
Abi dan Ellea berangkat aktivitas bersama-sama, Gio sudah berangkat sejak tadi karena ada beberapa mobil yang harus ia kerjakan hari. Allea dan Vin juga sudah kembali ke rumah masing-masing karena mereka juga harus pergi bekerja seperti yang lain. Aktivitas mereka sudah kembali seperti semula. Dunia kembali damai setelah drama iblis yang mereka alami kemarin.
Abimanyu mengantar Ellea sampai butik. Ia juga membantu Ellea membuka rolling door dan bantuan lainnya. Kebetulan Allea belum sampai, dan cafenya bisa ia percayakan pada pegawainya yang lain. Suasana di trotoar jalan terlihat masih lenggang. Ada beberapa pejalan kaki yang sebenarnya sedang berlari pagi bersama peliharaan mereka. Saat Abi membantu Ellea mengelap jendela butik, ia mendengar hal aneh yang baru kali ini ia alami. Seekor anjing chihuahua yang sedang bersama pemiliknya, menoleh ke arahnya seolah mengajak Abi mengobrol. Abi bahkan sempat mencari sumber suara yang ia dengar, tapi semua selalu tertuju pada anjing kecil itu. Apalagi hal yang ia bahas adalah tentang keberadaan anjing pudel yang tidak pernah lagi terlihat di jalanan ini.
Abi benar-benar bingung, dan tidak percaya atas apa yang terjadi terhadapnya. Sampai-sampai Ellea menyadarkannya yang sejak tadi berdiri mematung layaknya orang linglung. "Kenapa, Biyu?"
Abi yang sebenarnya ingin menceritakan hal ini pada Ellea, tapi lantas mengurungkan niatnya. Karena ia yakin kalau dirinya salah dengar. "Nggak apa - apa, Ell."
Sebuah mobil parkir di bahu jalan, dan itu adalah mobil Vin yang datang bersama Allea. Mereka langsung saling berpamitan karena Vin sendiri akan pergi bekerja. "Kalau begitu, aku ke cafe sekarang, ya. Udah ada Allea, dan semua udah beres juga. Nggak apa - apa, kan?" tanya Abi sambil membelai pipi kekasihnya.
"Iya, Biyu. Nggak apa - apa kok. Kamu hati - hati, ya, di jalan. Nanti kabarin aku kalau sudah sampai di cafe," pinta Ellea. Abi segera mengecup kening Ellea dan kembali ke mobilnya.
Sepanjang jalan ia masih bertanya - tanya atas apa yang ia dengar tadi. Belum selesai rasa penasarannya, kini suara lain kembali ia dengar. Saat ia sedang berhenti di lampu merah, seekor burung gereja yang tidak sengaja hinggap di kap mobilnya tengah bercakap-cakap dengan burung gereja lainnya. Mereka membahas tentang cuaca hari ini yang cukup dingin karena langit masih ditutupi oleh awan gelap. Kedua ekor burung itu, langsung menoleh ke Abimanyu sambil menanyakan hal yang sama.
"Hujan pasti akan turun hari ini. Kau harus memakai payung nanti," ucap salah satu burung tersebut. Abi melotot sambil menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak mungkin!" gumamnya.
Sampai di cafe, ia masih terlihat seperti orang linglung. Sampai - sampai Maya mengikuti Abi hingga ke ruangan kerjanya. "Bang?!" panggil Maya sambil menepuk bahu pemuda itu. Sontak Abimanyu terkejut sambil mengelus dadanya sendiri. "Ih! Ngagetin saja kamu!" omel Abi sambil menjitak kepala Maya gemas.
"Ya habisnya, Bang Abi kenapa sih? Kayak orang bingung begitu. Habis ketemu siapa? Atau berantem sama Kak Ellea?" Maya menginterogasi layaknya polisi. Abi kembali dalam tatapan bingung, lalu duduk di sofa. Maya pun mengikutinya sambil terus menatap bos nya itu. "Cerita dong. Ada apa?" paksa Maya.
"Abang bingung, May. Kalau pun Abang cerita ke kamu, pasti kamu nggak percaya!" kata Abi setengah frustrasi. Maya mengerutkan kening sambil berpikir kemungkinan terburuk yang sedang dialami Abi.
"Kak Ellea?"
"Bukan."
"Terus?"
"Yakin? Mau denger? Nanti kamu ngetawain Abang lagi," rajuknya.
"Ck, ish! Enggak, Bang. Buruan cerita. Janji deh, Maya nggak ketawa. Apa pun itu," kata Maya sambil menaikkan dua jarinya ke atas.
"Masa sejak pagi ini, Abang jadi sering denger hewan bisa ngomong, May?"
"Hewan bisa ngomong? Ngomong dalam artian ...."
"Ya ngobrol kayak kita ini. Abang jadi ngerti bahasa binatang, May. Aneh, kan?"
"Waw. Keren!" pekik Maya sambil melotot. "Serius, Bang?"
Abi mengangguk yakin dan sedikit aneh melihat reaksi Maya yang langsung percaya padanya. Maya beranjak sambil berjalan mondar mandir seperti sedang memikirkan sesuatu. "Ngomong - ngomong Bang Abi habis mengalami apa? Seperti mimpi atau ketemu sesuatu yang aneh misalkan?" tanya Maya antusias.
"Mimpi? Yah, mimpi aneh sih sebenernya."
"Mimpi apa?"
"Ketemu teman lama Ayah, yang ternyata dia itu malaikat."
"Malaikat?! Eum, mungkin ini ada hubungannya deh."
__ADS_1
'Maksud kamu? Mimpi itu ada hubungannya sama sekarang pendengaranku yang bisa tau bahasa hewan?" tanya Abi seperti tidak percaya. Maya justru mengangguk semangat.
"bagaimana kalau kita tanya ke salah satu temenku yang paranormal. Dia bisa baca masa depan, Bang!"
"Ngaco kamu. Percaya sama begituan. Musyrik tau!" timpal Abi.
"Ih, Bang Abi. Coba dulu. Baru komentar. Yah ... Oke?" paksa Maya. Dan akhirnya Abi mengangguk tanpa benar-benar yakin pada keputusan ini.
Cafe makin ramai oleh pengunjung, semua mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Abi masih mendengar dan dapat mengerti bahasa hewan. Dan ia mulai pusing dengan semua yang terjadi selama seharian ini. Kepalanya terasa penuh dengan berbagai suara. Apalagi beberapa pengunjung ada yang membawa peliharaan mereka, entah anjing, kucing, burung bahkan musang.
Desa ini memang sangat dekat dengan alam. Banyak warga di desa yang memiliki hewan peliharaan dan memburu hewan di alam untuk kepentingan pribadi. Semua dibolehkan asal bukan hewan yang dilindungi. Maya meraih ponselnya dan segera menatap ke halaman di luar, ia melambaikan tangan saat melihat seorang wanita yang mirip gipsi melambaikan tangan ke arahnya.
"Linda!" panggilnya. Abi menatap kedua wanita itu dengan curiga. Ia dapat melihat dengan jelas kalau wanita yang disambut Maya itu adalah teman Maya yang tadi mereka bicarakan. Maya menggandeng Linda masuk ke dalam. Kebetulan suasana di dalam cafe sudah mulai sepi pengunjung, karena hanya ada beberapa pengunjung yang duduk di halaman. Kebanyakan dari mereka justru lebih menyukai suasana di luar cafe. Dekorasi outdoor terlihat lebih nyaman jika dinikmati saat sore hari seperti sekarang. Udaranya sejuk dan segar, karena barisan pepohonan di sekitarnya sungguh menyejukkan siapa pun mata yang memandang.
"Duduk dulu, Lin. Kamu mau minum apa? Biar aku traktir!" kata Maya semangat.
"Terserah kamu saja, May," sahut Linda sambil mencuri pandang ke arah Abimanyu yang sedang sibuk di meja kasir. Maya mendekat ke Linda, "eh kenapa? Ngeliatin mulu!" bisik Maya bermaksud menanyakan tatapan Linda yang tidak biasa ke Abimanyu.
"Nggak apa- apa. Ganteng," tukas Linda sambil tertawa. Maya lalu mencubit lengan temannya itu sambil berlalu ke dapur. Linda memperhatikan kondisi di cafe ini, ia juga masih sesekali menatap Abimanyu dengan tatapan aneh. Abimanyu memang tampan, tapi bukan itu yang membuat Linda tak bisa melepaskan pandangan padanya.
Setelah menunggu beberapa menit, Maya kembali dengan segelas lemon tea untuk Linda. "Minum dulu, ya. " Maya meletakkan gelas itu di hadapan Linda. Linda tersenyum sambil mencicipi lemon tea buatan Maya. Masih sesekali menatap Abi, membuat Maya benar-benar penasaran karena ini bukan kebiasaan Linda. Maya yakin ada hal lain yang dilihat Linda dari Abimanyu.
"Lin, itu orangnya," bisik Maya yang menunjuk ke Abimanyu yang masih pura-pura tidak tau kalau sedang dibicarakan. Abi sudah tau kalau dua wanita itu pasti sedang membicarakannya, karena sejak Linda mencuri padangan pada dirinya, Abi sebenarnya sudah menyadari hal ini. Hanya saja ia diam saja, seolah tidak tau apa- apa.
"Oh, pantesan," ujar Linda kembali meminum lemon tea hangat di hadapannya.
"Pantesan apa?"
"Oh, boleh banget dong. Sebentar!" kata Maya lalu dengan semangat 45 segera mendekat ke Abi. Mereka terlibat obrolan sebentar dan seperti sedang berdebat kecil. Sampai akhirnya Abi ditarik paksa oleh Maya untuk mendekat ke meja Linda.
"Kenalin, ini Bang Abi. Dan ini Linda, teman Maya," ujar Maya sambil memaksa mereka berdua berjabat tangan. Dengan malas-malasan, Abi mengulurkan tangan menyambut jabat tangan Linda. Linda seperti tersengat aliran listrik saat tangannya menyentuh tangan Abimanyu. Penglihatannya terus memutari semesta. Netranya liar dan melotot seperti orang kerasukan. Hingga pada akhirnya kedua tangan itu terlepas dengan sendirinya. Linda terpental hingga jatuh ke lantai.
Maya membantunya berdiri. Sementara Linda terlihat ketakutan menatap Abimanyu. "Kenapa, Lin?" tanya Maya bingung. Abimanyu juga merasa aneh dengan sikap Linda. Karena dirinya sama sekali tidak merasakan apa pun juga. Tapi gadis itu justru seperti melihat hal buruk dalam diri Abi.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Abi yang makin lama penasaran. Maya membantu Linda, dan keduanya akhirnya duduk kembali di kursi. Linda menatap Abi dan sesuatu yang ada di sekeliling pemuda itu.
"Pertama kali saya melihat Anda, ada dua hal yang benar-benar menarik perhatian saya. Ada dua hal di dalam diri Anda yang benar-benar saling bertolak belakang. Satu bagian ada sisi baik. Warna putih yang dominan. Di sisi lain, warga gelap juga mendominasi. Anda dikelilingi sisi baik dan buruk. Aura baik dan jahat yang sama-sama mendominasi. Keduanya sama-sama kuat. Kalau Anda tidak bisa mengendalikan sisi buruk itu, maka pasti akan berbahaya sekali. Bukan hanya untuk diri anda sendiri, tapi untuk semua orang di sekitar Anda. Kau juga sedang diperebutkan oleh sesuatu. Sesuatu yang besar dan sangat berpengaruh bagi semesta."
Maya melongo, tak mengerti maksud perkataan Linda. Begitu pula dengan Abimanyu. Sisi baik dan buruk. Itu memang ada di tiap jiwa manusia. Hanya itu yang Abi ketahui. Tapi sebuah keributan di luar halaman membuat mereka beralih menatap ke sumber keributan. Suara yang mirip dentuman keras membuat semua orang bertanya-tanya ada apakah gerangan yang terjadi. Abi lantas beranjak dari duduknya dan berjalan ke pintu. Belum sampai ia membuka pintu, terlihat seorang pria sedang berjalan masuk. Dan yang membuat Abi tercengang adalah ternyata dia Wira. Sama seperti ria yang ada di dalam mimpinya semalam, hanya saja tanpa sayap. Keduanya lantas bertemu di depan pintu.
"Ada yang harus kita bicarakan, Bi!" kata Wira serius.
"Apa?" tanya Abi agak terkejut. Melihat kedatangan pria yang baru semalam hadir dalam mimpinya dengan wujud seorang malaikat, dan kini malah dia muncul di kehidupan nyata Abi dengan wujud manusia normal. Tapi auranya terpancar jelas, sungguh kuat dan mengerikan. Linda melongo melihat kedatangan Wira. Mungkin bagi manusia lain, mereka hanya melihat wujud Wira seperti manusia biasa. Tapi tidak bagi Linda. Ia justru melihat sayap besar dan memanjang yang ada di bahu Wira. Hingga ia bergumam, "malaikat!"
Wira dan Abimanyu lantas berjalan menuju ruangan pribadi milik Abi. Wira menyempatkan melirik ke pada dua gadis yang sejak tadi melihatnya. Tanpa ekspresi, hanya sebuah tatapan dingin dan datar. Pintu ditutup. Abi menatap Wira lekat-lekat. Pria itu terlihat sedang gelisah dan bingung.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Abi spontan.
"Dengar! Situasi makin kacau sekarang."
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Para Archangel sedang memberontak, mereka akan menyerang kami dengan membentuk pasukan di bumi. Kau salah satu orang yang akan mereka cari, karena kau keturunan asli Archangel."
"Aku?"
"Iya. Sekarang kita harus mencari kedua orang tuamu, Abimanyu," kata Wira sambil mengintip dari balik korden. Seakan-akan keadaan di luar memang genting atau seperti ada yang sedang mengikutinya sejak tadi.
"Tunggu! Maksudnya mencari kedua orang tuaku itu ...."
"Yah, semua Archangel yang terkutuk dibangkitkan, semua akan dikumpulkan dan mereka akan membentuk pasukan untuk menyerang kami. Kalau sampai itu terjadi, bukan hanya langit yang akan goyah, bumi juga pasti akan gonjang ganjing. Maka dari itu, kita harus mencari kedua orang tuamu."
"Memangnya kenapa?"
"Karena ayahmu itu salah satu pemimpi yang paling kuat, kita harus membujuknya untuk tidak menjalankan misi ini. Tapi masalahnya, aku nggak tau dia di mana, dan satu yang pasti, kalau ingatannya pasti sudah dihapuskan."
"Apa ibu juga dihidupkan lagi?"
"Hm, semua, Bi. Semua Archangel. Lucifer sudah ada di bumi sejak beberapa waktu lalu, dia sedang mencari semua Archangel lain yang masih ada di sini. Dan kita harus menemukan ayah dan ibumu terlebih dahulu, sebelum mereka!" tegas Wira.
Tubuh Abimanyu kaku, seperti tidak bisa digerakkan. Bayangannya akan ayah dan ibunya yang ternyata dihidupkan lagi, terus terbayang dikepalanya.
"Mereka datang!" kata Wira lalu menutup korden.
"Siapa?"
"Demon!" Wira menarik sebuah pedang yang keluar dari telapak tangannya. Abi takjub pada apa yang dilakukan pria itu. Dalam ilmu logika mana pun tidak ada yang bisa menjelaskan dari mana pedang itu berasal.
"What?" pekik Abimanyu yang masih kebingungan.
Wira lantas bersembunyi dari balik pintu ruangan ini. Abi kebingungan dan tidak tau apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dia lakukan. Hingga suara berisik mulai terdengar di luar. Wira menatap Abi nanar. "Mereka mencarimu. Kau keluar saja dulu, nanti aku menyusul!" kata Wira serius. Abi mengangguk dengan wajah tegang.
"Hei!" panggil Wira lagi, ia melempar pedang miliknya," pakai itu! Tidak mungkin kamu pergi ke sana dengan tangan kosong!" katanya lagi. Abi mengambil benda mengkilap itu, lalu keluar menemui mereka.
Sampai di luar semua orang terpaku. Tidak bergerak bagai patung. Waktu berhenti. Para iblis itu masuk ke dalam. Saat mereka melihat Abimanyu, kelima pria aneh itu tersenyum. "Siapa kalian?!" Pertanyaan itu segera keluar dari mulut Abimanyu.
"Kami yakin kalau kau sudah tau siapa kami!" katanya, dan bola mata mereka tiba-tiba berubah hitam.
"Kudengar kau istimewa. Darahmu bisa membunuh kaumku."
"Lalu?"
"Bagaimana kalau kita kerja sama?!" tanya salah satu dari mereka.
"Cih, aku tidak sudi!"
"Benar, kah? Kau yakin? Bagaimana kalau aku membunuh semua teman-temanmu itu?" tanya salah satu dari mereka.
"Kalian aku kubunuh lebih dahulu!" kata Abi, ia lantas mengayunkan pedang itu dan langsung menebas kepala salah satu iblis tadi. Pertarungan tak dapat terelakan lagi. Sampai akhirnya saat Abi terpojok dan hampir tewas karena dicekik salah satu dari mereka, Wira muncul. Ia segera menghajar mereka satu persatu tanpa kenal ampun. Kolaborasi dua pemuda itu membuat semua iblis tewas dengan cara mengenaskan. Wira menghancurkan jasad mereka sebelum waktu kembali berjalan.
__ADS_1
"Aku akan membentengi kau dan teman-temanmu. Agar iblis bahkan lucifer sekalipun tidak dapat menemukan mu. Sampai aku menemukan Arya dan Nayla."