pancasona

pancasona
69. Pulang ke Jakarta


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju home stay, mereka justru lebih banyak diam. Berjalan beriringan dengan pemandangan kebun kebun warga membuat Rea mengalihkan pandangan ke samping kirinya. Dia merasa malu jika harus bertemu tatap dengan Raja. Bahkan saat Rea sadar kalau Raja sesekali memperhatikan dirinya, membuat Rea semakin malu.


"Ambil jurusan apa di kampus?" Tanya Raja tiba tiba.


"Eh, eum ... Hukum."


"Oh."


"Kamu?"


"Teknik."


"Oh."


Percakapan menjadi terasa Canggung. Pertanyaan basa-basi yang saling diajukan oleh mereka, terhenti begitu saja. Sesekali Rea bersenandung sambil memperhatikan sekitar. Beberapa kali mereka berpapasan dengan warga desa. Sesekali mereka saling bertegur sapa. Raja juga tampak ramah kepada warga desa setempat. Rea tidak menyangka dibalik sikap dingin Raja, pemuda itu ternyata orang yang santun dan ramah apalagi kepada orang yang lebih tua.


"Oh ya, Kalau tidak salah dengar, waktu di hutan tadi kamu bilang merasa ada yang memperhatikan kita saat di hutan?" tanya Raja.


Entah mengapa setiap kalimat yang keluar dari mulut Raja, membuat Rea terkejut, dan grogi untuk menjawabnya.


"Oh iya. Eh, Memangnya kamu dengar aku bilang begitu ya?"


"Iya, saya dengar. Karena saya ada di dekat kamu berdiri tadi."


"Oh." Rea mengingat-ingat situasi di mana dia mengatakan hal itu di hadapan Hana. Tapi dia sama sekali tidak mengingat Di mana posisi Raja berada saat itu.


"Jadi apa yang kamu rasakan? Atau mungkin kamu juga melihatnya?"


"Bukan begitu sih. Aku sama sekali nggak lihat. Cuma seperti ada orang yang sedang memperhatikan kita di hutan tadi. Kamu ingat ada tumpukan batu-batu besar yang di kelilingi semak-semak belukar? Disitulah aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan kita."


Raja hanya diam sambil terlihat berpikir.


"Ah, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Mungkin karena selama beberapa hari ini kami sering menemukan kejadian-kejadian aneh dan berada dalam situasi yang tidak menyenangkan."


Raja tersenyum. Menoleh dan menatap Rea yang berjalan di sampingnya. "Yah, mungkin saja."


"Eh tapi ... Waktu itu kamu dan harimau itu ...." Rea tidak melanjutkan kalimatnya. Dia ragu untuk menanyakan hal tersebut. Tapi kalimat tersebut justru membuat Raja  melotot menatap gadis itu.


"Apa kamu bilang? Harimau putih?" tanya Raja mengulangi lagi kalimat Rea tadi.


"Iya. aku melihat harimau putih masuk ke dalam tubuh kamu. Awalnya aku dengar suara berisik dengan angin yang cukup kencang di sekitar hutan. Lalu nggak lama ada suara geraman harimau di sekitar kita. Dan tiba-tiba hewan itu muncul. Anehnya teman-temanku tidak ada yang melihatnya. Yang lebih aneh lagi dia tiba-tiba berdiri di belakang kamu dan memasuki tubuhmu. Apakah itu yang disebut khodam pendamping?" tanya Rea serius sambil menatap Raja yang tampak gugup.


" khodam pendamping? Dari mana kamu tahu inilah seperti itu?"


" aku sering baca novel, dan sering menemukan istilah seperti itu. Jadi benar itu khodam pendamping? Bagaimana dia bisa mengikuti kamu? Lalu bagaimana cara kerjanya? Kamu dapat itu dari mana? Apakah dengan ritual-ritual tertentu, atau pemberian leluhur?" tanya Rea dengan pertanyaan beruntun.


Raja menghentikan langkahnya. Dia lantas menatap Rea, lalu tertawa. Sikap Raja tentu membuat Rea kebingungan. Baginya tidak ada dari sekian banyak yang pertanyaan tadi mengandung hal yang lucu.


" Ih kenapa kamu ketawa!" omel Rea. Dia bahkan kini berani memukul lengan Raja, agar pemuda di hadapannya berhenti menertawakannya.


"Maaf. Maaf. Tapi pertanyaan kamu tadi memang terdengar lucu."


"Iya, kah? Bagian mana yang lucu?" tanya Rea penasaran.


"Semua. Mengenai wawasan kamu tentang khodam pendamping. Sepertinya kamu terlalu berpengalaman dibandingkan dugaan saya sebelumnya."


"Eum, begitu, kah? Ya sebenarnya keluarga saya pun termasuk orang-orang yang peka terhadap hal-hal gaib seperti ini."


Panggilan Rea yang biasanya menggunakan Aku Dan Kamu, berubah menjadi saya, seperti yang dilakukan oleh Raja. Entah mengapa Rea jadi merasa sungkan saat dirinya bersikap santai di depan Raja. Dan dia justru mulai mengikuti kebiasaan Raja.


"Pantas saja Jika kamu bisa melihat Ganendra," cetus Raja lalu kembali melanjutkan perjalanan.


" Ganendra? Jadi namanya Ganendra? Wah, bagus. Jadi dia akan muncul saat kamu sedang kesulitan seperti tadi?"


" Yah, bisa saja seperti itu. Tapi kalau tadi saya sengaja memanggil dia. Karena lawan yang tadi saya hadapi cukup kuat."


"Yaya. Saya mengerti." Rea kembali menceritakan mengenai silsilah keluarganya. Tentang bagaimana ayahnya selama ini, beberapa gangguan yang biasanya datang sekitar rumahnya. Entah Itu kiriman santet dan guna-guna untuk keluarganya. Dengan gamblang Rea menceritakan hal-hal tersebut. Raja hanya diam sambil mendengarkan. Namun saat ia melihat ke samping kiri, ada sebuah pemandangan yang tidak biasa dan baru pernah dilihat saat ini ada di dekat gadis itu.

__ADS_1


Ada sosok pria dengan ikat kepala putih senada dengan warna bajunya yang putih bersih, ditambah dengan cahaya yang bersinar di sekeliling tubuhnya. Tasbih yang sama seperti tasbih yang dimiliki oleh Rea. Pria itu sedikit lebih tua, dengan jenggot serta kumis yang berwarna putih. Sepanjang jalan pria paruh baya itu berdiri di samping Rea. Hanya diam, dan tersenyum tipis saat Raja menatapnya.


Hingga mereka pun akhirnya sampai di home stay. Suasana disekitar homestay sudah tampak ramai. Ibu-ibu paruh baya terlihat keluar masuk rumah piring maupun nampan.


"Ya sudah, kamu masuk dulu sana," suruh Raja saat melihat teman-teman Rea menatapnya dari teras rumah.


"Iya, ya sudah. Saya duluan, ya," kata Rea malu malu. Lalu berlari kecil memasuki halaman rumah tersebut.


"Hati hati! Jangan lari lari," jerit Raja dan membuat Rea menoleh lalu tersenyum tipis dan melambatkan langkahnya.


Setelah memastikan Rea sudah masuk ke dalam rumah, Raja kini memperhatikan sekitar. Wajah yang ramah dan terlihat menyenangkan berubah menjadi serius dan sedikit menyeramkan. Dia memejamkan mata sejenak. Lalu saat kedua bola matanya terbuka, ada asap hitam yang berada di sekeliling desanya. Hidung Raja mulai mendengus. Dia menyibak udara di hadapannya seakan-akan baunya sangat tidak enak.


Raja lalu pergi meninggalkan tempat tersebut seakan akan sedang memeriksa seluruh desa. Dia mengamati ke arah udara di atasnya. Asap berwarna hitam benar benar merata ada di seluruh wilayah desa.


Saat dia sampai ke pinggir desa, yang berbatasan dengan hutan hutan sekitar, Raja menatap ke arah hutan terlarang. Sekilas dia melihat ada sekelebat bayangan yang sejak tadi ada di depan hutan, bersembunyi di balik pohon akasia, dan kini pergi entah ke mana.


"Siapa dia?" tanya Raja kepada harimau putih yang kini sudah berdiri di dekatnya.


Mereka berdua sama-sama sedang menatap ke arah hutan terlarang.


"Hati-hati, anak buah Amon masih berkeliaran. Yang kita hadapi tadi bukanlah apa-apa. Justru orang yang sekarang sedang memperhatikan kita dari jarak jauh lah yang patut kita waspadai. Tapi kau tenang saja. Karena dia tidak akan berani meninggalkan sarangnya."


"Kenapa? Bukannya pagar gaib di desa sudah dihancurkan?"


"Bukan karena pagar gaib yang tidak ada di desa, tapi dia tidak bisa meninggalkan tuannya."


"Jadi dia tidak mau meninggalkan Amon? Dan menyerang kita?"


"Benar. Maka dari itu, dia mengutus anak buahnya untuk mengusik kita semua. Semetara dia hanya mengamati dari kejauhan."


"Sungguh licik!  Lalu Menurutmu apa yang harus kita lakukan? Apa kita hanya berpangku tangan di sini dan menunggu serangan lagi?"


" Tentu saja tidak. Akan ada saatnya kita menyerang. Tapi kita harus menghimpun kekuatan dan strategi lebih dahulu. Karena dia jauh lebih kuat dari lawan-lawan sebelumnya."


"Tapi mengapa dia enggan pergi dari sana?"


"Oh jadi begitu. Jadi dia selama ini yang mengatur serangan demi serangan dan juga teror yang terjadi di wilayah ini?"


"yah, betul. Tapi salah satu gadis dari kota tadi Sepertinya bisa menyadari kehadiran dia," kata Ganendra.


Raja menarik sebelah bibirnya. "Yah, dia juga menyadari Kehadiranmu. Bahkan dia juga bisa melihatmu." pemuda itu berjalan meninggalkan tempat tersebut. Ganendra mengikuti Raja.


" Apa kau bilang? Dia bisa melihatku? Yang benar? Bagaimana bisa? Mengapa aku tidak menyadarinya?"


"Yah, mungkin karena tadi kau sangat bersemangat dalam bertarung. Sehingga tidak menyadari sekitar. Sejak Kau datang dia tahu dan bahkan bisa melihatmu dengan jelas."


"Benarkah? Wah, siapa dia sebenarnya?"


"Itulah yang membuatku penasaran. Aku juga ingin tahu siapa dia. Karena ada sosok Pria tua yang terus mengikutinya. Dia baik. Karena dia ternyata menjaga gadis itu. Bahkan sepertinya jika pria itu tidak ada diantara mereka, mungkin mereka semua tidak selamat."


"Pria tua? Pria tua yang mana? Sejak kemarin aku tidak melihat ada pria tua?"


"Aku juga baru melihatnya tadi. Sepertinya dia sengaja tidak mau menampakan diri."


" Lalu kenapa dia memperlihatkan dirinya di depanmu?"


"Entahlah. Bisa saja karena dia ingin memberitahuku, kalau ada dia di dekat gadis itu."


Ganendra dan Raja memang sudah dekat sejak lama. Bahkan saat Raja masih kecil. Harimau putih itu sudah ada di sisi Raja sejak lahir ke dunia ini. Ganendra merupakan khodam pendamping yang diturunkan oleh leluhur Raja. Saking akrabnya Raja dengan Ganendra sering berbincang layaknya dengan sahabat sendiri. Raja tidak segan dan  malu menceritakan apapun pada Ganendra. Di antara semua manusia di muka bumi ini Raja Hanya Dekat dan hanya bisa mempercayai Ganendra seorang. Bahkan dari cara bicara Raja pada Ganendra yang terkesan santai membuat suasana lebih nyaman.


"Apa rencana mu?" Tanya Ganendra sambil memperhatikan ke langit. Asap hitam itu semakin pekat.


" kita singkirkan dulu asap hitam ini dari desa. Karena jika dibiarkan nantinya akan tambah tebal dan membahayakan warga desa semua."


" Baiklah, ayo kita mulai!"


Mereka berdua pun akhir mulai menyingkirkan asap Hitam yang mengotori udara di desa. Perlahan udara di desa kembali bersih tanpa ada gangguan seperti sebelumnya. Walau asap hitam tadi tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, bagi efek yang ditimbulkan sangat berbahaya dan bisa merusak tubuh.

__ADS_1


Setelah membersihkan udara dari asap hitam Raja kembali ke desa. Rupanya sudah ada beberapa mobil yang tiba di desa tersebut. Raja sedikit terkejut melihat rombongan Rea memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Entah mengapa Raja mencari keberadaan Rea yang belum ia lihat sejak tadi.


Sampai Akhirnya dia mendengar suara Rea. Sumber suara tersebut berada dibalik mobil yang ada di hadapannya. Raja mendongak untuk bisa melihat di mana gadis itu berada. Hingga akhirnya Rea pun terlihat. Dia sudah rapi dengan pakaian yang lebih bersih dan baru.


Rea sedang sibuk menata barang-barang miliknya. Dia sempat terlibat adu mulut dengan Leni karena perebutan tempat. Padahal Leni Tampak santai dalam menanggapinya, justru Rea yang terlihat emosi.


" udah deh, Re. Kan cuma numpang barang doang nggak apa-apa. Gitu aja senewen!" ejek Leni sambil cengengesan.


"Cuma numpang barang katamu? Lihat barangmu seberapa banyak! Padahal kemarin pas kita berangkat barang-barang kamu nggak segitu banyak loh, Len!" omel Rea.


"Ini dikasih sama Bu Kades, juga dari ibu ibu lain . Masa iya mau ditolak sih."


Rupanya barang-barang yang dimaksudkan Leni, aneka macam tanaman dengan potnya sekalian. Tentu saja Rea kesal. Dia masih teringat dengan kasus anggrek hitam yang Leni bawa dari tanah Kalimantan ke rumahnya. Yang akhirnya membuat mereka semua terjebak kembali lagi ke Kalimantan untuk mengembalikan bunga anggrek tersebut. Rea hanya yang tidak ingin ada kejadian aneh lagi yang nantinya akan membuat mereka kembali lagi ke tempat itu.


"Eh, Raja!" pekik Leni yang sengaja menaikkan nada bicaranya agar Rea diam dan berarti mengomel.


Raja yang sejak tadi hanya menyimak perdebatan tersebut lantas pura-pura terkejut lalu mendekati mereka.


"Kalian mau ke mana?"


"Pulang lah," sahut Leni. Dia kembali merapikan pot pot yang ada di dalam bagasi mobil. Walau Rea melotot ke arahnya, tapi Leni tidak ambil pusing. "Oh iya, kamu Kapan balik ke Jakarta? Ikut kita aja sekalian. Iya kan, Re??" tanya Leni sambil menyenggol Rea dengan tingkah yang lucu.


"Eh, eum... iya. kamu kapan balik ke Jakarta? apa mau sekalian bareng kami?" tanya Rea gugup. Bahkan tidak berani menatap mata raja.


Raja tersenyum. "Eum, kalian duluan saja. Karena masih ada urusan yang harus saya lakukan di sini."


"Oh begitu." Rea tampak kecewa dengan jawaban Raja.


"Bareng aja kenapa sih, Raja? biar ramai." Leni terus membujuk pemuda itu sambil sesekali melirik ke arah Rea.


Kedatangan Raja berhasil membuka mulut Rea untuk berhenti marah-marah seperti tadi. Usaha Leni patut diacungi jempol.


"Tidak. Terima kasih. Saya masih ada urusan di sini "


" kamu nggak kuliah?" tanya Rea


"Saya sedang ambil cuti 1 minggu."


"Oh begitu."


"Heh! Gimana diskusinya Udah selesai belum?" tanya Hani sambil menjerit di mobil satunya.


Ada 3 buah mobil yang berada di sana. Semua mobil itu memang sengaja di sewa oleh mereka untuk bisa mengantarkan mereka ke bandara. Tugas mereka sudah selesai. Dan mereka sudah sangat ingin pulang ke rumah.


"Udah. Ayo berangkat. Nanti kita kesiangan!" jerit Leni lalu menutup pintu bagasi dan berjalan sambil bersenandung masuk ke dalam mobil. Dia sengaja meninggalkan Rea dan raja di sana.


" mau pulang sekarang?" tanya Raja.


"Iya. Saya juga baru tahu kalau jemputan kami akan datang hari ini. Jadi kamu masih mau di sini dulu, enggak mau ikut kami sekalian pulang ke Jakarta?"


"Enggak, Re. Lagipula Saya sudah terbiasa pulang pergi sendiri. Jadi kamu tidak usah khawatir," sahut Raja sambil tersenyum menatap Rea.


"Oh iya ya. Hehehe."


"Re, buruan masuk!" oceh Leni yang melongok dari kaca jendela.


"Iya, bawel!" omel Rea lalu menatap Raja selama beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Ya sudah, saya pergi dulu, ya."


"Oke. hati hati di jalan."


Rea akhirnya terpaksa berjalan menuju pintu mobil. Namun tiba-tiba dia berbalik, dan masih melihat raja berada di sana. "Saya Boleh minta nomor handphone kamu?" tanya Rea ragu ragu.


"Eum, saya lupa nomor handphone saya. Lagipula handphonenya justru tertinggal di kos-kosan."


"Oh begitu, ya sudah. selamat tinggal," pamit Rea tampak sedikit kecewa dengan jawabannya Raja.


Gadis itu segera masuk ke dalam mobil. Mesin mobil pun dinyalakan, dan mereka semua akhirnya pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2