
Jam pelajaran pagi ini kulalui dengan perasaan tidak karuan. Pikiranku masih stuck pada Sabrina dan Kak Rayi. Aku merasa kalau wanita itu akan menjadi duri dalam daging. Apakah hubunganku dan Kak Rayi tidak akan bertahan lama. Karena dari segi fisik saja, Sabrina lebih segalanya timbang aku. Dia cantik, penampilannya modis, aku yakin banyak laki-laki yang menyukainya.
Sungguh hatiku terasa tidak karuan. Ini lebih kacau ketimbang ketahuan Papa pergi keluar rumah pada tengah malam. Dan sungguh lebih parah daripada aku menghadapi segala makhluk mengerikan kemarin. Huh, aku sangat frustrasi sekarang.
Jam istirahat sudah dimulai. Beberapa teman sekelas, keluar dan pergi ke kantin seperti biasa. Tapi aku justru enggan untuk beranjak dari kursi ini. Aku merebahkan kepalaku di atas meja. Memandangi jendela yang ada di samping ku. Beberapa orang kulihat mulai mondar mandir di koridor lantai dua, depan kelasku. Biasanya mereka adalah siswa yang berada di lantai tiga.
Saat jam istirahat memang hampir semua orang memilih berada di luar ruangan. Penatnya pelajaran yang kami hadapi selama berjam-jam di dalam kelas, memang mengharuskan kami untuk merelaksasikan otak kami barang sebentar di luar ruangan. Dan biasanya aku memang akan pergi keluar kelas jika jam istirahat begini. Entah ke kantin atau hanya duduk-duduk saja di taman sekolah. Tapi kali ini aku merasa tidak berminat ke mana-mana.
"Heh! Kenapa lu, Bil? Sakit?" tanya Zidan saat hendak keluar kelas. Aku tidak mengubah posisi dan hanya memaksa untuk menggeleng, walau sebenarnya itu cukup sulit. "Terus kenapa? Nggak ingin makan apa begitu?" tanyanya lagi.
"Enggak. Udah sana kamu ke kantin saja," kilahku.
"Hm, ya sudah deh." Akhirnya Zidan berhasil kuusir dari kelas. Dan kini hanya ada aku saja di dalam kelas. Sendirian. Suara riuh teman-teman yang tertawa dan menjerit terkadang jelas terdengar sampai telingaku. Aku memejamkan mata, mencoba untuk tidak menghiraukan semua suara di sekitar. Tapi tiba-tiba bayangan seseorang berada tepat di depanku. Walau terhalang kaca jendela, tapi aku bisa merasakan kalau ada seseorang di luar sana.
Buru-buru aku membuka mata dan mendapati Kak Rayi di sana. Ia terlihat menarik nafas panjang lalu geleng-geleng kepala dengan berkacak pinggang. Aku bangkit, membetulkan posisi duduk dan merapikan rambutku yang pasti berantakan. Kak Rayi masuk ke dalam kelas. "Sayang ... kamu kenapa? Sakit? Kata Zidan kamu nggak enak badan, makanya aku langsung ke sini," cakapnya sambil meletakkan punggung tangan di dahiku. Sementara aku justru berusaha untuk menghindar. "Aku nggak apa-apa kok," sahutku berusaha terlihat baik-baik saja. Agar tidak banyak pertanyaan darinya.
"Yang bener? Terus kamu kenapa di sini? Biasanya ke kantin sama Zidan, dan kita ketemu di sana." Dia terus meneliti, dan rasanya terus berusaha menelanjangi kedua bola mataku agar dapat menemukan sesuatu yang tidak beres padaku. Aku sadar kalau sikapku memang lain, tidak seperti diriku yang biasanya. Dan, wajar kalau Kak Rayi merasakannya.
"Lagi males saja, Kak."
Dahinya berkerut. Matanya berkeliling. "Bil, are you oke?" tanyanya yang mulai membuatku bingung harus menjawab apa.
"Hm, not really good. Tapi aku nggak apa-apa, Kak. Cuma lagi males saja. Nggak laper juga," sahutku. Tapi rupanya perutku saat ini sedang berkhianat. Dia justru membunyikan genderang protes dan membuat sudut mulut Kak Rayi muncul.
"You lie. Ayok, kita makan," ajaknya dan menarik tanganku keluar kelas. Aku pun pasrah.
Kami sampai di kantin. Dari depan pintu, suasana di dalam sudah cukup ramai. Kak Rayi yang masih menggandeng tanganku lantas menyapu pandang ke sekitar. Hingga alisnya tersentak bersama-sama saat melihat kerumunan orang di sudut kantin, yang tidak lain adalah teman-temannya dan ... Sabrina.
Oh, sial! aku terus mengumpat dalam hati dan merasa keadaan kali ini akan makin tidak menyenangkan. Ini bukan refresing seperti biasanya, justru malah makin memperburuk mood ku sekarang.
Kami akhirnya sampai di meja mereka. Menyapa mereka sebelum akhirnya duduk di kursi yang masih kosong. Kak Roger bahkan rela menggeser duduknya demi kami berdua. Matanya berbinar, lain dengan Kak Bintang. Wajahnya terlihat masam sejak pagi, dan sampai saat ini aku belum mengetahui alasannya.
__ADS_1
"Elu sudah pesen makan, Brin?" tanya Kak Rayi. Sabrina menatap ku sebal, aku merasakannya. Tapi aku berusaha bersikap biasa saja. Dia mengangguk dan kini Kak Rayi beralih menatapku yang duduk di sampingnya. "Kamu mau makan apa, sayang?" tanyanya lembut.
"Yang biasa saja, Kak," sahutku dengan memaksakan senyum di bibir, melirik sekilas ke Sabrina dengan tatapan kemenangan. Yah, setidaknya satu sama. Pagi tadi dia sudah membuatku kesal, dan kini aku yang membuatnya sebal. Impas, kan?
"Oke, sayang. Tunggu bentar, ya." Ia beranjak tapi sebelumnya mengelus pucuk kepalaku dengan senyum semringah di sana, dan tentu tatapan teduhnya juga.
Kak Roger berdeham seolah tenggorokannya tersangkut sesuatu. Aku meliriknya tajam setelah Kak Rayi pergi memesan makanan. "Apa sih!" gumamku sambil melebarkan mata. Dia malah diam dengan rahang yang terkatup. Tapi sorot matanya sungguh ingin membuatku melayangkan pukulan keras ke kepalanya.
Tiba-tiba gelas milik Kak Bintang tumpah karena tersenggol tangannya sendiri. Dia berusaha membersihkannya dengan tissue sambil terus menerus meminta maaf. Hanya saja, tatapan matanya terus menerobos di mana Sabrina berada. Ada apa ini?
"Biar aku ambilin lap, Kak. Pakai tissue malah banyak sampahnya. Kak Bintang diem saja sudah," suruhku dan segera beranjak mencair lap makan yang biasa ada di tiap meja. Tetapi saat ini di meja kami tidak ada. Mungkin ibu kantin lupa menaruh lap bersih tersebut seperti biasanya.
Setelah mendapatkan lap dengan motif kotak-kotak perpaduan warna biru dan putih, aku segera membersihkan air tadi. Sambil sesekali melihat sorot mata Kak Bintang yang terasa kosong. Aku mendesis pelan ke Kak Roger, lalu melirik ke Kak Bintang sebagai bentuk usaha percakapan rahasia dengan bahasa isyarat ngawur yang semoga dia pahami. Kak Roger menaikkan kedua alisnya, ia melirik ke Kak Bintang dan kini bibirnya membentuk garis O. Kak Roger malah menggerakkan sudut bibir bagian kanan dan menunjuk ke tempat Sabrina duduk. Wanita itu tampak acuh, hanya memainkan sedotan yang ada di gelas minumannya sambil menatap kosong ke sudut lain kantin.
Aku yang tidak paham, kembali mengangkat alis meminta penjelasan lebih lanjut. Kak Roger terus memberikan isyarat yang aku tidak paham sama sekali. Sampai akhirnya dia frustrasi dan meraih benda pipih dari saku kemejanya. Ia mulai mengetik kalimat yang cukup panjang, dan kemudian ponselku bergetar, pertanda ada pesan masuk.
[Bintang sama Sabrina dulu pacaran. Tapi Sabrina malah naksir Rayi. Makanya sekarang Bintang stres, kenapa ini perempuan muncul lagi sih. Heran gue!]
Dan pesan itu menjawab kebingunganku sekarang. Rupanya ada cinta segi tiga di sini. Atau mungkin sekarang menjadi cinta belah ketupat? Karena ada aku di dalamnya. Huh, hal ini membuat kepalaku tiba-tiba berdenyut. Aku kini menekan kepalaku dan tak lama kemudian Kak Rayi muncul dengan makanan pesananku. "Selamat makan, sayangku." Dua mangkuk bakso dengan ukuran jumbo sudah ada di hadapanku. Berikut dengan dua gelas lemon tea dingin.
"Sudah kok, Bil. Kamu makan aja yang banyak. Biar gendutan dikit," katanya dengan menarik kedua sudut bibirnya. Tangan kak Bintang dilipat di meja, depan dadanya. Dia terus menatapku yang sedang makan. Walau aku tidak melihatnya, tapi aku mampu merasakannya.
"Duh, perutku sakit!" erang Sabrina. Dan otomatis membuat kami semua beralih menatapnya.
"Kenapa, Brin?" tanya Kak Rayi. Cemas.
"Nggak tau, Yi. Sakit banget perut aku. Duh, Yi, gimana ini," rengeknya dengan terus menekan perutnya.
"Biar gue anter ke UKS, Brin," cetus Kak Roger menawarkan diri.
"Yi, anterin aku, Yi."
__ADS_1
Kak Roger lantas menatap Kak Rayi yang kini juga sedang menatapnya. "Ayok, Yi! Buruan. Sakit banget!" erangnya makin menjadi.
"Hm, kagak laku lagi, gue," gerutu Kak Roger sambil menggumam.
"Ya sudah. Bentar, ya, Sayang," pamit Kak Rayi padaku. Lalu dia menuntun Sabrina meninggalkan kantin. Meninggalkan mangkuk baksonya yang masih belum habis, dan meninggalkanku yang kini hanya bisa menatapnya dari kejauhan.
Seketika nafsu makan ku hilang. Aku meletakkan sendok dan garpu dengan asal. Hingga menimbulkan suara riuh di meja kami. "Aku udah kenyang!" ujarku lalu beranjak dan pergi meninggalkan kantin diiringi jeritan Kak Roger yang tak patah arang memanggil namaku.
Saat hendak naik tangga, aku berhenti tiba-tiba. Entah kenapa, justru aku malah ingin melihat kondisi Sabrina dan Kak Rayi. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke UKS. Langkah kubuat cepat, karena aku sangat penasaran, apa yang sedang terjadi pada Sabrina. Apakah dia benar-benar sakit. Atau hanya pura-pura saja.
Sampai akhirnya aku sudah berada di pintu UKS. Pintu terbuka lebar. Netraku liar mencari keberadaan dua orang tadi. Dan aku menemukannya. Kak Rayi yang sedang berada di balik tirai pembatas antara ranjang di depannya dengan ranjang di sebelahnya. Dari tempatku berdiri, tidak terlihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.
Tapi tiba-tiba Kak Bintang muncul. Dia langsung menarik tanganku dan masuk ke dalam. Di sana, aku melihatnya. Sabrina sedang memeluk leher Kak Rayi. Dan Kak Rayi memegang pinggang wanita itu. Wajah mereka begitu dekat. Bibir mereka saling menempel. Dan itu membuat hatiku terasa amat sakit.
"Menjijikkan!" umpat Kak Bintang. Lalu menarik tanganku lagi pergi.
Tapi rupanya dua orang tadi menyadari kedatangan kami. Kak Rayi segera melepaskan tangannya dari pinggang Sabrina. Bahkan terkesan mendorong tubuhnya kasar.
"Bil! Nabila!" jeritnya. Aku hanya menatapnya nanar sambil menahan air mata yang sudah jatuh melewati pipi.
Kak Bintang terus membawaku pergi dan tidak memperdulikan jeritan Kak Rayi.
Sepanjang jalan, aku terus tergugu. Berkali-kali mengusap pipi agar air mataku tidak terlihat. Sampai akhirnya kami berada di sudut belakang sekolah, dan tiba-tiba Kak Bintang langsung memelukku erat. Dan otomatis aku makin mengeraskan jeritanku di balik pelukannya.
"Menangislah, Bil. Setidaknya kamu harus meluapkan nya. Jangan ditahan."
"...." masih berada di pelukan Kak Bintang aku memang tidak mampu menghentikan air mata yang jatuh.
"Aku pun merasakan sakit yang sama. Kamu tau? Kalau aku mencintai dia sejak dulu. Aku dan Sabrina adalah teman sejak kecil. Dan aku sudah menyukainya sejak saat itu. Tapi setelah dia ketemu Rayi, semua berubah. Aku sakit hati. Tapi aku coba buat bersikap biasa aja. Karena Rayi memang nggak tertarik sama Sabrina. Apalagi sekarang ada kamu. Cuma, Sabrina sangat agresif. Dia nggak akan melepaskan Rayi begitu saja."
"Terus aku harus gimana, Kak?! Apa aku harus mengalah begitu saja?!" tanyaku dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Aku juga nggak tau, Bil."
________