
"Amon?!" pekik Rea terkejut.
Otomatis semua orang menatap Rea, dan menaruh curiga pada reaksi gadis itu. Reaksinya seakan akan menunjukkan kalau dia mengetahui tentang iblis yang bernama Amon.
"Kenapa, Re? Kamu tahu tentang Amon?" tanya Ita menyelidik.
Rea menatap teman temannya satu persatu, dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan apa yang telah dia ketahui dari ayahnya. Kisah mengenai iblis yang bernama Amon, juga mengenai wanita yang namanya seperti nama Rea. Dia tidak ingin mereka semua mengetahui hal-hal tersebut dari mulutnya.
"Eum, bukan. Bukan begitu. Aku cuma pernah mendengar cerita tentang Amon. Nama iblis itu tidak asing rasanya," cetus Rea sedikit gugup.
"Oh, aku pikir kamu tahu juga tentang kisah ini. Terus, Pak? Gimana kelanjutannya?"
"Teror pocong itu memangnya benar masih ada di desa?"
Mereka begitu tampak antusias mendengar cerita Wiryo. Apalagi pria paruh baya itu juga seorang pendongeng yang ulung. Ditambah dengan imbuhan kalau kisah itu adalah dari kejadian nyata, membuat semua orang makin tertarik.
"Masih ada. Tapi dia muncul hanya di hari-hari tertentu saja. Jadi jika hari itu tiba, maka semua warga desa akan diam di rumah. Apa pun yang terjadi, tidak ada yang akan keluar rumah. Sehingga kami aman dari serangan teror pocong itu."
"Udah dong. Jangan bahas soal pocong itu lagi. Aku takut," rengek Apri yang makin mepet ke Diah.
"Iya, bener. Udah, yuk. Kita makan dulu sebelum jalan lagi. Kita harus sampai di sana sebelum malam."
Mereka menyudahi kisah mengenai desa Pak Wirya. Memang jika diteruskan, maka rasa takut sedikit demi sedikit pasti akan tertanam dalam pikiran mereka. Sadar atau tidak sadar, mereka akan terpengaruh pada kisah itu. Apalagi posisi mereka sekarang sedang ada di hutan, di mana kejadian itu bermula.
Pak Wirya juga masih bersama mereka karena akhirnya dia menerima tawaran Ita untuk ikut makan siang. Namun setelah kisah mengerikan tadi, Pak Wirya pun menggantinya dengan kisah lain yang lebih menyenangkan. Misalnya mengenai kehidupan di desanya, lalu banyaknya orang yang kini sering berkunjung ke hutan demi menuntaskan hobi mereka. Sehingga hutan itu lebih ramai, dan tidak lagi terasa menyeramkan seperti yang sudah-sudah.
"Oh, ya. Saya baru ingat. Tadi saya juga berpapasan dengan mahasiswa seperti kalian. Tapi dia sendirian. Waktu saya tanya, katanya dari Jakarta juga. Lalu ... Jaket yang dia pakai ... Rasanya sama, seperti yang kalian kenakan sekarang," tunjuk Pak Wirya ke arah jas almamater yang mereka pakai sekarang.
Mereka sengaja memakai jas tersebut karena salah satu syarat dari pihak kampus. Jadi jika sampai terjadi hal hal buruk nantinya, pihak kampus akan lebih cepat menemukan mereka lewat jalur udara. Karena warna jas yang mereka pakai akan tampak bersinar, menyilaukan jika dilihat dari kejauhan. Mereka menggunakan bahan khusus untuk jas tersebut.
"Mahasiswa seperti kami?" tanya Dana bingung.
"Iya, betul. Saya pikir dia salah satu dari rombongan ini. Apakah saya salah?"
Pertanyaan Pak Wirya itu membuat mereka semua saling pandang dengan ekspresi kebingungan. Mereka sama sekali tidak tahu, jika ada orang lain dari kampus yang datang juga ke hutan ini.
"Siapa, ya?" tanya Hani sambil menatap teman temannya bergantian.
Mereka tentu hanya menggeleng karena benar benar tidak mengetahui hal itu.
"Kalau boleh tahu ciri-cirinya seperti apa ya pak?" tanya Dana.
Pak Wirya menatap ke atas terlihat sedang berfikir dan mengingat wajah anak muda yang ditemui sebelumnya. " dia laki-laki, tingginya mungkin 180 cm, tubuhnya kurus, bola matanya kecoklatan, lalu wajahnya mirip seperti orang Timur Tengah," jelas Pak Wirya.
Sontak mereka semua melotot. Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh Pak Wirya, hanya ada satu orang yang memiliki ciri-ciri yang sama. Dia adalah Fauzan. Teman mereka yang juga merupakan satu tim saat tersesat kemarin.
__ADS_1
"Fauzan?"
"Iya, bener dia!"
"ngapain dia ke sini, ya?"
"Hooh. Bukannya kemarin waktu kita ajak dia menolak mentah-mentah."
"Ituu dia yang aneh. Apa dia juga mengalami hal yang sama seperti lainnya, ya?"
"Kalau sebaliknya bagaimana?"
"Maksud kamu apa, Dan?"
"Kalau dia datang ke sini justru ingin mencari sesuatu bagaimana?" tanya Dana meminta pendapat teman temannya.
"Hah? Mencari apa maksudnya sih?" tanya Rea yang tidak paham maksud perkataan Dana.
"Sesuatu mengenai pesugihan. Kalian ingat perkataan kepala desa tempo hari?"
Mereka akhirnya mengingat hal tersebut. Kalimat dari kepala desa saat mereka baru saja ditemukan. Sebelum mereka menuju bandara, mereka lebih dulu dibawa ke rumah kepala desa setempat. Tapi bukan desa di mana Pak Wirya tinggal. Tapi desa sebelahnya.
Desa tersebut pun mengetahui beberapa hal mengenai kondisi hutan itu. Kejadian kejadian yang pernah ada di hutan sudah menjadi cerita turun temurun bagi warga desa setempat. Hutan yang sedang mereka datangi, adalah merupakan hutan liar yang cukup menyeramkan.
"Tapi kenapa lo mikir kalau Fauzan datang ke sini karena hal itu, Dan?" tanya Blendoz heran.
"Gue pernah dengar, Fauzan lagi ngobrol sama teman temannya. Terus dia nyebut pengen melakukan pesugihan. Biar cepet kaya, nggak usah kerja lagi, nggak perlu sekolah. Entah itu cuma bercanda atau memang serius. Tapi kalau kita terus benang merahnya, cukup masuk akal, kan?"
"Iya juga sih. Gila si Fauzan. Kok bisa kepikiran begitu ya. Ckckck."
Tidak hanya Blendoz, semua teman temannya juga heran dengan tingkah Fauzan tersebut.
"Ya sudah. Kalau begitu, saya mau permisi pulang dulu, Mas, Mba," kata Pak Wirya yang berkemas akan segera pulang.
"Oh iya, Pak. Terima kasih banyak," sahut Leni.
"Seharusnya saya yang bilang terima kasih. Sudah ikut makan siang di sini sebelum pulang. Hehe."
"Nggak apa-apa, Pak. Kalau ramai ramai kan makan jadi terasa lebih enak," timpal Hani.
"Iya, betul itu. Ya sudah, kalian hati-hati selama di hutan ini. Kalau bertemu akar mimang."
"Akar mimang?"
Di Indonesia khususnya di daerah Jawa ada sebuah kisah mitologi tentang mahluk halus yang bisa membuat seseorang tersesat. Rupanya tidak hanya di Pulau Jawa saja, tapi di tanah Kalimantan pun ada istilah tersebut.
__ADS_1
Akar Mimang merupakan sebuah akar pohon yang dipercayai sebagai jelmaan mahluk gaib yang sering menyesatkan para pengelana terutama biasanya para pendaki gunung atau para penjelajah hutan yang bertingkah gegabah saat berada di alam liar.
Dilihat dari sudut pandang penampilan, akar mimang memang sejenis akar pohon biasa pada umumnya. Namun yang membuatnya seolah menjadi mahluk mitologi adalah dari kisah rakyat yang meyakini bahwa kalau kaki manusia tersandung atau melangkahi akar mimang, maka orang tersebut akan linglung, kalau melangkahinya atau tersandungnya itu di hutan, maka dia akan tersesat tidak bisa pulang hanya berputar-putar di sekitar saja. Konon akar mimang berasal dari akar pohon dewandaru, sebuah pohon yang dianggap sakral dan keramat.
"Duh, gimana caranya kami tahu, itu akar mimang, atau bukan, Pak?"
Pak Wirya hanya menatap mereka sambil tersenyum. "Berdoa sajalah. Insya Allah, kalian akan dijauhkan dari marabahaya di hutan ini. Asal niat kalian baik, pasti jalan kalian akan dimudahkan," tuturnya terlihat bijak.
Pak Wirya pun pamit meninggalkan mereka yang masih menikmati makan siang.
Setelah beberapa menit berlalu, Dana pun memberikan aba-aba agar mereka bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Mereka sudah putuskan agar sebisa mungkin tidak menginap di hutan itu, tepatnya di dekat sumur tua yang telah membuat mereka tersesat berulang kali tempo hari. Sekalipun harus menginap, mereka harus mendirikan tenda di pinggir hutan, seperti di tempat mereka berada sekarang.
Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Mereka terus berjalan tanpa beristirahat lagi. Hari sudah siang, Mereka pun harus bergegas agar lekas sampai ke tempat tujuan. Tugas mereka sangat sepele, hanya meletakkan kembali bunga anggrek hitam ke tempat semula.
Sampai akhirnya mereka sampai.
"Lihat itu Fauzan kan?" tunjuk Diah ke sisi utara hutan. Mereka serempak menoleh dan mencari yang dimaksud.
"Ngumpet!" suruh Dana dan membuat mereka otomatis jongkok agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh Fauzan.
Fauzan sedang berada di dekat sumur tua. Dia tampak sedang melakukan ritual-ritual aneh. Rea dan teman-temannya hanya memperhatikan Fauzan dari kejauhan.
"lagi ngapain sih dia?!" tanya Apri heran.
"Ritual sesat!"
"Ih, nggak sangka kalau Fauzan bisa melakukan hal sehina itu! Bersekutu dengan setan!"
"Eh, tunggu! Kalian ingat perkataan Pak Wirya tadi?" tanya Rea.
"Yang mana?"
"Teror pocong di desanya mulai lagi, kata dia itu artinya ... Iblis di dalam sumur bebas? Iya, kan? Jadi ... Dia di mana? Apakah di hutan ini?"
"Benar juga! Hei, kita harus waspada. Jangan lengah!"
"Duh, itu bunga bisa nggak sih ditaruh sini aja terus kita balik sekarang? Takut tahu!" rengek Apri.
"Nggak bisa, Pri. Kan katanya kita disuruh antar sampai ke letak bunga itu diambil. Dan letaknya kan di atas sumur tua itu!" tambah Hani yang membuat Apri makin panik.
"Kita letakkan nanti saja. Tunggu Fauzan pergi. Sekarang kita lihat dulu, apa aja yang Fauzan lakukan."
Namun tiba tiba, Fauzan justru menoleh ke arah mereka semua. Sontak mereka terkejut, dan makin menutupi tubuh masing masing di balik pohon atau semak semak.
Dana masih mengintip Fauzan, dan dia menyaksikan, kalah Fauzan kini sedang berlari ke arah mereka dengan sebuah pisau di tangannya.
__ADS_1