
Mereka mulai keluar dari sempitnya lorong gelap itu, udara yang awalnya pengap, kini berubah segar. Mereka ada di ujung lorong yang terhubung ke hutan tak jauh dari rumah besar itu. Masing-masing menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Nafas yang pendek karena aktivitas barusan, membuat Alan menekan dadanya. Umurnya sudah tua, jadi staminanya sudah tidak seperti dulu saat ia masih muda. Dulu, Alan adalah salah satu orang terkuat dari sekian banyak ketua gangster di wilayahnya, itulah mengapa ia ditunjuk menjadi ketua di kelompoknya. Selain kuat, dia juga bijak.
Alan menatap ke kepulan asap hitam tak jauh dari mereka. Itu adalah letak rumahnya. Yang kini mungkin sudah rata dengan tanah. Ia gagal melindungi anak buahnya. Rasa bersalah kini merongrong hati pria tua itu. Bukan karena rumah miliknya yang telah luluh lantah, tapi karena banyaknya orang-orang yang ia sayang harus berkorban nyawa di sana, demi menyelamatkan dirinya dan keluarganya.
Abi menepuk bahu pria tua itu, Alan menoleh dan tersenyum getir, " Jangan menyerah, Kek. Jangan sampai pengorbanan mereka sia-sia. Semoga masih ada yang selamat di sana. Doa'kan saja yang terbaik."
Alan tersenyum menanggapi perkataan Abi. Mereka lalu menyusul Vin dan yang lainnya, mereka harus terus bergerak. Mencari tempat yang lebih aman. Barisan pepohonan tampak mengelilingi mereka. Semua terlihat sama. Udara terasa sejuk. Daerah ini memang masih terbilang asri, karena masih jarang di lewati kendaraan yang selalu meninggalkan asap pembuangan yang membuat polusi.
"Kenapa mereka mencari kita lagi? Padahal kita tidak punya flash disk itu lagi, kan?" tanya Allea, menatap semua orang di sekitarnya. Mereka kini duduk di batang pohon yang sudah tumbang. Mereka perlu istirahat. Apalagi Alan. Kondisi tubuhnya sudah tidak segar seperti yang lain. Ellea membantu memijat kaki kakeknya dengan sabar.
"Mungkin mereka nggak tau kalau flash disk itu udah nggak ada sama kita," sahut Vin, masuk akal.
"Yah, itu benar. Mereka pasti tau nya flash disk itu masih sama kita. Makanya mereka terus menyerang kita," tambah Abimanyu.
"Itu berarti benda itu masih ada di tempat Ronal," tukas Alan. Mereka saling tatap, dan sependapat dengan perkataan Ronal. Dan kini mereka tau harus ke mana.
"Kita ke KBRI saja dulu. Bagaimana? Ketemu Faizal. Setidaknya kita bisa cari tempat aman di sana," ujar Vin memberikan ide. Mereka sependapat dan kini menuju KBRI. Kini yang mereka butuhkan adalah jalan raya, agar setidaknya ada kendaraan yang bisa mereka tumpangi untuk bisa sampai ke tempat tujuan.
____________
Faizal berjalan menuju ruangan atasannya, dengan beberapa dokumen yang ia dapatkan melalui surel yang dikirimkan Vin. Vin menelepon Faizal dan menceritakan semua hal ini, selain meminta perlindungan, juga berharap Faizal dapat membantu mereka menemukan flash disk itu. Banyak rahasia besar di dalamnya. Dan itu harus segera mereka temukan.
"Kamu tidak usah ikut campur masalah seperti ini! Paham?! Kita tidak punya waktu untuk hal tidak penting itu. Saya sudah bilang, untuk tidak usah mengurusi masalah gangster di luar!" bentak pemimpin Faizal.
Faizal merupakan staf bagian komunikasi. Ia memiliki wewenang dan kemampuan lebih menggali lebih dalam semua sumber komunikasi di Venesia. Ia berfikir, jika ia diizinkan bertindak, maka akan lebih memudahkan mereka memecahkan masalah ini. "Keluar dari ruangan saya! Saya sibuk!" usir Hudi, staf pemimpin bagian komunikasi.
Faizal segera keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Ia tidak habis pikir atas semua ucapan yang keluar dari mulut Hudi. Padahal ia yakin dan tau persis bagaimana sifat pemimpinnya itu. Saat Faizal keluar ruangan itu, Fredi masuk. Salah satu rekan kerja Faizal di KBRI.
Saat pintu ditutup, Faizal dengan langkah putus asa segera menghubungi Vin. "Sorry, Vin. Gue nggak bisa bantu soal masalah ini. Gue dilarang ikut campur. Tapi kalian bisa dateng ke sini, tempat ini aman kok."
"...."
"Oke. hati-hati."
Saat hendak kembali ke ruangannya, Faizal melupakan sebuah dokumen yang memang sengaja ia bawa untuk meminta tanda tangan Hudi. Ia memutar tubuh dan kembali ke ruangan tadi. Tapi langkahnya tertahan, saat mendengar percakapan samar di dalam. Faizal memutuskan untuk menguping, karena ia mendengar namanya dan Alan di sebut-sebut.
"Pokoknya kau harus mengambil flash disk nya. Mereka kehilangan benda penting itu. Cari di rumah Ronal. atau di mana saja. Dapatkan hari ini juga! Paham?!"
Kedua mata Faizal membulat, ia perlahan mundur dan mengurungkan niatnya untuk masuk kembali ke dalam. Kini ia tau, apa alasan Hudi tidak mengizinkannya mengusut kasus ini. Faizal merogoh ponsel di saku celananya. Menekan nomor panggilan terakhir tadi. Vin.
"Jangan ke sini! Temui gue di apartment gue. Gue pergi sekarang."
"...."
"Ceritanya panjang. Ada hal penting yang harus gue ceritain."
__ADS_1
Faizal naik ke mini cooper nya, dan pergi dari gedung besar itu. Sesekali ia menoleh ke belakang takut kepergiannya dicurigai orang, dan diikuti. Faizal ini termasuk orang yang over thinking tapi hal itulah yang membuatnya bertahan karena terus tingkat kewaspadaannya di atas rata-rata.
Jarak KBRI dan tempat tinggalnya memang tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan 15 menit, kini ia sudah sampai basement salah satu apartment mewah di Venesia. Kini ia sudah masuk ke kamarnya, langsung menyalakan komputer dan memeriksa seluruh kamera CCTV yang sengaja ia pasang di beberapa sudut tempat ini. Tidak hanya di depan kamar atau di dalam ruangannya, tapi sejak dari basement dan sekitarnya. "Huh, aman," gumamnya menarik nafas lega.
Hanya menunggu beberapa menit, mobil seseorang terlihat di basement, lalu keluar beberapa orang yang ia kenali. "Akhirnya datang juga." Sambil menunggu tamunya datang, ia mulai mencari kolom pencarian tentang semua hal yang berkaitan dengan Austin, Ronal, dan Alan.
Pintu diketuk, Vin memanggil nama Faizal dengan tergesa-gesa. "Lama bener?!" runtuk Faizal, mempersilakan tamunya masuk ke dalam.
"Macet," ujar Vin santai, ia segera ke dapur dan mengambil sebotol air mineral di sana. Faizal hanya menatapnya sebal. Namun si empunya rumah, segera menggiring mereka ke depan komputernya. "Ini! Gue yakin Ronal nggak akan simpan benda itu di rumahnya. Itu terlalu beresiko," tunjuk Faizal ke sebuah PETA yang menampilkan beberapa titik-titik merah yang membentuk koordinat yang belum mereka mengerti.
"Ini apa?" tunjuk Abimanyu meminta penjelasan atas kalimat yang cepat dan singkat dari mulut Faizal.
"Ini adalah semua tempat kekuasaan Austin. Ronal berkhianat padamu, Pak Alan. Kau tau apa alasannya?" tanya Faizal melirik ke pria tua yang duduk di kursi dekatnya. Alan menggeleng pelan.
"Lihat!" Beberapa foto yang menunjukkan identitas Ronal yang sebenarnya terungkap.
"Apa? Jadi Ronal adalah ...."
"Yah, dia anak Adrian dan Ruth yang sebenarnya. Mereka tidak tau kalau sebenarnya bayi Ruth selamat saat insiden itu. Mereka membawa Ellea pergi, setelah melihat Ronal tidak bernafas karena terkena luka tembak. Akhirnya Ronal di kirim ke panti asuhan. Ia dendam. Karena posisinya tergantikan oleh Ellea, cucumu. Sekarang ia ingin menuntut balas."
Pernyataan Faizal barusan membuat Alan benar-benar terpukul. Ia tidak menyangka kalau hal ini terjadi dalam hidupnya. Ia tidak tau kalau anak Adrian masih hidup. Dan karena dirinya lah, karena harus melindungi anggota keluarganya, Adrian menelantarkan anak kandungnya sendiri. Alan membayangkan bagaimana hidup Ronal selama ini. "Ini semua salahku," kata Alan, menjambak rambutnya sendiri. Ini adalah pukulan terberatnya selama ia hidup. Adrian dan Ruth sudah ia anggap keluarga, tapi karena dirinya mereka harus terpisah dari anak kandung mereka. Dan kini meninggal dengan cara tragis.
Ellea mengelus punggung kakeknya. Mencoba menguatkan pria renta itu. "Ini bukan salah kakek. Kakek juga nggak tau kalau ternyata Ronal masih hidup, kan?"
"Tapi, kalau dulu kakek tidak menyuruhnya pergi dari rumah ..."
"Tapi, apa anda tau apa isi flash disk itu, Pak Alan?" tanya Faizal. Alan menatap Faizal dalam. "Tentu saja. aku tau. Benda itu banyak dicari karena menyimpan banyak rahasia besar beberapa petinggi dunia. Seberapa kotornya para pejabat yang ternyata bersikap menjijikkan. Mereka melakukan pembunuhan kepada sesamanya dengan bantuan kami, siapa saja yang mendapat bagian besar dalam perdagangan senjata ilegal, korupsi, dan perdagangan manusia. Semua ada di sana. "
"Apa ada nama petinggi di sini yang masuk daftar itu?"
"Kenapa kamu bertanya hal itu?" tanya Alan curiga.
"Aku curiga, kalau beberapa staf KBRI juga ada hubungannya dengan benda itu."
"Cih, tentu saja. Kau pikir mereka bekerja dengan tulus? Darimana mobil dan barang mewah lainnya, kalau bukan dari hal semacam ini?!"
"Jadi maksud elu, orang di kantor lu itu terlibat, Zal?"
"Hm. Yah, tapi gue belum tau siapa saja. Dan sekarang gue nggak tau siapa yang harus gue percaya."
"Tapi gue penasaran, apa niatan Austin untuk merebut flash disk itu?" tanya Abimanyu yang berdiri di dekat jendela, terus mengawasi keadaan di luar. Ia cukup trauma dengan kedatangan musuh yang secara tiba-tiba seperti sebelumnya.
"Kita nggak tau siapa saja yang ada dii daftar itu, kan? Bisa saja karena Austin mau memeras orang-orang itu, atau ada hal lain yang kita nggak tau. Gue belum bisa nebak karena belum melihat isi Flash disk itu."
"Eh terus kamu tau nggak, di mana kira-kira Ronal sembunyiin benda itu?" tanya Allea.
__ADS_1
Faizal menatap layar datar di depannya. "Ada beberapa tempat yang gue curigai, tapi ... di sini," tunjuk Faizal ke sebuah titik. "Nggak tau kenapa gue ngerasa tempat ini yang paling masuk akal."
Mereka menatap ke lokasi yang dimaksud Faizal. Vin mendekatkan tubuhnya di depan layar. "Ini kan, markas Hispanik?" tanya Vin menatap Faizal.
"Iyes, di sana ada teman dekat Ronal saat di panti asuhan. Joseph. Mereka itu teman dekat saat di panti. Ronal dulu bergabung dengan Latin Kings," jelas Faizal.
"Apa?! Kau serius?" pekik Alan tidak percaya.
"Yah, lihat fotonya. Dia bergabung dengan Latin Kings sejak remaja, bersama Joseph. Setelah dewasa, dia diam-diam mendatangimu, Pak tua. Dan dengan mudah mendapat perhatianmu, kan? Padahal saat itu, dia sudah bergabung dengan Asia Boyz."
Perkumpulan gangster memang sudah ada di penjuru daerah, bahkan dunia. Ada kurang lebih 14 gangster di dunia yang juga memiliki cabang di berbagai penjuru kota. Mereka menjalankan organisasinya secara rapi. Di mana pun kalian berada, pasti ada 1 sudut kota yang menjadi markas mereka. Asia Boys, yang dipimpin Austin, terkenal sebagai gangster licik, mereka sering bertindak semaunya, dan melancarkan aksinya dengan berbagai cara kotor, hingga akhirnya Wah Ching, yang dipimpin Alan Cha geram. Mereka terlibat pertikaian bertahun-tahun lamanya. Selain karena persaingan bisnis juga dendam pribadi. Austin tidak suka terhadap sepak terjang Alan, dan karena sebuah alasan juga, yang sampai sekarang tidak Alan tau.
Hispanik adalah sebutan untuk kelompok Latin Kings, yang berpusat di Spanyol. Tapi mereka juga memiliki tempat di San Paz. San Paz adalah pusat kendali semua anggota gangster di dunia. Yang terletak di San Polo, Venesia.
Alan menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menekan dadanya karena terkejut atas apa yang dituturkan oleh Faizal. Pemuda itu memang sangat mudah mencari informasi di berbagai penjuru negara. Faizal memang salah satu hacker yang sengaja direkrut oleh pemerintah dan ditempatkan di KBRI Venesia. Di umurnya yang masih muda, otaknya cukup cerdas, jika dia tidak bisa berguna bagi negara, yakin saja, kalau dia akan dengan mudah direkrut *******, karena kemampuannya yang patut diacungi jempol. Semua situs yang tidak bisa dibuka oleh orang biasa, akan sangat mudah ia buka dan akses. Jenius.
______________
"Jadi kapan kita bergerak?" tanya Abimanyu.
"Malam ini."
Mereka berencana menyusup ke markas Latin Kings, karena Ronal pasti menyembunyikan benda itu di sana. Namun hanya Abimanyu dan Vin saja yang pergi. Karena Faizal tentu tidak mungkin turut andil dalam pergerakan ini. Ia memang jenius di depan komputer, tapi kemampuan bela dirinya jauh di bawah Ellea maupun Alea. Apalagi Alan Cha juga tidak mungkin ikut. Mereka menunggu di kediaman Faizal.
Abimanyu yang sedang bersiap dengan segala persenjataannya, kini membuat Ellea cemas. Pemuda itu sedang menatap jendela, mengenakan jaket kulit dan sarung tangan. Ellea memeluknya dari belakang. Hal itu membuat nafas Abi bagai tertahan. Ia lantas mengelus punggung tangan gadis di belakangnya. "Aku bakal pulang, kamu jangan khawatir, sayang."
Walau Ellea tau kemampuan Abimanyu, tapi ia tetap khawatir jika terjadi hal buruk pada kekasihnya itu. "Biyu ... Apa benar kamu nggak akan bisa mati?" tanya Gadis itu, dan membuat Abi mengernyitkan kening. Ia lantas menoleh dan kini tubuh mereka berhadapan. Abi menyematkan rambut Ellea ke belakang telinga. Tersenyum sebelum menanggapi pertanyaan Ellea yang aneh baginya.
"Kenapa kamu tanya itu?"
"Kalau kamu nggak bisa mati, nanti kalau aku yang mati bagaimana?" Dahi Abi makin berkerut. Ia lantas meletakkan jari telunjuknya di bibir Ellea. "Aku nggak akan biarkan kamu kenapa-kenapa," kata Abi, mengelus bibir ranum gadis itu.
"Tapi ... kita nggak tau, kan, kalau misal ...."
Belum sempat kalimat itu selesai dari mulut Ellea, Abi sudah mendaratkan bibirnya di bibir Ellea. Setidaknya hal itu mampu membungkam mulut Ellea sekarang. Abi tidak ingin pikirannya memikirkan hal-hal buruk yang belum tentu terjadi.
______
"Vin, kamu harus hati-hati, ya," pinta Allea yang membantunya berkemas. Vin memakai rompi anti peluru, ditubuh, tangan dan kakinya. Ia tidak memiliki kemampuan bangkit dari kematian, seperti Abimanyu. Vin menatap Allea dengan senyum tipis. Ia mengacak-acak rambut Allea yang di tanggapi rengekan gadis itu.
"Kenapa? Khawatir, ya, sama aku?" canda Vin dan membuat wajah Allea memerah.
"Enggak! Ih percaya diri sekali, ya, Anda."
"Halah, ngaku saja!" cecar Vin sambil memencet hidup Allea, gemas. Allea yang salah tingkat, menutupi rasa malunya dengan kesal dan hendak pergi dari sana. Tapi tiba-tiba Vin malah memeluknya dari belakang. Tubuh Allea mendadak kaku. "Aku bakal balik kok. Demi kamu," ucap Vin pelan dekat sekali di telinga Allea. Di balik tubuh yang ia peluk, gadis itu tersenyum. Bahkan hatinya terasa bergejolak, ingin berteriak senang.
__ADS_1
Pukul 20.00 Mereka berdua sudah ada di mobil Faizal. Mereka sudah menyusun rencana, dan alasan untuk bisa masuk ke dalam markas Latin Kings. "Ingat! Bersikaplah wajar. Jangan terlalu mencolok. Beraktinglah sebagai penjahat!" nasehat Faizal pada mereka berdua. Mereka akan masuk ke sana sebagai pelanggan yang akan membeli senjata api ilegal. Semoga mereka tidak ketahuan, ya.