setelah aktif di kampus, mereka memang sudah jarang berkumpul bersama seperti dulu.
Bahkan momen di mana mereka bersama sama dengan formasi lengkap hanyalah saat terakhir mereka berada di Desa Tabuk Hulu.
Begitulah kehidupan persahabatan. Ada pertemuan, ada pula perpisahan. Kemarin dekat dan akrab, bisa jadi besok sudah tidak lagi bertegur sapa. Hanya saja jika mereka bertemu di kampus, entah di kantin atau berpapasan di mana pun, mereka tetap saling bertegur sapa dan berbincang ringan sekedar menanyakan keadaan dan kabar masing masing.
"Eh, Ozan sekarang lagi di rehab katanya, Re!" ucap Leni semangat.
"Hah? Direhab? Memangnya kenapa?"
"Dia digrebek atas penyalahgunaan obat terlarang. Malah yang melaporkan orang tuanya sendiri. Rupanya Ozan juga sering menganiaya orang tuanya."
"Oh ya? Kok bisa gitu sih? kirain dia bersikap seperti itu cuman ke kita doang," sahut Rea yang ikut antusias dalam obrolan ini.
Sejak mereka kembali dari Kalimantan, Fauzan sudah tidak pernah lagi terdengar kabarnya. Saat kepulangan mereka beberapa hari yang lalu pun, mereka tidak satu mobil dengan Fauzan. Bahkan begitu sampai di pesawat, kursi mereka berjauhan dengan Fauzan. Tapi untungnya dalam perjalanan pulang kemarin, Fauzan sudah tidak lagi melakukan tindakan berbahaya yang bisa menyakiti orang-orang di sekitarnya.
" Apa mungkin sih sikap Arogan dia selama ini karena pengaruh obat-obatan Terlarang?" tanya Apri.
"Hmm, bisa jadi sih."
" tapi soalnya yang ikut aliran sesat, itu juga bener kan?"
"Iya. Kalau yang aku lihat sih, selama kita kemarin ada di Kalimantan, memang ada kayak semacam bayangan hitam atau seperti asap hitam mungkin, yang ada di sekitar tubuh Fauzan. Tapi aku nggak tahu apa dia kesurupan atau hanya dipengaruhi dari luar saja, bahkan setelah dengar kabar ini bisa saja selama ini dia memang tidak sadar dan sedang dalam pengaruh obat-obatan Terlarang," tukas Rea.
" ya Semoga dia bisa cepat sembuh. Kasihan Ozan," gumam Apri dengan wajah sedih. Di antara mereka bersepuluh, Apri memang dikenal yang paling baik dan paling tulus. Bahkan saat dia mendapat perlakuan yang tidak baik, Apri tetap bersikap baik kepada orang yang tersebut. Mereka semua tidak heran dengan hal itu. Dan itulah yang membuat mereka semua bersahabat dengan Apri terlepas dari semua kekurangan yang dia miliki. Karena setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
" Oh ya, bantuin aku ya bikin rincian anggaran buat program kita selanjutnya."
"Eh ini program apa, Re?" tanya Leni.
"aaih, Leni! Dasar pelupa! Kan kita mau cari sumbangan buat korban longsor yang ada di berita kemarin!" tukas Apri.
"Oh iyaa ya. Sorry lupa. Kirain gak jadi. Katanya kan kita kekurangan anggota buat nyari sumbangan."
" Iya memang, tapi kita mau kerjasama sama ketua BEM. Katanya kalau dia udah ngomong semua anak organisasi bakal Bantuin kita."
"Oh ya? Wah keren dong kalau gitu."
Badan eksekutif mahasiswa adalah organisasi mahasiswa intra kampus yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat pendidikan tinggi yang dipimpin oleh seorang Presiden Mahasiswa atau Ketua BEM. Dalam melaksanakan program-programnya, umumnya BEM memiliki beberapa kementerian dan departemen atau bidang. BEM bertugas: Melaksanakan semua program di dalam Garis-Garis Besar Program Kerja (GBPK) yang telah disetujui. Merencanakan dan mengorganisasikan program kegiatan kemahasiswaan dalam bidang eksekutif dan manajerial/ leadership di tingkat universitas.
Tugas Dari BEM tersebut pun melingkupi banyak hal. Mulai melaksanakan program kerja (proker) yang ada di kampus hingga menjadi perwakilan aspirasi mahasiswa.
Sebagai lembaga eksekutif, kehadiran organisasi ini tidak lain dan tidak bukan sebagai wadah aspirasi mahasiswa.
Setidaknya disitulah para mahasiswa bebas berkreasi dan berpendapat. Misalnya melakukan perubahan, mengasah emosional, peradigma, mengembangkan intelektual hingga nilai-nilai religus pun juga bisa. Setiap organisasi pasti memiliki susunan pengurus. Di Badan Eksekutif Mahasiswa inilah terdapat beberapa organisasi intra kampus, seperti unit kegiatan mahasiswa, senat mahasiswa dan himpunan mahasiswajurusan.
Istilah senat mahasiswa yang merupakan bagian dari BEM sebagai Badan Perwakilan Mahasiswa tertinggi. Tentu saja mereka telah di akui dan memiliki kewenangan. Sehingga ketua BEM ini memiliki kewenangan pada organisasi di kampus.
Masa jabatan yang diberikan oleh ketua BEM biasanya hanya satu periode saja. Tapi sayangnya karena kinerja ketua BEM sekarang paling bagus, maka dia kembali diangkat menjadi ketua BEM dua periode.
Mereka bertiga mengerjakan rincian anggaran yang akan mereka kerjakan untuk program yang akan mereka lakukan. Tidak hanya itu saja, buka titik-titik dan lokasi di mana mereka bisa mencari sumber data mereka dapatkan. Diskusi itu berakhir saat lewat tengah malam. Bukan karena mereka sudah mengantuk atau kelelahan, melainkan karena ada bunyi yang terdengar di luar. Tepatnya di jendela kamar Leni bagian luar. Ada suara seperti orang yang sedang melempar batu ke arah jendela kamar Leni. Mereka bertiga yang tidak ingin mengetahui suara tersebut, memilih untuk mengakhiri diskusi, dan beranjak tidur.
__ADS_1