pancasona

pancasona
45 Pertemuan di sungai


__ADS_3

"Halo, Roger!" pekik Hani bersemangat. 


"Heh! Roger siapa, dodol!" umpat Blendoz sambil menepuk kepala Hani. 


"Si bloon, maksudnya ini panggilan kalau di walkie talkie! Bukan Roger nama orang!" tukas Hani sedikit menaikkan nada bicaranya. Mereka berdua tampak lucu saat berdebat seperti itu. Bahkan dalam situasi mendesak dan tidak menyenangkan seperti sekarang, ada saja hal yang bisa dilakukan untuk sedikit membuat gelak tawa. 


"Oh, bilang dong dari tadi."


"Bloon emang lo!" 


"Buruan itu dijawab lagi. Ada yang nyaut kagak! Berat nih!" kata Blendoz yang mulai kewalahan dengan Fauzan yang berada di atas punggungnya. Sekuat apa pun Blendoz, makin lama tenaganya tentu akan terkuras dan dia pasti kelelahan. 


"Iya, ini juga mau dicoba lagi." 


"Rea? Diah? Leni? Apri? Ita? Kalian di situ? Heh, jawab gue!" kata Hani yang mulai kesal karena suara yang tersambung putus-putus. Tapi saat pertama tersambung memang terdengar jelas suara seorang wanita. Hanya saja baik Hani maupun Blendoz tidak bisa memastikan suara siapa yang ada di ujung saluran walkie talkie mereka saat ini. Kini hanya ada suara gemerisik yang lebih mendominasi. 


"Yah, gimana sih! Katanya kalau pakai walkie talkie bakal lebih jelas dan cepat tersambung! Ah, sama aja gini kok," omel Hani pada benda di tangannya.  


Blendoz menarik nafas panjang. Dia mulai jengah dengan kondisi mereka saat ini. Akhirnya dia menyerah dan meletakkan tubuh Fauzan di atas rerumputan secara perlahan. Blendoz duduk begitu saja di atas rumput, bersandar pada sebuah batang pohon besar yang telah tumbang dan lapuk karena dimakan usia. Peluh sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Dia mengibas-kibaskan tangan di depan wajahnya yang memang merasakan kepanasan sejak tadi. Bahkan tanpa sadar pakaiannya juga sudah basah terkena keringat. 


Sementara Hani sibuk menghubungi teman-temannya, Blendoz justru menikmati masa istirahatnya. Dia benar-benar kelelahan setelah membawa tubuh Fauzan ke sana ke mari. Botol minum diraih dari tas keril hijau miliknya. Blendoz meneguk air mineral yang terasa sejuk melewati tenggorokannya. 


"Ndoz, nggak bisa tersambung ke mana pun walkie talkie gue. Coba pinjam punya lo. Kali aja punya gue eror, punya lo kagak," ujar Hani masih berusaha berpikiran positif. Blendoz lantas mengambil benda yang dimaksud dan memberikan begitu saja pada Hani. 


Hani kembali melakukan aksinya. Dia sibuk dengan dua benda yang sama di kedua tangannya. Tapi hasilnya, semua sama. Tidak ada satupun walkie talkie yang tersambung ke jaringan lain. Jangankan menghubungi pusat komando kampus, menghubungi teman-teman mereka yang sama-sama ada di hutan pun tidak bisa. Hani sangat kesal, dan marah-marah sambil mengutuk dua benda yang kini dia banting ke tanah. 


"Han, mendingan lo duduk dulu. Minum kek, atau makan. Siapa tahu nanti sinyal walkie talkienya jalan," kata Blendoz dengan santainya. 


"Lo masih bisa santai di situasi kayak gini, Ndoz? Ckckckck."


"Terus gue harus apa? Marah-marah kayak lo gitu? Duh, percuma. Toh, lo udah capek-capek marah gitu nggak ada perubahan, kan? Yang ada makin lapar. Njir, stok makanan kita harus diawet-awet, Han!" kata Blendoz yang justru memikirkan logistik yang mereka bawa. 


"Sinting!" omel Hani.


"Heh! Jaga mulut lo. Jangan sembarangan di hutan. Kalau ngomong dijaga, jangan kotor! Pamali!" cegah Blendoz sambil memperhatikan sekitar dengan tatapan was-was. 

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Ada apa? Setan? Huh, mereka emang kurang kerjaan. Bikin kita susah berulang kali gini! Makanya kalau hidup tuh, jangan di hutan. Pindah ke kota, biar kalian nggak gabut!" teriak Hani pada sekitar. 


Blendoz melotot dan menarik tangan Hani agar segera ikut duduk bersamanya. Dia juga menutup mulut Hani agar berhenti meracau lebih parah lagi. Blendoz paham, apa yang harus dilakukan di hutan seperti tempat itu. Peraturan untuk menjaga sikap, memang berlaku. Tidak hanya di hutan saja, tapi di mana pun juga. Makhluk tak kasat mata memang tidak terlihat untuk sebagain besar orang. Tapi kehadiran mereka memang ada, dan mereka semua harus saling menghargai satu sama lain. 


"Kenapa sih?" Hani masih saja protes dan bertingkah layaknya anak kecil yang tidak dituruti permintaannya. 


"Diem! Jangan bikin suasana tambah parah, Han. Please, gue udah capek, dan kita di sini cuma berdua aja loh! Kalau ada apa-apa nanti gimana!" omel Blendoz. 


"Memangnya bakal ada apa? Kesurupan? Kayak kemarin?"


Mereka masih aja berdebat dengan keyakinan masing-masing. Terkadang Hani memang kerap bertingkah menyebalkan jika sedang dalam situasi yang tidak mengenakkan. Hingga akhirnya tiba-tiba Fauzan yang sejak tadi diam tak sadarkan diri, kini bergerak. Blendoz yang mengetahuinya lebih dulu, lantas menolehkan kepala Hani agar dia menatap ke arah Fauzan. 


"Ndoz, hidup lagi?" bisik Hani dengan pertanyaan yang juga ingin ditanyakan oleh Blendoz. Mereka berdua lantas diam sambil terus memperhatikan Fauzan yang perlahan tapi pasti menggerakkan anggota tubuhnya satu persatu. Terdengar bunyi gemerutukan yang berasal dari bagian tubuh Fauzan. 


Fauzan perlahan mulai dapat berdiri, tapi kepalanya terus menunduk dengan tubuh yang tampak masih lemah. Kini posisi tubuh Fauzan sudah berdiri sempurna. Kepalanya masih menunduk, dengan kedua tangan yang tetap berada di samping kanan dan kirinya. Perlahan kepalanya mulai bergerak, dengan suara tulang yang retak. Kini Fauzan menatap ke arah dua temannya. Tatapan matanya tampak dingin dan kosong. Bahkan membuat bulu kuduk Blendoz dan Hani merinding hebat.


"Sial! Gue merinding banget, Ndoz," ucap Hani sambil memegangi tengkuknya.


"Sama. Gue juga! Fauzan kenapa lagi sih? Perasaan tadi udah mirip orang yang mau mati. Kenapa sekarang hidup lagi?" tanya Blendoz kebingungan. 


"Menurut lo, dia mau ngapain?"


"Mana gue tahu!"


"Tebak aja," cetus Blendoz lagi. 


Fauzan melangkah pelan mendekati dua teman yang berada di depannya. Hanya berjarak sekitar dua meter saja di antara mereka. Namun, Blendoz dan Hani spontan mundur perlahan seakan-akan mengikuti langkah Fauzan. Hani menelan salivanya. Saat melihat Fauzan sekarang justru menyeringai pada mereka berdua. Fauzan memiringkan kepalanya, dengan seringai yang mengerikan. 


"Kabur!" kata Blendoz sambil menarik kerah kemeja Hani. 


Hani tentu berlari mengikuti Blendoz yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Keduanya berlari sekencang mungkin, kembali ke arah di mana mereka tadi datang. Melihat tanda-tanda Fauzan yang aneh, tentu mereka yakin kalau Fauzan kemnbali bertingkah. Tidak perduli apakah dia Fauzan asli atau sedang kerasukan setan, karena bagi mereka Fauzan memang sudah mengerikan seperti setan sebelum mereka datang ke hutan ini. 


Jalur yang tadi mereka lewati masih tampak jelas dengan jejak kaki yang banyak seperti sebelumnya. Yang jelas, ada jejak kaki mereka juga. Hani menoleh ke belakang, berharap kalau Fauzan tidak mengejar mereka. Tapi dia salah, karena Fauzan kini justru tampak beringas mengejar mereka berdua dengan ekspresi yang sangat mengerikan. Dia lebih mirip seorang psikopat yang sedang mengejar mangsanya. 


"Ndoz, dia ngejar kita!" jerit Hani yang berusaha mempercepat larinya lagi. 

__ADS_1


Blendoz yang juga sedikit kesulitan berlari karena tubuhnya yang agak tambun tidak berniat menoleh ke belakang. Karena jika sampai dia melihat wajah Fauzan, pasti dia akan makin tertekan. Situasi mereka saja sudah membuat keduanya seakan-akan sedang diburu pembunuh atau mungkin suku kanibal yang masih ada di wilayah pedalaman Indonesia. 


Di tempat lain, Dana dan Hana mencari keberadaan teman-teman yang lain. Mereka berdua terus meneriakkan nama mereka satu persatu. Berharap ada yang mendengar panggilan itu dan merespon mereka. Tentu saja mereka berdua cemas dengan kondisi teman-teman yang lain, yang tiba-tiba menghilang begitu saja. 


Sampai akhirnya, Hana melihat ada bayangan melintas di ujung jalur yang sedang mereka lalui. Dia langsung menahan tangan Dana yang berjalan di sampingnya. "Kenapa?" tanya Dana heran. 


"Lihat nggak?" 


"Apa? Mana?" tanya Dana lagi sambil tengak tengok sekitar. 


"Itu tuh, ada orang di sana," kata Hana sambil menunjuk ke arah yang tadi. 


Dana menatap ke tempat tersebut sambil menyipitkan mata. Ada pergerakan aneh yang memang terlihat olehnya. Tapi tentu saja mereka tidak boleh gegabah dengan langsung mendekat tanpa memeriksanya lebih dulu. Hutan tersebut sangat luas. Jadi belum tentu apa yang sedang mereka lihat adalah teman-teman mereka yang sedang hilang. Bisa saja itu hal lain, seperti hewan buas atau sejenisnya. Walau sejak mereka tersesat tempo hari tidak pernah melihat satu pun ada hewan buas di hutan tersebut. 


"Kita dekati pelan-pelan aja. Jangan berisik," kata Dana memberikan instruksi. Hana hanya mengangguk, masih fokus pada tempat yang sedang mereka incar. 


Mereka berjalan pelan, berusaha setenang mungkin agar tidak diketahui oleh seseorang atau sesuatu yang sedang mereka incar sekarang. Rimbunnya hutan membuat jarak pandang mereka terbatas, sehingga mereka tidak bisa langsung mengetahui siapa yang ada di depan mereka. Perlahan mereka berdua terus berjalan menuju ke arah tersebut. Namun tiba-tiba mata mereka berdua membelalak bersamaan, saat melihat ada sebuah sungai yang alirannya tidak terlalu deras. Yang membuat mereka terkejut bukan karena sungai itu, melainkan keberadaan beberapa orang wanita yang justru sedang membenamkan kaki mereka ke dalam air, sambil mengobrol santai. 


"Heh! Setan! Dicariin juga dari tadi! Kenapa malah di sini sih!" omel Hana pada mereka semua. 


Sontak mereka semua menoleh dan tersenyum begitu melihat kedatangan dua pria yang memang sudah mereka kenal baik. "Sini, Han, Dan! Air nya seger banget nih," ujar Ita tanpa dosa. 


"Kalian tuh lagi ngapain di sini? Berasa piknik, ya?" tanya Dana dengan santai lalu ikut jongkok di tepi sungai melihat tingkah mereka yang mirip anak kecil. 


"Tadi tuh si Apri kebelet. Terus kita dengar ada aliran sungai, jadi kita cari ke sini. Eh, malah keasyikan nih. Hehehe. Maaf, ya," jelas Rea yang sedang duduk di sebuah batu yang berada di pinggir sungai tersebut. 


"Kan bisa pamit dulu sama kita, jangan asal pergi gitu aja dong. Kita pikir kalian kenapa-napa loh," tukas Dana menatap Rea dengan bola mata yang berkaca-kaca. 


"Maaf, Dan, soalnya Apri melarang kita ngomong kalian. Dia malu. Tapi kan kami tahu jalan pulang, jadi kami pikir nggak apa-apa kami pergi sendiri tadi," tambah Rea santai. Kedua kakinya bergerak naik turun di dalam air, dan membuat Dana menatapnya gemas. 


"Terus juga kan ada walkie talkie, kita nanti mau kabarin kalian kok. Eh malah kalian keburu udah nemuin kita di sini," kata Diah. 


"Eh, kok kalian cuma berdua aja? Yang lain mana?" tanya leni sambil tengak tengok ke belakang mereka berdua. 


"Hani sama Blendoz bawa Fauzan duluan, kasihan. Takutnya dia kenapa-napa, nah kami tugas kami cari kalian," jelas Dana. 

__ADS_1


Tapi saat mereka masih asyik mengobrol bersama, suara jeritan Hani dan Blendoz terdengar samar-samar. Hanya saja saat ada suara langkah kakii yang berderap cepat, membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2