
Lagi. Kabar kematian salah satu warga kini sunter terdengar dengan praduga
pembunuhan. Yah, memang pada kenyataannya Risna dibunuh oleh Riki, namun
tragisnya Riki dibunuh oleh orang lain. sebuah ironi kalau seorang pembunuh
justru tewas ditangan pembunuh lain. Tapi itulah kenyataannya.
Rumah Gibran
alias Riki sudah ditutup dan diberi garis polisi. Beberapa barang dibawa ke
kantor polisi guna penyelidikan lebih lanjut. Bukti apa pun akan sangat berguna
untuk penyelidikan tentang siapa pembunuh Riki sebenarnya. Karena ada
kemungkinan dia juga terlibat atas pembunuhan lain yang dituduhkan pada Riki.
Suasana desa agak
sunyi. Polisi masih ada yang bertugas menjaga sekitar desa. Seperti sekolah,
kantor desa, dan beberapa titik titik penting lainnya. Andrew dan tim kembali
ke kota, mencari di mana keberadaan Eliza. Karena yakin target selanjutnya
adalah Eliza.
Abimanyu kembali
ke rutinitas sehari-hari, mengelola cafe dengan tekun. Walau dipikirannya terus
mengingat tentang rentetan kejadian yang telah terjadi di wilayahnya. Ia
berharap agar pembunuhan ini dapat dihentikan.
“Pagi, Bang Abi,”
sapa Maya yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya. Di belakang gadis itu ada
Ridwan yang kesulitan membawa sebuah kotak kayu besar yang berisi bahan makanan
segar. Abimanyu memang sengaja menyerahkan tugas berbelanja ke Ridwan, karena
ibunya juga salah seorang pengepul sayur mayur di pasar. “Pagi, May. Mau
berangkat sekolah?” tanya Abimanyu yang menatap gadis itu dari atas sampai
bawah. Maya termasuk anak yang energik dan supel. Berbeda dengan kakaknya yang
pendiam.
“Iya, Bang. Ini
tadi bareng Kak Ridwan.”
“Loh terus ke
sekolahnya ini gimana? Dianter lagi, kan, sama Ridwan?” tanya Abi bingung.
“Enggak usah.
Maya bisa berangkat sendiri.”
“Iya sana, May!
Buruan ke sekolah nanti telat!” jerit Ridwan yang masih ada di dapur.
“Eh, jangan.
Biar, Bang Abi, yang antar.” Abimanyu masih cemas dengan keadaan Maya. Takut
kalau pembunuh itu kembali dan menyakiti Maya. Terlebih saat Abi melihat
gantungan kunci bergambar hello kitty yang menempel di tas Maya sekarang.
Setelah pamit
pada Gio, Abimanyu segera mengambil mobilnya yang terparkir rapi di sudut cafe,
berjejer dengan barisan motor dan kendaraan lain milik pengunjung. Maya dan Abi
memang cukup dekat. Sehingga baik Ridwan maupun orang terdekat Abi tidak merasa
aneh melihat hal itu.
“Kamu baik-baik
aja?” tanya Abi saat mobil sudah melesat beberapa meter jauhnya meninggalkan
cafe.
“Maya baik-baik
aja, Bang. Yah, memang itu hal yang terburuk yang Maya pernah alami. Tapi ...
Maya lega kalau pelaku segera ditangkap.”
“Eum, kamu udah
sarapan, May?”
“Sudah dong. Ibu
selalu masak dulu sebelum ke pasar. Bang Abi tuh, udah makan belum coba?” tanya
Maya balik. Sementara Abimanyu hanya tersenyum menanggapi.
Beberapa kali
gadis itu melongok ke jendela, melambaikan tangan pada teman yang ia temui di
jalan, atau sekedar menikmati udara pagi yang segar. Abimanyu melirik ke tas
punggung yang Maya kenakan. “Eum, May ... gantungan kunci kamu, bagus. Beli di
mana?”
Maya segera
menatap benda yang dimaksud oleh Abi. “Oh ini. Aku beli di Bali.”
“Kapan belinya?
Udah lama, ya?” Abi makin penasaran.
“Enggak kok. Baru
ini. Tahun lalu kan sekolah aku wisata ke Bali, terus aku beli deh di sana.
Bang Abi mau?”
Abimanyu
menggeleng sambil melebarkan senyum. Tangannya menjulur ke pucuk kepala Maya.
Baginya Maya tetap gadis kecil yang ia temui beberapa tahun lalu. Walau
tubuhnya makin besar, tapi sikapnya tidak berubah. Masih sama.
Mereka sampai di
pelataran parkir sekolah. Beberapa polisi juga masih berlalu lalang di sekitar
sekolah. Hal itu membuat sebagian murid menjadi bertanya-tanya bahkan khawatir
berlebihan. Terlebih saat berita pembunuhan itu bocor. Mereka seolah merasa
terancam, takut jika menjadi salah satu korban selanjutnya.
Maya turun dari
mobil Abi, melambaikan tangan dengan senyum sumringah. Pria itu juga ikut turun
untuk melepas kepergian Maya. Setidaknya saat bersama Maya, Abi merasa memiliki
seorang adik. Merasa memiliki kewajiban melindungi dan menjaga orang lain yang
sebenarnya bukan keluarganya. Keluarga Maya juga baik padanya. Bahkan tidak
jarang ibunda Maya sering mengirimkan makanan ke rumah Abi.
Ponsel Abi
bergetar, sebuah panggilan dari Gio membuat dirinya keheranan. Namun belum
sempat Abi menggeser layar untuk menjawab panggilan itu, benda pipis ditangannya
justru terlempar jauh dan jatuh di atas
paving sekolah.
“Ya ampun, maaf.
Aku nggak sengaja,” jerit seorang wanita yang langsung memungut ponsel Abi yang
tercecer. Hari ini ia mengenakan blouse berwarna maroon dan celana kulot abu
muda. Di tangannya ia menenteng tas dan beberapa kertas yang awalnya ada di
__ADS_1
dalam map hijau yang justru kini telah jatuh lebih dulu.
“Iya. Nggak
apa-apa.” Abimanyu justru membantu Nabila membereskan barang-barang Nabil yang
tercecer.
“Eh, terima
kasih. Eum, handphone kamu rusak nggak itu?” tanya Nabila terus menatap benda
yang kini tengah disatukan oleh Abimanyu.
“Aman. Lagian Bu
Guru kenapa sih buru-buru? Mau ke mana?”
“Aku mau pulang
ke rumah. Mamaku sakit, sekarang dirawat. Jadi buru-buru nih.” Nabila menatap
jam dipergelangan tangannya dan menatap sekeliling dengan gusar. “Ada bus yang
lewat sini nggak, ya?” Tanyanya tanpa melihat ke Abimanyu. Wajah Nabila agak
pucat dan terlihat kusut.
“Nggak ada di
sini. Aku antar aja yuk. Biar cepat sampai.”
“Anter? Ke mana?
Terminal bus?” tanya Nabila bingung.
“Bukan. Ke rumah
sakit. Kota.” Abimanyu segera berjalan menuju mobilnya. Dan hal itu membuat
Nabila sedikit terperangah tidak percaya.
“Tapi kamu
bukannya harus balik ke cafe, ya?”
“Nggak apa-apa.
Ada dua pamanku yang jaga di sana. Ayo buruan! Keburu siang, macet.” Abi yang
sudah duduk di kursi pengemudi membuka jendela dan melirik ke Nabila yang
massih diam mematung.
“Eh iya iya,”
kata Nabila gugup lalu bergegas menuju kursi penumpang di samping Abimanyu.
----
Mereka sampai di
kota hanya dengan satu jam perjalanan. Abi memang memacu mobilnya dengan cukup
cepat. Suasana yang masih pagi, membuat jalanan masih lenggang. Sehingga Abi
lebih leluasa berkendara. Ini pertama kalinya ia menginjakkan lagi, kakinya di
kota. Sejak pernikahan Elang, ia tidak lagi berkunjung ke tempat padat penduduk
ini. Semua tidak banyak berubah. Selalu ramai dan segala aktifitas penduduknya
cukup sibuk. Terlebih di pagi hari seperti ini.
Abi terus melaju
hingga sampai di rumah sakit swasta yang letaknya ada di tengah kota. Setelah
memarkirkan mobilnya di besement, Abi dan Nabila lantas segera menaiki lift
menuju lantai 4, tempat ibunda Nabila dirawat. Ibunya pingsan karena terjatuh
di kamar mandi dan belum sadarkan diri sampai sekarang. Nabila sampai di depan
pintu ruang rawat ibunya. Dari kaca depan pintu nampak seorang wanita tengah
tidur dengan banyak selang di sekitarnya. Seorang pria yang berumur 50 tahunan,
kemudian keluar saat melihat putrinya datang.
Pintu ditutup
Namun ia tetap memaksakan senyum di bibirnya. Menyambut kepulangan sang buah
hati yang sebenarnya bukan di momen yang tepat. “Mama belum sadar.”
“Kata dokter apa,
Pah?”
“Ada gumpalan
darah di kepalanya, dan itu yang membuat mama masih koma sampai sekarang. Kamu
sudah makan, sayang? Ini ... siapa?” tanya Papa Nabila menunjuk pemuda di
sampingnya.
Abimanyu lantas
mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Setelah mengobrol beberapa saat
mengenai kejadian mamanya, dan kehidupan Nabila di desa, mereka lantas masuk
dan duduk di sofa ruang tunggu. Mama Nabila dirawat di ruang VIP dengan
fasilitas terbaik di rumah sakit ini.
“Papa pulang
sebentar, mandi terus ke kantor sebentar. Nanti ke sini lagi. Kalian tunggu
mama dulu sebentar, nggak apa-apa, kan?” tanya Pak Heru menatap Abimanyu dan
Nabila bergantian. Tatapan itu lebih ditujukan pada Abimanyu yang notabennya bukan
bagian dari keleuarga, takut merepotkan.
“Tidak apa-apa,
Pak. Biar kami berjaga di sini. Pak Heru juga butuh istirahat, kan?” tanya Abi
yang berusaha membuat keadaan lebih nyaman dengan kehadirannya di sini.
“Baiklah. Terima
kasih, Mas Abimanyu. Titip Nabila juga.”
Pak Heru pamit
dan keluar dari kamar. Menyisakan Nabila dan Abimanyu yang masih diam membisu
dengan pikiran bermacam-macam. Nabila mendekat ke ibunya yang masih terbaring
lemah di bed pasien. Ia memegang tangan wanita yang telah melahirkannya dengan
tatapan iba. Wajahnya menyiratkan ketakutan atas kesehatan wanita itu.
“Bi ....”
Abimanyu yang
sejak tadi diam lantas menatap Nabila. Tanpa menjawab apa pun, menunggu gadis
itu meneruskan kalimatnya.
“Gimana rasanya
kehilangan dua orang tua sekaligus?” tanyanya tanpa menatap pemuda itu.
Abi ragu untuk
mejawabnya. Karena ini adalah hal sensitif jika dibicarakan saat Ibunda Nabila
tengan terbaring lemah dipembaringannya. “Ya ... pasti sedih.”
“Kamu kangen
orang tuamu?”
“Itu pertanyaan
klise, Bil. Nggak perlu aku jawab, kamu pasti tau gimana perasaanku. Sekarang
kamu Cuma hanya perlu berdoa. Jangan patah semangat apalagi ibu kamu masih ada
harapan untuk hidup. Dia belum mati, Bil. Jangan bersikap seolah dia nggak akan
bangun lagi.”
__ADS_1
Kalimat Abimanyu
menohok jantungnya. Perkataan Abi memang benar adanya. Ia bersikap seolah
ibunya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Dan itu adalah sikap terburuk dari
seorang anak.
“Gimana sekolah
hari ini? Pasti ramai, ya. Gara-gara kasus Risna kemarin.” Abi mencoba
mengalihkan pembicaraan agar Nabila tidak terus larut dalam kesedihan.
“Lumayan. Tiga hari
dari sekarang, anak-anak dipulangkan lebih awal. Takut mereka jadi salah satu
korban seperti Risna. Eh, aku denger lengan kamu terluka, kemarin?” tanya
Nabila menoleh ke Abimanyu.
Abi hanya
memegang lengan yang kemaarin terkena sabetan pisau itu. Tidak ada bekas luka
apa pun di sana. Kemudian tersenyum.
---------
Abimanyu memutuskan
berjalan-jalan menuju kantin, karena rasa lapar yang mulai menggerogoti
perutnya. Cacing di perutnya sudah berdemo karena sejak pagi baru ia isi
scangkir kopi. “Aku nitip roti sobek aja sama susu kalengan,” pinta Nabila yang
enggan meninggalkan ibunya seorang diri. Ia berharap saat ibunya tersadar, maka
orang yang dilihat adalah dirinya.
Udara rumah sakit
terasa memusingkan. Bau etanol semerbak di sepanjang koridor. Tempat yang tidak
nyaman bagi dirinya yang memang orang sehat. Ia menunggu di depan pintu lift,
karena kantin ada di lantai bawah rumah sakit, dekat pelataran parkir mobil.
Ada sekitar 3 orang lainnya yang sedang menunggu lift naik. Dua orang gadis
dengan pakaian SMU, dan seorang pria dengan topi dan masker. Ia memakai tas
punggung yang sepertinya berat.
Pintu lift
dibuka, mereka berempat pun masuk. Saat pintu ditutup, dahi Abi berkerut. Ia mencium
aroma khas semalam. Bau kaporit seperti yang ia cium pada sosok perawat yang
telah membunuh Risna di rumah sakit. Ia lantas menoleh ke tiga orang di dalam
dengan tatapan menyelidik. Dua remaja perempuan itu mengobrol tentang temannya
yang dirawat di rumah sakit ini karena terkena sakit tipus. Rupanya mereka
sedang menengok teman sekelasnya yang sakit. Dua anak gadis itu lantas dicoret
dari kecurigaan Abimanyu. Kini ia fokus pada pria yang berdiri di sampingnya. Ia
terus menatap salah satu gadis itu dengan tatapan tajam. Abimanyu berdeham, membuat
pemuda itu menoleh padanya. Ia kemudian menunduk dan mencoba mengalihkan
tatapannya dari gadis di depannya.
“Maaf, jam
berapa, ya, sekarang?” tanya Abi pada gadis yang sejak tadi menjadi pusat
perhatian pemuda di sampingnya. Dua gadis itu menoleh. Ia menaikan tangan
kirinya dan menjawab pertanyaan Abimanyu dengan santai. “Oke, terima kasih.”
‘Oh, jadi dia
Eliza? Eliza Putri.’ Batin Abi yang kini mulai menyadari kalau target dan
korban yang menjadi incaran polisi ada di depan matanya.
“Eum, dek, kalau
SMU Bruderan ada di mana, ya? Maaf saya dari kampung, mau mendaftarkan adik
saya di sana. Tapi saya malah nyasar. Nabrak orang di jalan tadi,” kata Abi
bohong. Ia melihat badge yang tertempel di seragam mereka berdua bertuliskan
SMU Bruderan.
“Oh ikut kami
aja, Mas. Kami sekolah di sana. Tadi kami anter temen sakit, tapi ini mau balik
lagi ke sekolah,” sahut teman Eliza.
“Oh kebetulan
sekali, ya. Kalau gitu kita bareng aja. Kebetulan saya bawa mobil. Gimana?”
Mereka berdua
saling pandang. Tergambar jelas kalau mereka ragu-ragu untuk mengikuti saran
Abimanyu. Abi sadar kalau sikapnya agak terburu-buru, wajar saja mereka takut,
karena dia adalah orang asing.
“Gini ... nanti
kita ketemu temen saya sebentar, dia polisi. Jadi kalian nggak akan ragu. Saya mau
minta antar dia tapi dia bilang sibuk. Gimana?”
Lagi. Mereka berdua
saling tatap walau akhirnya mengangguk setuju atas permintaan Abimanyu. Pintu lift
terbuka, pemuda yang tadi di sampingnya merangsek keluar, kasar. Abi seharusnya
menangkapnya tadi, tapi dia tidak ingin gegabah karena tidak ada bukti apa pun
yang merujuk kalau dia tersangka pembunuhan Riki. Setidaknya ia menyelamatkan
Eliza sementara.
Mereka sampai di
pelataran parkir. Abi meraih telepon genggam yang ada di kantung celana,
menghubungi Andrew agar meyakinkan dua gadis itu dan memberitaukan kalau Eliza
telah ia temukan.
“Eum, begini. Kamu
Eliza kan?” tanya Abi yang merasa harus menjelaskan duduk permasalahan ini ke
gadis itu. Gadis itu mengangguk ragu. “Saya Abimanyu. Kamu dulu sekolah di SD
Pelita Hati, kan?”
Eliza menoleh ke
temannya dengan mengerutkan dahi. “Kamu siapa? Kenapa tau tentang saya?!”
tanyanya dengan gurat ketakutan di wajahnya.
“Sebentar. Saya bisa
jelaskan. Yang jelas nyawa kamu dalam bahaya. Kamu ingat Riki?”
Mendengar nama
itu disebut Eliza sontak melotot, menandakan ia masih kenal dengan sosok Riki.
Abi mengeluarkan foto Riki yang sudah terbujur kaku dari saku bajunya. “Dia
sudah meninggal, semalam. Dibunuh.”
Eliza menerima
foto itu dan makin terkejut.
“Dia sudah
membunuh 6 temanmu, dan kamu adalah target selanjutnya.”
__ADS_1