pancasona

pancasona
6 menunggumu..


__ADS_3

..."Kalau aku nggak sayang, mana mungkin aku menunggu kamu selama ini"...


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


"Ini rumahnya," kata Haga sambil mematikan mesin mobil.


.


"Terus Manda gimana?"


.


"Badannya panas. Tapi kata Arifin nggak apa apa sih. Terus siapa yang mau gendong ke kamar?"tanya Vita sambil menatap Kevin dan Haga bergantian.


.


"Elu aja ya, Bang. Gue nurunin barang barang tuh," suruh Kevin sambil menunjuk belakang mobil, tempat tas tas mereka.


.


Tanpa disuruh dua kali, Haga mengangguk. Lalu membopong Manda masuk ke dalam dibantu Vita.


Rumah ini ada 3 kamar. Memang sengaja disewa untuk tempat tinggal sementara mereka selama di sini. Sedangkan Andre memutuskan tinggal di hotel karena dia tidak akan lama disini.


.


Sampai di kamar, Manda segera di letakan di ranjang. Haga masih diam di samping ranjang sambil terus memandangi Manda yang masih tidak sadarkan diri. Terlihat raut wajah Haga diliputi kecemasan melihat kondisi Manda.


.


"Tenang aja. Manda nggak apa apa kok. Dia pasti kuat," ucap Vita sambil menepuk bahu Haga. Menguatkannya.


.


Haga hanya mengangguk sambil menarik nafas dalam dalam. Matanya terus memandang Manda yang masih tertidur di hadapannya


Melihat hal itu, Vita yang paham situasi di hadapannya pamit dengan alasan membantu Kevin menurunkan barang. Vita dan Kevin sudah sangat yakin bahwa Haga memang pria itu. Pria yang membuat Manda menutup diri dari pria mana pun selama ini. Memang Manda pernah bercerita tentang bagaimana perasaan dan hubungannya dengan seorang pria dari Medan. Yang kini, mereka yakinin, pria itu adalah Hahaha. Vita dan Kevin, memang yang paling dekat dengan Manda sekarang. Beberapa kali, baik Kevin maupun Vita sudah sering berusaha menjodohkan Manda dengan beberapa pria yang menurut mereka baik untuk Manda. Namun, Manda tidak pernah sedikitpun tertarik pada pilihan mereka berdua.


.


"Manda gimana?" tanya Kevin sambil menarik koper mereka.


.


"Tuh ... Masih ditungguin Haga. Gue nggak mau ganggu deh," sahut Vita sambil mengambil koper dari Kevin.


.


"Iya, udah, biarin aja. Kasih mereka waktu"


.


Mereka pun segera masuk ke dalam rumah lalu membereskan barang barang mereka.


.


\=\=\=\=


.


Pukul 18.00


.


Haga baru saja kembali dari rumahnya sambil membawa beberapa kantung plastik. Kevin memang sengaja memintanya untuk membelikan makanan untuk mereka. Kenapa Kevin meminta tolong Haga? Pertama Karena Manda tidak bisa ditinggal. Apalagi jika hanya dengan Vita. Kedua karena Kevin ingin mendekatkan Manda dan Haga lagi.


.


Manda masih tertidur sampai detik ini. Tenaganya memang terkuras habis karena kejadian tadi.


.


"Manda gimana?" tanya Haga sambil menatap pintu kamar Manda yang masih tertutup rapat.


.


"Masih tidur tuh. Tadi sih bangun sebentar, tapi terus tidur lagi," kata Kevin sambil menyecap kopi di tangannya.


.


"Beli apa, Bang?" tanya Vita sambil membuka bungkusan di meja.


.


"Sate padang, bubur ayam buat Manda sama aku beliin susu, biar dia ada tenaga."


.


"Lah tuh donat buat siapa?" tunjuk Vita ke sekotak donat di meja.


.


"Manda"


.


Kevin dan Vita saling pandang lalu tersenyum penuh arti.


"Buset dah, semua buat Manda." gumam Vita berbicara sendiri.


.


"Eh ... Bang. Loe udah punya pacar belom?" tanya Kevin basa basi.


.


Haga mengerutkan kening.


"Pacar?" tanyanya balik sambil tertawa renyah.


.


"Lah kenapa ketawa?"


.


"Sorry sorry ... Aku nggak punya pacar. Tapi udah punya anak," kata Haga santai.


.


"Hah? Anak?"


Kini malah Vita yang terkejut.


.


"Yah ... Gagal deh!"gumam Kevin pelan.


.


Namun Haga sepertinya mendengar kalimat Kevin barusan.

__ADS_1


"Apanya yang gagal?"


.


"Eng ... Enggak kok. Hehe," elak Kevin sambil cengengesan.


.


Ceklek


.


Pintu kamar Manda terbuka. Muncul wanita yang sedang mereka bicarakan tadi. Rambut acak acakan, tanpa make up, ditambah boneka di tangan kanannya, memakai sendal bermotif hello kitty berwarna pink, dengan baju tidur keropy. Dia berjalan sempoyongan keluar kamar dan duduk begitu saja di sofa dengan memeluk boneka teddy miliknya.


.


Semua mata menatap Manda. Terutama Haga yang terlihat cemas sekali melihat Manda.


Vita yang duduk di sampingnya lalu merapikan anak rambut Manda yang berantakan.


.


"Makan yuk. Laper kan, Man?" Tanya Vita lembut.


.


Manda malah meletakan kepalanya di pangkuan Vita, dan Vita pun membelai kepala Manda pelan.


.


"Nanti deh. Bentar lagi. Masih lemes, Vit" rengeknya mirip anak kecil yang sedang tidur dipangkuan Ibunya


.


"Man, donat nih. Mau kagak?"tawar Kevin. Semua tau, kalau donat adalah cemilan favorit Manda.


.


Manda langsung duduk dengan semangat.


"Mana ... Mana ...." dia pun langsung mendekat ke meja yang penuh makanan.


.


Segera saja dilahap sebuah donat bertopping greentea kedalam mulutnya. Mulutnya sedikit belepotan karena topping donat yang cukup banyak.


.


"Enak, Man?" Kevin cengengesan


.


"Hmm ... Heem. Enak. Beli di mana, Vin?" tanya Manda santai.


Kevin melirik Haga,"bukan gue yang beli. Nih Bang Haga." tunjuk Kevin ke sampingnya.


.


Otomatis Manda memelankan mengunyah donat. Dia ragu untuk melanjutkan makan donat lagi. Padahal Manda sangat suka donat. Dan Haga tau itu.


.


"Oh ...."gumam Manda lalu mengambil tissue untuk tangannya dan mengakhiri acara makan donat.


.


"Mulut loe dikondisikan, Bu!" sindir Kevin.


.


.


Satu pukulan mendarat ke lengan Kevin. Sambil mengepalkan tangannya ke Kevin, Manda menatap Kevin dengan tatapan membunuh.


.


"Abisin aja,"kata Haga sambil menatap Manda.


.


"Iya. Nanti lagi aja. Udah kenyang," ucap Manda lalu kembali duduk di samping Vita yang sedang asik menonton film.


.


"Kamu udah nggak apa apa say?"tanya Vita tanpa memalingkan wajahnya dari Tv di depan.


.


"Mendingan kok," jawab Manda enteng.


.


Kriiiiing!


.


Ponsel Manda berdering. Segera diraihnya benda pipih itu, yang sejak tadi diletakan di meja. Manda menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menggeser tombol itu ke kanan.


Manda : "assalamualaikum ...."


Lili :"Maaaan ...." rengek suara di seberang.


.


Manda :"iya, Li, Gimana?" tanya Manda lembut.


.


Lili: "Beni, Man ... Hiks...." suara isak tangis Lili mulai pecah.


.


Manda :"kenapa?"


.


Lili : "Dia selingkuh!"


.


Manda membulatkan matanya, dia heran bagaimana bisa Lili tau.


Manda : "kamu tau dari mana? Salah mungkin ...."


.


Lili :"Ada yang kirimin aku fotonya, Maaaaan. Mereka ada di Medan. Kamu udah pernah ketemu Beni belum? Kamu kan juga lagi di sana?"


Manda :"hmm ... Udah. Udah aku hajar tadi siang."


.

__ADS_1


Lili :"maksud kamu?"


.


Manda :" kamu lupain aja dia. Dia nggak pantes buat kamu."


.


Tangis Lili pun pecah di seberang sana. Manda sebenarnya tidak tega, tapi inilah kenyataan pahit yang harus Lili terima. Akhirnya setelah dinasehati pelan pelan oleh Manda, Lili sudah agak tenang. Telepon pun di akhiri. Manda mengatupkan rahangnya menahan amarah.


.


"Eh, Man ... Tadi siapa sih, cowok sialan itu?" pertanyaan Kevin berhasil mencuri perhatian semua orang.


.


Manda menoleh lalu mendengus sebal.


.


"Kalian tau kan, Lili? Yang waktu itu aku ajak kenikahannya Alvin?"


.


Mereka menatap Manda sambil mengangguk.


.


"Lah itu cowoknya. Kampret!" umpat Manda.


.


"Padahal Lili cakep ya, Man. Kok mau sama tu cowok?"


.


"Dijodohin. Tau gak tu orang anaknya siapa?"


.


"Lah mana gue tau. Emang anak siapa?"


.


"Pak Ilham,"


.


"Ilham? Ilham yang mana?"


.


"Ck. Anggota DPR. Tapi menurut desas desus, Bapaknya juga mantan preman, dan katanya mereka itu bandar narkoba!" sahut Manda sambil beranjak mengambil susu di meja dan meminumnya.


.


"Astaga! Lah kok Lilinya mau?" tanya Vita dengan wajah bingung.


.


"Pantes dia songong. Belagu banget!" timpal Kevin.


.


"Orang tuanya Lili itu temen baiknya Pak Ilham, dan emang sih, Papanya Lili belum tau kebusukan keluarga itu," sahut Manda yakin.


.


"Terus kok bisa disini tu orang? Ngapain?"


.


"Jadi sebulan lalu, Beni bilang ada kerjaan di sini. Aku sih sebenernya udah nggak respek yah sama dia. Keliatan banget, dia mata keranjang. Berapa kali aja tuh, dia coba nggodain aku. Aku mah ogah. Amit amit deh. Banyak cowok bener juga! Lagian nggak mungkin juga aku makan temen sendiri!" runtuk Manda.


.


"Halah ... Banyak cowok bener juga elu kagak mau. Masih aja jomblo!"


.


"Jomblo itu pilihan, Bro," bela Manda.


.


" Bilang aja masih belum move on dari ... Hmm ...."Vita melirik Haga. Mengisyaratkan sesuatu.


.


Manda yang melihat hal itu agak salah tingkah. Lalu melotot tajam ke arah Vita.


"Bang Arifin kemana tadi? Kok dia ada disini juga ya?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.


.


"Hmm ... Ngeles nya pinter banget dah!" sindir Kevin sambil mengacak acak rambut Manda.


.


Haga, sedari tadi hanya menyimak obrolan mereka bertiga. Sambil sesekali tersenyum tipis. Ada perasaan lega mengetahui bahwa Manda masih sendiri dan masih menaruh perasaan padanya. Namun, Haga tidak ingin gegabah bertindak.


.


"Keviiiiiiiiiin ... Berantakan nih rambut aku!"Gerutu Manda sambil menyisir rambut dengan jarinya.


.


"Habisnya elu sih!"


"Apaan coba? Gue kenapa lagi?" tanya Manda dengan wajah polosnya.


Manda memang suka mengobrol dengan panggilan 'aku dan kamu' kadang juga 'elu gue'. Yah, sesuka hati Manda sajalah.


"Ah tau ah ... " Kevin mulai geram lalu pergi ke dapur membuat minuman hangat lagi. Dia memang suka sekali minum kopi, bahkan bisa nambah beberapa cangkir dalam satu malam.


Tak lama Kevin kembali dengan dua cangkir kopi.


"Nih ... Bang Haga. Biar gak ngantuk," kata Kevin seraya menyodorkan cangkir di tangan kanannya ke Haga.


"Eh, panggil Haga aja deh. Berasa tua banget pake ada 'Bang' nya" pinta Haga.


Haga pun menerima cangkir dari Kevin. Manda dan Haga saling curi curi pandang. Namun, Manda segera beralih ke laptop di hadapannya.


"Ni yang pake laptop aku siapa?" tanya Manda sambil mengecek laptopnya.


"Gue, Mak ...." sahut Vita yang masih asik menatap layar TV.


Segera saja Manda membuka beberapa akun sosial medianya. Lalu menjawab beberapa komentar serta pesan yang memang notifikasinya sudah cukup banyak. Manda memang jarang sekali membuka akun akun sosial medianya, karena biasanya hanya dipenuhi komentar beberapa reader setianya saja, sekedar mengucap salam maupun menanyakan kelanjutan cerita yang dia tulis.


Manda memang suka menulis cerita dan cukup aktif di beberapa forum dunia maya. Baginya menulis adalah hidupnya. Dan karena menulis, dia bertemu dengan Haga. Menulis juga merupakan salah satu cara dia mengisi waktu luang dan juga janji Manda ke Haga. Manda sudah berjanji ke Haga tidak akan berhenti menulis. Dan menulis juga salah satu caranya mengisi kerinduannya kepada Haga.


Deg!

__ADS_1


Tiba tiba sekelebat peristiwa melintas di pikirannya.


epertinya ada pertanda buruk.


__ADS_2