pancasona

pancasona
39. Rencana kembali ke hutan


__ADS_3

"Maksud Bapak, suara aneh seperti apa? Kok bapak nggak cerita apa apa sama ibu?" protes Retno.


Edi tampak menunjukkan wajah serius. Ingatannya ditarik mundur ke belakang, di mana kejadian itu terjadi. Kala itu, malam terasa panas. Hawa panas itu berasal dari musim kemarau yang akhirnya menghasilkan panas di penjuru tanah air.


Malam itu Edi tidak bisa tidur. Padahal dia tidur awal seperti biasa selepas salat isya. Hanya saja, karena kepanasan, dia akhirnya terjaga dan memutuskan untuk ke dapur untuk mengambil segelas air mineral dingin untuk melepaskan dahaganya.


Suasana rumahnya sudah sepi. Istri dan putrinya sudah tertidur sejak tadi. Sehingga beberapa ruangan tampak gelap karena penerangan yang minim. Edi duduk di meja makan, tanpa penerangan apa pun, hanya mengandalkan lampu dari kamar mandi yang pintunya terbuka lebar.


Edi terbiasa menyendiri jika seluruh anggota keluarganya sudah tidur. Terkadang jika terbangun tengah malam seperti sekarang, Edi lebih suka menghabiskan waktu dengan menonton acara tv malam. Terkadang stasiun tv swasta akan menayangkan film barat yang menjadi favorit Edi untuk menunggu rasa kantuk kembali datang.


Tapi kali ini Edi seakan tidak berniat untuk menonton tv, dia merasa gelisah dan semakin kepanasan. Bahkan kini dia melepas kaus yang tadi dia kenakan, dan menggantinya dengan kaus dalam tipis agar keringat ditubuhnya tidak terlalu banyak.


Di tangannya hanya ada air mineral dingin, yang sudah habis setengah gelas belimbing. Samar samar Edi mendengar suara orang yang sedang menyapu halaman. Dia heran bercampur bingung dengan suara yang didengarnya sekarang. Padahal ini sudah lewat tengah malam, tapi masih ada orang yang menyapu halaman. Hanya saja Edi tidak tahu siapa yang sedang menyapu tengah malam. Dia berniat mengintip apalagi karena suara tersebut berasal dari belakang rumahnya.


Letak rumahnya memang berdekatan dengan rumah saudara-saudaranya yang lain. Jadi tidak ada pagar pembatas yang dimiliki setiap rumah. Di belakang rumah Edi ada rumah adiknya yang baru saja menikah Beberapa bulan yang lalu. Karena adiknya itu adalah kesayangan dari mereka sering menginap di rumahnya. Awalnya ini mengira kalau ibunya sedang kurang kerjaan karena menyapu halaman adiknya tengah malam begini. Apalagi Ibu mereka memiliki riwayat penyakit alzheimer. Yang membuat wanita tua itu terkadang melakukan hal-hal yang di luar kebiasaan normal.


Edi berniat untuk membawa ibunya kembali masuk ke dalam. "Septo pasti sudah tidur, dan Ibu pasti diam-diam keluar rumah. Ya sudah, nanti biar ibu tidur di sini saja," ucap Edi berbicara sendiri.


Tanpa berpikir dua kali Edi membuka pintu belakang rumahnya yang memang terhubung ke rumah adiknya, Septo. Namun Betapa terkejutnya Edi saat tidak menemukan ibunya di halaman rumah Septo, melainkan Ada sosok wanita yang berdiri terbalik di dekat pohon mangga yang ada di belakang rumahnya. Edi langsung menutup pintu dapur dan menguncinya rapat-rapat. Dia langsung sadar kalau sosok wanita yang ada di luar tadi bukanlah manusia. Dan juga dia sama sekali tidak menemukan keberadaan ibunya. Rupanya suara orang yang sedang menyapu halaman tadi bukan berasal dari ibunya, melainkan dari rambut kuntilanak yang ada di belakang rumahnya.


Banyak orang berpikir jika suara asli kuntilanak serupa tawa yang terdengar begitu nyaring. Tak hanya tawa, suara asli kuntilanak juga selalu identik dengan tangis merintih yang terdengar pada malam hari. Namun, ternyata bukan begitu suara asli kuntilanak. Sebab, suara asli kuntilanak ternyata terdengar seperti suara sapu lidi yang bersentuhan dengan tanah.


Edi masih berdiri di belakang pintu. Tubuhnya bergetar karena melihat sosok wanita di belakang rumahnya tadi. Tak hanya suara orang yang sedang menyapu halaman saja, kini Edi mendengar suara lain yang sangat khas dengan suara kuntilanak.


Kuntilanak dikenal dengan suara tawanya yang melengking tinggi. Ia juga kadang terdengar menangis. Uniknya, kuntilanak bisa terdengar baik tertawa maupun menangis dalam jeda waktu yang sangat singkat.


Banyak pengakuan yang menyatakan bahwa kuntilanak berpindah tempat dengan melayang. Ia jarang terlihat berjalan dan lebih sering hanya berdiri atau duduk di ketinggian. Namun ada beberapa saksi yang mengatakan bahwa ia juga bisa berpindah tempat dengan tiba-tiba. Kemunculan kuntilanak sering disertai bau aneh. Baunya kadang terasa seperti bunga kamboja, kadang juga seperti bau bangkai busuk.


Edi terkejut saat ada suara keras yang berasal dari atas rumahnya. Seperti suara ledakan. Biasanya ada beberapa tanda tanda jika sebuah rumah terkena santet. Yang pertama jika terdengar bunyi di atap rumah seperti bunyi kerikil yang ditebar, maka itu adalah tanda bahwa adanya kiriman santet. Biasanya bunyi ini terjadi sekitar jam 12 malam.


Ada suara di atas genting seperti dilempar kerikil merupakan salah satu ciri rumah tersebut sedang mendapatkan kiriman sihir.


Selain suara di dalam rumah, ada suara lain seperti ledakan yang cukup keras. Hanya saja jika dicari sumbernya tidak akan menemukan apa apa. Lalu yang terakhir adalah mimpi buruk.


Pemilik rumah akan mengalami mimpi buruk yang aneh dan terkadang menakutkan.


Jika ini terjadi, maka serangan santet bukan hanya memasuki rumah tapi juga sudah menyerang kepada tubuh pemilik rumah. Mimpi yang aneh-aneh kadang menakutkan. Ini supaya berdampak kepada fisiknya. Edi yang memang masih ketakutan setelah melihat sosok kuntilanak tadi, tidak berani memeriksa keluar rumah memastikan suara apa telah mengejutkan dirinya. Dia justru berlari kembali ke kamar dan berusaha untuk melupakan semua hal itu. Keesokan harinya dia memeriksa halaman belakang rumahnya. Rupanya di tempat kuntilanak tersebut berada gumpalan rambut yang berserakan di halaman belakang rumahnya. Tidak hanya itu saja, Edi bahkan naik ke atas atap rumahnya untuk memeriksa suara yang semalam ya dengar. Lagi-lagi dia tidak menemukan apapun yang mencurigakan Di atas rumahnya. Karena merasa itu bukan sesuatu yang patut untuk dikhawatir kan, Edi melupakan hal itu dan menganggapnya sebagai angin lalu saja.


"Jadi begitu ceritanya," jelas Edi panjang lebar. 


Habibie hanya diam menyimak apa yang disampaikan oleh Edi. Tapi apa yang terjadi pada keluarga Edi tidak bisa dibiarkan begitu saja.


"Banaspati," ucap Habibi yakin.


"Maaf, maksudnya apa, Om?" tanya Leni penasaran.


"Santet banaspati."


Semua orang terkejut mendengar jawaban Habibi.


Santet Banaspati sebuah ilmu santet yang terkenal paling mematikan. Sudah tentu benar sekali, santet yang sangat terbilang ampuh ini kekuatannya pun sangat dahsyat, seseorang yang memiliki ilmu santet Banaspati sudah pasti bukan lagi dukun yang sembarangan. Seperti yang kita ketahui, Banaspati sebuah bentuk Makhluk Siluman di tanah Jawa yang sangat terkenal, jarang orang Jawa yang tidak pernah mendengar nama Banaspati ini"kecuali"balita yang belum bisa berbicara terkadang Anak kecil yang duduk di Sekolah Dasar sudah ditakut-takuti oleh ibunya akan ada hantu Banaspati, karena dari itu Nama Banaspati sangatlah terkenal.Ilmu santet Banaspati dijaman sekarang ini sangat sukar ditemukan pemiliknya, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki ilmu santet kelas tinggi ini.


Jika ilmu ini dikirimkan kepada seseorang, maka akan sangat fatal akibatnya. Tidak perlu menunggu lama begitu ilmu ini sampai kepada penerimanya atas Izin Allah SWT si penerima akan langsung dijemput oleh malaikat Maut, santet tanpa ampun ini sangat sulit untuk ditangkis hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menahan serangan santet Banaspati ini.


Seorang dukun yang akan mengirimkan ilmu ini, terlebih dahulu ia menyiapkan berupa telur ayam yang pertama kali bertelur. Dengan kekuatan ilmu dari sang dukun tersebut maka telur tersebut di bakar di atas api, posisi telur berputar dan melayang sambil sang dukun merapalkan mantra jawa. Posisi telur akan terus berputar-putar dan selalu berada diatas api melayang-layang hingga pecah. Jika sudah pecah bisa dipastikan target yang dituju oleh dukun tersebut sudah di jemput oleh Malaikat Pencabut Nyawa. Sementara cara kerja santet media telur yang tunjukkan kepada keluarga Leni memang cukup ter bilang mudah.  Telur tersebut hanya perlu diletakkan di dalam mobil target, jika sampai telur tersebut pecah, maka seluruh orang yang ada di mobil itu meninggal dunia.


"Sialan! Siapa yang mau membunuh kita sih, Bu!" Leni mulai emosi. Tentu saja dia marah, karena merasa tidak punya musuh selama ini. "Om, siapa orangnya?"


Pertanyaan Leni tidak dijawab oleh Habibi. Pria itu hanya menatap Leni dengan senyum tipis. Padahal Habibi bisa melihat siapa orang itu. Seperti apa wajahnya dan apa yang dilakukan orang itu bisa terlihat olehnya. Tapi Habibi memilih untuk bungkam, karena orang tersebut tidak lain adalah saudara Leni sendiri.


"Sudah. Nggak penting siapa orangnya, yang pasti, kita bisa menghentikan hal buruk yang akan terjadi. Telur ini biar Om yang simpan, nanti biar Om yang urus mengenai orang itu. Kalian berangkat saja sekarang. Hati hati di jalan, ya," kata Habibi sambil mengelus kepala putrinya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun berangkat ke bandara, mengesampingkan kejadian santet banaspati yang hampir mencelakakan mereka. Habib sempat marah tapi dia tidak menunjukkan hal itu kepada orang lain. Dia akan menyelesaikan masalah mengenai santet yang mengincar keluarga Leni dengan cara yang halus.


Begitu sampai di bandara, rupanya teman-teman yang lain sudah ada di sana dan kini sedang berkumpul menunggu Leni dan juga Rea.


"Ya sudah. Ayo, kita masuk pesawat. udah dipanggil soalnya nih. Untung kalian cepat datang. Kalau nggak, kita tinggal nanti," ujar Hana penuh semangat.


" Iya nih. Padahal kalian berdua yang ngotot mau ke sana malah kalian yang terlambat," tambah Hani.


"Iya, maaf. Tadi ada masalah sedikit. Ya udah, kita berangkat sekarang? Eh, cuma ini aja ya?"


"Iya, Re. Kamu tahu sendiri kan Fauzan kemarin kayak gimana. Jadi yang ikut ya cuma kita aja," ujar Dana.


"Biarin aja. Segini juga cukup kok," timpal Diah, menatap semua teman temannya.


Mereka bersembilan akhirnya mulai masuk ke pesawat. Semua sudah siap dengan perbekalan masing-masing dan jauh lebih matang dari sebelumnya. Mereka sudah mengantisipasi jika nantinya akan kembali tersesat seperti sebelumnya. Seperti perbekalan makanan yang cukup, sleeping bag, dan tenda, perlengkapan makan dan memasak, tak lupa mereka membawa walkie talkie. Dana sudah menceritakan perjalanan mereka kembali ke Kalimantan kepada senior yang kemarin ikut dalam tim pencarian. Dan juga dia juga melapor kepada polisi, jika sampai dalam satu minggu mereka tidak kembali, maka mereka berarti butuh bantuan.


Untungnya di kampus mereka ada tim pencinta alam, yang memang dibentuk untuk segala kejadian yang terjadi di alam terbuka. Karena banyak dari mahasiswa yang hobi naik gunung, dan bisa saja tersesat. Jadi para tim pencinta alam ini adalah kelompok terdepan jika terjadi sesuatu pada para mahasiswa di alam liar. Mereka sudah bekerja sama dengan badan penanggulanan bencana dan polisi terkait. Bahkan banyak orang sudah diselamatkan saat tersesat di gunung atau hutan liar. Walau prosesnya tidak mudah, tapi pekerjaan mereka sangat membantu.


Mereka sampai di hutan itu dengan menyewa mobil yang mereka sewa pulang pergi. Untungnya di luar hutan, tepatnya pintu masuk hutan, masih tersedia sinyal ponsel. Jadi saat mereka selesai, maka akan menghubungi pihak pemilik mobil dan mereka pun akan dijemput kembali.


"Nggak sangka, kalau gue bakal datang ke sini lagi. Ckckck." Blendoz berdecak. Entah karena rasa kagum atau sedang merutuki nasib nya sendiri.


"Semua sudah siap, kan?" tanya Dana yang kini menatap hutan lebat di hadapannya.


"Siap!" seru mereka bersama sama.


Mereka justru tampak sangat bersemangat. Tidak terlihat perasaan tertekan atau terpaksa. Padahal mereka pernah memiliki kenangan buruk di tempat itu yang benar benar hampir menyesatkan mereka dan tentu berdampak tidak baik nantinya.


Tapi mendengar cerita Leni yang begitu mengerikan, mereka pun turut iba. Bukan menyalahkan Leni karena telah membawa bunga tersebut, karena bagi mereka apa yang dilakukan Leni adalah hal yang wajar. Bahkan sebelum Leni membawa bunga anggrek hitam, mereka pun mengetahuinya dan tidak mempermasalahkan hal itu. Sehingga saat mereka mengetahui kalau Leni memiliki masalah karena bunga tersebut, tanpa dipaksa pun mereka ingin menemaninya kembali ke hutan guna mengembalikan bunga anggrek hitam tersebut.


Mereka melangkah memasuki hutan. Sekalipun kejadian kemarin mengejutkan serta membuat mereka ketakutan, tapi mereka tidak kapok untuk kembali ke tempat tersebut. Bahkan untuk kali ini justru seperti ingin berlibur, karena mereka mempersiapkan semuanya dengan sangat matang. Bahkan Ita sudah membawa daging sapi slice yang nantinya akan mereka panggang untuk makan malam di hutan.


Mereka masih sangat hafal seluk beluk tempat tersebut. Jalur yang mereka tempuh tidaklah sulit untuk diingat. Ada beberapa pita kuning sebagai tanda ke arah mana jalan keluar, dan juga bisa diteruskan ke tempat di mana mereka tersesat tempo hari.


Semua orang masih sangat bersemangat. Mereka pun bergegas untuk segera masuk ke dalam hutan. Mencari letak di mana Leni mengambil bunga anggrek hitam. Di tempat tersebut memang tidak hanya ada satu bunga anggrek saja, melainkan ada beberapa bunga anggrek yang sejenis. Tapi hal ini hanya mengambil satu karena kecintaannya terhadap tanaman anggrek. Teman-teman yang lain memang mengagumi bunga tersebut Tapi mereka tidak ingin membawanya, karena mereka hanya sekedar kagum tidak ingin memiliki seperti Leni.


Ya udah hampir 1 jam perjalanan mereka tempuh. Mereka mulai memasuki jantung hutan. Suasana sekitar masih sama seperti sebelumnya. Hening. Sunyi. Dan hanya ada suara hewan-hewan seperti serangga. Tapi kali ini mereka bertemu dengan salah satu warga desa. Seorang pria paruh baya sedang mencari kayu bakar.


"kalian lihat dia, kan?" tanya Dana.


"lihat kok. memangnya kenapa?" tanya Hana.


"Oh, kupikir cuma aku saja. Kalau semua lihat, artinya dia manusia!"


"terus kita harus ngapain?" tanya Apri.


"Samperin aja, basa basi kek, atau sapa dia. Kan di sini manusianya cuma kita bersepuluh?"


"Bersepuluh? Satu, dua, tiga ... Sembilan! Ih, cuma sembilan, Han!" cetus Leni.


"Lah itu bapak kagak elu hitung? Kan genap jadi sepuluh, kecuali ...."


"Kecuali apa?"


"Kecuali dia bukan manusia," bisik Hana serius.


"Dih! Jangan nakut-nakutin deh, Han!" protes Apri yang masih takut.


Sesuai dengan saran teman-teman yang lain, Mereka pun dekati pria paruh baya tersebut. Setidaknya untuk menyapanya bukan hal yang sulit. Dan yang paling penting Mereka ingin memastikan Kalau pria itu manusia, bukan makhluk jadi-jadian seperti sebelumnya.


"Permisi, Pak," sapa Dana sambil sedikit membungkukkan badan. Dia berusaha untuk terlihat sopan di depan orang tua.

__ADS_1


"Ya?" sahut pria paruh baya itu sambil menatap mereka satu persatu. Dia tampak kelelahan karena sejak tadi memegangi punggungnya.


" Bapak tinggal di mana?" tanya Dana dengan pertanyaan selanjutnya.


"Oh, Saya tinggal di desa sana," tunjuk pria itu ke arah belakang mereka. "Biasalah, Saya sedang mencari kayu bakar. Kalian sendiri dari mana mau ke mana?"


"Kami dari Jakarta. Sengaja kesini karena ada keperluan."


"mau hiking?" tanya pria itu lagi karena melihat bawaan mereka yang mirip pendaki yang biasa ia temui.


Trekking dan hiking merupakan dua istilah dalam pendakian. Keduanya adalah kegiatan yang digemari oleh pecinta olahraga alam terbuka. Baik trekking maupun hiking memiliki kesamaan, yaitu kegiatan berjalan jauh. Namun, bagi kelompok pecinta alam, keduanya tentu saja berbeda.


Hiking adalah kegiatan berjalan jauh dengan medan yang masih mudah dilalui. Biasanya, hiking masuk ke dalam salah satu kegiatan untuk anak Pramuka.


Jalur hiking sudah dipersiapkan, mulai dari jalan setapak hingga gang sempit. Jalur tersebut termasuk resmi dan memang sudah terbiasa digunakan untuk kegiatan hiking bahkan ada titik-titik untuk istirahat.


Waktu tempuh kegiatan hiking lebih terpantau. Karena biasanya hiking dilakukan oleh suatu kelompok, hiking memiliki timetable. Bisa selesai dalam beberapa jam dan biasanya paling lama adalah sehari. Hal tersebut dikarenakan hiking memiliki jalur yang mudah dilalui dan bertujuan untuk rekreasi.


Akan tetapi, hiking bagi pecinta alam tidak hanya sekadar rekreasi yang mudah dilakukan seperti pada kegiatan hiking oleh anggota Pramuka sekolah. Bertujuan untuk sekadar melakukan hobi atau bahkan meredakan stres, hiking memiliki sensasi tersendiri ketika dilaksanakan. Berlokasi di alam terbuka yang masih begitu sejuk, hiking tentu saja harus dilakukan dengan persiapan fisik yang bagus.


Jika hiking bisa disebut sebagai rekreasi berjalan jauh, trekking juga demikian adalah. Namun, medan yang dilalui ketika trekking tidak bisa diprediksi seperti hiking. Biasanya, trekking dilakukan di pedalaman suatu daerah yang masih kurang terjamah oleh wisatawan, bahkan penduduk aslinya pun sedikit.


Jalur trekking lebih panjang dengan rute perjalanan di daerah yang masih minim sarana. Menempuh jalur dari satu daerah ke daerah lain tentu saja membuat waktu perjalanan trekking tidak bisa diprediksi, bisa beberapa hari hingga melebihi sepekan.


"Betul, Pak. Kami mau hiking."


Dia memperhatikan Dana dan teman-temannya. Sambil merapikan kayu bakar yang telah dia kumpulkan, pria itu juga menceritakan kalau dia sering bertemu dengan pendaki yang melakukan hiking seperti mereka.


"Dan, istirahat dulu yuk," bisik Ita sambil memijat kakinya yang pegal.


Dana memperhatikan teman temannya yang memang tampak kelelahan setelah berjalan cukup jauh.


"Ya sudah. Kita istirahat dulu saja. Sambil makan siang, gue juga sudah lapar," ujar Dana sambil memperhatikan sekitar, guna mencari tempat untuk duduk dan memasak makanan. Karena dia ingin meneguk secangkir kopi sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Karena perjalanan mereka memang masih agak jauh. Jadi mereka perlu mengisi tubuh dengan asupan yang membantu stamina terjaga. Apalagi Dana memang penggemar kopi dan kini dia membutuhkan kopi untuk bisa lebih segar. 


Mereka mulai menurunkan barang bawaan, lalu menyalakan kompor portable untuk merebus air. Melihat pria paruh baya itu masih ada di sana, Rea pun berinisiatif mengajaknya makan siang bersama. 


"Bapak sudah makan siang?" tanya Rea pada pria tersebut. Dia yang sedang mengikat kayu bakar lantas mendongak.


"Wah, tentu saja belum. Ini saya mau pulang, karena sudah lapar. Lagipula sudah siang, rasanya kayu yang saya kumpulkan sudah cukup hari ini," ucapnya sambil mengelap peluh di dahi.


"Kalau gitu ikut kami makan siang saja, Pak. Kebetulan kami bawa bekal yang banyak," kata Rea menawarkan diri.


"Ah, tidak usah, Nak. Untuk kalian saja. Karena kalian pasti akan lebih membutuhkannya nanti."


"Oh, begitu. Omong-omong desa tempat tinggal bapak apakah jauh dari hutan ini?" tambah Rea lagi dengan pertanyaan lain yang memang ingin dia ketahui. 


"Tidak terlalu jauh kok. Hanya sekitar lima kilometer saja. Desa tempat saya, adalah desa terdekat dari hutan ini. Jadi saya memang sering ke hutan ini."


"Oh, bapak sering ke sini, ya? "


"Iya, minimal satu minggu satu kali, Mba."


"Seminggu sekali, ya, Pak. Eum, kalau begitu bapak sudah banyak mendengar mengenai banyak hal yang terjadi di hutan ini, ya?" Pertanyaan Rea menggelitik hati pria tersebut. Sampai-sampai dia menghentikan pekerjaannya dan menatap Rea dengan kerutan di dahi. 


"Yah, sepertinya begitu. Memangnya ada apa, Mba? Apakah ada kejadian di hutan ini sebelumnya?" tanyanya penasaran. 


"Iya, Pak. Kami kemarin sempat tersesat di hutan ini, untung saja kami berhasil ditemukan tim penyelamat," sambar Diah yang sejak tadi menyimak obrolan Rea dan pria tersebut. 


"Oh, jadi kalian, ya? Anak kuliah yang tersesat dah sempat hilang berhari-hari di sini?" 


Mendengar hal itu, mereka cukup terkejut karena pria tersebut justru mengetahui hal yang telah menimpa mereka tempo hari.

__ADS_1


__ADS_2