pancasona

pancasona
Part 198 Kastil Archanum


__ADS_3

Hai semua pembaca setia Pancasona, maaf ya kemarin libur beberapa hari. Ada beberapa kendala menulis. Sistem kebijakan mangatoon sedang banyak merugikan penulis. apalagi sistem levelnya, kalau level saya turun terus saya akan berhenti menulis di sini. Nggak mudah menulis sesuai target, kalau hasil jerih payah saya nggak dihargai, buat apa saya bertahan to? Curhat dikit.


Sekarang saya kembali lagi. Sambil menunggu kebijakan baru yang semogaaa saja tidak merugikan kami, penulis mangatoon. Here we go. Sampai di mana kita kemarin yak. wahahaha. aku luvaaa.


    _________


Mereka kini berada di sebuah pom bensin, selain untuk mengisi bahan bakar, mereka juga perlu mengisi perbekalan mereka yang sudah mulai menipis. Perjalanan kali ini berada di nun jauh di sana. Sebuah negeri yang berada beratus mil jauhnya dari tempat tinggal mereka. Atas keahlian Gio, mereka dapat menuju tempat itu tanpa harus mengurus hal remeh seperti pasport dan kartu kependudukan. Karena salah satu team mereka tentu tidak memiliki surat kependudukan karena statusnya yang tidak diakui oleh negara mana pun.


Wira duduk di ruang tunggu pesawat. Ia memang duduk sendirian, tetapi di kursi lain ada Ellea dan Abimanyu tengah berbincang ringan, dan di sisi lain ada Arya dan Nayla, dengan kepala Nayla yang kini berada di pangkuan Arya. Gadis itu terlihat mengantuk dan sangat kelelahan. Ini adalah pesawat pribadi milik seseorang kenalan yang sangat Gio kenal. Teman lama dan salah satu teman terbaiknya. Gio sedang mengobrol dengan teman lamanya itu cukup lama.


Sampai akhirnya Gio keluar dari ruangan khusus itu, lalu tersenyum lebar. Dan membuat teman temannya kebingungan, walau sebenarnya mereka sudah melihat adanya angin segar untuk perjalanan mereka nantinya. Gio mengangguk dengan barisan gigi putihnya dan jempol yang mengacung. Kelima temannya itu bersorak bahagia.


Mereka akan naik pesawat ini untuk sampai ke tempat tujuan mereka selanjutnya. Kastil Archanum. Pesawat pribadi ini sangat nyaman, bahkan ini kali pertama mereka berada di transportasi mewah ini. Kursi yang empuk, dilengkapi dengan fasilitas pesawat VIP, mereka tidak perlu kelaparan, karena ada pramugari yang melayani semua kebutuhan makanan mereka. Wira dan Gio duduk bersebelahan, di depan mereka sudah ada berbagai makanan lezat yang baru saja di sajikan oleh pramugari. Di sisi sebelahnya, ada pasangan abadi yaitu Arya dan Nayla. Nayla memeluk lengan Arya dan bersandar di bahu pemuda itu. Keduanya diam, hanya menikmati pemandangan langit dari jendela samping mereka. Sementara itu di belakang mereka ada Abimanyu dan Ellea sedang mendiskusikan sesuatu. Sebelum naik pesawat, Allea memberikan kabar kalau kehamilannya sudah memasuki trimester ketiga, dan perutnya yang sudah membesar mulai membuatnya kesulitan bergerak. Butik milik saudara kembar itu, terpaksa harus Allea jual, karena dirinya tidak mampu mengurus tempat itu seorang diri. Dan sekalipun dia merekrut karyawan, sudah beberapa kali karyawannya justru membuat butik kacau. Tentang cara kerjanya yang berantakan, stok barang yang makin lama tidak jelas, bahkan pernah terjadi pencurian.


"Aneh aja, Biyu, kenapa mereka mencuri di butik! Sementara di seberang itu, kan, toko perhiasaan. Yang lebih masuk akal untuk dicuri," geram Ellea dengan sedikit mengecilkan suaranya. Ia tidak ingin yang lain merasa terganggu atau bahkan ikut memikirkan hal tersebut.


"Eum, mungkin karena pencuri itu melihat keamanan butik yang minim, sayang. Makanya dia dengan mudah mencuri di butik kalian. Tapi karyawannya baik baik aja, kan? Kerugiannya berapa?"


"Karyawannya baik baik aja. Kerugian mungkin nggak banyak, karena setoran uang kebetulan setiap seminggu sekali masuk bank. Dan baru kemarin Allea setor ke bank. Tapi baju baju butik semua rusak. Di robek robek. Huh, kasihan Allea. Dia pasti stres!"


Abimanyu diam sesaat. Dia juga merasa bersalah karena membuat keadaan ini kacau. Kalau saja Ellea tidak ikut perjalanan ini, mungkin kejadian di butik tidak akan terjadi.


"Ell, gimana kalau kamu pulang aja. Nanti aku anter kamu pulang setelah kita balik dari kastil itu. Biar kamu di rumah aja, dan tunggu aku pulang," jelas Abimanyu serius.


Ellea menatapnya dingin lalu menggeleng cepat. "Enggak! Aku mau ikut kamu! Apa pun yang terjadi."


"Tapi, Ell ...."


"Biyu, kamu tau nggak? Kalau kita berdua yang harus mengakhiri semua ini. Abimanyu kembali diam, berusaha mencerna kalimat Ellea barusan.


"Hm, ya kita memang harus bersama sama menyelesaikan semua ini. Tapi kalau kamu menunggu di rumah aja, nggak apa apa kan, sayang? Aku juga khawatir kalau terjadi sesuatu nanti."


"Biyu, kita berdua yang akan mengakhiri semua ini. Ngerti?"


"Maksud kamu apa, Ell?" tanya Abi curiga. Ellea diam, pandangannya beralih ke jendela sampingnya. Sikap Ellea yang hanya diam menanggapi pertanyaannya, membuat Abimanyu menjadi dirundung rasa penasaran yang dalam. Perkataan Ellea tidak mungkin tanpa dasar yang kuat. Apalagi sikapnya yang seolah tidak mau membahasnya membuat Abi justru semakin ingin mengetahui alasannya berkata demikian.


"Ellea?" panggil Abimanyu lagi dengan suara pelan, tangan Ellea ia raih dan tentu membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Sorot mata Abi dalam namun tegas, meminta penjelasan lebih dari semua perkataan Ellea yang menurutnya agak aneh.


Bibir Ellea bergetar, ia menggigit bibirnya sendiri seolah menahan rasa sakit. Ia lantas menoleh dan berusaha menarik kedua sudut bibirnya. "Aku bermimpi."


"Mimpi?"


"Iya, mimpi aneh, Biyu. Anehnya mimpi itu terus terulang berkali kali sekarang. Setiap malam aku selalu memimpikan hal yang sama. Bahkan setiap detailnya bisa aku hafal dan sudah bisa menebak kalau setiap aku memejamkan mata waktu malam, aku pasti akan melihat hal itu."


"Apa? Apa yang kamu lihat, El?"


Ellea tak langsung menjawab, ia kembali menatap kekasihnya dengan tatapan getir. "Kita, yang akan mengakhiri semuanya, walau pada akhirnya akan banyak orang yang dikorbankan."


"Banyak orang yang dikorbankan?"


"Iya. Jadi, kalau aku nggak ikut perjalanan ini, semua akan percuma. Jadi mau nggak mau, aku harus ikut, aku dan kamu," jelas Ellea tegas. Ia kembali menatap ke jendela sampingnya. Menyaksikan barisan awan yang terhampar luas bak permadani langit yang indah.


Pesawat mereka akhirnya landing dengan mulus. Perjalanan mereka sudah sampai pada titik di mana tempat yang mereka tuju berada. Berbeda dengan tempat tempat sebelumnya, kini kastil Archanum justru berada di pusat kota. Bahkan terletak di tempat yang banyak sekali orang bisa melihatnya.


Berada di tengah pusat kota dan cukup ramai lalu lintas yang ada di sekitarnya. Mereka saling pandang begitu melihat bangunan besar itu dari kejauhan. Sampai akhirnya mereka berada di gerbang kastil yang juga sama ramainya dengan kondisi di jalan raya sekitar. Beberapa rombongan terlihat memadati halaman kastil dengan seorang tour guide yang menjelaskan tentang sejarah kelam bangunan tua tersebut. Lalu tiba tiba ada seorang wanita yang berdiri di hadapan mereka dengan senyum mengembang. "Kalian rombongan Pak Jerry?" tanyanya ramah. Mendengar nama tersebut di ucapkan Gio segera menerobos teman teman yang berdiri di depannya, ia lalu mengulurkan tangan. "Iya, betul. Saya teman Pak Jerry, Anda pasti yang akan memandu kami di kastil ini, kan?"


Wanita muda tersebut menyambut uluran tangan Gio, dan mengangguk semangat. "Saya Kattie, saya yang akan menjadi tour guide kalian, selama datang di kastil Archanum," katanya sambil melebarkan tangan kanannya dan menunjukkan di mana bangunan itu berdiri. Bangunan tua, megah, dan memang cukup indah di zamannya, tapi kini terlihat suram dan mengerikan. Pengelola sengaja melakukan hal itu untuk menambah kesan mistis dan kuno. Begitu kata Kattie.


Mereka mengikuti ke mana pun langkah Kattie, sebagai seorang tour guide dia merupakan wanita yang cakap dan berbakat. Penjelasannya sangat mudah dimengerti bahkan sampai membuat mereka cukup kagum pada sejarah yang terjadi di tempat ini. Saat masuk ke dalam, mereka langsung disuguhi suasana Kelam. Walau cat tembok sudah diganti dan tidak begitu pudar. Tetapi warna yang dipilih justru membuat suasana terasa sama seperti awal kastil ini didirikan. Kesan yang sama dan terasa tetap sama membuat penghuninya tetap berada di dalam. 


Penjelasan Kattie tidak mereka dengarkan dengan baik, mereka hanya diam sambil memeriksa sekitar. Mencari di mana benda yang mereka cari berada. Tiap sudut ruangan selalu membuat mereka terpana, lantaran perabotan yang masih asli dan terkesan kuno membuat mereka takjub. Ada beberapa lukisan dan tentu hiasan dinding yang terlihat bernilai seni tinggi.


Kastil ini merupakan salah satu kastil besar berhantu yang terletak di pusat kota Edinburgh. Kisah menyeramkan seolah sudah menjadi legenda di kota tersebut. Beberapa roh yang sering muncul antara lain hantu anjing yang sering menggonggong di malam berkabut, penabuh drum tanpa kepala yang sering lalu-lalang di koridor, dan hantu Lady Gladis yang dibakar masa karena ilmu sihir tahun 1537, dan masih sering terdengar suaranya di malam hari. Dengan kondisi cuaca Edinburgh yang sering hujan, lembab, dan berkabut, kastil megah ini makin terlihat dan terasa menyeramkan, apalagi setelah jam 5 sore.


Kabar tentang Lady Gladis, salah satu penghuni kastil memang cukup menggemparkan semua rakyat saat itu. Wanita muda itu adalah salah satu putri raja yang mempelajari ilmu sihir dan melakukan banyak ritual sesat. Bahkan berkali kali ada rakyatnya yang mati dengan tidak wajar. Sang raja yang mengetahui kelakuan putrinya, selalu menutupi semua perbuatan Gladis. Sampai akhirnya ada pemberontakan massal yang dilakukan rakyat dan menyerang kastil, membunuh semua anggota kerajaan terutama Lady Gladis. Wanita itu dipanggil penyihir dan segera diikat di sebuah balok kayu dengan bentuk salib seperti Yesus, mereka lantas membakarnya hidup hidup. Kematiannya yang tidak wajar, membuat arwahnya tentu tidak tenang dan terus berada di kastil bahkan sampai sekarang.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Kabut sudah mulai muncul karena gerimis sudah mulai turun sejak satu jam lalu. Beberapa pengunjung sudah mulai pergi karena kastil memang tidak dibuka untuk umum saat malam hari. Dengan alasan penerangan yang minim dan juga keadaan bangunannya yang masih menyimpan banyak sisi horor di dalamnya. Pengelola tidak ingin ambil risiko jika terjadi hal hal yang tidak di inginkan nanti dan juga tidak mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan pengunjung di luar jam berkunjung. Karena banyak dari pengunjung gelap yang bernasib naas saat nekat masuk dan berada di dalam kastil setelah gelap.


Kattie lantas mengakhiri sesi jalan jalan mereka dan mengantar sampai ke gerbang. Abi dan teman temannya tentu masih terasa berat untuk pergi, mereka hanya diam sebentar sambil menatap ke gedung di belakang mereka. Kattie melambaikan tangan melepas kepergian mereka. Sementara mereka memang bersiap angkat kaki, tetapi itu hanya kamuflase belaka. Karena kini mereka masih berada di dekat kastil. Memperhatikan dan menunggu tempat itu benar benar sepi.


Mereka memutuskan menunggu di sebuah cafe tak jauh dari kastil. Di tempat ini juga kastil akan terlihat jelas, karenanya cafe ini cukup ramai pengunjung. Pemandangan kastil saat malam hari dan dari jarak jauh, membuat tempat itu mirip setting film horor yang mengerikan.


Caravan milik panitia tour mulai meninggalkan halaman kastil. Ini menandakan kalau tempat itu sudah kosong. Namun mereka melihat kalau gerbang di depan susah digembok dengan rantai yang cukup tebal. Tapi itu bukan masalah bagi mereka tentunya.


"Kalian lihat nggak di mana kunci yang kita cari itu?" tanya Gio sambil melahap sphagetti bolognes miliknya.


"Aku belum lihat. Padahal aku udah pelototin itu tiap perabotan di sana. Dari patung, lukisan, lemari, semua nggak ada!" sahut Nayla. Ia lalu menyeruput lemon tea hangat yang memang sangat cocok di udara dingin seperti sekarang. Apalagi karena minuman ini memang kesukaannya.


"Yang lain gimana?" tanya Gio lagi.


"Sama. Aku juga nggak lihat di mana benda itu." Ellea mulai gusar, mengaduk sedotan di minuman yang ada di depannya. Menyeruputnya dengan pelan sambil menatap tempat itu.


"Mungkin kita kurang teliti," ujar Arya.


"Oke, nanti kita lanjutkan mencari ke dalam. Sepertinya kita harus bergerak sekarang. Sebelum terlalu malam," ajak Abimanyu, lalu beranjak dan membayar makanan mereka ke kasir.


Mereka menyeberang jalan raya, dan mulai mendekat ke pagar kastil yang di kelilingi besi di sekitarnya. Gio memimpin dan berjalan ke sudut belakang kastil. Dia sudah memperkirakan tempat di mana mereka akan memasukinya dengan aman tentunya.


Pagar besi di depan mereka memiliki sebuah pintu keluar di bagian belakang halaman. Gio segera membuka gembok besi itu dengan kunci cadangan yang hanya dia saja yang tau dari mana asalnya.


Dengan mudah gembok itu terbuka, mereka segera masuk sambil mengendap endap dan memeriksa sekitar. Setelah dirasa aman, pintu gerbang kecil itu kembali ditutup, tanpa gembok. Karena gembok mereka letakan di bawah pagar besi.


Bagian belakang kastil terlihat lebih rimbun dari halaman depan. Banyak pohon pohon di sekitarnya dan membuat keadaan lebih gelap dan dingin. Sesekali mereka menghentikan langkah karena merasakan sesuatu di sekitar mereka. Namun saat diperiksa, tidak ada apa lun yang mereka temui di dekat mereka.


Sampai di sebuah pintu, yang berada di belakang kastil. Tentu mereka akan masuk dari pintu tersebut, karena pintu depan terlalu mencolok untuk dimasuki pada waktu malam seperti ini. Karena di bahu jalan, masih ramai orang orang yang berkerumun, bersama teman teman mereka, guna menghabiskan malam di tempat angker. Ini adalah hal wajar dan biasa terjadi di depan kastil.


Gio membuka pintu belakang dengan mudah, sama seperti ia membuka gerbang belakang. Saat pintu dibuka, udara dingin yang berasal dari dalam kastil seolah menerpa tubuh dan wajah mereka kasar. Seperti ada angin yang kuat menahan tubuh mereka, tapi tentu ini bukan masalah bagi mereka. Karena kini langkah mereka semakin dalam memasuki kastil. Senter di tangan masing masing, untuk membantu penerangan yang memang sangat minim. Bahkan banyak sekali sudut gelap yang ada di beberapa ruangan. Penerangan di kastil hanya dilengkapi dengan lampu scene switch yang akan meredup sesuai dengan kebutuhan dan tentu akan meringankan biaya listrik di kastil besar ini.


"Kita berpencar!" suruh Wira. Mereka kini berada di sebuah koridor dengan 3 jalur lorong yang berbeda.


"Lu yakin waktunya cukup segitu? Kastil ini besar loh!" elak Gio.


"Yakin. Dan, perasaanku nggak enak. Jadi kita jangan terlalu lama di sini!" Arya lantas menggandeng tangan Nayla dan berjalan ke lorong sebelah kiri. Abi dan Ellea memilih lorong sebelah kanan, dan sisanya tentu Wira dan Gio di tengah.


Tiap lorong akan membawa mereka ke ruangan yang berbeda beda, dan akan berakhir di satu tempat. Yaitu pintu depan kastil.  Abi dan Ellea mulai menjelajah bagian mereka. Kini mereka sudah sampai di sebuah ruang yang terdapat banyak buku bacaan yang sudah usang dan tentu di taruh di sebuah lemari. Buku buku itu terlihat sudah sangat lama dan berdebu. "Kita coba cari di sini. Siapa tau ada ruang rahasia atau kunci itu ada di salah satu buku," tukas Ellea. Abi mendengus sebal, ia menatap rak buku yang lebih tinggi dari dirinya dan dengan lebar satu ruangan ini penuh. Di semua sudut tembok ada lemari buku dan tentu mereka harus memeriksa satu persatu buku buku itu.


Di tempat lain, ada Arya dan Nayla. Mereka kini berada di sebuah ruangan dengan perapian yang masih menyala dengan api kecil. Ada meja besar dengan meja nakas. Juga lukisan lukisan besar di dinding.


Lalu Gio dan Wira berada di sebuah kamar besar dan mewah. Kamar ini adalah milik sang raja. Karena lukisan nya tertempel jelas di tembok dekat pintu lengkap dengan istrinya. Putra putrinya juga ada di lukisan lain, tapi hanya saat mereka kecil saja. Tidak ada lukisan saat anak anak mereka sudah tumbuh dewasa. Mereka juga memeriksa tempat ini.


Seluruh sudut ruangan mereka periksa dan cari dengan teliti. Waktu mereka memang panjang. Bahkan sampai pagi menjelang, tetapi benar kata orang orang, kalau berada di kastil ini terlalu lama, apalagi saat malam hari, bukanlah ide bagus.


Abi mulai merasakan dingin di tengkuknya. Beberapa kali ia menoleh dan melihat ke sekitar. Ia merasa kalau tidak hanya berdua saja di ruangan ini bersama Ellea. Ellea yang masih fokus dengan beberapa buku di depannya tidak merasakan hal aneh seperti Abimanyu. Abi lantas berjalan keluar pintu, ia menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat keadaan di luar ruangan. Namun ia tetap tidak menemukan apa pun di lorong tersebut. Tapi saat Abi menatap ke lantai yang ia pijak, ada beberapa pasang jejak kaki di sana. Jejak kaki itu terlihat seperti kaki yang basah dan berada di ruangan yang sedang ia periksa. Lantai ruangan itu penuh dengan jejak kaki aneh itu. Tentu aneh, karena baik Abi mau pun Ellea mengenakan alas kaki. Jadi telapak kaki siapa yang ada di lantai?


Ellea yang menyadari sikap aneh Abimanyu ikut mendekat ke pintu. Ia menyentuh bahu Abi, sambil ikut menatap ke arah yang pemuda itu lihat. "Ada apa?" tanyanya heran.


"Hm. Enggak. Enggak ada apa apa." Abi memperhatikan Ellea, dan memang gadis itu tidak melihat apa yang ia lihat. Ellea tampak biasa saja dan kembali memeriksa barisan buku di dalam. Abi yang masih bingung lantas ikut masuk, dan kembali mencari kunci tujuan mereka.


Tapi saat mereka sudah larut dalam pencarian, ada suara langkah dan terkesan sedang berlari di koridor lorong. Ellea menoleh cepat, dan Abi pun sama. Mereka berdua sama sama mendengar suara itu. Keduanya lantas keluar dan memeriksa keadaan.


"Kamu dengar, sayang?"


"Denger. Siapa yang lari, ya?" tanya Ellea bingung.


"Yuk, kita cari," ajak Abimanyu.


Mereka mencari suara yang tadi sempat mengganggu. Sampai akhirnya justru mereka malah bertemu dengan rombongan ayah ibu Abimanyu.


"Loh kalian malah ke sini?" tunjuk Arya pada putra dan gadis itu.


"Ayah denger nggak ada orang lari tadi?"

__ADS_1


"Orang lari? Di mana?"


"Ke sini arahnya."


"Masa sih? Perasaan tadi nggak ada siapa siapa selain kalian."


"Gaes!" pekik Nayla melihat ke lantai di bawahnya. Jejak kaki yang sama seperti yang dilihat Abimanyu tadi.


"Apa?" tanya Arya yang kemudian mendekat dan menatap lantai di bawah mereka.


"Itu! Jejak kaki siapa sih?!" tanyanya bingung tanpa melepaskan pandangan dari puluhan jejak kaki tersebut.


"Mana ada?" tanya Arya yang tidak melihat apapun di depannya. Begitu juga dengan Ellea.


"Aku juga tadi lihat di sana. Di ruangan tadi. Tapi Ellea sepertinya nggak lihat."


"Serius, Biyu? Kok kamu nggak bilang?" tanya Ellea.


"Ya habisnya aku nggak bisa kasih bukti tentang apa yang aku lihat tadi. Tapi sekarang ibu juga melihatnya, jadi aku nggak halusinasi, kan?"


"Mungkin ini ulah salah satu makhluk di kastil ini," tebak Nayla.


"Mungkin Lady penyihir itu!"


Sebuah suara riuh terdengar tak jauh dari mereka. Suara benda yang terbanting cukup kencang, membuat mereka berempat segera lari ke arah sumber suara.


Sampai akhirnya mereka melihat Gio yang sedang berada di langit langit kastil dengan kain melilit lehernya. Wira berada di atas meja dengan kondisi remuk semua bagian kayu, seolah karena tubuhnya yang menghantam meja dengan cukup keras. Wira mengerang kesakitan.


Abi segera mencari cara untuk melepaskan ikatan kain di leher Gio. Arya membantu Wira berdiri. Dan Nayla mencari cari hal yang mungkin membuat kawan kawannya tersebut terluka.


"Nay...." panggil Ellea sambil menunjuk lukisan di dinding bergambar seorang wanita anggun. "Matanya gerak!"


"Hah?! Kamu yakin?"


"Yakin!"


Nayla mendekat ke lukisan itu, ia mengamati wanita di dalam lukisan. Dan sontak ia mundur saat melihat bola mata lukisan itu bergerak. Ellea mengambil lukisan tersebut lalu mencari pematik. Di saat semua orang sibuk dengan tugas masing masing, Nayla justru melihat ada sebuah kotak di balik bekas lukisan yang diambil Ellea. Nayla mengambilnya dan membuka kotak tersebut. Matanya membulat dengan senyum lebar. Bahwa apa yang mereka cari ada di dalam sana. Kunci ke lima.


Lukisan sudah dibakar oleh Ellea. Lilitan kain di leher Gio mendadak terlepas. Ia terjatuh namun masih terlihat baik baik saja, walau sambil batuk batuk.


Tapi tiba tiba, kastil bergetar. "Gempa bumi!" pekik Ellea panik.


"Ayok pergi!"


Semua orang berlari mencari jalan keluar lain. Atap seolah akan segera runtuh dan beberapa benda mulai berjatuhan. Mereka kini sampai di pintu depan kastil. Getaran itu makin kencang dan membuat Gio sedikit panik. Berkali kali ia tidak bisa membuka pintu depan dengan kunci ajaib miliknya. "Gimana sih, Gi!" omel Arya. Ia merebut kunci ajaib tersebut lalu membuka pintu dengan segera.


Kini mereka dapat menghirup udara bebas di luar. Dan anehnya, getaran mirip gempa bumi tadi tidak lagi terasa. Dan beberapa detil setelah mereka keluar, suara alarm berbunyi nyaring. Mereka panik dan segera bersembunyi ke semak semak menuju halaman belakang kastil.


______


Penginapan ini sudah disewa untuk tiga hari ke depan. Malam ini sungguh mendebarkan. Tanpa mereka sadari ada beberapa orang yang terluka, walau tidak parah.


Penginapan yang mereka sewa cukup besar dan mampu menampung semua orang. Ellea sedang mandi. Arya sedang bersama Wira dan Gio di balkon samping. Mereka mulai menyusun rencana untuk perjalanan selanjutnya. Abimanyu sedang duduk di pinggir ranjang, tengah mengobati luka di beberapa bagian tubuhnya. Nayla mendekat. "Biar ibu aja," katanya sambil mengambil handuk basah yang sedang digunakan untuk membersihkan luka di beberapa sudut wajahnya. Abi hanya diam dan pasrah mendapat perlakuan dari ibundanya. Nayla dengan telaten membersihkan dan mengobati luka itu. "Apa kamu selalu terluka seperti ini, Bi?"


"Aku baik baik saja, Bu. Karena luka ini akan sembuh sendiri. Aku cuma ...."


"Iya, ibu tau, kamu cuma membersihkannya, kan? Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah kamu selalu terluka seperti ini? Setelah kami pergi?" Nayla menghentikan gerakannya, dan menatap putranya. Sorot mata kedua orang itu terasa memilukan. "Ibu bilang, kehidupan kita nggak seperti orang lain, kan?"


"...."


"Abi sudah banyak belajar dari semua luka ini. Dan memang takdir kita, akan selalu berjuang. Dan luka ini bukan masalah penting."


"Kamu tau, Bi? Ibu bangga dengan semua yang ada di dalam diri kamu. Kamu hebat. Kamu tumbuh dengan sangat baik, walau kami pergi secepat itu."


Nayla segera memeluk putranya. Sungguh haru, dengan air mata Abi yang ikut menetes atas sikap sang ibundanya itu.

__ADS_1


__ADS_2