pancasona

pancasona
Part 144 Rendra


__ADS_3

Kesibukan cafe sudah sejak 2 jam lalu dimulai. Baik Abimanyu, Gio, Maya, Bahkan Vin mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Cafe tetap ramai di waktu-waktu tertentu. Seperti pagi, menjelang jam makan siang, dan tentu malam hari. Bahkan cafe ini sudah memiliki beberapa pelanggan tetap. Abi kembali memegang posisinya, sebagai barista terbaik cafe ini. Ia selalu dapat meracik kopi dengan rasa terbaik, dan sejauh ini belum ada yang bisa menggantikannya. Abi terus memperhatikan keadaan cafe dari tempatnya berdiri. Ia juga memperhatikan tiap orang, baik pengunjung maupun karyawannya. Satu tujuan Abi melakukan hal ini, ia ingin menemukan seseorang dengan luka di telapak tangan kirinya, tentu ia masih sangat penasaran dengan makhluk yang semalam ia temui.


Tapi sejak cafe ini dibuka, ia belum menemukan satu pun pelanggan dengan kondisi yang seperti apa yang ia cari. Kini netranya tertuju pada Vin. Pemuda itu beberapa kali menyapu peluh dari dahinya. "Vin!" panggil Abimanyu. Vin yang hendak ke dapur mengambil pesanan pelanggan, akhirnya berhenti dan berbelok ke meja barista.


"Ngapa?" tanya Vin. Ia menarik beberapa lembar tissue dan menyapukan ke wajahnya. Ia sungguh berkeringat. Wajahnya berkilau seperti habis melakukan treatment kecantikan.


"Gue ingin ngobrol bentar!" kata Abi lalu memanggil Rain agar menggantikan posisinya sementara waktu. Kebetulan sudah semua pesanan kopi ia buat, dan kini memang waktu yang tepat untuk istirahat sejenak. Vin juga menyuruh Maya mengambil pesanan yang hendak ia bawa tadi, mengikuti Abimanyu ke halaman depan cafe dengan dua cangkir kopi ditangannya. Vin menyimpan seribu pertanyaan besar di kepalanya. Abi bukan tipe manusia yang suka basa-basi, jadi Vin yakin kalau ada masalah serius yang hendak Abi bahas dengan dirinya.


Sebuah meja yang terletak di sudut halaman menjadi incaran Abimanyu. Hanya meja ini yang jauh dari pelanggan lain, dan tentu akan membuat mereka berdua nyaman nanti. Abi memilih duduk di kursi yang dapat melihat langsung ke arah jalanan di luar, Sementara Vin memilih duduk di kursi yang ada di hadapan Abi. "Kenapa sih, Bos? Gue bikin salah?" tanya Vin tanpa basa basi lebih dulu. Pertanyaan itu membuat Abimanyu terkekeh pelan. Ia meneguk kopi yang baru saja dibuat.


"Makasih, ya. Elu bantuin gue di cafe." Kembali tegukan kedua ia telan, namun kedua netranya menatap ke arah jalanan di sampingnya. Vin menarik kedua sudut bibirnya, dan hendak membalas perkataan Abi barusan. Tapi Abi lebih dulu melanjutkan perkataannya, "Tenang aja, nanti bayaran sesuai kok."


"Ye! Lu pikir gue mau bilang itu?"


"Lah, salah? Terus?" tanya Abi yang ini menatap sahabatnya itu. Ia masih duduk dengan posisi santai, tentu dengan cangkir kopi di genggamannya.


"Kalau gue tetep di sini, boleh?" tanya Vin dan berhasil membuat Abimanyu hendak tersedak. "Nggak boleh, ya?" tambahnya lagi dengan pertanyaan hasil dari pemikirannya sendiri. Abi menatap Vin dengan tampang serius.


"Ini yang mau gue bahas sama elu, Vin. Sorry sebelumnya, gue cuma pengen memperjelas keadaan saja. Gue udah mikirin ini lama, tapi belum sempet bahas secara khusus sama elu. Seinget gue, jatah cuti elu kan udah abis, tapi elu masih di sini. Apa nggak apa-apa? Nah sekarang gue kaget sama pertanyaan elu yang barusan."


"...."


"Gue nggak masalah, kalau memang elu mau di sini terus. Justru malah seneng. Setidaknya kalau di rumah, gue sama paman Gio nggak kesepian. Dan di sini memang butuh karyawan lagi sih, melihat keadaan cafe yang super sibuk di jam-jam ramai kayak tadi."


"Jujur saja, sejak kasus kemarin, gue merasa udah nggak berminat lagi balik ke kerjaan gue kemarin. Bukan berarti kalau gue udah nggak mau lagi nolong orang, atau jiwa kemanusiaan gue hilang. Tapi, gue hilang respect sama kapten Nicholas. Dia salah satu orang yang gue kagumi dulu, Bi. Tapi ternyata, dia nggak lebih dari seorang ******** yang berlindung dibalik jabatan dan kekayaannya."


"Nggak semua orang di militer kayak Nicholas, kan, Vin? Dia cuma salah satu oknum yang memang nggak pantes ditiru."


"Iya gue tau, Bi. Tapi gue sudah mengajukan pengunduran diri. Lagian, tujuan hidup gue sudah di depan mata. Gue bukan Vin yang kemarin. Manusia tanpa tujuan jelas. Yang rela dikirim ke daerah konflik, cuma demi kepuasan melindungi manusia lain yang membutuhkan. Gue yang kemarin nggak peduli nyawa gue sendiri. Tapi sekarang berbeda. Udah ada Allea. Gue pikir, sekarang saatnya gue bener-bener menjalani kehidupan normal. Gue pengen nikahin Allea, Bi."


"Waw. Luar biasa. Gue nggak nyangka sama pemikiran elu ini. Yah, oke. Jadi elu bakal di sini terus, gitu?"


"Mungkin. Atau lebih tepatnya untuk sementara waktu. Gue belum nemuin tempat lain, selain cafe ini dan rumah elu. Tapi gue punya rencana tinggal di desa ini. Mungkin nanti gue bakal cari rumah sederhana buat gue sama Allea."


Sebuah niat dan rencana yang indah, yang bahkan belum terpikirkan dalam benak Abimanyu. Abi bangga sekaligus bersyukur Allea bertemu laki-laki seperti Vin. Setidaknya ia tau kalau Vin adalah pria yang pantas untuk Allea.


"Gue dukung, Vin. Nanti kita cari rumah yang cocok buat kalian. Sekalian gue mau ketemu Pak Yudistira. Elu mau ikut?"


"Tuan tanah itu? Boleh. Siapa tau dia punya rumah untuk dijual. Kalau bisa mah yang deket rumah elu saja, Bi."


"Lah kenapa?"

__ADS_1


"Biar kalau butuh apa-apa deket," kata Vin sambil mengerdipkan sebelah matanya. Abimanyu meliriknya sinis, melepas appron yang ia kenakan, dan melemparkan ke Vin. Vin terbahak sambil menghirup kopinya.


Hari sudah beranjak sore. Melihat keadaan cafe yang agak lenggang, Abi memutuskan pergi ke rumah Pak Yudistira segera, tentu bersama Vin. Dia benar-benar berniat mencari rumah untuk ia tinggali nanti dengan Allea. Sungguh manis. Cafe ia percayakan pada Gio dan Maya. Sementara mereka berdua pergi.


Rumah Pak Yudistira berada di dekat home stay. Ia merupakan salah satu warga desa yang kaya raya, dengan tanah di mana-mana. Tak hanya di desa ini saja, tapi juga desa tetangga. Makanya ia terkenal dengan julukan tuan takur desa Amethys. Abi sendiri sudah pernah bertemu dengannya beberapa kali. Hanya saja belum pernah bertegur sapa, mengingat sikapnya yang memang dingin pada beberapa orang, terutama orang yang baru ia kenal. Sementara itu, keluarga Pak Yudistira memang jarang bergaul dengan warga sekitar. Karena anaknya tidak tinggal di desa ini, putri semata wayangnya sedang menjalani pendidikan di luar negeri karena berhasil mendapat beasiswa murid terbaik, istri Pak Yudistira juga kerap bolak balik ke luar negeri, karena memang keluarganya berada di negeri kincir angin sana.


Sebuah Jeep Wrangler Sport abu-abu parkir di halaman sebuah rumah yang luas. Mereka berdua turun, dan menyempatkan menikmati suasana alam yang berbeda. Halaman rumah Pak Yudistira terkesan indah dan sejuk dipandang mata. Penataan bunga dan beberapa tanaman dengan spesies beragam dapat ditemukan di tempat ini. Pak Yudistira memang mantan guru biologi, yang kini memilih tinggal di daerah pedesaan namun tetap menerapkan ilmu yang ia dapat dalam kehidupannya terutama dalam mengisi kekosongan halaman rumahnya. Ia meneliti dan membudi dayakan beberapa bunga yang jarang ada di desa.


Pria tua dengan tubuh tambun itu terlihat sedang sibuk di sebuah lahan bunga yang tertutup, tidak terkena sinar matahari langsung. Ada beberapa jenis aster dan mawar di sana. Semua tampak indah dari jarak pandang Abi dan Vin berada. Mereka berdua memutuskan mendekati sang pemilik rumah.


Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Yudistira menoleh. Ia menyempatkan mengerutkan dahi menyambut dua pria yang menginjakkan kaki di halaman rumahnya. "Selamat sore, Pak Yudistira," sapa Abimanyu sambil tersenyum tipis. Mencoba bersikap seramah mungkin untuk memberikan kesan pertama yang baik untuk calon rekan bisnisnya.


"Sore. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, lalu melepas sarung tangan karet yang sudah kotor karena tanah. Ada beberapa pot bunga yang sedang ia isi dengan tanah yang ada di dalam sebuah karung besar. Inilah kegiatannya sehari-hari. Bahkan ia lebih sering ada di tempat ini timbang ada di dalam rumahnya sendiri.


"Maaf kalau kami mengganggu."


"Tidak apa-apa, anak muda. Pasti ada sesuatu yang penting, kan? Kamu ... Abimanyu anak Pak Arya?" tanya Yudistira menunjuk Abi seperti sedang mengingat sesuatu.


"Iya betul, Pak."


"Hahaha. Sudah lama sekali, rumah saya tidak didatangi Pak Arya, sejak kematiannya. Baru kali ini putranya datang ke sini." Perkataan Yudistira terkesan kalau dia dengan Arya cukup dekat. Bahkan Abimanyu selaku putra kandung Arya sendiri tidak tau kalau ayahnya sering datang ke tempat ini.


"Memangnya ayah saya sering ke sini, ya, Pak?" tanya Abi, penasaran.


Vin menyenggol lengan Abi dengan tubuhnya sambil mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Dari sorot matanya, Vin seperti sedang meledek putra Arya, yang berbanding terbalik dengan ayahnya. Abi hanya melotot tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena merasa tak enak dengan orang tua di depan mereka.


"Mari kita ke dalam," ajak Yudistira berjalan lebih dulu ke teras rumahnya. Dua pemuda itu mengikuti sambil saling melakukan pergulatan dengan perlahan. Vin merupakan satu-satunya musuh sekaligus sahabatnya. orang yang paling keras menertawakan kesalahan Abimayu, tapi yang paling terdepan untuk menolongnya.


"Mau duduk di sini saja, atau di dalam?" tanya Yudistira dengan sebuah penawaran.


"Di sini saja, Pak. Pemandangannya bagus," sahut Vin menunjuk halaman bunga Yudistira. Pencipta barisan bunga itu tersenyum, karena pujian dari seorang pemuda yang baru ia temui.


"Mau minum kopi atau teh?"


"Oh, tidak usah repot, Pak," tolak Abimanyu halus.


"Ah, nggak repot kok. Sebentar." Ia berjalan masuk ke dalam dan mau tidak mau mereka berdua menunggu pemilik rumah itu keluar lagi dari istananya.


Tak lama, hanya selang 8 menit kemudian Yudistira kembali lagi dengan sebuah nampan berisi tiga buah cangkir teh hijau dengan kue kering buatan istrinya. "Diminum. Maaf, seadanya."


"Terima kasih, Pak." Dua pemuda itu secara serempak mengambil cangkir teh masing-masing dan meneguknya perlahan. Abimanyu bahkan tidak puas hanya meneguk teh itu sekali, baginya ini adalah teh terenak yang ia rasakan seumur hidupnya.

__ADS_1


"Jadi ada perlu apa kalian datang ke sini?" tanya Yudistira.


"Eum begini," cangkir teh Abi letakan kembali di meja, "Saya berniat membeli tanah bapak yang ada di samping cafe saya."


Yudistira tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya bersorak, "Oh ya, tanah yang itu. Wah, sepertinya usaha cafe milikmu sukses, Nak?"


"Iya, Pak. Rencana saya memang mau memperluas cafe dan juga lahan parkirnya."


"Bagus itu. Boleh sekali." Dan akhirnya pembicaraan mengenai bisnis dimulai dengan serius. Vin juga bertanya tentang rumah yang ia inginkan, setelah sebelumnya ia menceritakan asal usulnya dan alasan dia ingin membeli rumah di desa ini. Rupanya Yudistira tidak menjual rumah seperti yang diinginkan Vin. Tapi hanya sekedar tanah saja. Ada pun tanah miliknya yang ada di daerah dekat rumah Abimanyu. Dan Vin langsung setuju dengan harganya. Begitu pula dengan Abimanyu, ia juga sudah cocok dengan harga tanah yang ditawarkan Yudistira. Kesepakatan telah disetujui, Yudistira tinggal menyuruh orangnya untuk mengurus surat tanah dan tinggal pembayarannya saja nanti.


"Bapak sangat pandai menanam bunga. Mungkin Abi perlu belajar tenang bercocok tanam juga ke bapak. Agar halaman rumahnya sedikit indah, tidak mirip hutan belantara," sindir Vin. Yudistira tersenyum sambil meneguk habis teh miliknya. "Mudah kok, merawat tanaman hias. Asal tekun dan rajin, pasti berhasil. Kalau Abi berniat berkebun seperti saya, boleh kok."


Sebuah mobil pick up berhenti di samping mobil Abi. Turun seorang pria dengan memakai topi dan handuk kecil yang tersampir di lehernya. Ia langsung berjalan ke bagian belakang mobilnya dan menurunkan karung besar dan tampak berat. Kedatangannya menarik perhatian mereka.


"Itu Rendra, salah satu penyetok tanah gembur untuk tanaman saya. Saya juga sering membeli bibit tanaman darinya." Yudistira beranjak dan mengomando, di mana seharusnya karung besar itu diletakkan. Ada sekitar 5 karung yang kemungkinan berisi tanah dan sekam untuk tanaman Yudistira. Setelah semua sudah diturunkan, pria tua itu melambaikan tangan ke Rendra agar mendekat. Ia mengambil dompet di balik celana panjangnya. Rendra mendekat dengan kepala tertunduk terus. Tapi sesekali ia terlihat mencuri pandang ke arah Abimanyu yang sedang duduk di sisi kanan. Topi yang dikenakannya tak membuat Abimanyu terhalang dari penglihatannya.


"Besok bawakan bibit bunga lain, Ren," kata Yudistira sembari memberikan beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya. Rendra hanya mengangguk sebagai balasan dari permintaan kliennya itu. "Tanganmu kenapa?" tanya Yudistira menunjuk telapak tangan kiri Rendra. Sontak ia segera menyembunyikan tangan kirinya di balik tubuh.


"Eum, terkena cangkul kemarin. "


''Hati-hati, anak muda. Jangan sampai tanganmu terluka lagi. Pekerjaanmu ini sangat mengandalkan tangan, kan?"


"Iya, Pak. Kalau begitu saya pamit. Terima kasih." Buru-buru Rendra segera pergi dari hadapan mereka. Abimanyu dan Vin saling lempar pandang, seolah memiliki pemikiran yang sama. Mobil Rendra melesat pergi dari halaman rumah Yudistira dengan tergesa-gesa, membuat Yudis geleng-geleng kepala. "Kenapa dia itu? Nggak seperti biasanya," gumamnya.


"Dia siapa, Pak? Rasanya saya baru pernah lihat," kata Abimanyu.


"Rendra. Dia memang pendatang, Yah baru 6 bulan di desa kita. Orangnya tertutup dan pendiam, tapi sangat tekun bekerja. Kamu baru ketemu dia?"


"Iya. Mungkin karena beberapa waktu lalu saya tidak di sini. Jadi saya baru ketemu dia."


"Rumahnya di mana, Pak?" tanya Vin.


"Kalian tau bekas rumah Pak Johan yang ada di ujung sana?" tanya Yudis sambil menunjuk ujung jalan yang memang melewati jalan di depan rumah Yudistira.


"Oh iya, di sana rumah Rendra?"


"Iya. Dia membeli rumah itu. Memang sedikit terpencil dan jauh dari warga lain, seperti rumahmu, kan?" tanya Yudis, mengarah ke Abi. Abi tak menjawab, hanya melempar senyum tipis.


"Pak ... Bapak sudah dengar berita mengenai kematian Pak Rahmat kemarin, kan?"


"Iya, Vin. Saya tidak kaget, hanya tidak sangka saja kalau Rahmat yang meninggal. Desas desus adanya binatang buas memang sedang sunter di desa kita. Bahkan katanya ada werewolf. Hahaha. Ada-ada saja, ya, warga."

__ADS_1


_________


__ADS_2