pancasona

pancasona
Part 145 penemuan mayat, lagi?


__ADS_3

Suara mesin mobil terdengar dari dalam, mereka sengaja membuka kaca mobil agar udara di luar bisa bebas masuk. Ac memang tidak terlalu dibutuhkan saat cuaca cerah, karena kondisi sekitar yang sejuk, membuat mereka lebih suka bernapas bebas dengan bantuan alam, bukan mesin.


"Bi, elu curiga ke Rendra, kan?" tanya Vin, yang duduk di samping Abimanyu yang sedang fokus menyetir.


"Hm, Yah, setidaknya cuma dia satu-satunya manusia yang ada di desa dengan kondisi luka yang sama seperti manusia serigala semalam. Tapi kita nggak boleh gegabah, kan, Vin?"


"Tapi tetap, kita harus selidiki dia. Senggaknya kita dapet satu tersangka untuk masalah ini, kan?"


"Iya sih. Kapan mulai?"


"Ya malam inilah."


Sesuai rencana semula, mereka bertiga kini mulai bergerak ke rumah Rendra. Vin dan Abimanyu menceritakan semua apa yang mereka lihat dan tentu rencana malam ini. Tak sabar rasanya bagi mereka bertiga untuk membongkar kebusukan Rendra, menjadi manusia seutuhnya saat siang hari dan akan berubah menjadi werewolf saat malam hari. Dan perubahan itu yang harus mereka bertiga saksikan sendiri.


Pukul 21.00, mereka mulai pergi menaiki mobil dan berhenti tepat di dekat rumah Yudistira. Mobil mereka tinggalkan dan perjalanan selanjutnya ditempuh dengan berjalan kaki. Tentu mereka ingin benar-benar berhasil dalam upaya penyusupan ke rumah Rendra. Maka dari itu, jalan kaki adalah cara terjitu, menghindari kebisingan suara kendaraan yang akan membuat tersangka melarikan diri.


Sebuah rumah kayu sederhana terlihat berdiri kokoh di tengah rimbunan pepohonan. Ini adalah satu-satunya rumah yang ada di ujung jalan ini. Tidak ada rumah lain, dan itu berarti inilah rumah Rendra. Mereka bertiga bersembunyi di tempat gelap, mengamati setiap pergerakan yang ada di rumah itu. Dari jendela ruang tamu, tampak ada seseorang yang mondar-mandir di dalam. Tapi mereka yakin kalau dia adalah sang pemilik rumah, yang berarti dia adalah Rendra.


Mereka saling memberikan isyarat untuk mendekat ke rumah itu. Karena dari jarak pandang ini, sosok Rendra tidak begitu jelas terlihat. Perlahan tapi pasti, mereka bertiga mendekat. Benar-benar mirip kawanan pencuri yang hendak masuk ke dalam rumah korbannya. Ketiganya kini mulai menempatkan diri di sudut-sudut yang mudah untuk melancarkan aksi mengintip. Jendela rumah ini kebetulan cukup banyak, dan dengan bahan dasar kaca, membuat mereka mudah melihat walau tertutup sedikit korden yang ada di dalam.


Rendra hidup seorang diri. Di dalam ia terlihat gusar. Mondar-mandir ke sana ke mari. Sepertinya ia sangat gelisah. Beberapa kali ia bahkan menatap ke luar. Tepat ke jendela. Seolah pikirannya tidak ada di sini, melainkan di luar rumahnya. Sampai akhirnya, Rendra memutuskan keluar rumah. Karena jarak persembunyian ketiga pria itu terlampau dekat, maka saat pintu dibuka, justru mereka ketahuan. Dan membuat Rendra naik pita,.


"Siapa kalian?!" tanyanya dengan menatap tiga pria yang ada di teras rumahnya. Tangannya meraih senapan angin yang biasa diletakan di dekat pintu.


"Hei manusia serigala, kamu mau ke mana?" tanya Gio blak-blakan. Pertanyaan itu membuat Rendra sedikit tercengang, merasa jati dirinya terbongkar di depan tiga pria yang bahkan ia belum pernah melihatnya. Ah, kecuali satu orang yang sedang menatapnya dingin di sana. Abimanyu. Rendra menatap telapak tangannya yang masih terbalut perban putih dan menatap Abimanyu. Merasa tatapan itu adalah jawaban dari pertanyaan yang ada di benaknya, membuat Abi terkekeh pelan.


"Jadi benar, kalau manusia jadi-jadian yang aku lukai kemarin ... itu adalah kamu?" tanya Abimanyu lantang. Vin dan Gio siaga jika sewaktu-waktu Rendra akan menyerang. Mereka sudah membawa pisau perak di tangan mereka.


"Apa maksudmu?!" elak Rendra, namun sorot matanya menunjukkan kalau ia sangat gugup dan cemas.


"Tanganmu! Kenapa?" tunjuk Abi ke telapak tangan Rendra, pemuda itu langsung menyembunyikan tangan kirinya di belakang tubuhnya. Pertanyaan Abimanyu lebih terasa seperti gertakan agar Rendra segera mengakui apa yang dituduhkan orang-orang ini.


"Ini terluka saat aku kerja." Nada bicara Rendra bergetar, dan itu sangat terasa sekali di telinga mereka bertiga.


"Yah, saat kamu bekerja memakan manusia tengah malam maksudmu?" tanya Gio. Rendra menoleh ke arah Gio, sambil menggeleng cepat.


"Tidak! Aku tidak pernah makan manusia! Tidak lagi!" Pernyataan Rendra membuat dahi setiap orang berkerut. Itu merupakan salah satu bukti kalau Rendra mengakui dirinya memang werewolf.


"Apa maksudmu 'tidak pernah makan manusia, lagi?' Jadi kamu mengakui, kan? Kalau kamu werewolf?" desak Vin sambil mengacungkan pisau perak miliknya.


"Baiklah! Biar aku jelaskan, tapi tolong jangan sakiti aku!"


"Wow, menyakitimu? Justru seharusnya kami lah yang harus berkata demikian, manusia siluman!" geram Gio.


"Tidak! Percayalah. Aku tidak akan menyakiti kalian! Janji." Rendra terus memohon dengan sikap yang akhirnya membuat mereka bertiga melunak. Tapi tetap, waspada dan membuat jarak aman dengan orang itu.


Rendra berdiri di tempatnya, sementara Gio, Vin dan Abimanyu berdiri berdampingan 3 meter dari Rendra. "Kau bukan warga asli desa ini, kan?" tanya Abimanyu mengawali.


"Iya, aku bukan warga asli desa ini. Aku pendatang. Dan, apa yang kalian tuduhkan padaku, memang benar."


"...."


"Kalau aku werewolf!"


"Damn!" pekik Vin sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia bahkan muak jika harus terus menatap Rendra yang memasang tampang tidak berdosa.

__ADS_1


"Jadi kamu yang membunuh Pak Rahmat tempo hari?"


"Bukan. Bukan aku. Aku tidak membunuh siapa pun selama ini. Percayalah!"


"Huh! Percaya werewolf? Kau gila, ya?!" cetus Gio.


"Ah, kemarin, waktu kamu ketemu aku di hutan sana. Aku nggak menyerang kamu, kan?" Rendra mencoba meyakinkan Abimanyu dengan fakta yang memang terjadi kemarin. "Karena aku vegetarian!"


Tawa Gio dan Vin akhirnya meledak, "What?! Werewolf vegetarian? Sangat lucu!" tukas Gio.


"Hei, kau ini mau ikut-ikutan vampir yang ada di buku fiksi, hah?" tambah Gio, dan membuat Rendra menundukkan kepalanya. Tapi Abimanyu justru diam, tak bereaksi seperti dua kawannya itu.


"Tapi apa alasan kamu muncul di depan Lulu? Kamu menampilkan wujudmu, kan? Sampai-sampai Lulu ketakutan?"


"Iya, benar. Dengar! Ada makhluk lain sepertiku yang sedang berkeliaran di desa ini. Dan alasanku kemarin mengikuti gadis itu, karena dia sedang diincar salah satu dari mereka. Aku hanya mau menolong, tidak lebih."


"Apa? Ada makhluk lain selain kamu di sini? Jadi siapa mereka? Jangan menipu kami, ya."


"Dengar! Aku nggak nipu. Aku serius. Kalau memang kedatanganku ke desa ini untuk membunuh warga desa, pasti aku sudah lakukan dari awal aku datang. Dan kematian aneh itu muncul belum lama ini. Aku yakin itu werewolf baru. Mereka memang sangat agresif dan haus darah. Dan dari pada kita berdebat di sini, sebaiknya kita cari siapa mereka. Aku yakin mereka bakal mencari mangsa lain malam ini!"


"Werewolf baru?"


"Mungkin kalian nggak tau, kalau ada dua jenis werewolf yang ada di muka bumi. Kami yang terlahir dengan gen werewolf dari nenek moyang, dan werewolf baru yang sengaja ditularkan."


"Wow, ilmu baru, Om. denger itu!" kata Vin menyenggol Gio yang berdiri di sampingnya. Sementara Gio malah berdecih.


"Jadi kamu itu werewolf dari lahir?" tanya Abimanyu.


"Iya, gen ini sudah diturunkan dari dulu. Tiap generasi pasti akan memiliki darah ini, dan kami tidak bisa mengelak. Tapi kami bisa mengontrolnya."


"Its immposible!" keluh Vin.


"Terserah, kalian percaya atau nggak. Tapi itulah kenyataannya. Dan satu yang perlu kalian tau, werewolf jenis baru ini, terkadang nggak sadar, kalau dirinya adalah werewolf. "


"Hah? maksudmu?!"


"Ya mereka ini ditularkan, dengan sengaja. Mereka akan berubah saat malam hari, dan akan menjadi manusia saat siang hari, tapi mereka nggak tau dan nggak sadar saat mereka berubah wujud."


"Wow, seperti istilah, kau akan menjadi iblis tanpa kau sadari jika gelap datang?"


"Menurutmu siapa yang menularkan hal ini? Dan apa nggak ada ciri khusus, manusia yang terinfeksi werewolf ini?"


"Sayangnya nggak ada ciri khusus, dan sudah sejak beberapa hari lalu, aku nggak menemukan petunjuk apa pun. Siapa orang-oranng yang telah diinfeksi ini."


"Pertanyaan terakhir, siapa yang menginfeksi? Kamu kenal?"


Rendra menarik nafas dalam-dalam, ia menatap langit hitam di atas mereka. Dan beralih menatap bola mata tiga pria di hadapannya dalam-dalam. "Yah, aku kenal. Dan merekalah alasanku pergi dari tempat asalku, dan pindah ke sini."


"...."


"Mereka adalah kawananku. Jumlah kami yang makin menipis karena dikejar pemburu, membuat kawananku memilih untuk menginfeksi manusia dan menjadikan mereka seperti kami. Tapi aku menolak ide gila itu. Menjadi seperti kami bukanlah hal yang menyenangkan. Ini lebih ke sebuah kutukan dan kesialan. Untuk menjadi sepertiku, membutuhkan waktu yang cukup lama. Menahan hawa nafsu ingin membunuh dan menyantap daging manusia. Para werewolf baru, ibaratkan sebuah pasukan yang berdarah dingin. Mereka akan membunuh siapa saja yang ada di hadapan mereka. Kalau sampai, mereka berhasil menularkan lebih dari 5 manusia, aku yakin desa ini akan habis dalam satu bulan saja. "


"Sebentar!" Gio menarik Vin dan Abimanyu menjauh dari Rendra untuk berdiskusi.


"Kalian percaya sama omongan siluman itu?" tanya Gio yang memang sepertinya tidak mempercayai semua perkataan Rendra.

__ADS_1


"Entahlah, Om. Rasanya apa yang dia bilang keren banget, mirip buku novel fiksi." Vin menanggapi dan seolah memiliki pemikiran sama seperti Gio. Berbeda dengan Abi, dalam lubuk hatinya, ia percaya sepenuhnya pada semua perkataan Rendra. Sorot matanya, nada bicaranya, dan semua penjelasan itu terasa apa adanya, tanpa dibuat-buat.


Ponsel Abimanyu berdering. Tertera nama Maya di sana.


"Ya, May? Kenapa?"


"...."


"Apa?"


"...."


"Oke. kami ke sana sekarang!"


Telepon diakhiri, dan tatapan mata Abimanyu sungguh diliputi rasa kecewa mendalam. Ia menatap dua temannya, dan lalu beralih ke Rendra yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Rendra nggak bohong! Dia bener-bener jujur!"


"Kenapa lu bisa seyakin itu, Bi?" tanya Vin.


"Lulu ... meninggal, dengan kondisi yang sama seperti Pak Rahmat, dan dari tadi Rendra ada sama kita terus, kan? Jadi ...."


"Bukan dia pelakunya!"


Kini mereka berempat pergi ke rumah Lulu. Kematian gadis itu benar-benar di luar dugaan. Gadis yang ia selamatkan kemarin, kini benar-benar tewas dengan cara mengerikan. Bahkan ia meninggal di dalam kamarnya sendiri. Warga kembali gempar atas penemuan mayat Lulu. Semua mulai berpikir kalau penyebab kematiannya bukan dari hewan buas, dan tentu sebab kematian Pak Rahmat juga. Mana ada hewan buas yang masuk ke kamar korbannya yang letaknya ada di lantai dua. Tidak ada berita macan ataupun beruang bisa terbang, bukan?


Desas-desus mulai menguar di tiap telinga warga, kalau ada werewolf bahkan vampire yang sedang mengancam keselamatan warga di desa Amethys. Polisi sudah mulai datang dan mengidentifikasi jenazah Lulu. Keadaan rumah Lulu ramai oleh warga yang penasaran. Walau sudah di beri garis batas polisi, tapi warga tetap berdatangan untuk melihat dari jauh lokasi kematian Lulu.


"Padahal kemarin dia udah selamat sampai rumah. Kenapa sekarang dia tetap meninggal?" tanya Abimanyu dengan tatapan kosong mengarah ke rumah yang sudah di beri tali pembatas warna kuning.


"Kau tau? Kalau saat dirimu sudah diincar werewolf, maka kau tidak akan selamat," jelas Rendra.


Maya berlari kecil mendekat ke Abimanyu. Wajahnya terlihat pucat dan ketakutan. Ia gelisah, matanya sembab, hidungnya juga merah. Ia habis menangis dengan durasi cukup lama. Wajar saja, karena Lulu adalah teman masa kecilnya, dan mereka cukup dekat.


"Bang, kenapa Lulu bisa diincar mereka lagi? Padahal kemarin ...." Tangis Maya pecah kembali, sebelum ia menyelesaikan perkataannya Abi segera memeluk gadis itu.


"Ssstt. sudah, May. Ini mungkin sudah takdir. Kita sudah mencoba tolong Lulu, kan?"


'Tapi, Bang. Lulu nggak pantas meninggal dengan cara seperti itu. Siapa pun yang melakukannya, mereka benar-benar kejam! Bang Abi harus cari pelakunya!" pinta Maya yang masih berada dalam dekapannya. "Iya, abang bakal cari pembunuhnya. Dan Abang habisi mereka!" kata Abi dengan sorot mata tajam dan dingin. Bulan purnama yang muncul nampak indah kemarin, tapi tidak sekarang. Kini bulan purnama itu justru bagai sebuah pertanda kedatangan iblis yang akan membahayakan banyak orang di sekitarnya.


______________


Mereka berempat kembali ke rumah Rendra. Setelah kematian Lulu, maka keadaan akan kembali tenang. Karena werewolf hanya akan mencari satu korban dalam semalam. Kecuali jika werewolf nya ada lebih dari satu. Di rumah Rendra, ada beberapa senjata yang bisa mereka pakai untuk membunuh werewolf. Sungguh ironi, saat dirinya sendiri adalah bagian dari mereka, tapi ia juga yang membasmi kaumnya sendiri. Rendra membuat sendiri peluru perak dan segala macam pisau dan samurai yang terbuat dari perak.


"Tunggu, Ren! Kenapa kamu nggak berubah jadi ... 'itu' padahal di luar sedang bulan purnama?!" tanya Abimanyu. Rendra tersenyum. Ia yang sedang sibuk mengeluarkan beberapa peluru dari kotak persenjataannya, kini menarik nafas panjang. " Kan aku sudah bilang, kalau aku bisa mengontrol semua itu. Bukan hanya mengontrol hasrat ingin membunuh kalian, tapi juga mengontrol perubahan wujudku."


Abimanyu mengangguk paham.


"Jadi untuk kaummu yang lain pun sama, Ren? Mereka tidak akan berubah seperti werewolf pada umumnya?" tanya Gio.


"Iya, itu betul. Hanya aku yang bisa tau kalau mereka werewolf atau bukan. Karena indera penciuman kami tidak akan berubah walau kami menjadi manusia seperti sekarang."


"JAdi kamu bisa mengenali mereka hanya dengan aroma tubuh mereka?"


'Iya, seperti itulah."


"Dan tadi ... di rumah Lulu, nggak ada salah satu dari mereka?" tanya Vin, penasaran. Rendra menggeleng. Ia kemudian beranjak, sambil membawa senjata api sungguhan, yang sudah ia isi dengan peluru perak. "Kalian siap berburu malam ini?" tanya Rendra.

__ADS_1


"Oh, tentu saja!"


__ADS_2