pancasona

pancasona
Part 105 Pengorbanan Bajra


__ADS_3

Black Demon Coorporation.


Sebuah perusahaan yang bergerak dalam kegiatan eksport dan import ini berpusat di Ibukota. Sebuah perusahaan besar dengan nama BD Coorporation. Tidak ada yang tau kalau BD Coorporation ini adalah perusahaan dengan 2 jenis bisnis yang berbanding terbalik. Ibaratnya saat matahari muncul, kantor mereka aktif dan mampu membuat perekonomian berkembang pesat. Dalam pasar saham perusahaan itu mampu membuat terobosan baru dan banyak memenangkan saham dari berbagai perusahaan lain. Tapi itu berbeda saat gedung itu sudah tutup. Mereka masih beroperasi tapi dengan cara berbeda. Sisi gelap kini mereka tunjukkan. Mereka memiliki nama besar di pasar gelap internasional. Terlibat dengan penjualan senjata api ilegal, human traficking, sampai situs deep web. Mereka membunuh manusia yang dianggap lemah dan sebagian suruhan orang yang mempunyai uang. Membunuh dengan cara tak biasa. Entah dibuat seperti misteri, memutilasi, atau bahkan dibuat seakan pembunuhan yang mampu menggegerkan dunia. Mereka melakukan itu karena semata-mata untuk menghilangkan dahaga para orang kaya yang tidak punya kerjaan.


"Apakah mereka Black Demon yang sama?" tanya Adi, berbisik. Padahal suaranya dapat jelas didengar semua orang yang ada di sini. Namun ia hanya fokus pada Gio, karena hanya Gio yang tau sejarah Black Demon.


"Nggak tau, Di. Yang jelas, mereka sama berbahayanya. Kalau pun mungkin mereka Black Demon yang dulu, pasti mereka ini generasi baru. Dan niat mereka akan sama seperti pendahulunya. Hanya saja pasti caranya berbeda, iya, kan?"


"Tunggu dulu. Black Demon yang dulu? Maksud kalian apa?" tanya Nabila, penasaran.


Gio, Adi, dan Abimanyu saling pandang. Abi kemudian menyingkir karena merasa ini bukan hak nya untuk bercerita. Ia hanya tau dari ayahnya, itu pun simpang siur. Gio melirik ke Adi, menandakan kalau Adi yang harus menceritakan perihal Black Demon.


"Kalian pasti penasaran, kenapa Abimanyu bisa selamat dari banyak kejadian. Dia bahkan bisa menyembuhkan dirinya sendiri seperti kemarin. Karena ini ada hubungannya dengan black demon ingin kalian tau."


"Dia menjadi pengikut iblis?" tanya Rizal, menunjuk ke Abimanyu yang duduk di kursi dekat jendela, menatap sekitarnya. Pemandangan alam memang selalu menenangkan bagi dirinya, di tengah rasa gundah yang masih mengusik pikirannya.


"Hust! Sembarangan Ini bocah!"


Akhirnya Adi menjelaskan semua tentang Abimanyu beserta asal usulnya. Lagi. Pemuda itu mendengar semua kisah itu terulang. Ada nyeri dalam dadanya mendengar kisah kedua orang tuanya, dan kini ia hanya bisa mendengar saja. Sosok panutan untuk dirinya sendiri dan orang sekitarnya yang tau bagaimana sepak terjang Arya, Nayla, dan Wira. Tentu juga tentang asal usul Black Demon.


"Jadi Black Demon yang sudah kalian bunuh dulu, masih ada?" tanya Rizal.


"Nah kita nggak tau apa Black Demon ini sama dengan apa yang kami hadapi dulu atau hanya namanya saja yang kebetulan sama. Untuk membuktikan kita harus ketemu langsung."


"Tapi mereka nggak bisa mati, kan?"


"Dan kita punya Abimanyu, kan?"


_______


Nabila memamerkan keahliannya. Memasak. Yah, memang bukan hal yang aneh kalau wanita bisa memasak. Setidaknya ia bersikap layaknya chef terkenal. Membuat Gio dan Adi kewalahan membantu Nabila yang lebih mirip ibu tiri. Bajra harus mengganti pengharum ruangan di sebuah sekolah, dan membiarkan tamunya menguasai harta bendanya selama beberapa jam. Semoga saja saat pulang nanti Bajra tidak terkena serangan jantung melihat dapurnya berantakan.

__ADS_1


Rizal yang paham bagaimana kekasihnya memilih menghindar saat perintah bantuan memasak ia luncurkan beberapa menit lalu. "Aku mau ngobrol sama Abimanyu. Ada hal penting. " Kalimat itu mampu meyakinkan Nabila kalau Rizal memang memiliki hal yang lebih penting ketimbang membantunya memasak. Alhasil Gio dan Adi kini menjadi asisten pribadi Nabila. "Pastanya jangan terlalu lembek! Ulangi!" Itu baru satu keluhan, dan Nabila berencana memasak banyak makanan untuk malam ini.


Rizal terkekeh pelan, saat berjalan menuju Abi yang memilih menikmati udara malam di balkon ruang tengah. Rumah ini cukup nyaman. Tenang dan membuat mereka sangat menikmati hidup yang sempat rumit beberapa saat lalu. Rizal mendekat, duduk di samping Abi. Abi diam, bahkan tak menoleh barang sedetik saja. "Kopi," kata Rizal, menyodorkan secangkir kopi panas yang baru ia buat. Di tangan kanannya ia sudah meneguk kopi miliknya sendiri.


"Thanks." Aroma kopi ia hirup dalam-dalam. Tenang. Ia menoleh ke sang pembuat kopi. "Enak."


"Yakin? Oh siapa dulu dong," ucap Rizal bangga pada dirinya sendiri.


Kembali hening.


"Eum, gue ikut berduka cita soal orang tua lu. Nggak nyangka, mereka meninggal dengan cara seperti itu. Dan sorry kalau sikap gue kadang bikin elu kesel." Obrolan dua pria ini mengalir. Mencoba saling mengerti satu sama lain. Memperbaiki hubungan yang sejak awal agak canggung. Rizal awalnya merasa cemburu saat melihat Abimanyu dan Nabila dekat. Walau sikap Abimanyu memang terkesan dingin, tapi ia merasakan kalau ada sesuatu yang menarik dalam diri Abi yang membuat orang ingin selalu dekat dengannya. Ia cemas kalau Nabila akan berpaling darinya, karena kehadiran Abimanyu.


"Hahaha! Jadi elu kira gue sama Nabila ada hubungan?" tanya Abi dengan tawa meledak. Rizal berusaha menutup mulut Abi karena malu jika apa yang ia pikirkan akan sampai di telinga Nabila. "Gila lu! Jangan kenceng-kenceng ketawanya, kuyak!" omel Rizal dengan berbisik.


"Astaga, Zal. Pantes saja, kalau liat gue elu sinis banget. Sorry saja ya, gini-gini gue punya pacar. Cewek gue ini lebih cantik dari Nabila," jelas Abi. Sebenarnya ia tidak yakin kalau hubungannya dengan Ellea masih bisa disebut 'pacaran'. Mengingat mereka sudah tidak ada komunikasi sama sekali. Bahkan mendengar kabar gadis itu pun sudah tidak pernah lagi. Tapi demi menjaga perasaan Rizal, ia terpaksa mengatakan hal itu.


"Ya wajarlah, Bi. Elu cakep. Pinter. Mana ada cewek yang nggak jatuh cinta. Eh cewek lu orang mana?"


"Dia lagi ke luar negeri. Ibunya sakit. Jadi fokus merawat ibunya dulu. " Ia kembali meneguk kopi buatan Rizal. Memang kopi ini lumayan enak. Rizal berbakat membuat kopi. Mungkin kalau Rizal sudah tidak bekerja menjadi polisi mereka bisa jadi partner kerja. Lagi pula semua pegawai cafe yang ia rekrut, ternyata musuh dalam selimut. Abi bagai dikhianati. Sakit, tapi tidak berdarah.


Kembali Abi terkekeh dan hampir tersedak karena kopinya yang menyangkut di tenggorokan. Ia menoleh ke Rizal dengan tampang lucu. "Ya sakitlah. Dipikir kalau gue bisa nyembuhin diri artinya luka itu nggak sakit? Hampir mati gue, Zal. Sakitnya sama."


"Enak dong, Bi. Nggak bisa mati?"


"Di enakin aja lah. Lagian mungkin memang ini udah takdir Tuhan. Dengan kemampuan gue ini, berkali-kali gue hampir mati, tapi masih bisa selamat sampai sekarang. Dengan konsekuensi, masalah terus datang ke gue. Tugas gue harus selesaikan semua itu. Mungkin memang itu alasan kenapa gue hidup di dunia ini."


"Iya, memang itu takdir. Menjadi seseorang yang seperti elu itu ngga mudah. Gue salut sama elu, elu kuat, Bi. Elu juga nggak egois. Gue beruntung bisa kenal sama elu, banyak hal yang gue pelajari dari elu."


"Lebay, lu, ah. Nabila kelar masak belum?" tanya Abi menatap ke arah dapur. Rizal melakukan hal yang sama. "Sayaang, sudah belum? Lapar," jerit Rizal.


Mereka sudah duduk rapi di kursi meja makan. ada beberapa jenis makanan di atas meja. Semua adalah hasil karya mereka bertiga. Nabila, Gio, dan Adi. Saat akan memulai makan, suara mobil Bajra terdengar di luar. "Balik dia? Pas banget waktunya makan," kata Gio menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


Tapi setelah ditunggu beberapa lama, Bajra malah tak kunjung masuk. Mereka agak cemas, sampai akhirnya Gio beranjak untuk memeriksanya. Sampai dekat pintu, Gio ragu untuk mendekat lagi. Suasana di luar rumah terasa aneh. Sangat sunyi. Ia yakin ada yang tidak beres. Gio menoleh ke teman-temannya seolah minta persetujuan, apakah pintu ini harus dibuka atau tidak. Mereka yang akan makan akhirnya merasa kalau keadaan di luar memang aneh. Adi menyusul Gio, Abi dan Rizal hanya berdiri mematung di tempat mereka.


Gio mengangguk pada Adi. Korden pintu ia buka pelan. Di luar ada Bajra yang berdiri dengan tatapan aneh. Gio yang memperhatikannya lantas hanya diam sambil mengamati keadaan di luar. Tapi tiba-tiba Bajra batuk, dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Gio yang melihat hal itu lalu segera membuka pintu. Adi yang akan menahannya malah terlambat. Bajra ada di depan mereka dengan kondisi berantakan. Terlihat banyak luka lebam dan darah di sekitar wajahnya. Kakinya ditekuk satu, menandakan kondisinya tidak bisa berdiri tegak. Ia terluka. Tangan Bajra memegangi perutnya sejak tadi. Gio mendekat dan bertanya apa yang terjadi. BAjra hanya mengedipkan matanya sekali lalu roboh menabrak tubuh Gio. Di saat itu ia bisa melihat kalau Bajra tertusuk sebuah pisau di perutnya.


"Lari," bisik Bajra dekat ditelinga Gio.


"Apa? Lu kenapa, Jra?! Siapa yang ngelakuin ini?!" raung Gio yang melihat temannya sekarat.


"Gi! Lari!" Adi menarik tubuh Gio yang masih memeluk Bajra. Dan sebuah tembakan melesat mengenai pipi Gio. Nyaris saja. Gio menatap ke arah datangnya peluru dengan penuh kebencian. Tubuhnya bergetar, dengan wajah yang merah padam.


"Paman, masuk ke dalam!" jerit Abimanyu yang kini memegang senapan MG3 dan mulai menembak secara brutal ke halaman yang ia sebut hutan itu. Di saat bersamaan hal itu di manfaatkan Adi untuk menarik Gio masuk ke dalam rumah. "Bajra, Di!" jerit Gio yang meminta agar tubuh Bajra juga di bawa masuk, walau sebenarnya ia sudah tewas.


Acara makan malam yang sudah dirancang Nabila gagal total. Kini ia malah memegang senapan dan mulai menembak satu persatu musuh di luar. Namun amunisi yang makin menipis membuat mereka kebingungan. Bajra memiliki banyak senjata, tapi tidak untuk peluru. Dan senjata tanpa peluru itu suatu kebodohan. Senjata ini memang koleksinya sejak dulu, tapi karena kehidupannya yang aman - aman saja sejak tinggal di sini, membuatnya tidak kembali menyetok amunisi seperti biasanya. Ia sering memakai senjata hanya untuk menembak tikus atau **** hutan.


"Kita kehabisan peluru, bagaimana dong?" tanya Nabila yang bersembunyi di balik sofa. Musuh masih menghujani mereka dengan ratusan peluru. Berdiri sedikit saja, maka nyawa mereka taruhannya.


"Kita harus pergi, tapi bagaimana caranya?" Rizal menambahi. Adi menatap sebuah pintu yang ada di dekat dapur. "Nggak ada jalan keluar lain, sekalipun kita bisa keluar lewat pintu itu, tapi mereka sudah mengelilingi kita!"


"Adi benar. Kita tetap akan mati," sahut Gio, putus asa.


"Nggak. Aku ada ide," kata Abimanyu. Semua tau kalau ide Abi kali ini pasti gila. "Aku mengecoh mereka, sementara itu kalian keluar lewat pintuu belakang. bagaimana?"


"Elu mau mati, Bi?" omel Rizal tak sependapat dengan ide barusan.


'Kan elu tau gue nggak bisa mati. Begitu sampai ke tanah, semua bisa dikendalikan. Ok, baiklah." Abi menyiapkan senjatanya, tanpa meminta pendapat mereka lagi. Menjawab pertanyaan yang ia ucapkan sendiri. Abimanyu memang gila. Pemuda itu berdiri, menembak dan terus mendekat ke pintu. IA meraih sebuah lempengan besi dan membuatnya seperti perisai untuk melindungi tubuhnya. Sampai luar tembakan mereda bahkan berhenti.


"Ayo! Kita pergi!" ajak Rizal ke Nabila.


"Enggak! Gimana kalau Abi mati, Zal?"


"Nggak mungkin. Percaya aja sama dia. Kita harus pergi. Kalau kita semua mati di sini, pengorbanan kita akan sia-sia." Mendengar penuturan Rizal, Nabila lantas menurut dan mereka berdua keluar lewat pintu belakang. Abimanyu terdengar bernegosiasi pada kelompok penyerang itu. Gio yang masih dalam suasana berkabung, lantas ditarik Adi dan menyusul Nabila dan Rizal.

__ADS_1


"Maju kalian!" tantang Abimanyu yang tiba-tiba sudah memakai rompi dengan banyak tombol dan diidentifikasis sebagai bom. Semua musuh diam. Nyawa mereka juga terancam jika Abi meledakan diri mereka sendiri.


"Siapa yang menyuruh kalian atau kuledakan bom ini?!" ancam Abimanyu.


__ADS_2