
Aku sedang makan di kantin bersama Rani.
"Nay, kamu tuh lagi kenapa sih sama Kak Wira?kok cuek-cuekan gitu?" Tanya Rani.
"Kita break dulu ran," jawabku malas-malasan.
"Lho kenapa? Kupikir kalian berdua tuh cocok lho, sampai bikin aku iri tau nggak, sih? Ada masalah apa, sih??" Tanya Rani.
Aku terdiam, tidak mungkin juga aku cerita masalah kemarin.
"Biasalah... Udah ah, nghak usah bahas, ya please..." pintaku.
"Hmm... Iya, deh. Tapi kalau kamu mau cerita bilang ya, Nay," kata Rani sambil menggengam tanganku.
Sebenarnya, aku ingin sekali cerita padanya, tapi tidak mungkin juga aku buka rahasia mengenai Wira ke dia.
"Eh, Nay, perpustakaan yuk," ajaknya setelah membaca pesan di ponselnya.
"Hah? Nggak ah, trauma aku," tolakku.
"Ya, ampun Nay! Aman! Tenang aja, ada Dewa disana. Yuk, ah!" Dia memaksa sampai menarik tanganku.
Pantas semangat, ada Dewa!!!
Ya sudah, bisa apa aku.
Kami berjalan ke perpustakaan dengan bergandengan tangan, Rani mulai mengoceh kesana kemari, tapi aku tidak begitu mendengarkannya.
Aku malah fokus ke ruang asisten dosen yang dapat kulihat dari tempatku berjalan. Disana ada Wira yang sedang berbicara dengan Jen.
Mereka juga menatapku, lalu Jen menepuk bahu Wira. Pasti Jen sudah tahu masalahku dengannya.
Sampai diperpustakaan, Rani masih saja menarik tanganku hingga ke sebuah meja. Disana ada dewa yang sedang membaca buku.
"Wa!! Sorry lama..." Ucap Rani.
Dewa memandang kami lalu tersenyum.
Aku sendiri tidak mengerti, mereka ini ngapain sih disini? Mau pacaran?
Kenapa harus diperpustakaan?
Rani lalu berdiri ke sebuah rak buku dan seperti mencari cari sesuatu.
"Nay..." Panggil Dewa.
"Apa?" Jawabku jutek.
Dewa menyodorkan sebuah buku yg sudah lusuh.
"Apa, nih?"
"Asal usul Wira..." Katanya datar.
"Hah?" Aku masih belum mengerti maksudnya.
"Ini buku tentang sejarah. Mengenai kerajaan *******. Aku yakin kamu udah tau kalau Wira dulu senopati di sebuah kerajaan dimasa lalu..." Terangnya membuatku terkejut.
Tahu dari mana dia? Kulirik Dewa lalu kuambil buku itu.
Kubaca perlahan karena buku itu sudah tua, takut koyak oleh jemariku.
Aku mulai asyik membaca buku itu.
Dibuku itu juga diceritakan silsilah keluarga, bukan hanya raja dan pejabat pemerintah yang berkedudukan tinggi saja. Namun juga sampai ke prajuritnya.
Aku sangat tertarik dan ingin tahu bagaimana kehidupan Wira di masa lampau.
"Eh, Nay... Balik, yuk. Udah sore nih," ajak rani.
Karena keasyikan baca, aku sampai lupa waktu.
"Eh, iya. Ayok!" Aku mulai berkemas.
Aku menatap Dewa yang sedang tersenyum melihatku.
"Bawa aja nggak apa-apa. Kalau udah selesai baca baru kamu kembalikan," kata Dewa.
Aku hanya menyengir. Baru kali ini aku merasa Dewa ini baik sekali.
"Kamu balik sama siapa, Nay?" Tanya Rani.
"Gampang. Ada angkot, ojek, taksi," jawabku sambil terus membaca buku itu.
"Baca apaan sih, Nay? Serius banget," tanya Rani sambil melihat cover buku yang kupegang.
"Kepo, deh. Udah sana balik... Kasihan Dewa, tuh," tukasku.
"Hmmm... Iya deh. Ya, udah. Aku balik, ya Nay. Kamu hati-hati," mereka lalu berjalan ke mobil Dewa.
"Iya... Kalian juga hati-hati..." Kataku.
Kembali aku tenggelam dalam buku ini, entah mengapa aku jadi tertarik dengan sejarah. Padahal sebelumnya aku ini tidak begitu suka dengan sejarah.
Aku ini tipe orang yang tidak begitu suka membahas masa lalu.
*ups...
Aku terus berjalan hingga keluar gerbang kampus.
Namun...
Bugh!!!
"Aduh... Gimana sih, kalau jalan lihat-lihat dong," gerutuku sambil memungut bukuku.
"Kalau rusak, gawat nih! Buku langka juga," aku berbicara sendiri.
"Kamu baca apa?" Tanya orang itu yg tidak lak tidak bukan adalah Wira.
"Kamu?" Aku menatapnya heran.
Dunia ini Terasa sempit sekali rasanya. Dimana-mana ketemunya dia.
Come on, Nay. Ini kampus, terang saja ketemu dia terus.
"Kalau jalan jangan sambil baca, bahaya," ujarnya menasihatiku.
"Iya," kataku ketus, lalu kumasukkan buku itu kedalam tas.
Aku pun melenggang keluar kampus meninggalkannya.
"Nay..!!!" Tanganku di tangannya, saat aku berjalan melewatinya.
Terpaksa aku berhenti dan menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Apa?" Tanyaku datar.
"Aku antar aja. Udah nggak ada angkutan umum. Taksi lagi pada demo, jadi nggak ada yang akan lewat sini."
Aku menaikan sebelah alisku.
"Masa?" Kataku tidak percaya.
"Beneran, aku nggak bohong," kata Wira serius.
Kutatap lekat-lekat matanya.
Aku mendengus sebal dan akhirnya mengiyakan tawaran Wira.
"Ya, udah deh," kataku pasrah.
Wira tersenyum lalu segera mengambil motornya yang terparkir ditempat biasa. Tak lama dia sudah ada di depanku lalu mengulurkan helm padaku.
Aku pun naik ke jok belakang, kami melesat menjauh dari kampus.
"Kak!!! Aku anterin sampai bank deket kost aja, ada perlu..." Ucapku setengah berteriak.
Mulai hari ini aku akan memanggilnya seperti dulu.
Wira menoleh sedikit lalu mengangguk.
Kami sampai di bank yang kumaksud.
"Kamu balik aja nggak apa. Mungkin aku lama, antri pasti, nih," kataku sambil melihat ke dalam bank yang sudah bisa kutebak ramai sekali. Di parkiran saja sudah penuh sesak.
"Hmm... Aku tungguin aja, deh.. Lagian aku nggak ada acara apa-apa lagi," ujarnya memaksa.
"Terserah," aku lalu masuk kedalam diikuti wira.
Dan benar saja, saat pintu dibuka.
Jeng jeng jeng...
Buju buneng... Antrinya seperti lagi pada main ular naga panjangnya bla bla bla...
Aku lantas mengambil nomer antrian yang membuatku rasanya ingin bangun tenda dan tidur siang terlebih dahulu. Lama dan pasti membosankan.
Aku pun duduk di kursi yang masih kosong. Wira terus mengekor padaku. Daripada bosan, aku putuskan untuk bermain permainan favoritku... Super Mario.
"Nay, aku toilet dulu, ya," kata wira.
Aku hanya mengangguk tanpa melepaskan pandanganku dari layar ponselku.
Dapat kutangkap dari ujung mataku, Wira berjalan menjauh menuju toilet.
Tiba-tiba ada beberapa orang yang masuk. Ada kali sepuluh orang dengan jubah serba hitam dan memakai penutup muka dan kepala. Sudah bisa ditebak, mereka pasti perampok.
Duh, sial sekali sih aku hari ini.
Satpam dan polisi yang berjaga di depan sudah mereka lumpuhkan.
"Semua tiarappp!!! Jangan ada yang melawan kalau mau selamat!" Kata salah satu dari mereka.
Beberapa menggasak uang di bank.
Sebagian merampok kami.
Kami pun menurut. Kumasukan ponselku ke tas lalu turun dari kursi dan tiarap di lantai.
"Masukan semua uang, hp dan perhiasan kalian!" Teriaknya lagi.
"Duh gak rela ini mah, enak aja dia bilang gitu. Uang bulananku ada di dompet semua lagi."
Perampok itu menodongkan sebuah kantung lalu menyuruh kami memasukkan semua barang berharga yang kami punya.
Satu persatu dari mereka pun memasukkan ponsel, uang dan perhiasan.
Suara sirine polisi sudah ada diluar. Ada setitik harapan kami akan selamat. Namun hal itu justru membuat perampok semakin anarkis.
Mereka mengancam akan menembak kami satu persatu jika polisi tidak pergi. Dengan menggunakan speker yang keras mereka mengancam polisi yang ada diluar.
Dooor!!!
"Aaaaahhhhhhhhh!" Kami berteriak.
Seorang bapak-bapak tertembak di perutnya karena mencoba melawan. Kami semakin histeris.
"Kamu!!! Bangun!!!" Aku yang awalnya tiarap, terkejut karena ternyata aku yang dia maksud.
Dengan ragu aku berdiri, dia menodongkan pistol ke arahku walau jarak kami agak jauh.
Glek!
Aku bakal mati hari ini, nih.
Mama Papa, maafin Nayla.
Aku berdiri dengan ketakutan namun aku sudah pasrah.
Dooor!
Peluru lepas dari tempatnya namun seseorang berhasil memelukku dan membawaku pergi dari sana.
"Argh! Kamu nggak apa-apa, Nay?" Tanyanya menahan sakit.
"Kak Wira? Ya, ampun. Kakak kena tembak?" Tanyaku panik.
"Tenang aja, aku bawa kamu pergi dulu dari sini," katanya lalu menggandeng tanganku.
"Cari!!! Hidup atau mati!!!" Kudengar suara di luar dari perampok itu. Wira membawaku berlari ke toilet. Lalu kami masuk ke sebuah bilik dan dikuncinya.
Darah menetes dari punggungnya.
"Duh, itu gimana, kak? Sakit, ya?" Tanyaku panik.
Wira malah sibuk membuka jendela yang ada di toilet.
"Nggak apa-apa. Asal kita bisa keluar secepatnya, Nay."
Praaangg!!!
Kaca dipecahkan oleh pukulan tangan Wira. Tangannya juga berdarah.
Wira menyuruhku untuk masuk ke jendela itu yang menghubungkan keluar. Aku keluar dibantu Wira.
Setelah aku keluar, kini giliran Wira.
Namun...
Dooor!!!
__ADS_1
Kembali kudengar letusan tembakan dan Wira semakin pucat. Sepertinya perampok itu berhasil menemukan kami.
"Tolonggggggg!!!" Aku berteriak minta tolong.
Dooor!!!
Lagi kudengar suara tembakan. Wira melemas namun dia terus tersenyum sambil menatapku.
"Ya ampun, Kak. Kamu nggak apa-apa?" Aku mendekat dan menggenggam tangannya yang berdarah.
"Kamu nggak usah khawatir, cepat kamu pergi!!! Cari bantuan!!!" Pintanya.
Aku mengangguk lalu pergi mencari bantuan.
Sampai di depan, aku memberitahu polisi tentang keadaan Wira.
Beberapa anggota polisi tadi ikut kebelakang dan anehnya Wira tidak ada di sana. Hanya beberapa perampok yang sudah tergeletak dengan bersimbah darah karena luka tembak.
"Lho, teman mbak mana?" Tanya salah satu Pak polisi tadi.
Aku melongo.
"Nggak tau, pak. Apa udah pergi ya, ke rumah sakit?" Kataku mencari alasan.
"Ya udah, mbaknya nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa, Pak. Saya pulang aja, deh," kataku sambil berjalan menjauh.
"Mbak, dianter aja, ya?" Teriak Pak polisi tadi.
"Nggak usah, Pak. Makasih." Aku lalu berjalan menjauh.
Wira kemana? Kokh ilang begitu saja?
Namun dari sebrang jalan, aku melihatnya telanjang dada. Dia tersenyum padaku.
Aku berlari mendekat padanya.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Tanyaku memandangi tubuh indahnya.
*Astaga! Gagal fokus!
Hmm... Memastikan lukanya sudah hilang maksudnya.
"Aku nggak apa kok, Nay. Ya udah, aku antar pulang ke kos aja, ya," katanya.
Aku mengangguk.
"Tapi... Kamu nggak pakai baju?" Tanyaku.
"Nggak apa. Bajuku robek. Banyak darahnya juga. Kalo orang lihat malah mikir macem-macem nanti," katanya lalu menarikku yg masih bengong menuju motornya yang terparkir tak jauh dari kami berdiri.
Aku naik motor Wira. Agak kikuk membuatku berpegangan pada besi di belakangku. Wira melirik sekilas ke belakang.
"Nay, aku bisa minta tolong?" Tanyanya sebelum dia menyalakan mesin motornya.
"Apa?"
"Tolong peluk aku, aku takut kedinginan, aku nggak kuat kalau dingin," pintanya.
Entah kenapa aku mau saja.
Kupeluk dia seperti biasa. Mungkin tak apalah sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah menolongku tadi.
Nyaman. Aku rindu hal ini.
Aku makin mengeratkan pelukanku di perutnya.
Beberapa orang melihat kami dengan tatapan aneh. Pasti aneh karena Wira bertelanjang dada naik motor. Untung tubuhnya bagus dan atletis.
Tak lama kami sampai di kosku. Kami berpapasan dengan Fika, salah satu penghuni kos yg terkenal genit. Dia menatap Wira bagai ingin menerkam sasarannya saja.
"Nay,siapa nih? Menalin dong," kata Fika.
Aku langsung menarik Wira masuk ke dalam tanpa menjawab fika.
Wira hanya tersenyum.
Sampai di depan kamar kosku, kubuka pintu dan menyuruh Wira masuk.
"Masuk dulu deh. Aku pinjemin baju nanti buat pulang. Jangan telanjang gitu, nanti masuk angin," kataku sambil melenggang masuk ke dalam diikuti Wira.
Kubuatkan minuman hangat untuknya.
"Thanks, Nay," sambil menerima cangkir dari tanganku.
"Ya." Aku lalu mengambil baju ganti dan masuk ke kamar mandi.
Rasanya aku ingin berendam. Aku lelah sekali.
Selama sekitar setengah jam aku ada d idalam kamar mandi.
Tok tok tok...
"Nay, mamu nggak apa-apa, kan?" Tanya Wira dari luar pintu. Mungkin dia khawatir karena aku terlalu lama di dalam.
"Nggak apa-apa," jawabku.
Kuputuskan untuk mengakhiri mandi dan segera kupakai bajuku setelah sebelumnya kukeringkan dulu tubuhku.
"Sssshhhhhh..."
Kok aku jadi menggigil gini? Apa kelamaan tadi berendamnya, ya?
Aku keluar kamar mandi dan mendapati Wira ada di dapur dengan sepiring spagetti buatannya.
"Makan dulu, Nay," katanya.
Gigiku gemerutukan, tubuhku menggigil. Bahkan untuk jalan saja rasanya sulit sekali. Aku benar-benar kedinginan.
Melihat hal itu, Wira lalu membopongku naik ke ranjang.
Dia menyelimutiku segera.
"Kamu kelamaan berendam sepertinya," gerutunya.
Aku tidak menjawab dan masih mengigil.
Wira ikut masuk ke dalam selimut lalu memelukku dengan keadaan dia telanjang dada.
Aku tidak kuasa menolak karena kuakui bahwa tubuhku jauh lebih hangat saat dirinya memelukku.
Dan aku pun mengantuk. Saat dalam keadaan setengah tertidur, Wira mengecup pucuk kepalaku. Lalu mengatakan,
"Aku sayang kamu Nayla."
__ADS_1