pancasona

pancasona
4. Menantang iblis


__ADS_3

...Waktu akan membuat keadaan menjadi lebih mudah...


...Makanan pun siap di hidangkan. Mereka segera mengambil pesanan masing masing. Apalagi karena hari sudah siang, tentu perut mereka sudah berontak minta diisi. ...


"Nah nih kopi elu, Man." Kevin menyodorkan secangkir kopi hitam pekat ke hadapan Manda.


Manda meraihnya lalu mengangkat cangkir itu ke depan hidungnya. Sekilas Manda melirik ke Haga yang duduk tepat di hadapannya.


Manda memang menyukai kopi, tapi sejak ada Haga, kebiasaan minum kopi Manda dihilangkan. Dengan berbagai pertimbangan, Haga memang melarang Manda minum kopi lagi. Dan kini, Haga melihat Manda akan menyeruput secangkir kopi dihadapannya sendiri. Otomatis Haga sedikit naik pitam. Namun, dia hanya bisa diam karena dia menyadari bahwa hubungan mereka tidak seperti dulu lagi.


Manda mengirup aroma kopi ditangannya beberapa saat.


"Seger banget, yah," ucapnya lalu kembali menghirup aroma kopi yang masih panas itu.


Setelah itu, diletakan kembali ke meja dan digeser kembali ke hadapan Kevin.


"Udah?" tanya Kevin santai.


Manda mengangguk lalu meneguk air putih dihadapannya.


Beberapa orang di hadapan mereka sedikit heran melihat tingkah Kevin dan Manda yang terkesan aneh. Manda menginginkan kopi, tapi justru hanya dihirup saja lalu malah diminum oleh Kevin.


Melihat kebingungan orang orang di hadapannya, Kevin tersenyum tipis.


"Dia kalau pengen kopi emang gitu. Cuma dihisap sari patinya. Nah, abis itu baru deh dikasihin ke Gue. Mirip mirip dedemit emang. Tapi tenang aja, Manda manusia kok. Ya kan, Man?" gurau Kevin sambil menunjukan puppy eyesnya.


"Kok gitu, Kak? Unik juga yah," ujar Ridho.


"Kan dilarang ngopi sama babangnya tuh. Eh, mantannya," sindir Vita.


"Lagian udah putus inih, Man. Kenapa lo masih nurutin dia. Kan ini hidup lo. Kalau lo nggak nyaman, jangan dilakukan dong." Perkataan Kevin memang ada benarnya. Manda juga sempat berpikir kalau dia ingin mengikuti saran Kevin. Tapi dia dengan cueknya melahap makanan yang tadi dia pesan tanpa memperdulikan lagi orang orang di sekitarnya.


Saat dia sedang makan beberapa suap, pemandangan yang tidak menyenangkan muncul di depannya.


Ada sepasang pria dan wanita masuk ke dalam resto. Sang pria memeluk mesra pinggang si wanita. Si wanita pun tidak segan segan bergelayut manja pada bahu si pria.


Manda menatap mereka dengan tatapan benci. Di letakan sendok itu secara kasar. Manda terus menatap tajam dua insan di depannya. Bahkan dia tidak mendengarkan teman temannya berceloteh yang sampai tertawa karena gurauan Kevin. Kevin memang pribadi menyenangkan. Humoris dan supel.


"Tanya aja deh sama Manda nih ... Dia saksi mata nya tuh. Hehe"celoteh Kevin sambil menoleh ke Manda.


Manda malah beranjak dari duduknya lalu meraih teko teh hangat di tengah meja. Dia kemudian berjalan ke meja dua pasangan tadi. "Brengsek!" umpat Manda sambil berjalan cepat ke arah orang tadi.


"Loh, Man ... Mandaaa ... Eh, Waduh. Ngamuk deh tu anak. Gawat!" runtuk Kevin sambil menepuk keningnya sendiri.


Kevin paham betul bagaimana Manda. Dan dia tau kalau Manda sedang marah saat ini. Hanya saja, Kevin tidak tau alasannya. Akhirnya hampir pengunjung di Resto memperhatikan apa yang akan Manda lakukan.


Saat sampai di meja dua orang tadi. Manda langsung menyiram teh hangat di tangannya ke atas kepala pria itu. Pria tadi yang awalnya duduk membelakangi Manda, lalu berdiri karena terkejut. Mungkin juga dia sedikit kepanasan karena teh itu. Saat dia membalikkan badan hendak marah, dia malah terkejut mendapati Manda ada di belakangnya.


"Heh! Apa apaan Lo! Loh ... Kamu, Man? Kok kamu di sini? " tanya pria itu yang langsung meredakan emosinya begitu melihat Manda di dekatnya.


"Siapa dia?" tunjuk Manda ke wanita di sampingnya.


"Dia ... Dia temen, Man." elak pria itu.

__ADS_1


"Temen? Kamu pikir aku anak kecil? Bisa dibohongin sama kamu? Kamu punya otak nggak sih, Ben? Lili kamu anggep apa? Dua bulan lagi loh kalian mau nikah!" maki Manda.


"Terus, kenapa? Masih 2 bulan lagi kan? Jadi, selama aku sama Lili belum nikah, aku masih bebas sama siapa aja," kata Beni dengan entengnya.


"Gila lo, ya!"


Manda menggelengkan kepala, sambil menaikkan sebelah bibirnya. Dan seketika bogem mentah melayang begitu saja ke wajah Beni.


Suara berdebum dari wajah Beni terdengar hampir di sepanjang ruangan tersebut.


"Manda!!" bentak Beni sambil memijat pipinya yang lebam.


"APA??!! NGGAK TERIMA? MAU PUKUL BALIK? SILAKAN!!" tantang Manda.


"Kalau aja lo bukan cewek, udah gue hajar lo!" Beni ikut emosi tapi masih berusaha meredam amarahnya. Dia tentu tidak mungkin membalas perlakuan Amanda apalagi di resto sedang ramai pengunjung.


"Loe pikir, gue takut sama loe? Banci kayak elo mah, ngapain di takutin! Cuma bisa sembunyi di balik ketiak orang tua aja, BANGGA!!" cibir Manda penuh emosi.


Manda lalu pergi meninggalkan Beni begitu saja. Tapi, Beni malah menarik tangan Manda dan membuat Manda bereaksi. Manda memutar tubuhnya lalu dengan gerakan cepat menyikut perut Beni keras keras.


Beni yang tidak siap kesakitan dan melepas Manda begitu saja.


Haga beranjak dari duduknya.


"Udah, Bang. Biar aja. Dia bisa kok ngadepin sendiri," larang Kevin.


Haga kembali duduk walau awalnya ragu. Semua orang fokus ke Manda dan Beni yang terlibat pertengkaran hebat. Tidak ada yang berani mendekat. Justru malah menjadikan tontonan gratis di siang ini.


"Vin, siapa sih tuh cowok? Tumben Manda segitu emosinya? Biasanya dia cuek banget," tandas Vita sambil makan sate padang.


"Pede selangit! Dasar jones!" ejek Vita.


"ASTAGA!!! GAWAT!" Kevin yang menyadari sesuatu lalu segera menghampiri Manda.


"Man ... Udah Man! Udah. Lo inget kan kata Umi? Lo nggak boleh emosi berlebihan gini! Bahaya banget!" bujuk Kevin sambil berdiri di hadapan Manda mencoba menenangkannya.


Manda menatap Kevin dengan ekspresi yang campur aduk.


Kevin lalu menggandeng tangannya menjauhi Beni.


"Eh Manda! Urusan kita belum kelar!!" teriak Beni.


Kevin berbalik lalu mencengkram kerah baju Beni.


"Ayok, selesein! Sekarang jadi urusan gue!" tantang Kevin yang berubah serius dan gentleman.


Beni malah pergi begitu saja.


"Banci lo!" umpat Kevin geram.


Akhirnya mereka berdua kembali ke meja mereka.


"Udah deh, Man. Tenangin diri dulu," bujuk Kevin.

__ADS_1


"Minum, Man?" tanya Vita sambil menyodorkan segelas lemon tea.


Manda menggeleng. Tak lama dia mulai menekan tengkuknya. Dia tengak tengok. Namun belum juga ada hal aneh di sekelilingnya.


Hingga saat dia melihat ke sudut Resto dekat kasir ...


Makhluk itu!


Makhluk itu ada di sana. Makhluk yang dia temui pertama saat dia koma dulu. Makhluk yang sampai detik ini selalu mengintainya, yang membuat tidurnya tidak nyenyak, hidupnya dipenuhi kecemasan, dan membuatnya kehilangan orang orang yang dia cintainya.


Manda berdiri sambil terus menatap makhluk di sudut itu. Sosok berjubah hitam itu terus menunduk. Beruntung wajahnya tidak diperlihatkan sekarang. Karena Manda pasti akan gentar oleh rupa buruknya. Di dunia nyata, dia tidak bisa menyakiti Manda secara langsung. Tapi dia mampu membuat orang orang di sekitar Manda terluka. Dan dia akan muncul saat Manda diliputi amarah yang menggebu gebu. Itulah kenapa, selama ini Manda terus berusaha menahan diri untuk tidak terlibat masalah yang akan memancing emosinya. Tapi kejadian tadi membuatnya lupa akan hal itu.


Lili adalah sahabat yang paling baik. Itulah kenapa dia sangat marah melihat Beni mengkhianati sahabatnya itu. Dan, melupakan keselamatan dirinya sendiri.


Perlahan sosok itu menatap Manda dengan tatapan mengerikan. Manda juga terus menatapnya tajam. Badan nya mulai sakit. Nyeri mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Manda mulai memeluk tubuhnya sendiri menahan rasa sakit yang amat sangat.


Kevin dan Vita yang menyadari keadaan Manda, lalu menarik Manda duduk. Vita bahkan mendekat lalu memeluk Manda dan berusaha menutupinya dari hal yang sedari tadi di tatapnya. Walau satu pun dari mereka tidak ada yang bisa melihat makhluk itu.


"Udah Man. Jangan diliat," bujuk Vita sambil terus memeluk erat Manda. Badannya bergetar hebat. Vita menatap Kevin. Walau mereka berdua tidak bisa melihat apa yang Manda lihat, tapi mereka tahu semua. Hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya.


"Gue telpon Umi yah, Man. Atau habibi?"


"Nggak usah. Buat apa?" ucap Manda pelan.


Namun tak lama Manda mimisan. Tubuhnya menjadi lemas. Bahkan untuk berdiri di atas kakinya sendiri saja dia tidak mampu.


"Ya ampun. Kan tuh liat ...."Kevin meraih tissue di meja dan memberikan ke Manda.


Wajah Manda makin pucat. Semua orang mulai panik dengan wajah kebingungan.


"Kenapa sih, Kak?" tanya Ridho.


"Oh ... Nggak apa apa kok. Kecapean mungkin ni anak," tandas Kevin menutupi hal sebenarnya.


"Biar aku pesan kan teh hangat lagi ya?" tawar Ian.


"Boleh banget. Makasih ya," sahut Vita tetap memeluk Manda.


Manda mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebotol kecil minyak pemberian Umi. Haga terus menatap Manda khawatir. Dia menyadari ada yang tidak beres, tapi belum berani bertanya lebih jauh. Apalagi Manda juga masih membencinya.


"Loe mau ngapain, Man, ngeluarin tu minyak?" tanya Kevin curiga.


"Kalo dalam 5 menit, gue nggak balik, telepon Habib!" tegas Manda.


"Nggak usah macem macem deh. Man ... Manda ...."


"Gue capek menghindar terus Vin. Gue bakal lawan dia!"


"Manda! Jangan gila deh, Man!" larang Kevin setengah berteriak.


Manda tidak menghiraukan larangan Kevin.


Dibukanya tutup botol itu lalu dia mengoleskan ke kedua alisnya, ke urat nadi di kedua tangannya dan meneteskan ke mulutnya, beberapa tetes. Manda mulai memejamkan matanya dan berkonsentrasi.

__ADS_1


Dia benar benar menantang makhluk itu sekarang.


__ADS_2