pancasona

pancasona
Part 189 Hilang


__ADS_3

Galiyan. Seorang fallen angel yang juga dikutuk. Dia diusir dari surga lalu menjadi pengikut iblis. Menjadi salah satu pasukan berani mati Lucifer, yang membuat keributan dan masalah di bumi. Mengambil jiwa jiwa manusia untuk dijadikan budak mereka nanti.


"Rupanya kau dalang dibalik semua masalah ini!" cetus Wira yang berdiri di depan makhluk dengan sayap hitam melebar ke samping kanan dan kiri nya. Bola matanya hitam dengan urat nadi hitam di sekujur tubuhnya.


Semua orang yang masih bertahan di sana, hanya menatap dua makhluk yang hampir satu ras tersebut, tegang. Satu yang ada di kepala mereka, kalau akan ada pertarungan besar antara dua pria itu. Sisi hitam dan sisi putih.


Sementara itu, pada Vivum Vunus alias manusia tanpa jiwa penghuni desa mulai menipis. Sebagian sudah tewas dan sebagian lagi masih berusaha merangsek masuk dan menyerang manusia yang masuk ke desa mereka. Memang begitulah cara kerjanya. Tiap manusia yang masuk ke desa ini secara sengaja atau pun tidak, pasti akan menjadi salah satu dari mereka. Jiwa mereka akan direnggut, dan tubuh mereka dibiarkan berkeliaran tanpa tujuan jelas. Hanya ada hasrat ingin membunuh dan membawa lebih banyak lagi jiwa untuk menemani mereka di neraka.


Wira atau lebih dikenal oleh langit dengan sebutan Samael, mengeluarkan sebuah pedang yang keluar dari tangannya. Melihat saingan nya mengeluarkan senjata andalannya, Galiyan juga mengeluarkan sebuah gada besar, dan berat. Wira menoleh sedikit ke arah teman temannya. "Kalian pergi dari sini! Biar aku yang urus iblis ini!" katanya serius.


Tanpa disuruh dua kali, mereka mulai menerobos kerumunan makhluk mengerikan di luar. Kembali menebas kepala atau menusuk jantung jika ada yang menghalanginya.


Rumah ini, sungguh kacau. Semua perabotan pecah, kursi terbalik dengan penuh genangan darah di beberapa sudut ruangan. Mayat bergelimpangan dengan keadaan tidak utuh. Organ tubuhnya terpotong, hancur bahkan remuk dengan kondisi mengenaskan.


Kini hanya ada Samael dan Galiyan. Dua sosok yang awal nya adalah satu kubu, tapi kini berlawanan jalan. Memilih jalan hidup masing masing. Dengan konsekuensi yang harus diterima.


Samael maju, melayangkan sabetan pedangnya ke arah Galiyan. Galiyan yang sudah menyerap banyak jiwa ditubuhnya makin kuat, membuat beberapa kali Samael kewalahan. Dia terluka, berdarah, walau akhirnya luka itu menutup kembali karena memang Samael atau Wira adalah malaikat. Sampai pada satu momen, di mana tangan Galiyan merasuk ke dalam tubuh Samael, merogoh jantung itu. Samael menjerit kesakitan. Wajahnya pucat dan menahan rada sakit hang teramat sangat. Tangan Galiyan keluar dari tubuh Samael, membawa kekuatan bawaan dari malaikat itu. Galiyan tertawa puas, sambil menelan kekuatan Samael.


Kini tubuh itu lemah, tak berdaya, tanpa kekuatan dasar dari makhluk yang disebut sebagai malaikat. Dan Samael kini, hanya seorang manusia biasa. Wira.


Ia batuk batuk sambil memegang dadanya yang terasa panas dan sakit. Keadaan di sekitarnya sudah sepi. Semua teman temannya telah pergi, dan Galiyan juga menghilang setelah merenggut kekuatan Wira. Telapak tangan Wira terus menggenggam, ia memegang sesuatu yang berhasil dia ambil dari Galiyan.


Wira berjalan sempoyongan keluar rumah itu. Melewati beberapa mayat, ah bukan hanya beberapa mayat, tapi puluhan mayat yang kini tergeletak begitu saja di bawah.


Suasana desa itu kini benar benar sepi. Sepertinya Arya, Abi dan yang lainnya telah berhasil membunuh semua makhluk tanpa jiwa itu. Samael, yang kini sudah benar benar menjadi Wira seutuhnya. Karena karunia kekuatannya telah direnggut Galiyah, berjalan gontai menuju pintu keluar desa. Ia berharap caravan yang tadi membawanya masih ada di sana. Dan teman temannya masih menunggu kedatangannya.


"Wira gimana, Ya. Dia nggak apa apa kah, kalau kita tinggalin gini?" tanya Nayla sedikit cemas. Bagaimana pun juga, pantang baginya untuk menyepelekan musuh.


"Semoga dia baik baik aja. Kita tunggu 10 menit lagi, kalau dia belum balik, biar aku susulin dia," ujar Arya. Semua orang masih belum baik baik saja setelah pertarungan panjang dan berat tadi.


"Eh, Hidayat mana, ya?" tanya Ellea sambil memperhatikan ke sekitar, berharap menemukan dan tau kabar orang tersebut.


"Nggak selamat paling. Manusia egois macam dia biasanya langsung kena azab!" hardik Gio, kesal.


"Lalu soal kunci yang kita cari ... Gimana?" tanya Nayla, pelan. Menatap teman teman nya satu persatu. Berharap mendapat jawaban.


Arya menarik nafasnya dalam dalam, Abimanyu menyapu pandang ke dalam desa yang gelap dan sunyi menegangkan. Namun ternyata dari kejauhan ada sebuah pergerakan yang membuat Abi memekik. "Om Wira!"


Semua orang ikut menatap ke arah yang Abi tatap. Abi lantas berlari mendekat ke Wira yang kondisinya sangat memprihatinkan. Mereka mencoba membantu pria itu, darah ada di beberapa sudut tubuhnya. Terutama wajah, bajunya beberapa robek dengan luka yang dalam dan menganga. Perutnya berdarah. Wira terus memegangi perutnya yang terus meneteskan darah segar sepanjang dia berjalan.


"Astaga, Wira!" jerit Nayla. Arya yang berlari lebih dulu bersama dengan Abimanyu lantas menangkap tubuh Wira yang hampir jatuh. Dia benar benar sekarat.


"Ra! Kenapa?!" jerit Arya sambil menepuk nepuk pipi pria di pangkuannya itu. Wira menatap Arya dengan tatapan sendu. Ia tersenyum sambil mengulurkan sesuatu dari tangan kanannya. Wira lalu memberikan benda itu ke Abimanyu yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Ini?" tanya Abimanyu dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tau jawabannya. "Bagaimana Om bisa mendapatkan benda ini?"


"Udah! Kita bawa dulu Wira ke caravan. Kita harus ke dokter!" sergah Nayla. Arya lantas mengangkat tubuh Wira seorang diri, namun saat dia hendak berjalan ke caravan menyusul yang lain, siluet kejadian kembali terlihat dalam ingatannya. Ia berhenti bergerak, dan tenggelam dalam ingatan baru yang masih tergambar di pikirannya.


"Arya! Arya!" panggil Gio yang sudah berada di depan pintu caravan. Semua orang sudah naik, tinggal mereka bertiga saja. Gio lalu mendekat dan menyadarkan Arya dari lamunannya. "Kenapa?!" tanya Gio dengan wajah serius.


"Ouh, maaf. Ayok!" Arya lantas memapah Wira dibantu Gio. Mereka masuk ke caravan dan meninggalkan desa tersebut.


Perkataan Hidayat yang kini sosoknya entah di mana, tidak sepenuhnya benar. Karena mereka sudah berhasil meninggalkan desa itu tanpa harus berputar putar lagi. Mungkin karena kunci yang sekarang ada di tangan Abimanyu, yang membuat mereka berhasil pergi dari desa tersebut dengan segera.


Gio memacu caravan miliknya dengan secepat mungkin. Abimanyu yang duduk di sampingnya, terus menatap benda dengan simbol aneh di tangannya. Untuk mendapatkan benda itu, mereka hampir kehilangan nyawa. Bahkan kini Wira sekarat. Seorang malaikat satu satunya yang ada di kelompok mereka hampir mati karena melawan makhluk penjaga desa Angikuni. Pasti Galiyan bukan makhluk sembarangan. Begitulah yang ada di pikiran Abimanyu. Ia menoleh ke belakang, di mana tubuh Wira diletakan. Nayla dan Ellea berusaha memberikan pertolongan pertama untuk pria tersebut. Kancing kemejanya dibuka, hingga dada Wira terpampang jelas. Tentu saja luka di tubuhnya kini juga mampu mereka lihat. Nayla panik, melihat perut Wira berlubang. "Kamu diapain sih, Ra!"


Ellea mengambil handuk dan baskom yang diberi air. Ia membersihkan luka luka di tubuh Wira dengan perlahan. Wira tidak berkata apa pun, hanya menatap semua orang di sekitarnya yang terlihat mengkhawatirkan dirinya. Arya hanya duduk, memperhatikan tubuh Wira yang tak berdaya. Dia masih kebingungan. Karena bayangan masa lalu yang akhir akhir ini terus bermunculan di pikirannya. Semua hanya siluet, tapi bayangan orang di siluet tersebut sama seperti orang orang yang kini ada bersamanya. Awalnya Abimanyu, dan kini Wira. Membuat semua penjelasan tentang siapa dirinya dulu memang nyata.


Siluet tadi, menggambarkan saat Arya menolong Wira dengan keadaan yang hampir sama dengan sekarang. Namun, di bayangan itu ada jerit tangis Nayla dan juga momen di mana Nayla menangisi kematian Wira.


Arya diam. Tubuhnya terasa lemah, tiba tiba dia menjadi tidak bersemangat.


"Haduh, lukanya dalam banget. Kita harus cepat ke rumah sakit!" pekik Ellea sambil menatap semua orang yang ada di sekitarnya.


Gio menambah kecepatan. Ini sudah tengah malam, dan lalu lintas memang sudah lenggang. Ini berita bagusnya, rumah sakit tidak begitu jauh lagi.


"Wira? Bukan, kah, kamu malaikat? Aku pikir kamu punya kemampuan menyembuhkan diri atau semacamnya?" tanya Nayla, heran. Pria yang diajak bicara makin lama makin memburuk kondisinya. Ia tidak mampu menjawab pertanyaan itu, walau sebenarnya ia dapat mendengar perkataan Nayla tadi. Tapi seluruh tenaganya seolah hilang. Pandangan matanya mulai memburam, matanya pun terasa sangat berat. Dan akhirnya dia memejamkan mata diiringi suara jeritan Nayla yang terus memanggil namanya.


Malam ini mereka terpaksa menginap di rumah sakit, tidur dengan cara duduk di kursi ruang tunggu, atau merebahkan diri seperti Gio. Dengan mengambil beberapa kursi untuk dirinya sendiri. Bagaimana pun, keadaan Wira benar benar membuat mereka sangat khawatir.


***


Langkah kaki beberapa orang mengusik tidur mereka. Ellea dan Nayla yang sudah bangun sejak satu jam lalu kini sudah memegang cangkir kopi di tangan mereka. Mereka berdua mengobrol ringan di sudut kursi lain. Aroma kopi yang berada di dekat Arya membuatnya mulai menggeliat. Ia mulai mengerjapkan mata, dan langsung melihat sosok wanita yang ia sayangi ada di dekat kepalanya. Nayla sedang duduk, sambil memainkan rambut Arya yang memang ada di sampingnya. Arya menarik tangan Nayla yang ada di kepalanya. Membuat Nayla sedikit terkejut, kedua wanita itu lantas menoleh ke arah Arya yang memang sudah terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum, sejurus dengan Nayla yang juga menampilkan senyum indah di pagi hari yang dingin ini.


"Aku ke sana dulu, Nay," pamit Ellea sambil membawa dua cangkir kopi yang hendak ia berikan ke Gio dan Abimanyu yang mulai terbangun juga. Nayla hanya tersenyum dan kini pandangannya beralih ke Arya yang sudah duduk di sampingnya.


"Pagi," sapa Nayla dengan tampang sumringah. Arya menoleh sambil melempar senyum tipis. Ia duduk bersandar pada punggung kursi. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi bahagia seperti yang Nayla harapkan. Hal ini membuat Nayla mulai menatap Arya dengan tatapan bingung. "Hei, kenapa?" tanyanya dengan makin mendekatkan wajahnya pada Arya. Nayla juga menyodorkan cangkir kopi yang masih hangat untuk kekasihnya itu.


Arya tidak balas menatapnya. Hanya menerima uluran cangkir kopi dari Nayla, dan memainkannya sebentar sebelum ia meneguk beberapa tegukan kopi yang terasa ringan itu. Campuran kopinya tidak seperti yang biasa ia minum, sebenarnya dia sedikit rindu rumah. Tapi dia tidak bisa pulang sekarang.


"Arya?' panggil Nayla lagi, karena melihat reaksi pemuda itu hanya tersenyum tipis, tanpa ada niatan menjawab atau bersikap seperti biasanya. Arya menarik nafas panjang lalu meminum kembali kopinya.


"Aku mendapatkan ingatan ingatan itu, Nay," gumam Arya tanpa menatap gadis di sampingnya itu.


"Ingatan ... saat kehidupan kita yang kemarin?" tanya Nayla menegaskan maksud dari Arya barusan. Arya lantas mengangguk pelan. Menatap lantai di bawahnya yang sedang ia pijak. Sepatu nya awalnya berwarna putih kini mulai terlihat kusam, karena tidak pernah ia perhatikan lagi kebersihannya. "Apa saja yang sudah kamu ingat?"


"Beberapa kejadian. Seperti semalam. Kita pernah kehilangan Wira seperti tadi. Kamu nangis, Wira meninggal dan aku yang dulu bukan siapa siapa kamu, hanya bisa memberikan pelukan. Di situ aku benar benar merasakan sakit, karena melihat kamu menangis. Diriku yang dulu," jelas Arya.

__ADS_1


"Maksudnya, kamu bisa merasakan perasaan kamu yang dulu?"


"Iya. Sepertinya dulu aku sudah suka sama kamu saat kamu sudah pacaran sama Wira. Huh, lucu ya." Arya memaksakan melebarkan senyumannya yang sama sekali tidak terlihat tulus.


"Yang bener? Jadi dulu kamu udah suka sama aku sejak lama? Tapi, kamu nggak bilang apa apa ke aku, Ya?"


"Buat apa, Nay? Kamu dulu pacarnya Wira."


"..."


Arya menoleh ke Nayla yang diam tanpa menanggapi perkataannya barusan. Ia tersenyum, lalu memeluk gadis itu yang masih terlihat kaku. Nayla merasa bersalah karena berada di antara dua pria yang sebenarnya bersahabat sejak dulu. Dia yang memang belum mengingat banyak hal, hanya bisa menatap nanar Arya. Dalam lubuk hatinya terus bertanya tanya, sejak kapan Arya memiliki perasaan lebih padanya.


"Jadi kita benar benar dikutuk dengan kisah cinta segitiga yang terus terulang sepanjang kehidupan kita?" tanya Nayla yang masih berada di pelukan Arya.


"Tapi sekarang, kan, enggak." Arya makin mengeratkan pelukannya ke tubuh mungil gadis itu.


"Hei! Wira sadar!' kata Gio yang tiba tiba sudah ada di depan mereka, lalu berjalan masuk ke ruangan yang semalam menjadi tempat Wira dirawat. Arya dan Nayla kemudian mengekor mereka. Abi dan Ellea juga menyusul dan mereka semua masuk ke dalam untuk melihat keadaan Wira.


Wira yang baru saja diperiksa oleh dokter lantas melemparkan senyum ke arah teman temannya yang baru saja masuk ke dalam. Kini mereka tampak lega. Melihat kondisi Wira yag sudah membaik.


"Gimana kondisi dia, Dok?" tanya Gio.


"Sudah baik baik saja. Lukanya sudah dijahit. Untung tidak terlalu dalam. Dan pasien harus hati hati, jangan terlalu banyak bergerak," saran dokter.


"Saya boleh pulang hari ini, kan?" tanya Wira memaksa. Dokter itu diam, lalu mengangguk pasrah. Sejak ia diperiksa, Wira terus merengek minta dibolehkan pulang. Dan kini dokter tidak lagi bisa menahannya.


"Ra, kamu yakin? Kan mending di sini aja dulu," bujuk Nayla.


"Enggak, Nay. Kita harus melanjutkan perjalanan. Kita harus terus bergerak."


Dokter undur diri untuk memeriksa pasien lain dan juga mengajak perwakilan dari keluarga Wira untuk menyelesaikan administrasi.


"Ra, kenapa kamu bisa gini? Bukannya kamu bisa ...." Nayla tak melanjutkan pertanyaannya. Ia yakin kalau Wira paham maksudnya.


"Sebenarnya kekuatann ku ... Sudah hilang."


"Maksudnya hilang?"


"Galiyan merenggutnya!"


"Apa?! Terus sekarang kamu ...."


"Aku manusia biasa."

__ADS_1


__ADS_2