pancasona

pancasona
Part 135 jebakan


__ADS_3

Abimanyu berada di pinggir jalan. Sekitar 100 meter lagi, ia akan melihat vila yang dimaksud. Ia sendirian. Sesuai rencana. Karena memang hanya dia yang bisa datang dan menyelesaikan semuanya. Alasan utama karena ia tidak ingin ada lagi yang terluka nantinya. Tidak Vin maupun Gio. Ia diam di dalam mobilnya, mengintai keadaan di sekitar.


Gawainya bergetar. Ada nama Vin di sana.


"Ya. Gimana?"


"Mereka ada di lantai atas. Berdua, tanpa pengawasan. Tapi seluruh rumah banyak penjaga. Lu harus hati-hati!"


"Oke!"


Abimanyu keluar dari mobil, membawa beberapa senjata yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Ia mengendap-endap mendekati rumah itu. Mengawasi dan mulai bergerak di saat keadaan terasa aman. Ia mendekat ke jendela yang ada di lantai bawah, mulai menggapai pegangan di pinggir rumah. Abimanyu naik perlahan. Terus berpegangan pada apa pun yang dirasa kuat menahan beban tubuhnya. Bunuh diri namanya kalau dia masuk lewat pintu, sekalipun dia kebal dan mampu menyembuhkan diri, tapi syarat dan ketentuan tetap berlaku.


Vila ini memiliki tiga lantai. Ellea dan Allea disekap di lantai tiga. Beberapa kali Abi terpaksa sembunyi cukup lama di luar jendela, tangannya sudah gemetar karena terlalu lama menahan berat bebannya. Para penjaga mondar-mandir berkeliling di dalam rumah. Ia sadar, kalau tidak mungkin keluar dari tempat ini tanpa membuat gaduh. Tapi ia harus mengeluarkan dua gadis itu dulu.


Sampai di lantai atas, ia membuka satu jendela dengan hati-hati. Berusaha menyamarkan suara sedikit mungkin. Jendela terbuka, kepala Abimanyu masuk ke dalam, memeriksa keadaan di sana. Merasa aman, ia mulai masuk dan melangkah dengan perlahan menuju kamar yang ia curigai tempat menyekap Allea dan Ellea. Satu persatu Abi membuka ruangan demi ruangan. Sampai ia tiba di kamar terakhir yang terkunci, ia semakin yakin kalau ini adalah kamar yang tepat. Abi kemudian mendobrak pintu itu kuat-kuat. Suara berdebum keras membuat ia sedikit waspada dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hening. Aneh. Tak memedulikan hal itu, Abi segera menerobos masuk. Namun sayang, tidak ada siapa pun di dalam sana. Hanya ada tumpukan kardus kosong dan beberapa barang tidak terpakai. "Sial, gue ditipu!" gumamnya, ia meraih ponsel yang ada di saku jaket dan menghubungi Vin.


"Lu ngaco, Vin? Nggak ada Allea atau Ellea di sini?! Kasih informasi yang bener dong!" gerutu Abimanyu yang mulai naik pitam.


"Hah? Masa nggak ada? Sebentar gue cek!" Vin mulai kembali memeriksa informasi yang tadi ia dapat.


Abi mendengar suara langkah kaki beberapa orang mulai mendekat. "Vin, buruan. Di mana mereka?"


"Owh, Sialan! Ini jebakan, Bi! Mereka nggak ada di sana!"

__ADS_1


"Maksud lo?!" tanya Abi makin kesal.


"Ada orang yang meretas komputer gue! Om Gio, cek deh, kita dihack!" pekik Vin yang sedang mengobrol dengan Gio di sana. "Bi lu mending cepet keluar dari sana. Mereka sengaja pancing kita buat fokus ke Vila itu."


Abimanyu tak menjawab. Ia mendekat ke jendela yang ada di kamar itu. Terkunci. Dan bersamaan dengan itu, orang-orang Nicholas sudah ada di depan pintu. Mereka cukup banyak dengan senjata di tangan mereka masing-masing. Mau tidak mau, Abimanyu harus melawan mereka. Satu persatu maju, menghajar Abimanyu dengan brutal, tapi sejauh ini dia mampu melawan mereka dan menghajar lawan dengan mudah.


Tangan Abi berdarah karena menghalau sebuah pisau yang hendak menusuk perutnya. Darah menetes ke lantai dan membuatnya meringis kesakitan. Tiba-tiba sebuah kursi kayu dihantamkan ke punggung Abimanyu. Tubuhnya lemas, tulangnya seakan remuk karena hantaman benda itu yang secara tiba-tiba. Salah seorang dari mereka menjambak rambut Abimanyu dan membuatnya mendongak. Orang lainnya mendekat dengan sebilah pisau di tangannya. "Mati kau!" katanya dengan nada pelan dan mengerikan.


Pisau itu dihunuskan ke perut Abimanyu berkali-kali. Darah mengalir dari perutnya, cukup banyak. Tak hanya perut, tapi juga dari mulutnya mengeluarkan darah segar juga. "Singkirkan dia!" suruh orang yang menusuk Abi tadi ke anak buahnya. Abi diseret pergi. Matanya sayu namun masih dapat melihat keadaan di sekitarnya. Ia juga melihat saat orang tadi menghubungi seseorang, seolah melaporkan kalau pekerjaannya sudah selesai.


Abi merasakan tubuhnya sangat ringan. Matanya beberapa kali berusaha terbuka namun karena silaunya sinar di sekitarnya, maka ia tak sanggup membukanya lebar-lebar. Kepalanya berdenyut. Sakit dan ngilu hampir ada di sekujur tubuhnya. Ia harus mencari tanah, agar semua luka ini pulih. Tapi rasanya itu akan memakan waktu lama. Karena ia mendengar suara mesin mobil di bawahnya. Abi dibawa dengan sebuah mobil jeep oleh mereka ke suatu tempat yang jauh. Tubuh Abi sudah lemas karena kehabisan banyak darah. Perlahan matanya mulai gelap. Hingga akhirnya terpejam sepenuhnya.


________________


"Gawat, Om! Gimana sekarang? Abi nggak bisa dihubungi!" pekik Vin yang sedari tadi mondar mandir karena mengkhawatirkan keselamatan Abimanyu.


Vin menjambak rambutnya sendiri, frustasi. Ia sangat mencemaskan keselamatan Abimanyu. Ada rasa penyesalan, karena membiarkannya pergi seorang diri. Tapi dia juga belum sepenuhnya pulih dari luka-luka ini. Vin menuruti perkataan Gio, melacak mobil-mobil yang beberapa kali keluar masuk Vila itu. Mereka tau kalau ada orang lain dibalik ini semua yang sengaja mengecoh pengamatan Gio dan Vin. Mereka membuat seolah-olah Ellea dan Allea ada di tempat itu. Padahal mereka tidak ada di sana.


"Om, apa nggak sebaiknya kita minta bantuan?" tanya Vin tak lama setelah itu.


Gio terdiam beberapa saat. Ia sempat memikirkan Elang di saat situasi seperti ini. Karena Elang juga yang membantu mereka saat kasus kemarin. Tapi, ia juga ragu. Karena ini masalah yang cukup berbahaya. Elang sudah berkeluarga dan Gio tidak ingin mengusik kehidupan Elang yang sudah bahagia di sana. Tapi di sisi lain, ia juga bingung akan nasib Abimanyu. "Biar gue aja yang cari dia!" kata Gio. Namun Vin menahannya. "Abi nyuruh kita di sini, Om. Pasti dia ada alasan."


"Terus elu bakal diem aja sekarang? Kita bahkan nggak tau Abi di bawa ke mana. Mereka pinter menyembunyikan semua ini. Dan, Abi nggak bisa terlalu lama terluka gitu, Vin. Lu tau, kan, kalau dia harus segera menyatu sama tanah? Kalau terlambat, dia bisa mati!" hardik Gio yang kini mulai panik. Gio menjerit hingga membuat Zikal ikut masuk ke dalam. Ia sudah bisa menebak kalau keadaan menjadi rumit. Tapi, ia masih diam karena ini bukan urusannya.

__ADS_1


Ponsel Gio berdering. Matanya melotot saat melihat nama penelponnya. Ia memandang Vin. Vin justru balik bertanya. "Siapa? Abi?"


Gio menggeleng. "Elang!"


"Angkat, Om!" seru Vin.


"Gi! Gila kau, ya? Ada masalah sepelik itu nggak kasih tau gue?!"


"Sorry, Lang. Gue cuma nggak mau ngerepotin elu. Karena masalah ini rumit. Lagian Adi ...."


"Iya, gue tau. Gue baru denger masalah kalian. Dan masalahnya gue nggak lagi di Indonesia."


"...."


"Tapi gue tau di mana Abi sekarang. Kalian harus jemput dia sebelum terlambat. Gue kasih koordinatnya."


Elang mengirim pesan yang berisi koordinat titik di mama Abimanyu berada. Vin membuka pesan itu dan segera mengikuti arah yang diberikan Elang. "Itu mobil yang hitam, kan, Om?" tanya Vin menunjuk salah satu mobil yang menjadi incaran mereka.


"Iya, bener. Lang, kok elu bisa tau?"


"Nggak penting gue tau dari mana. Gue bantu kalian dari sini. Sekarang juga jemput Abi!"


Telepon dimatikan. Gio menatap Zikal penuh harap.

__ADS_1


"Apa?"


"Kal, gue minta bantuan elu."


__ADS_2