
"Nabila!" jerit Papa. Aku tidak lagi dapat melihat sekitar dengan fokus, tubuhku lemas. Papa menangkap tubuhku. Om Gio yang ikut berlari mendekat, mendorong tante Rani dengan kasar. "Lu gila! Rani!" jeritnya penuh kekesalan.
Opa dan Kak Roger menembak orang - orang tersebut, mereka menghindar, di saat itulah Papa membawaku pergi dari sana.
Riuhnya keadaan sekitar membuat fokus ku terbagi. Aku menahan rasa sakit di perut, berusaha berjalan mengikuti Papa. Langkah Papa cukup cepat membawaku pergi dari tempat ini. Nafas pria di sampingku memburu. Dia terlihat sangat cemas. Sementara aku berusaha setenang mungkin. Walau rasanya sangat sakit.
Kami mulai memasuki hutan lagi. Terus mencari jalan keluar dari tempat ini. Menoleh dan mendapati teman - temanku juga ikut berlari dari belakang ku. Kak Rayi terus menatapku di belakang. Sementara suara Om Gio terus menggelegar hingga penjuru hutan.
"Cepat! Biar gue yang jaga di belakang!"
Suara letusan pistol terdengar kencang dan membuat kami juga menoleh ke belakang. Om Gio terus menembak ke arah belakang. Di mana para pengikut Dagon mengejar kami.
Sampai di tebing, tali yang menggantung sudah terlihat di depan kami. Kini Papa mulai bingung apa yang harus dilakukan untuk sampai ke atas. Kondisi ku tidak memungkinkan untuk memanjat tebing curam ini.
"Pa ... Aku nggak bisa. Biarin aku di sini aja. Papa buruan naik sebelum mereka datang!" kata ku sambil melepaskan tangan kekar pria itu.
"Enggak! Papa nggak akan tinggalin kamu. Kita cari cara lain dulu."
__ADS_1
Teman - teman mendekat, mulai cemas dengan pengejaran orang - orang itu.
"Kita sembunyi aja dulu di gua tadi!" tukas Kak Rayi.
"Gua apa?" Opa menyahut dengan pertanyaan yang aku yakin juga ingin ditanyakan oleh yang lain.
"Di sana, Opa!" tunjuk Kak Rayi lalu menuntun kami ke gua tempat kami bersembunyi sebelumnya. Semua mengikuti langkah Kak Rayi. Papa yang sejak tadi memapah ku, kini justru menggendongku. Tanganku melingkar ke leher Papa, berusaha berpegangan erat padanya. Papa berusaha agar aku tidak terjatuh. Hingga akhirnya kami sampai di gua tersebut. Om Gio dan Kak Roger berjaga di luar. Gelap. Pengap.
"Penerangan! Buat penerangan!" suruh Papa. Kak Rayi bergegas menyalakan sinar flash dari ponselnya. Menyorot tempat yang nyaman untukku berbaring. Tante Jean menggelar jaketnya ditambah jaket Kak Rayi dan Papa agar aku bisa berbaring di sana.
"Gimana? Aman?" tanya Papa ke Om Gio.
"Yakin, nggak bakal ketahuan kita?" tanya Tante Jean memastikan.
"Iya, Roger udah jaga di depan. Dia mengintai di sana dulu. Berjaga - jaga di luar."
"Nabila gimana?" Om Gio menatapku cemas.
__ADS_1
Kak Rayi mendekat, menggenggam tanganku erat. Tanganku yang sudah basah, merah dan lengket tidak dia hiraukan. Kak Rayi terus menatapku dalam. "Bil, kamu nggak apa - apa, kan?" tanyanya lembut.
"Aku baik - baik aja, Kak. Yah, sakit sih tapi nggak apa - apa kok."
Tante Jean ikut mendekat dan memeriksa keadaanku. Bajuku diangkat sedikit, melihat luka di perutku yang terlihat menganga lebar.
"Air! Apa ada yang punya air?" tanya Tante Jean.
"Biar aku cari, Tante!" tukas Kak Rayi lalu pergi entah ke mana.
"Bil, kamu masih kuat, kan? Kamu baik - baik saja, kan?" Tante Jean juga memeriksa denyut nadi, nafas dan suhu tubuhku. Aku hanya tersenyum. Keringat mulai mengalir deras, tubuhku terasa dingin.
"Ini airnya, Tante!" Kak Rayi datang membawa batok kelapa dengan air di dalamnya. Tante Jean merobek kemejanya dan mulai membasuh lukaku. Darah mulai dibersihkan, sampai luka ini mulai terlihat jelas.
"Tante pakai ini aja!" Kak Rayi memberikan sesuatu. Dari tempatku berbaring aku bahkan tidak tau benda apa yang dia berikan. Tapi tak lama perutku terasa ditekan kuat. Sedikit nyeri namun justru terasa melegakan. Lukaku dibalut dengan dengan cukup baik.
Perlahan aku mulai nyaman, walau kondisiku belum membaik. Tapi setidaknya lukaku sudah mendapat perlakuan lebih baik.
__ADS_1
Malam ini kami akan menginap di gua ini, lagi. Rasanya ini satu - satunya tempat paling aman. Tubuhku lemas, hingga tanpa sadar mulai terlelap dalam tidur.