pancasona

pancasona
Episode 89 Bertemu Eliza


__ADS_3

Lagi. Kabar kematian salah satu warga kini sunter terdengar dengan praduga


pembunuhan. Yah, memang pada kenyataannya Risna dibunuh oleh Riki, namun


tragisnya Riki dibunuh oleh orang lain. sebuah ironi kalau seorang pembunuh


justru tewas ditangan pembunuh lain. Tapi itulah kenyataannya.


Rumah Gibran


alias Riki sudah ditutup dan diberi garis polisi. Beberapa barang dibawa ke


kantor polisi guna penyelidikan lebih lanjut. Bukti apa pun akan sangat berguna


untuk penyelidikan tentang siapa pembunuh Riki sebenarnya. Karena ada


kemungkinan dia juga terlibat atas pembunuhan lain yang dituduhkan pada Riki.


Suasana desa agak


sunyi. Polisi masih ada yang bertugas menjaga sekitar desa. Seperti sekolah,


kantor desa, dan beberapa titik titik penting lainnya. Andrew dan tim kembali


ke kota, mencari di mana keberadaan Eliza. Karena yakin target selanjutnya


adalah Eliza.


Abimanyu kembali


ke rutinitas sehari-hari, mengelola cafe dengan tekun. Walau dipikirannya terus


mengingat tentang rentetan kejadian yang telah terjadi di wilayahnya. Ia


berharap agar pembunuhan ini dapat dihentikan.


“Pagi, Bang Abi,”


sapa Maya yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Di belakang gadis itu ada


Ridwan yang kesulitan membawa sebuah kotak kayu besar yang berisi bahan makanan


segar. Abimanyu memang sengaja menyerahkan tugas berbelanja ke Ridwan, karena


ibunya juga salah seorang pengepul sayur mayur di pasar. “Pagi, May. Mau


berangkat sekolah?” tanya Abimanyu yang menatap gadis itu dari atas sampai


bawah. Maya termasuk anak yang energik dan supel. Berbeda dengan kakaknya yang


pendiam.


“Iya, Bang. Ini


tadi bareng Kak Ridwan.”


“Loh terus ke


sekolahnya ini gimana? Dianter lagi, kan, sama Ridwan?” tanya Abi bingung.


“Enggak usah.


Maya bisa berangkat sendiri.”


“Iya sana, May!


Buruan ke sekolah nanti telat!” jerit Ridwan yang masih ada di dapur.


“Eh, jangan.


Biar, Bang Abi, yang antar.” Abimanyu masih cemas dengan keadaan Maya. Takut


kalau pembunuh itu kembali dan menyakiti Maya. Terlebih saat Abi melihat


gantungan kunci bergambar hello kitty yang menempel di tas Maya sekarang.


Setelah pamit


pada Gio, Abimanyu segera mengambil mobilnya yang terparkir rapi di sudut cafe,


berjejer dengan barisan motor dan kendaraan lain milik pengunjung. Maya dan Abi


memang cukup dekat. Sehingga baik Ridwan maupun orang terdekat Abi tidak merasa


aneh melihat hal itu.


“Kamu baik-baik


aja?” tanya Abi saat mobil sudah melesat beberapa meter jauhnya meninggalkan


cafe.


“Maya baik-baik


aja, Bang. Yah, memang itu hal yang terburuk yang Maya pernah alami. Tapi ...


Maya lega kalau pelaku segera ditangkap.”


“Eum, kamu udah


sarapan, May?”


“Sudah dong. Ibu


selalu masak dulu sebelum ke pasar. Bang Abi tuh, udah makan belum coba?” tanya


Maya balik. Sementara Abimanyu hanya tersenyum menanggapi.


Beberapa kali


gadis itu melongok ke jendela, melambaikan tangan pada teman yang ia temui di


jalan, atau sekedar menikmati udara pagi yang segar. Abimanyu melirik ke tas


punggung yang Maya kenakan. “Eum, May ... gantungan kunci kamu, bagus. Beli di


mana?”


Maya segera


menatap benda yang dimaksud oleh Abi. “Oh ini. Aku beli di Bali.”


“Kapan belinya?


Udah lama, ya?” Abi makin penasaran.


“Enggak kok. Baru


ini. Tahun lalu kan sekolah aku wisata ke Bali, terus aku beli deh di sana.


Bang Abi mau?”


Abimanyu


menggeleng sambil melebarkan senyum. Tangannya menjulur ke pucuk kepala Maya.


Baginya Maya tetap gadis kecil yang ia temui beberapa tahun lalu. Walau


tubuhnya makin besar, tapi sikapnya tidak berubah. Masih sama.


Mereka sampai di


pelataran parkir sekolah. Beberapa polisi juga masih berlalu lalang di sekitar


sekolah. Hal itu membuat sebagian murid menjadi bertanya-tanya bahkan khawatir


berlebihan. Terlebih saat berita pembunuhan itu bocor. Mereka seolah merasa


terancam, takut jika menjadi salah satu korban selanjutnya.


Maya turun dari


mobil Abi, melambaikan tangan dengan senyum sumringah. Pria itu juga ikut turun


untuk melepas kepergian Maya. Setidaknya saat bersama Maya, Abi merasa memiliki


seorang adik. Merasa memiliki kewajiban melindungi dan menjaga orang lain yang


sebenarnya bukan keluarganya. Keluarga Maya juga baik padanya. Bahkan tidak


jarang ibunda Maya sering mengirimkan makanan ke rumah Abi.


Ponsel Abi


bergetar, sebuah panggilan dari Gio membuat dirinya keheranan. Namun belum


sempat Abi menggeser layar untuk menjawab panggilan itu, benda pipis ditangannya


justru terlempar  jauh dan jatuh di atas


paving sekolah.


“Ya ampun, maaf.


Aku nggak sengaja,” jerit seorang wanita yang langsung memungut ponsel Abi yang


tercecer. Hari ini ia mengenakan blouse berwarna maroon dan celana kulot abu


muda. Di tangannya ia menenteng tas dan beberapa kertas yang awalnya ada di

__ADS_1


dalam map hijau yang justru kini telah jatuh lebih dulu.


“Iya. Nggak


apa-apa.” Abimanyu justru membantu Nabila membereskan barang-barang Nabil yang


tercecer.


“Eh, terima


kasih. Eum, handphone kamu rusak nggak itu?” tanya Nabila terus menatap benda


yang kini tengah disatukan oleh Abimanyu.


“Aman. Lagian Bu


Guru kenapa sih buru-buru? Mau ke mana?”


“Aku mau pulang


ke rumah. Mamaku sakit, sekarang dirawat. Jadi buru-buru nih.” Nabila menatap


jam dipergelangan tangannya dan menatap sekeliling dengan gusar. “Ada bus yang


lewat sini nggak, ya?” Tanyanya tanpa melihat ke Abimanyu. Wajah Nabila agak


pucat dan terlihat kusut.


“Nggak ada di


sini. Aku antar aja yuk. Biar cepat sampai.”


“Anter? Ke mana?


Terminal bus?” tanya Nabila bingung.


“Bukan. Ke rumah


sakit. Kota.” Abimanyu segera berjalan menuju mobilnya. Dan hal itu membuat


Nabila sedikit terperangah tidak percaya.


“Tapi kamu


bukannya harus balik ke cafe, ya?”


“Nggak apa-apa.


Ada dua pamanku yang jaga di sana. Ayo buruan! Keburu siang, macet.” Abi yang


sudah duduk di kursi pengemudi membuka jendela dan melirik ke Nabila yang


massih diam mematung.


“Eh iya iya,”


kata Nabila gugup lalu bergegas menuju kursi penumpang di samping Abimanyu.


                                                                      ----


Mereka sampai di


kota hanya dengan satu jam perjalanan. Abi memang memacu mobilnya dengan cukup


cepat. Suasana yang masih pagi, membuat jalanan masih lenggang. Sehingga Abi


lebih leluasa berkendara. Ini pertama kalinya ia menginjakkan lagi, kakinya di


kota. Sejak pernikahan Elang, ia tidak lagi berkunjung ke tempat padat penduduk


ini. Semua tidak banyak berubah. Selalu ramai dan segala aktifitas penduduknya


cukup sibuk. Terlebih di pagi hari seperti ini.


Abi terus melaju


hingga sampai di rumah sakit swasta yang letaknya ada di tengah kota. Setelah


memarkirkan mobilnya di besement, Abi dan Nabila lantas segera menaiki lift


menuju lantai 4, tempat ibunda Nabila dirawat. Ibunya pingsan karena terjatuh


di kamar mandi dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Nabila sampai di depan


pintu ruang rawat ibunya. Dari kaca depan pintu nampak seorang wanita tengah


tidur dengan banyak selang di sekitarnya. Seorang pria yang berumur 50 tahunan,


kemudian keluar saat melihat putrinya datang.


Pintu ditutup


Namun ia tetap memaksakan senyum di bibirnya. Menyambut kepulangan sang buah


hati yang sebenarnya bukan di momen yang tepat. “Mama belum sadar.”


“Kata dokter apa,


Pah?”


“Ada gumpalan


darah di kepalanya, dan itu yang membuat mama masih koma sampai sekarang. Kamu


sudah makan, sayang? Ini ... siapa?” tanya Papa Nabila menunjuk pemuda di


sampingnya.


Abimanyu lantas


mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Setelah mengobrol beberapa saat


mengenai kejadian mamanya, dan kehidupan Nabila di desa, mereka lantas masuk


dan duduk di sofa ruang tunggu. Mama Nabila dirawat di ruang VIP dengan


fasilitas terbaik di rumah sakit ini.


“Papa pulang


sebentar, mandi terus ke kantor sebentar. Nanti ke sini lagi. Kalian tunggu


mama dulu sebentar, nggak apa-apa, kan?” tanya Pak Heru menatap Abimanyu dan


Nabila bergantian. Tatapan itu lebih ditujukan pada Abimanyu yang notabennya bukan


bagian dari keleuarga, takut merepotkan.


“Tidak apa-apa,


Pak. Biar kami berjaga di sini. Pak Heru juga butuh istirahat, kan?” tanya Abi


yang berusaha membuat keadaan lebih nyaman dengan kehadirannya di sini.


“Baiklah. Terima


kasih, Mas Abimanyu. Titip Nabila juga.”


Pak Heru pamit


dan keluar dari kamar. Menyisakan Nabila dan Abimanyu yang masih diam membisu


dengan pikiran bermacam-macam. Nabila mendekat ke ibunya yang masih terbaring


lemah di bed pasien. Ia memegang tangan wanita yang telah melahirkannya dengan


tatapan iba. Wajahnya menyiratkan ketakutan atas kesehatan wanita itu.


“Bi ....”


Abimanyu yang


sejak tadi diam lantas menatap Nabila. Tanpa menjawab apa pun, menunggu gadis


itu meneruskan kalimatnya.


“Gimana rasanya


kehilangan dua orang tua sekaligus?” tanyanya tanpa menatap pemuda itu.


Abi ragu untuk


mejawabnya. Karena ini adalah hal sensitif jika dibicarakan saat Ibunda Nabila


tengan terbaring lemah dipembaringannya. “Ya ... pasti sedih.”


“Kamu kangen


orang tuamu?”


“Itu pertanyaan


klise, Bil. Nggak perlu aku jawab, kamu pasti tau gimana perasaanku. Sekarang


kamu Cuma hanya perlu berdoa. Jangan patah semangat apalagi ibu kamu masih ada


harapan untuk hidup. Dia belum mati, Bil. Jangan bersikap seolah dia nggak akan


bangun lagi.”

__ADS_1


Kalimat Abimanyu


menohok jantungnya. Perkataan Abi memang benar adanya. Ia bersikap seolah


ibunya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dan itu adalah sikap terburuk dari


seorang anak.


“Gimana sekolah


hari ini? Pasti ramai, ya. Gara-gara kasus Risna kemarin.” Abi mencoba


mengalihkan pembicaraan agar Nabila tidak terus larut dalam kesedihan.


“Lumayan. Tiga hari


dari sekarang, anak-anak dipulangkan lebih awal. Takut mereka jadi salah satu


korban seperti Risna. Eh, aku denger lengan kamu terluka, kemarin?” tanya


Nabila menoleh ke Abimanyu.


Abi hanya


memegang lengan yang kemaarin terkena sabetan pisau itu. Tidak ada bekas luka


apa pun di sana. Kemudian tersenyum.


                                                                  ---------


Abimanyu memutuskan


berjalan-jalan menuju kantin, karena rasa lapar yang mulai menggerogoti


perutnya. Cacing di perutnya sudah berdemo karena sejak pagi baru ia isi


scangkir kopi. “Aku nitip roti sobek aja sama susu kalengan,” pinta Nabila yang


enggan meninggalkan ibunya seorang diri. Ia berharap saat ibunya tersadar, maka


orang yang dilihat adalah dirinya.


Udara rumah sakit


terasa memusingkan. Bau etanol semerbak di sepanjang koridor. Tempat yang tidak


nyaman bagi dirinya yang memang orang sehat. Ia menunggu di depan pintu lift,


karena kantin ada di lantai bawah rumah sakit, dekat pelataran parkir mobil.


Ada sekitar 3 orang lainnya yang sedang menunggu lift naik. Dua orang gadis


dengan pakaian SMU, dan seorang pria dengan topi dan masker. Ia memakai tas


punggung yang sepertinya berat.


Pintu lift


dibuka, mereka berempat pun masuk. Saat pintu ditutup, dahi Abi berkerut. Ia mencium


aroma khas semalam. Bau kaporit seperti yang ia cium pada sosok perawat yang


telah membunuh Risna di rumah sakit. Ia lantas menoleh ke tiga orang di dalam


dengan tatapan menyelidik. Dua remaja perempuan itu mengobrol tentang temannya


yang dirawat di rumah sakit ini karena terkena sakit tipus. Rupanya mereka


sedang menengok teman sekelasnya yang sakit. Dua anak gadis itu lantas dicoret


dari kecurigaan Abimanyu. Kini ia fokus pada pria yang berdiri di sampingnya. Ia


terus menatap salah satu gadis itu dengan tatapan tajam. Abimanyu berdeham, membuat


pemuda itu menoleh padanya. Ia kemudian menunduk dan mencoba mengalihkan


tatapannya dari gadis di depannya.


“Maaf, jam


berapa, ya, sekarang?” tanya Abi pada gadis yang sejak tadi menjadi pusat


perhatian pemuda di sampingnya. Dua gadis itu menoleh. Ia menaikan tangan


kirinya dan menjawab pertanyaan Abimanyu dengan santai. “Oke, terima kasih.”


‘Oh, jadi dia


Eliza? Eliza Putri.’ Batin Abi yang kini mulai menyadari kalau target dan


korban yang menjadi incaran polisi ada di depan matanya.


“Eum, dek, kalau


SMU Bruderan ada di mana, ya? Maaf saya dari kampung, mau mendaftarkan adik


saya di sana. Tapi saya malah nyasar. Nabrak orang di jalan tadi,” kata Abi


bohong. Ia melihat badge yang tertempel di seragam mereka berdua bertuliskan


SMU Bruderan.


“Oh ikut kami


aja, Mas. Kami sekolah di sana. Tadi kami anter temen sakit, tapi ini mau balik


lagi ke sekolah,” sahut teman Eliza.


“Oh kebetulan


sekali, ya. Kalau gitu kita bareng aja. Kebetulan saya bawa mobil. Gimana?”


Mereka berdua


saling pandang. Tergambar jelas kalau mereka ragu-ragu untuk mengikuti saran


Abimanyu. Abi sadar kalau sikapnya agak terburu-buru, wajar saja mereka takut,


karena dia adalah orang asing.


“Gini ... nanti


kita ketemu temen saya sebentar, dia polisi. Jadi kalian nggak akan ragu. Saya mau


minta antar dia tapi dia bilang sibuk. Gimana?”


Lagi. Mereka berdua


saling tatap walau akhirnya mengangguk setuju atas permintaan Abimanyu. Pintu lift


terbuka, pemuda yang tadi di sampingnya merangsek keluar, kasar. Abi seharusnya


menangkapnya tadi, tapi dia tidak ingin gegabah karena tidak ada bukti apa pun


yang merujuk kalau dia tersangka pembunuhan Riki. Setidaknya ia menyelamatkan


Eliza sementara.


Mereka sampai di


pelataran parkir. Abi meraih telepon genggam yang ada di kantung celana,


menghubungi Andrew agar meyakinkan dua gadis itu dan memberitaukan kalau Eliza


telah ia temukan.


“Eum, begini. Kamu


Eliza kan?” tanya Abi yang merasa harus menjelaskan duduk permasalahan ini ke


gadis itu. Gadis itu mengangguk ragu. “Saya Abimanyu. Kamu dulu sekolah di SD


Pelita Hati, kan?”


Eliza menoleh ke


temannya dengan mengerutkan dahi. “Kamu siapa? Kenapa tau tentang saya?!”


tanyanya dengan gurat ketakutan di wajahnya.


“Sebentar. Saya bisa


jelaskan. Yang jelas nyawa kamu dalam bahaya. Kamu ingat Riki?”


Mendengar nama


itu disebut Eliza sontak melotot, menandakan ia masih kenal dengan sosok Riki.


Abi mengeluarkan foto Riki yang sudah terbujur kaku dari saku bajunya. “Dia


sudah meninggal, semalam. Dibunuh.”


Eliza menerima


foto itu dan makin terkejut.


“Dia sudah


membunuh 6 temanmu, dan kamu adalah target selanjutnya.”

__ADS_1


__ADS_2