
"Jadi pikirkanlah cara untuk menembus portal itu!" bisik Elang.
Elang mengambil kaleng minuman kosong, melemparkan ke arah Nayaka. Dan otomatis kaleng itu terpental sama seperti Gio dan Abi. Adi mendekat. Sementara Vin ada bersama Gio. Kondisi mereka berdua memang yang paling parah. Perut Vin bahkan sudah robek cukup dalam karena tertusuk pisau.
"Lang, apa yang harus kita lakukan?"
"Entahlah. Aku tidak tau, Di!" Elang menjambak rambutnya sendiri.
Sementara Nayaka makin kuat mencengkeram leher Alicia. Alicia meronta, darahnya mengalir membentuk tetesan di bawahnya. Nayaka sengaja menyiksa Alicia untuk mengacaukan pikiran mereka semua.
"Bagaimana kalian akan menyelamatkan wanita ini? Hah?" Ia tertawa puas. seolah merasa menang dengan keadaan ini.
"Inilah yang kurasakan dulu, Abimanyu Maheswara. Saat ayahmu! Membunuh ibuku!" jerit Nayaka dengan penuh kebencian.
"Apa?" Abimanyu terkejut. Ia tidak tau apa pun soal ayahnya yang ternyata terlibat cukup dalam dengan para makhluk mengerikan ini.
"Ayahmu, telah membunuh ibuku. Satu satunya orang yang ku punya."
"Tapi ... Bukan, kah, kau juga sudah membunuh ayah dan ibuku?!" geram Abimanyu. Hatinya bergejolak. Dendam dan amarah kini merasuk dalam jiwanya. Bukan hanya itu saja, ada rasa sedih yang teramat dalam saat Abi mengingat itu semua. Netra Abi menatap tajam ke arah Nayaka.
Ia menghunuskan pedang miliknya ke tanah dengan teriakan yang memilukan. "Akan kubunuh kau!"
Tiba-tiba sinar biru keluar dari pedang itu, sinar itu bahkan memecahkan portal kristal di sekitar Nayaka. Melewati setiap tubuh manusia dan melumpuhkan Kalla dan Kallandra. Nayaka terkejut. Ia menatap dalam Abimanyu yang aura nya berubah. "Wirasena?!" peliknya sesaat setelah menyadari ada orang lain yang kini masuk ke dalam tubuh musuhnya.
Abi menarik pedangnya, lalu berlari ke arah Nayaka. Anehnya, Nayaka justru mundur dan melepaskan Alicia. Abi mendekat ke wanita itu. Memeriksa keadaannya. Sementara itu, Nayaka justru kabur. "Paman! Tolong Alicia!" pinta Abimanyu pada kedua orang pamannya itu.
Abi mengejar Nayaka. "Di, kau urus mereka. Aku akan bantu Abimanyu."
"Baiklah. Hati-hati, Lang."
Adi membawa Alicia pergi berkumpul bersama Gio dan Vin. Adi membantu mereka masuk ke dalam mobil. Sebelumnya ia menatap ke jalanan ini, tubuh Kalla tergeletak begitu saja di jalan. Di dekat mereka para Argenis terus menjaga keadaan. Menebas kepala Kalla jika ada yang kedapatan masih bergerak dan hendak melawan lagi. Adi berfikir, keadaan sudah dapat dikendalikan. Ia berniat membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Elang terus mengejar Abimanyu yang masih mengikuti Nayaka. Pedang Abi lemparkan dan berhasil membuat telinga Nayaka terpotong. Nayaka mengerang. Ia menoleh dengan penuh Amara pada Abimanyu yang berdiri tak jauh dari nya. Pedang itu tertancap di tembok dekat Nayaka.
Nayaka melirik benda tajam itu. Benda yang telah melukai dirinya. Menjadikannya tak sempurna lagi. Nayaka memang perfeksionis. Ia tidak suka melihat hal yang tidak sesuai harapannya. Jangankan telinganya yang terpotong, pakaiannya terkena tumpahan kopi dari pelanggan saja, membuat ia murka dan membunuh orang itu, saat itu juga.
Ia memegang pedang itu, namun telapak tangannya justru terbakar. Membuat kulitnya melepuh. Ia menjerit kesakitan.
Elang dan Abi berdiri memandangnya. Nayaka menatap balik mereka berdua. Tangan kirinya mengepal, mengarah ke Elang. Sontak Elang memegangi lehernya. Ia dicekik Nayaka. Tubuh Elang naik ke atas perlahan. Abimanyu diam, menaikan sudut bibir kanannya ke atas. Reaksinya tidak seperti biasanya. Bukan Abi yang Elang kenal.
Abi justru mendekati Nayaka dengan santai. Melihat sikap Abi yang tidak biasa, Nayaka mundur. Ia ketakutan. Karena Nayaka melihat Wira dalam tubuh Abimanyu.
Abi mencengkeram kerah baju Nayaka. Mendorongnya keras hingga menghantam tembok belakangnya. Darah keluar dari punggungnya. Karena rupanya ada beberapa paku yang menancap di sana. Tapi Nayaka tidak merasakan sakit. Abi menekan terus tubuh itu lebih dalam. Nayaka malah tersenyum. "Percuma. Aku tidak merasakan sakit," kata Nayaka sombong.
Di samping mereka pedang itu masih tertancap. Tangan kanan Abi memegang dan menariknya keluar dengan mudah. "Aku tau, kau tidak akan merasakan sakit. Tapi bagaimana jika kau rasakan pedang ini, Arkie?! Apakah kau masih bisa tersenyum seperti ini?"
"Cih, Wirasena. Sudah lama aku tidak mendengar orang memanggilku begitu. Terima kasih kau sudah mengingatkan ku."
"Turunkan dia!" bisik Abimanyu yang suaranya berubah menjadi Wira.
Nayaka melirik ke Elang yang masih ada di atas, tercekik, dan nafasnya hampir habis.
"Kau turunkan saja sendiri!" ujar Nayaka dengan nada mengejek.
"Jadi kau tidak mau melakukannya? Baiklah." Abi mengambil pedang itu, lalu menusuk mata kanan Nayaka. Ia meronta dan menjerit kesakitan. Tapi cengkeraman Abi makin kuat. Di saat bersamaan Elang jatuh ke bawah. Ia batuk-batuk sambil memegangi lehernya yang berwarna merah.
"Kau brengsek!" umpat Nayaka kesal, terus memegangi matanya yang berdarah. Sementara itu, Abi justru tertawa puas.
Sekarang pedang itu ada di leher Nayaka. Nayaka diam menatap tajam Abi dengan penuh waspada. "Silakan bunuh saja aku. Maka jiwa Nayla akan ikut ke neraka bersamaku," ancam Nayaka.
Tangan Abi bergetar. Ia mulai dilanda keraguan. "Pembohong!"
"Kau lihat saja! Jiwa Nayla, masih ada di dalam tubuhku!"
Wira yang kini merasuk dalam tubuh Abimanyu, mulai menelusuri mata Nayaka. Ia melihat banyak jiwa di dalam tubuhnya. Jiwa-jiwa yang ia makan dan belum sepenuhnya hilang.
Nayla, gadis yang sangat Wira cintai sampai kapanpun. Gadis yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Bahkan dirinya rela mati ditangan wanita itu. Sementara di sisi lain, Abi melihat ibunya tersiksa di dalam sana. Membuat hati Abimanyu terasa sesak. "Bebaskan ibuku!" d untuk Abi dengan suara bergetar.
"Maka kalian berdua harus melepaskan aku. Karena jika aku mati, dia juga akan binasa. Jiwanya akan ikut mati bersamaku. Kalian tidak kasian padanya? Hah?" ancam Nayaka.
'Jangan tergoda bujuk rayunya, Bi. Dia penipu!' bisik Wira dalam pikiran Abi.
"Aku tidak bohong! Nayla selama ini ada di dalam diriku. Jika kalian merindukan dia, kalian bisa melihat Nayla."
Abi diam, masih mengarahkan pedang di leher Nayaka. "Jika aku melepaskan mu, kau bisa mengeluarkan ibuku?"
"Abi!" jerit Elang yang tidak setuju dengan perkataan anak itu.
"Tentu saja." Nayaka tersenyum penuh kemenangan. Abi yang bertarung dengan Wira dalam pikirannya, membuat Nayaka seolah menang. Wira tentu tidak bisa mengendalikan pikiran Abi. Walau dirinya ada di dalam tubuh pemuda itu. Wira bersikeras melarang Abi untuk menuruti kata-kata Nayaka.
"Kau bebaskan aku, maka aku akan mengembalikan jiwa Nayla. Bahkan aku masih menyimpan tubuhnya di kediamanku. Tubuhnya masih utuh."
Abi menatap Nayaka tidak percaya.
"Kau tidak percaya? Kau tidak tau, kan, bagaimana cara kedua orang tuamu mati?!"
"Brengsek!"
"Tenang, Bi. Kau bisa berkumpul lagi dengan ibumu. Bukan, kah, itu yang kau mau?"
Pegangan tangan Abi mengendur. Ia menunduk karena perasaan ragu yang berkecamuk dalam pikirannya. Tapi, beberapa detik kemudian, Abi mendongak. Menatap mata Nayaka tajam. "Kau pikir aku akan percaya?!" smirk Abimanyu membuat senyum Nayaka meredup.
Slaaash!
__ADS_1
Pedang ditangannya memotong cepat leher Nayaka. Kepalanya menggelinding dengan mata yang masih melotot. Elang terkejut melihat tindakan Abi yang tiba-tiba. Lalu ia berjalan melihat ke sekitar.
Udara berubah. Lebih segar. Abi memungut kepala Nayaka dan menyeret serta tubuhnya. Mereka pergi.
____
Jalanan tadi nampak kacau balau, tetapi para Kalla sudah tidak terlihat lagi. Hanya meninggalkan abu bekas pembakaran di sepanjang jalan. Api mulai menipis. Gedung apartment itu sudah rata dengan tanah.
"Ke mana mereka?" tanya Abi mengedarkan pandangan ke sekitar.
"Siapa? Kalla?" tanya Elang balik.
"Iya. Dan para paman."
"Kalla sudah musnah dari muka bumi. Untuk selamanya. Sementara pamanmu pasti ke rumah sakit. Kondisi mereka cukup parah."
"Kalau begitu kita susul mereka, Paman."
Elang menahan tangan Abimanyu. Menatap pemuda itu dalam.
"Wira? Mana?"
"Dia sudah pergi."
"Lalu, kenapa kamu berubah pikiran tadi?"
"Berubah pikiran? Yang mana?"
"Nayaka. Kufikir kau akan melepaskan iblis itu. Karena ucapan dia soal ibumu." Elang memang sempat khawatir jika Abi termakan bujuk rayu Nayaka.
Abi terkekeh. "Memang aku sempat ragu, paman. Apalagi saat melihat wajah ibu di dalam tubuh Nayaka. Tapi, aku tau kalau dia hanya ingin memperdaya kita. Ada atau tidaknya ibu di dalam tubuh Nayaka, aku tetap harus membunuhnya. Jika memang ibu benar-benar ada di sana, pasti beliau akan menyetujui keputusanku. Aku tau, bagaimana watak ibu. Sekalipun dia akan hidup lagi, jika aku menyetujui tawaran Nayaka tadi, aku yakin, dia sudah bukan lagi ibuku."
Elang tersenyum mendengar jawaban Abimanyu. Rupanya pemuda itu cukup bijak menyikapi masalah ini. Dia juga tidak egois hanya memikirkan kepentingannya sendiri.
Abi dan Elang berjalan bersama meninggalkan tempat itu.
_____
Mobil berhenti di halaman rumah. Matahari sedang terik-teriknya membakar kulit. Tiga gadis yang mendiami rumah itu keluar saat mendengar mesin mobil berhenti di depan rumah.
"Biyu!" jerit Ellea berlari mendekati pria itu. Ia segera memeluk Abimanyu, senang. Segala pertanyaan terlontar dari mulut Ellea atas kejadian yang mereka alami di kota. Adi dan Gio segera masuk ke dalam. "Ah, aku butuh kasur sekarang."
"Sama. Hei kalian! Jangan bangunkan aku. Aku ingin tidur seharian!" ucap Gio. Dua pria jomblo itu melenggang masuk ke dalam rumah Abimanyu.
Lian mendekati Vin. "Bagaimana? Kalian berhasil?" tanyanya antusias.
Vin yang masih merasakan nyeri di sekujur tubuhnya justru merangkul Lian dengan sikap seolah dirinya akan mati saja. "Eh Vin? Kau terluka? Bagian mana?" tanya Lian cemas. Lian memapah Vin masuk.
Elang masih berdiri di dekat mobil. Melepas kacamata hitam sambil menatap Shanum. Gadis itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Seolah olah kakinya lemas. Sejak semalam ia terus mencemaskan Elang. Bahkan ia tidak makan dan tidak tidur. Yang ia mau hanya bisa melihat Elang secepat mungkin. Elang tersenyum melihat Shanum yang berdiri di sana. Ia berjalan mendekat.
"Tapi aku masih hidup, kan?" kata Elang merentangkan kedua tangannya ke samping. Menunjukan betapa sehatnya Elang. Shanum memukul dada bidang Elang. Namun pria itu justru memeluk gadis itu lagi.
"Kita makan dulu," ajak Elang menggandeng tangan Shanum ke dalam.
Ruang makan riuh. Kecuali Adi dan Gio yang lebih memilih tidur di kamar. Ellea, Shanum, dan Lian sengaja memasak banyak makanan. Mereka tau pria pria itu telah mengalami hal berat yang cukup lama.
"Jadi Nayaka sudah mati, kan?" tanya Lian memastikan.
"Iya. Aku sendiri yang membakarnya hingga menjadi Abu," kata Abimanyu.
"Lalu Alicia?"
"Dia masih kritis. Semoga Alicia mampu bertahan."
"Kasian dia."
"Kalian sendiri bagaimana? Rumah aman saja, kan?"
"Tidak sebaik apa yang seharusnya. Karena ...." Ellea menatap kedua temannya.
Mereka bertiga seolah ditarik kembali ke kejadian semalam.
Elang yang baru saja kembali, memegang sebilah pedang dengan ukiran unik. Ia mengajak Abimanyu segera menyusul Adi, Gio, dan Vin. Hal itu membuat para gadis yang sebenarnya belum tidur, akhirnya keluar dari kamar.
"Kalian mau ke mana?" tanya Ellea pada Elang dan Abi yang membawa beberapa senjata tajam dan memasukan ke dalam mobil.
Abi mendekati Ellea. Pemuda itu merapikan anak rambut Ellea yang berantakan. Tersenyum menatap gadis itu. "Biyu?" tanya Ellea sekali lagi. Matanya mulai berkaca kaca. Sikap Abimanyu membuat Ellea cemas. Ia sudah mampu menebak apa yang sedang terjadi. Tapi tak mampu membayangkan lebih jauh lagi.
Ellea takut jika Abimanyu tidak akan kembali. Karena kekuatan Nayaka sungguh hebat. Bahkan ia masih ingat saat Abimanyu mengalahkan Kalla. Pemuda itu kepayahan. Itulah yang membuat Ellea cemas.
"Aku pasti akan kembali, Ell." Abimanyu membelai pipi gadis itu, sebuah kecupan mendarat di kening Ellea. Abimanyu berbalik, hendak menyusul Elang yang sudah ada di dalam mobil. Ellea justru memeluk Abi dari belakang. Ia seolah tidak rela pria itu pergi.
"Ell ...."
"Biyu."
"Kasian paman Adi, paman Gio dan Vin. Mereka pasti butuh bantuanku," bujuk Abi.
"Kalau aku melepaskan mu apakah kamu akan kembali, Bi?"
"Pasti. Aku pasti akan kembali. Kamu tunggu aku, ya. Jaga rumah baik-baik. Kunci pintu dan jendela. Inget. Hanya ada kalian bertiga saja di rumah. Aku khawatir Kalla juga akan datang ke rumah ini."
"Jangan khawatirkan kami. Justru kalian yang harus berhati-hati. Keadaan di kota jauh lebih membahayakan."
__ADS_1
"Iya. Pasti." Abimanyu mengelus punggung tangan Ellea yang masih melingkar di lerutnya. Perlahan pegangan itu mengendur.
Dan kini tiga gadis itu mereka tinggalkan di rumah sendiri. Ada rasa cemas, kalau Kalla akan menyerang mereka bertiga di rumah itu. Pasti Kalla juga ingin mengecoh fokus Abimanyu. Agar mereka kalah nantinya.
Rupanya hal itu memang benar adanya.
Setelah kepergian Elang dan Abimanyu, Lian mengajak dua gadis itu masuk ke dalam. Malam semakin larut, membuat udara makin dingin.
Tanpa mereka sadari, ada beberapa pasang mata berwarna merah bersembunyi di balik semak-semak.
Lian merangkul dua wanita itu masuk. Namun Ellea merasa janggal. Saat mereka sudah ada di dalam, Ellea menahan tangan Lian. "Aku merasa ada orang yang mengintai kita sejak tadi," kata Ellea.
Lian berhenti berjalan. Ia juga tetap waspada. "Kita tutup dulu pintu dan jendela," suruh Lian.
Saat korden ditutup Lian melihat sinar merah itu di beberapa titik. "Kau benar, Ell. Mereka ada di sini!"
Ellea sedikit gentar. Sementara Shanum ketakutan. Di rumah ini tidak ada yang akan melindungi mereka. Shanum yang tidak memiliki kemampuan bela diri tentu merasa situasi ini sangat menakutkan.
Mereka bertiga mengintip dari balik korden. Sosok hitam mengerikan itu keluar dari tempat persembunyiannya. Jumlah mereka cukup banyak. Karena kini mereka sedang berdiri memutari rumah Abi.
"Ell, cari senjata. Aku yakin mereka akan segera merangsek masuk ke dalam." Lian mengambil tongkat kasti yang ada di dekat pintu.
"Astaga, bagaimana ini!" rengek Shanum.
Ellea mengambil samurai pajangan yang ada di ruang tengah. "Mereka bergerak!" kata Lian yang masih mengintip keadaan di luar.
Para Kalla mendekat, tapi anehnya tubuh mereka seolah terpental. Bahkan jika mereka memaksa masuk, kulit mereka terbakar. "Aneh!" gumam Lian.
"Apanya?" Ellea ikut mengintip. Sementara Shanum justru menjauh dari pintu dan jendela.
"Lihatlah, mereka tidak bisa masuk ke dalam."
"Kau benar, Li! Ada apa dengan rumah ini?" tanya Ellea bingung.
Tanpa mereka sadari, rumah Abi adalah satu- satunya rumah yang memancarkan sinar biru. Terang dan bersinar. Dan itulah yang membuat Kalla tidak bisa masuk ke dalam. Mereka tidak tau, kalau rumah ini dibangun dengan batu saphire.
______
Satu minggu sudah mereka ada di desa Abimanyu. Hari ini, mereka berencana untuk kembali ke kota. Kehidupan mereka terus berjalan. Elang harus membenahi kantornya yang sudah hancur. Kembali memulai semua dari awal. Mencari karyawan dan gedung baru. Lian akan tetap menjadi sekretaris Elang. Karena Shanum kini sudah dilamar pria itu. Setidaknya kini mang sudah saatnya dia menikah. Di umur yang tidak muda lagi. Lagi pula musuh sudah musnah. Jadi Elang kini sudah bebas untuk melanjutkan hidupnya menjadi manusia normal lainnya. Menikah dan memiliki keluarga. Dan Shanum adalah pilihannya.
Vin memutuskan akan pergi ke palestina. Ia ingin menjadi relawan di sana. Hatinya sudah tertutup untuk perempuan mana pun. Karena ia masih mencintai istrinya sampai kapanpun.
_____
Jalanan nampak lenggang. Wajar saja, setelah kejadian itu, beberapa manusia hilang bagai ditelan bumi mentah mentah. Keadaan kota lenggang. Apakah ini seleksi alam? Salah satu cara tuhan mengurangi populasi penduduknya. Elang dan Shanum sudah duduk di jok depan. Di belakang mereka ada Adi dan Gio juga.
Mereka akan mengantar Gio ke bandara. Ia berencana akan liburan bersama Adi ke sebuah negara kecil yang hanya mereka berdua saja yang tau. Abimanyu dan Ellea masih ingin tinggal di desa. Abi belum ingin pergi dari desanya. Sementara Ellea masih ingin menemani prianya.
"Kalian baik-baik di sana. Hati-hati," kata Shanum memeluk Adi dan Gio bergantian.
"Jangan lupa oleh-olehnya, ya." Tambah Lian ikut memeluk dua pria pahlawan mereka.
"Kau mau apa, Li? Sha? Akan ku bawa kan satu karung nanti!" sahut Gio sombong.
"Lang, jaga diri di sini. Jangan hubungi kami lagi kalau ada kejadian mengerikan seperti kemarin, oke?" pinta Adi dengan tampang yang dibuat melankolis.
"Justru pemandangan di depanku sekarang jauh lebih mengerikan," sindir Elang menatap mereka berdua.
"Apa maksudmu? Aku dan Gio?"
"Kau pikir saja sendiri. Semoga kalian menemukan wanita baik dan sabar di sana."
"Kau pikir kami tidak normal?!" tukas Adi naik pitam.
Elang hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka berdua. "Awas saja kalau kami pulang nanti! Kuhajar kau!" ancam Adi ke Elang.
Elang tidak mendengarkan dan nampak tidak peduli dengan ucapan Adi.
Semua orang kembali ke rutinitas nya. Adi dan Gio kembali ke hobi mereka. Naik gunung dan melakukan traveling ke berbagai tempat. Sekalipun mereka sering bertengkar, tapi sebenarnya mereka cocok satu sama lain. Sebagai sahabat tentunya.
Elang sudah menemukan gedung untuk memulai kembali perusahaannya dari nol. Ia merekrut pegawai sebanyak banyaknya dibantu Lian. Satu bulan lagi Elang akan menikah dengan Shanum. Mengakhiri masa lajangnya dan membina sebuah rumah tangga yang sebenarnya tidak pernah ia bayangkan sama sekali.
______
Sebuah pesan masuk ke dalam gawai milik Abimanyu. Ellea yang kemarin baru saja ia antar ke stasiun terdekat memberi kabar. Ia pulang ke rumah orang tuanya yang ada di ibukota. Ibunya sakit keras dan Ellea ingin menemani ibunya sekarang. Meninggal Abimanyu yang masih memutuskan tinggal di desa.
Abi berencana akan terus tinggal di desa. Baginya tidak ada yang lebih nyaman selain rumah. Ia sudah tidak merasa kehilangan seperti dulu. Karena Abi yakin kedua orang tuanya sudah berada di tempat yang jauh lebih baik.
Abi memutuskan membuka kedai kopi miliknya sendiri. Sebelum pergi, Elang menggelontorkan uang yang tidak sedikit.
[Ini adalah milikmu. Arya menyuruhku memberikan padamu saat umurmu sudah 30 tahun. Dan bukannya, besok kau akan berulang tahun?]
Pesan dari Elang itu membuat kedua sudut bibir Abi mengembang.
[Uang apa, Paman? Kau jangan membohongiku dengan membawa nama ayah dan ibu. Tapi terima kasih. Aku akan membuka kedai kopi ku sendiri di desa.]
[Baguslah, Bi. Setidaknya kau juga harus meneruskan hidup. Aku tidak akan memaksamu untuk kembali ke kota. Asal kau harus sering berkunjung ke sini.]
[Tentu saja, Paman. Lagipula kau akan sibuk nanti setelah menikah. Lebih baik, kau urus saja istrimu. Berhentilah menjadi pahlawan bumi.]
Elang tertawa di balik layar ponselnya. Pernikahannya tinggal hitungan jari. Diumur yang tidak muda lagi, ia baru akan menikah. Sebenarnya Elang tidak ingin menikah, karena baginya ia sendiri tidak percaya pada pernikahan dan cinta sejati. Kedua orang tuanya telah bercerai sejak ia masih kecil. Ibunya menikah lagi, dan tak lama bercerai lagi. Elang bahkan dititipkan di panti asuhan karena ibunya telah berpindah ke Negera lain setelah menikah dengan warga negara asing.
Sejak kecil Elang hidup sendiri. Hal inilah yang membuat sikapnya dingin pada semua orang. Dan tidak mempercayai akan adanya cinta. Sebelum ia bertemu Shanum tentunya. Shanum gadis lemah lembut. Yang membuat Elang berubah pikiran. Sikap Shanum yang lembut dan tulus, membuat Elang merasa nyaman. Elang yang tidak pernah mendapat kasih sayang tulus, lantas luluh dengan sikap Shanum.
__ADS_1
Dan lagi, rasa ingin melindungi terus Elang rasakan saat Shanum ada di dekatnya. Ia tidak mau hal buruk menimpa Shanum. Bahkan itu tidak rela jika Shanum tergores barang sedikit saja.
Begitulah cinta. Tuhan mempunyai cara sendiri untuk mempersatukan jodohnya. Cara yang unik dan di luar logika.