pancasona

pancasona
Part 157 Pertengkaran Ellea dan Abi


__ADS_3

Desa Amethys kembali normal. Kehidupan warganya sudah kembali seperti sedia kala. Mereka mulai menata lagi desa agar kembali ke fungsinya masing-masing. Tragedi kemarin merupakan momok yang sangat mengerikan sekaligus menyedihkan. Setiap kepala keluarga kehilangan satu atau bahkan lebih anggota keluarganya. Semua berdua, tapi hidup tetap harus berjalan.


Beberapa bulan berlalu. Vin sudah mulai membangun rumah yang berada tak jauh dari Abi berada. Dan tentu rencana pernikahan mereka akan dilangsungkan sesegera mungkin. Ellea dan Abimanyu mengalah untuk menunda pernikahan mereka. Karena ternyata Allea kini sedang berbadan dua. Tentu hal ini yang menjadi pemicu agar pernikahan harus segera dilangsungkan.


Rumah Vin dan Allea tinggal tahap finishing, kini bahkan Allea dan Vin sudah mulai mencari perlengkapan rumah tangga, agar saat rumah mereka sudah selesai mereka tinggal mengisinya dengan perabotan dan finally, mereka akan resmi tinggal di sana sebagai sepasang suami istri. Menjadi anak yatim piatu, membuat Allea dan Ellea tidak memerlukan wali dalam pernikahan mereka tentunya. Dan dalam tradisi kepercayaan orang jaman dulu, tidak dianjurkan dua orang saudara untuk menikah dalam waktu yang berdekatan. Hal ini yang membuat Ellea dan Abi rela menunggu untuk beberapa tahun ke depan.


Tiba hari bahagia Allea dan Vin. Keduanya menikah secara sah di depan warga desa Amethys. Ronal sebagai wali dari Allea tampak berbahagia. Sejak kematian Jefri, Ronal justru makin dekat dengan mereka. Ia merasa menjadi seorang ayah saat bersama mereka. Pernikahan berjalan lancar. Dan kini Allea resmi menjadi Nyonya Vin Salvino Gunawan.


Sekalipun Ellea belum menikah dengan Abimanyu, tapi ia tetap tinggal di rumah Abi. Tentu ada Gio juga. Sementara itu rumah Vin dan Allea berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah Abi. Kehidupan mereka berjalan normal layaknya orang-orang pada umumnya. Allea dan Ellea memutuskan membuka butik pakaian wanita dengan menyewa bangunan yang berada tak jauh dari pusat perdagangan di desa. Dan tentu tidak begitu jauh dari café Pancasona. Vin juga sudah memiliki pekerjaan tetap. Ia menjadi kurator. Kurator adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitor pailit di bawah pengawasan hakim pengawas. Vin yang memang seorang lulusan hukum memang cocok bekerja di bidang ini. Sementara Gio ini sudah memiliki bengkel pribadi. Ia memang cukup lihai dalam memperbaiki kendaraan, dan apa pun juga sebenarnya. Semua menemukan kehidupan masing-masing. Berjalan normal dan tenang.


______________


Malam ini sambil menunggu Abi yang masih membereskan café Ellea duduk di salah satu kursi yang ada di halaman depan café Pancasona. Ia selalu setia menunggu kekasihnya menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu, lalu setelah itu mereka pulang bersama-sama. Kening Ellea di kecup, saat Abi berjalan melewatinya setelah mengantar kopi pesanan pelanggan. Ini adalah pelanggan terakhir untuk malam ini. Karena Maya sudah membalik papan bertuliskan 'closed' di depan pintu café. Ini salah satu bentuk pengusiran halus jika masih ada pelanggan yang betah berlama-lama di tempat ini. "Sebentar, ya. Aku mau briefing dulu sama mereka," kata Abi menunjuk ke dalam café di mana para karyawannya sudah mulai berbenah dan akan selalu mengadakan pertemuan rutin setiap café akan di tutup. Ellea tersenyum menanggapi Abi dan kembali fokus pada buku di tangannya.


Hampir setiap malam Ellea selalu bermimpi aneh. Berjalan-jalan di taman bunga yang indah atau ke tempat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Tetapi akhir-akhir ini, ia memimpikan hal buruk hampir setiap malam. Ellea terus mencari informasi tentang status dirinya yang diberi nama pembantu malaikat. Setelah kasus werewolf beberapa bulan lalu, desa mereka masih tenang dan damai. Tidak ada kejadian aneh yang menonjol. Tetapi Ellea merasa tidak nyaman dan seolah merasakan ada hal lain yang akan terjadi di desanya.


Ellea membeli semua buku yang berkaitan dengan Archangel. Ia ingin tau semua hal yang belum ia pahami. Rasa penasarannya cukup tinggi dan tentu semua juga berhubungan dengan mimpi-mimpi yang ia alami selama ini. Ia penasaran siapa Elisabeth, ia ingin tau di mana ia saat mimpi-mimpi itu datang. Terkadang ia merasa bagai ada di taman Eden, tapi di lain waktu ia merasa ada di neraka.


Malam semakin larut, pengunjung terakhir café sudah mulai pergi dari mejanya. Beberapa lampu café juga sudah di matikan. Abi dan anak buahnya mulai keluar dari tempat itu. Maya melambaikan tangannya ke Ellea, ia kini lebih sering pulang bersama Rain. Setidaknya Maya tidak terus menerus sendirian. Kedekatannya dengan Rain menjadi salah satu alasannya kembali tersenyum dan tertawa seperti Maya yang dulu mereka kenal.


"Hati-hati, May. Rain ... titip Maya," ungkap Ellea dengan senyum tipis dan sorot mata yang memancarkan kelegaan melihat Maya yang sudah kembali ceria.


"Yuk, kita juga harus pulang sekarang," ajak Abi merangkul gadis itu. Ellea menoleh dengan menampilkan senyum bahagia. Ia lantas membereskan bawaannya dan memasukkan ke dalam tas.


"Buku baru?" tanya Abi yang melihat sampul buku yang baru saja ia lihat.


"Huum."


Mobil parkir di seberang jalan yang memang juga merupakan lahan parkir café. Pengunjung terakhir tadi masih ada di sana. Ia tengah memeriksa mesin mobil miliknya. Abi kemudian mendekat mencoba menyapanya sebelum mereka benar-benar pergi.


"Kenapa mobilnya, Mas?" tanyanya sambil ikut melongok ke depan mobil itu. Sang pemilik yang sejak tadi berdiri di sana lantas tersenyum dan menjawab pertanyaan Abi. "Mau saya panggilkan montir? Kebetulan paman saya salah satu montir di sini," tawar Abi yang sudah mengambil ponsel dari jaketnya. Ellea menunggu dengan berdiri tak jauh dari mereka. Ia juga penasaran dan sedikit iba melihat orang itu. Ini sudah malam dengan mobil mogok adalah hal terburuk yang terjadi tentunya.


"Oh, sepertinya tidak perlu, saya sudah menghubungi montir saya. Hanya saja dia belum datang," runtuknya sambil terus melirik ke pergelangan tangannya. Abi memutuskan pamit dan melanjutkan berjalan ke mobilnya.


"Euh, kopi buatan anda enak," seru pria itu dan mampu menghentikan langkah Abi yang tengah menggandeng Ellea. Mereka berdua menoleh dan tersenyum. " Terima kasih. Mampirlah sering-sering," cetusnya lalu kembali berbalik ke mobilnya.


"Tentu saja."


Jantung Ellea terasa berdesir, tubuhnya juga mendadak kaku. Bukan karena jawaban dari pria itu tentunya. Tetapi melihat ekspresi orang tersebut tadi. Saat Abi membalikkan badannya, Ellea menangkap sesuatu yang aneh dalam diri pria itu. Bola matanya berubah menjadi hitam semuanya. Tetapi itu hanya berlangsung dua detik saja. Tubuh Ellea mengikuti tarikan tangan Abi, tetapi otaknya terasa tetap ada di tempat terakhir ia berdiri tadi.


Setelah masuk ke dalam mobil, Ellea masih diam. Dan hal itu membuat Abi sadar. "Sayang, kenapa?"


"...."


"Ell," panggil Abi sambil menyentuh bahu kanan gadis itu. Ellea tersentak kaget. Ia menoleh ke Abimanyu sambil terlihat gugup. "Hey, kamu kenapa?"


"Eum ... aku nggak apa-apa kok. Cuma capek aja," sahutnya berbohong. Abi tampak diam beberapa saat sambil terus menatap gadis di depannya itu. "Oke, kita pulang."


Mesin mobil dinyalakan. Jalan keluar parkiran hanya ada satu, dan otomatis mereka harus melewati mobil pria tadi yang mogok. Abi memberikan klakson untuk menyapa terakhir kali, sementara Ellea dengan takut tetap berusaha menatap orang tadi. Ia masih penasaran atas apa yang ia lihat tadi.

__ADS_1


"Semoga salah lihat," batin Ellea. Tangannya menarik-narik ujung baju yang ada di pahanya. Netranya terus menatap mata pria tadi. Semua masih tampak normal, tapi tanpa disadari Abimanyu, mata pria itu kembali berubah hitam seluruhnya. Dan tetap hal itu berlangsung hanya sekitar dua detik saja. Nafas Ellea naik turun tidak teratur. Ia berusaha mencoba tetap tenang di saat hatinya gelisah. Dalam batinnya ia bertanya-tanya, "makhluk apa itu? Ada apa sama matanya?"


Ellea melirik Abi yang terlihat biasa saja. Mungkin ia tidak melihat atau dirinya lah yang sedang berhalusinasi. Dengan ragu-ragu ia mencoba bertanya pada kekasihnya, berharap dia memang melihat hal aneh tadi, dan menepis kalau dirinya sudah mulai tidak waras lagi. "Biyu ..."


"Hm? Kenapa?"


"Kamu lihat tadi nggak?"


"Lihat? Lihat apa?" tanya Abi heran.


"Eum, nggak apa-apa."


"Ell?"


"Nggak apa-apa, Biyu. Aku salah lihat."


"Maksud kamu lihat apa sih? Cerita dong yang jelas," ujar Abi yang memang sedikit memaksa. Ia memang menyadari kalau kekasihnya sedikit lain, tidak seperti biasanya yang selalu ceria. Walau Abi memang menyadarinya cukup lama. Setelah teror werewolf kala itu. Tapi sekarang Ellea lebih aneh lagi. Ellea mulai menunjukkan sikap gugup lagi. Ia tidak bisa tenang dengan menggerakkan beberapa anggota tubuhnya secara berlebihan. Tangannya terus menerus menarik dan memutar ujung bajunya, bibirnya bergetar, dan kedua bola matanya tidak pernah fokus menatap satu tempat. Terpaksa Abi meminggirkan mobilnya untuk membicarakan apa yang terjadi pada Ellea.


"Oke. Cerita sama aku." Sorot matanya penuh penekanan pada tiap kalimatnya. Ellea yang awalnya ragu lantas memutuskan memberitahu apa yang ia lihat tadi. Karena bagaimana pun juga, Abi pasti akan terus bertanya sampai dirinya mendapat jawaban yang sebenarnya.


"Orang tadi."


"Orang tadi? Kenapa sama dia?"


"Ada yang aneh, Biyu. Tadi aku lihat sekilas ... kalau bola matanya berubah."


"...."


"Oke. Nanti kita bahas lagi di rumah, ya. Kita juga cari tau dia siapa. Gimana?" tanya Abi sambil membelai pipi gadis itu. Ellea mengangguk dan mereka melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.


Mobil Gio terlihat sudah parkir di depan rumah. Ia memang lebih sering pulang lebih awal daripada Ellea dan Abi. Karena bengkel hanya buka hingga sore hari saja. Mereka sedikit terkejut melihat di rumah tidak hanya ada Gio saja, tetapi juga ada seorang wanita yang diperkirakan seumuran dengan Gio. Mereka berdua terlihat akrab mengobrol di sofa depan TV.


"Siapa, ya?" tanya Ellea pada Abi. Abi mendadak seperti gagap, ia menggaruk kepalanya sambil mencoba mencari jawaban yang wajar. Karena sebenarnya dia tau siapa wanita itu. "Eum mungkin pacar Paman Gio atau masih pendekatan, barangkali," ujarnya.


"Hei ... baru pada pulang? Mampir mana?" tanya Gio yang terlihat kikuk. Ia terlihat gugup saat Ellea menatapnya dan wanita di sampingnya. "Eum, kenalin ini Amy."


Wanita yang bernama Amy itu, justru terlihat supel dan ramah pada Ellea. Ia memperkenalkan dirinya sendiri dengan penuh percaya diri. "Psikolog?" tanya Ellea lagi, memastikan, saat Amy menyebutkan pekerjaannya. Ellea langsung melirik ke arah Abimanyu dengan tatapan sebal.


"Maaf, saya mau ke kamar dulu. Capek!" kata Ellea ketus. Tiga orang itu saling menatap, bingung karena mendapat penolakan tegas dari Ellea. Abi yang beberapa hari ini menyadari perubahan sikap Ellea memang berniat mengajaknya ke psikolog. Tetapi ia tau kalau Ellea secara terang-terangan diajak ke tempat itu, pasti ia akan menolak mentah-mentah. Karena pernah suatu waktu karena intensitas mimpi buruk yang Ellea alami, Abi membahas tentang psikiater padanya. Ellea justru marah dan berteriak dan mengatakan kalau dia tidak gila dan apa yang ia ucapkan memang benar adanya. Dan kini Abi benar-benar kacau karena Ellea menatap benci ke arahnya. Ia merasa gagal.


Amy memegang bahu Abi," pelan-pelan saja. Mungkin malam ini saya pulang saja dulu, besok saya akan ke sini lagi." Amy pulang diantar Gio, karena Gio yang membawanya ke rumah ini, otomatis dia juga yang harus mengantar wanita itu pulang. Apalagi Amy dan Gio memang berteman lama.


Ellea turun dari kamarnya, ia menenteng sebuah tas, dan itu membuat Abi panik. "Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Abi yang terus berusaha menghalangi gadis itu terus berjalan ke arah pintu. "Ell, kamu marah soal Amy? Aku minta maaf, Ell. Please jangan gini," bujuk Abi dengan penuh harap.


"Jadi maksud kamu panggil dia ke sini apa? Aku kan udah bilang, kalau aku nggak perlu psikiater atau apa pun itu, Biyu. Asal kamu tau kalau apa yang aku bilang itu nggak mengada-ada. Aku masih waras. Dan kalau menurut kamu apa yang aku bilang tadi bohong, terserah. Nyesel aku cerita. Percuma aku cerita, Karena kamu nggak percaya sama aku sama sekali. Dan sekarang aku pengen tidur di rumah Allea. Minggir!" tukas Ellea ketus. Abi berusaha menahan Ellea, ia memegang tangan gadis itu dan terus membujuknya agar mengurungkan niatnya.


"Ell, please. Jangan gini dong, aku minta maaf, ya. Aku janji nggak akan ngulangin hal itu lagi. Aku percaya sama kamu," katanya sambil membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Ellea. Ia ingin menangkap sorot mata Ellea yang kini diliputi amarah.


"Oke, tapi malam ini aku mau tidur di rumah Allea. Aku pengen sendiri!" Ellea menerobos tubuh Abimanyu yang ada di depannya. Pemuda itu terpaksa menyingkir dan membiarkan Ellea pergi. Karena apa pun yang ia katakan, akan percuma. Ellea masih kesal, dan ia sadar kalau ini adalah kesalahannya. Tapi ia tidak membiarkan Ellea pergi ke rumah Vin sendirian. Abi mengikuti Ellea dengan tetap menjaga jarak.

__ADS_1


Ellea sadar kalau Abi terus mengikutinya, ia lantas berbalik dan otomatis Abi juga ikut berhenti. "Ngapain kamu?!"


"Aku temenin sampai rumah Allea, oke? Aku harus pastikan kamu aman sampai di sana," bujuk Abi.


"Bi, rumah mereka deket loh. Tuh, keliatan, kan?" tunjuk Ellea ke sebuah bangunan yang memang terlihat dari tempat mereka berdiri.


"Iya aku tau, sayang. Tapi ini udah malam. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa."


"Terserah!" kata Ellea lalu kembali meneruskan langkahnya. Abi sedikit lega Karena Ellea tidak melarangnya mengikuti dari belakang. Ia benar-benar harus memastikan Ellea sampai di rumah Vin dengan selamat, hanya itu saja. Saat sampai di dekat rumah Allea, ada sebuah mobil pick up yang mereka kenal. Mobil itu berhenti, dan seseorang mengeluarkan kepalanya dari jendela.


"Pada ngapain malam-malam?" tanya Rendra menatap dua sejoli itu heran. "Eh, Ell, nih buku yang kamu minta. Aku udah dapet." Kalimat Rendra membuat Ellea berhenti dan tertarik pada apa yang hendak pemuda itu berikan. Ellea mendekat ke pintu mobil Rendra, menunggu barang pesanannya.


"Kamu dapat di mana, Ren?"


"Kebetulan kemarin aku ke kota, ke pasar loak, terus ada lihat buku-buku lama. Ada banyak yang aku beli sih, dan yang ini ... punya kamu," ucap Rendra sambil menyodorkan sebuah buku usang dengan sampul sedikit tebal berwarna hijau tua. Abimanyu ikut mendekat dan penasaran atas transaksi dua orang itu. "Bener, kan, yang itu?" tanya Rendra memastikan. Ellea lantas tersenyum dan seolah amarahnya tadi menguar bersamaan dengan diterimanya buku pemberian Rendra ini.


"Buku apa sih, sayang?" tanya Abi. Ellea langsung mendekap buku itu dalam pelukannya dan menyipitkan mata melirik ke arah Abi yang berdiri menempel dengannya. "Bukan urusan kamu!" Ternyata amarahnya pada Abimanyu masih awet. Ia lantas segera berjalan masuk ke halaman rumah Allea sambil berteriak memanggil nama saudaranya itu.


"Kenapa sih kalian?" tanya Rendra, heran.


"Hm, biasa. Ngambek," sahut Abi sekedarnya. "Elu dari mana?"


"Biasa. Muter-muter, ngantar barang."


Sebuah mobil berhenti di seberang jalan, Abi dan Rendra mengernyitkan kening pada mobil itu. "Siapa tuh?" tanya Rendra yang melihat sang sopir yang turun dari mobil dan kini berjalan ke arah mereka.


"Oh, itu yang tadi. Pelanggan gue. Mau apa, ya?"


Pria itu tersenyum ke arah Abimanyu sambil membawa secarik kertas. "Oh, kamu lagi. Astaga aku nggak tau kalau ketemu kamu di sini," kata orang itu.


"Iya. Eum, mobilnya udah jadi?"


"Udah nih. Montirnya tadi tersesat, jadi agak lama katanya. Eh eum maaf mau tanya, kalau alamat ini di mana, ya?" tanyanya sambil menyodorkan kertas itu ke Abimanyu. Abi yang memang paham seluk beluk desanya, lantas memberikan arah untuk alamat yang ditangannya itu.


"Oh, oke. Terima kasih. Eum, aku Zio," katanya sambil mengulurkan tangannya. "Eum, aku Abi." Mereka terlihat akrab dalam perkenalan singkat ini, membuat Rendra menata keduanya intens. Dan Ellea yang sedang mengintip dari jendela, melotot. Ia langsung menutup korden saat melihat Zio menatap dingin padanya.


"Ya sudah, terima kasih, Bi." Pamitnya. Abi melambaikan tangannya tanda salam perpisahan. Mobil Zio melaju cukup cepat dan kini hanya meninggalkan asap kendaraannya saja.


"Siapa sih?" tanya Rendra.


"Kan tadi gue bilang, pelanggan café. "


"Kok aneh, ya?" gumam Rendra sambil menatap arah perginya orang tadi.


"Aneh apanya?" tanya Abi dengan menatap Rendra penasaran. Karena Ellea juga mengatakan hal yang sama, tentang tidak sukaannya pada Zio.


"Eum, aneh aja. Tapi ... entahlah. Yang jelas hati-hati aja sama dia. Perasaan gue nggak enak. Ya udah gue balik. Mendingan elu juga balik, pakai cara lain buat bujuk cewek lu besok. Kalau malam ini percuma aja. Dia lagi emosi banget kayaknya ke elu."


'Iya sih, Ren. Huft!"

__ADS_1


__ADS_2