
Kami selesai makan. Kak Rayi mulai mengantre di kasir. Aku memutuskan menemaninya karena dua sahabatnya itu justru masih asyik bermain game di gawai masing-masing. Masih duduk di meja kami yang kini hanya tinggal piring, gelas dan mangkuk kosong, bekas makan tadi.
"Katanya nanti malam Papa sudah pulang kok, Ay," cetusku saat dia mulai meluncurkan aksi protektifnya mengetahui aku di rumah sendirian beberapa hari ini.
"Oke, tetap kabari aku, ya, kalau ada apa-apa di rumah. Jangan lupa kunci pintu dan jendela." Dia mengelus sudut bibirku pelan, memperhatikan bagian itu lekat-lekat sambil terus menasihatiku dengan banyak kalimat saran mau pun larangan.
Adegan romantis yang jarang terjadi itu, kini terganggu oleh kedatangan sepasang kekasih lain. Mereka berdiri di belakang kami, sambil berdeham. Tentu aku dan Kak Rayi spontan menoleh ke belakang. Di mana ada Kak Faza dengan kekasih barunya tersebut.
Kedua sahabat itu saling menatap, tapi bukan lagi tatapan dari sepasang sahabat seperti biasanya. Tatapan mereka justru tatapan penuh dendam dan kebencian. Kak Rayi menghadap ke depan. Berpura-pura menatap bagian depan kasir yang penuh dengan hiasan foto-foto selebritis yang pernah datang ke tempat ini.
Aku menatap Kak Faza yang sikapnya terlihat congkak dan angkuh. Benar-benar berbeda dari Kak Faza yang dulu kami kenal. "Apa lihat-lihat?" sungutnya sambil melotot padaku. Wanita di sampingnya hanya bergelayut manja di lengan Kak Faza sambil menatapku sinis. Kak Rayi lantas menarikku agar aku ikut menghadap ke depan. Kebetulan antrean sudah berjalan, kami pun melangkahkan kaki sedikit untuk maju.
"Kamu lihat sayang, selera calon ketua OSIS kita, buruk sekali. Perempuan aneh seperti dia saja dipacarinya," sindir Kak Faza, yang aku tau bermaksud menyindir kami berdua. Aku menoleh dengan tatapan geram, sementara Kak Rayi langsung membentaknya.
"Heh! Kalau ngomong diatur yang bener! Ngaca dong! Nggak tau malu, siang tadi mojok sama cewek lain, eh sekarang gandengannya ganti! Siap-siap aja, lu nanti diajak ke hotel!" tunjuk Kak Rayi ke wanita tersebut. Kekasih Kak Faza itu langsung menatap pria di sampingnya dengan curiga.
"Kamu siang tadi sama siapa sih?!"
Dan terjadilah pertengkaran di belakang kami. Kak Rayi menggandengku dan mulai maju ke meja kasir, membayar tagihan makanan kami tadi dan segera pergi dari tempat itu. Perkelahian Kak Faza dengan kekasih barunya menjadi tontonan gratis di cafe. Tapi kami merasa tidak berminat menonton hal tersebut dan lebih memilih angkat kaki dari sini.
________________________
"Gila, emang si Faza. Kenapa bisa berubah begitu sih, dia?" tanya Kak Roger saat kuberikan segelas orange jus yang baru saja kubuat sendiri. Kami memilih duduk sebentar di rumahku, untuk membahas keanehan Kak Faza hari ini.
"Jangan-jangan dia emang selama ini playboy aja, cuma ngumpet-ngumpet," cetus Kak Bintang memberikan pendapat.
"Enggak. Faza bukan orang yang seperti itu kok. Memang ada yang aneh sama dia. Tapi aku nggak tau apa, yang jelas itu bukan Faza yang kita kenal selama ini."
"Kak, mungkin nggak kalau yang di dalam tubuh itu memang bukan Kak Faza yang asli?" tanyaku.
"Maksud kamu apa? Bukan Faza? Jadi?"
"Gini, Ay, kamu ingat nggak kata-kata Rachel kemarin?"
"Cie, udah manggilnya pakai 'Ay' segala," ejek Kak Roger menatap kami bergantian dengan tatapan meledek. Kak Rayi melemparkan bantal di sampingnya sambil mengumpat. "Diem, lu!"
"Gimana sayang?" tanya Kak Rayi lagi, tak lagi mempedulikan reaksi teman-temannya.
"Rachel bilang, orang yang jiwanya pernah ditahan oleh makhluk lain, harus mengikuti serangkaian tes untuk meyakinkan kalau yang kembali adalah jiwanya sendiri, bukan jiwa makhluk lain."
Kak Rayi diam, sambil mengangguk pelan. "Bener juga! Jadi ada kemungkinan kalau yang ada di tubuh Faza itu bukan dirinya?" Aku pun mengangguk menanggapi. Yah, makin lama aku makin yakin tentang siapa sebenarnya sosok yang ada di dalam tubuh Kak Faza. Demon!
"Terus kita harus bagaimana ini?"
"Elu nggak ada perkiraan siapa yang di dalam sana, Bil?"
"Hm, sempat tadi aku lihat ada yang aneh di matanya."
"Matanya? Kenapa?"
"Matanya berubah hitam semua, tapi hanya beberapa detik saja. Setelah itu kembali seperti semula. Jadi kemungkinan besar ada iblis di dalam tubuhnya."
"Iblis? Serius?" seru Kak Roger.
Kami semua diam dengan pikiran masing-masing. Perkiraan yang kusebutkan tadi memang belum sepenuhnya benar, tetapi aku yakin atas apa yang kuucapkan tadi. Dan tentu kami harus membuktikan nya sendiri.
"Kita buktikan saja. Aku tau beberapa cara," tukasku dan membuat mereka antusias.
___________________
Pagi ini akan ada pemilihan ketua OSIS periode baru. 5 orang kandidat sudah disiapkan di aula sekolah. Tempat itulah yang nantinya akan dijadikan acara pelantikan ketua OSIS. Tempatnya cukup untuk menampung seluruh siswa, dan juga terlindung dari sinar matahari. Aku yakin acara hari ini akan menyita waktu yang cukup lama. Dan kabar baiknya hari ini tidak ada pelajaran. Kami hanya fokus dalam acara pemilihan ketua OSIS ini.
Aku dan Zidan juga masuk dalam panitia, karena kami juga akan menjadi pengurus OSIS nantinya. Setiap kelas diambil dua perwakilan yang akan mewakili kelasnya dalam organisasi. Kini aku dan Zidan sudah berada di kerumunan calon pengurus OSIS. Kami diberi briefing untuk acara hari ini.
Sementara kelima kandidat ketua OSIS sudah berada di depan. Aku menatap Kak Rayi yang duduk di samping Kak Faza. Keduanya terlihat tidak akur, bahkan saling melirik sinis. Kemarin kami sudah membahas untuk langkah selanjutnya, demi mengungkap siapa dan apa yang ada di dalam tubuh Kak Faza. Tentu juga cara untuk mengeluarkan makhluk itu dari dalam tubuhnya.
"Oke, semua mengerti?!" seru Kak Dimas selaku ketua acara ini mengakhiri briefing pagi. Kami semua berseru serempak mengatakan kata "Mengerti, kak."
Dan acara pun dilanjutkan. Semua siswa sudah dipanggil untuk berkumpul guna memberikan suaranya. Kelima kandidat ini bukan orang sembarangan, yang jelas aku tau kalau mereka semua orang-orang yang terkenal di sekolah dengan semua talenta yang mereka punya. Dan, jujur saja, aku bangga melihat Kak Rayi menjadi salah satu kandidat di sana. Dia memang berwibawa, memiliki jiwa pemimpin. Membuatku makin menyukainya.
Dia melihat ke arahku, sepertinya dia sadar bahwa sedang kutatap sejak tadi. Kak Rayi yang sedang mengobrol dengan Kak Dimas dan Kak Budi lantas mengangkat alisnya sambil tersenyum. Gerak bibirnya menanyakan tentang apa yang sedang kulakukan. Namun aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Lalu mengatakan 'semangat' untuknya.
Netraku beralih ke sudut lain ruangan. Di sana ada Kak Faza yang sedang duduk dengan seorang gadis yang kutahu kalau dia berasal dari perwakilan kelas 1-2. Sepertinya dia sengaja menebar jaring lagi. Mereka juga terlihat akrab dan sikap Kak Faza mulai kurang ajar. Aku mendekat, dengan membawa gelas air mineral yang sengaja kucampur dengan air milik Om Gio. Katanya air ini ampuh untuk melukai iblis dan sejenisnya.
Berjalan mendekat, membuat jantungku berdetak makin kencang. Tanganku bahkan gemetaran, dan aku takut kalau rencanaku tidak berhasil. Dari kejauhan Kak Roger dan Kak Bintang melihatku dengan cemas. Mereka mengangguk, sambil mengacungkan ibu jari padaku. Langkahku makin dekat ke Kak Faza. Dia yang sedang asyik mengobrol seolah tidak menyadari kedatanganku.
Semakin dekat, aku mulai berencana merencanakan aksi penyiraman air ini ke Kak Faza. Saat aku berjalan melewatinya, tiba-tiba tanganku dicekal kuat oleh Kak Faza. Bahkan aku cukup kesakitan, karena pegangan tangannya benar-benar menyakitiku. "Aw, Kak. Apa-apaan ini. Sakit!" erangku sambil berusaha melepaskan tanganku darinya.
"Elu mau apa, hah?!" tuduhnya. Suaranya berat dan mengerikan.
Gelas air yang ada di tanganku terlepas dan jatuh ke lantai. Gagal sudah rencanaku untuk menyiramnya dengan air tadi. "Lepas, Kak!" rintihku. Tanganku dipelintir hingga menimbulkan rasa sakit yang cukup menyiksa.
"Nggak akan!" bisik Kak Faza dengan suara menggeram.
__ADS_1
Makin lama aku makin muak. Ku injak kakinya hingga dia mengerang kesakitan. Tangannya terlepas dariku dan membuatku berusaha menjauh darinya. Tapi tiba-tiba rambutku dijambak olehnya, hingga aku kembali ke dekapannya. Wanita di samping Kak Faza kini berlari menjauh. Tiba-tiba kak Rayi menjerit memanggil nama Kak Faza. Dan membuat hampir sebagian besar orang-orang di ruangan ini menatap kami bingung. Beberapa orang bisik-bisik, dan pasti menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
Kak Rayi yang berdiri agak jauh dariku, menatap Kak Faza benci. Dia meninggalkan teman-temannya dan langsung berjalan cepat menghampiriku. Dada Kak Faza di tendang kuat-kuat oleh Kak Rayi. Hingga aku terlepas lagi darinya. "Jangan jadi banci lu! Beraninya sama perempuan!" hardik Kak Rayi yang sudah tersulut emosi.
Kak Faza maju dan menantang Kak Rayi. Sementara aku menjauh karena di tarik oleh Kak Bintang dan Kak Roger. Kak Rayi dan Kak Faza terlibat perkelahian dan membuat suasana riuh. Mereka seimbang dan tidak ada yang berani melerai. Padahal keduanya sudah cukup babak belur.
Aku juga tidak berani mendekat, apalagi Kak Bintang terus memegangi ku. Sampai akhirnya ada salah satu dewan guru yang mendekat dan marah-marah.
"Kalian nggak pantas melakukan itu! Bikin malu! Calon ketua OSIS malah berkelahi di saat acara pemilihan?! Kalian berdua di diskualifikasi!" jeritnya menunjuk Kak Faza dan Kak Rayi. Keduanya hanya diam sambil menunduk, pasrah.
Akhirnya karena kejadian ini nama Kak Rayi dan Kak Faza di coret dari nama kandidat ketua OSIS. Kini hanya menyisakan 3 orang saja yang bertahan sebagai calon ketua OSIS. Mereka berdua di giring ke ruang guru untuk ditanya-tanya. Tentu saja aku ikut dalam interogasi kali ini. Karena semua bersumber dari ku.
Kami bertiga sudah duduk berjejer di ruang guru. Aku berada di tengah, diapit kedua pria yang wajahnya sudah berdarah dan lebam-lebam. Beberapa guru yang lewat hanya memandang kami sambil menggelengkan kepala. Sambil menunggu interogasi, aku menoleh ke Kak Rayi yang sedang memegangi rahangnya. Aku yakin dia kesakitan. "Sakit, ya?" tanyaku berbisik. Dia malah tersenyum sambil menggeleng.
"Cih, bucin!" sindir Kak Faza.
"Heh! Mending bucin daripada elu, PK!" cecar Kak Rayi. Aku menahan tangannya yang hendak berdiri mendekat ke Kak Faza lagi.
"Udah, Kak. Jangan digubris," bisikku.
"Ngumpet saja lu, di balik ketiak cewek lu itu!" Kalimat itu membuat emosi Kak Rayi tidak dapat tertahankan lagi. Kali ini aku bahkan tidak dapat menahan tubuh kekasihku ini. "Kak, sudah! Biarin saja!" jeritku menutupinya dari Kak Faza.
Akhirnya beberapa guru masuk dan menarik Kak Rayi keluar. Kak Faza tertawa puas melihat hal itu. Dan aku makin muak. Aku meliriknya sinis, dia tak berhenti tertawa.
"Lucu?" tanyaku. Menatapnya datar dan dingin. Dia berhenti tertawa dan lantas menatapku. "Iya. Kau tau? Sekeras apa pun kalian melawanku, kalian tidak akan menang?" tantangnya.
"Apa kau bilang? Kami tidak akan menang katamu?" tanyaku balik. Aku mendekat perlahan kepadanya. Mencengkeram kerah bajunya, dan dia hanya tertawa. Seolah apa yang akan kulakukan tidak akan berpengaruh apa pun padanya. "Dengar, ya, iblis. Kamu boleh tertawa sekarang, tapi aku pastikan kalau sebentar lagi, kau akan membusuk di neraka! Camkan itu!" murkaku.
Kami saling tatap dengan penuh kebencian. Tapi dia tidak memperlihatkan rasa takut atau apa pun. Dia justru terlihat merasa senang ditantang demikian olehku. Aku teringat akan perkataan Om Gio kemarin. Jika cara menyiramkan air tadi gagal, masih ada cara lain untuk membuktikan kalau makhluk di dalam tubuh Kak Faza memang iblis, sekaligus bisa melukai makhluk itu. Dan aku sangat ingin membuktikannya. Aku menyembunyikan kedua tanganku di belakang tubuh, memakai sebuah ring besi dengan ukiran simbol Enochian yang kupasang di sela-sela jemariku. Alat ini memang sering dipakai oleh Om Gio dulu, katanya itu bisa melukai musuh dalam kategori iblis.
"Kau pikir kalian sehebat itu? Bahkan untuk membedakan aku dengan manusia rendahan ini saja tidak bisa!"
"Manusia rendahan kau bilang?!" kataku tidak terima jika Kak Faza dihina seperti itu. Aku terus berjalan mendekatinya perlahan, sementara dia tertawa sambil mundur. "Tunggu! Apa itu?!" tanyanya sambil memperhatikan kedua tanganku yang masih bersembunyi di belakang. Yah, aku makin yakin kalau dia iblis, buktinya dia bisa tau apa yang kusembunyikan.
Aku memiringkan kepala, kini tangan kananku sudah kutunjukkan. Dia melihat benda itu, dan reaksinya berubah drastis. "Kenapa? Takut?" tanyaku.
"Cih, aku tidak pernah takut pada kalian, manusia!"
"Oh ya? Baiklah kita buktikan!" kataku dan segera memukul wajahnya dengan ring besi ini. Suara tulang retak terdengar nyaring. Aku yakin rahangnya retak. Dia menjerit kesakitan. Dan saat aku terus menyerangnya dengan membabi buta, di saat itulah Kak Roger dan Kak Bintang muncul.
"Bil, Bil! Sudah!" cegah mereka. Aku dihalau oleh Kak Roger, sementara Kak Bintang membawa Kak Faza dan menutup kepalanya dengan sebuah kain hitam dengan beberapa lambang pentagram yang sering kulihat sebelumnya. "Gue dapet. Yuk, bawa! Bil, elu jemput Rayi! Buruan!" kata Kak Bintang.
Kak Roger menunjuk ke ruang guru yang ada di sebelah kami. "Bawa Rayi! Kita tunggu di mobil!"
____________
Setelah melewati banyak cara, aku berhasil membawa Kak Rayi pergi dari ruang guru. Dengan dalih kalau Kak Faza kabur. Dan akhirnya kami dibolehkan pergi, dengan sebuah surat peringatan untuk kami bertiga tentunya.
Kami berdua sudah sampai di rumahku. Di ruang tengah Om Gio sudah menunggu dengan persiapan yang matang. Kami berencana mengusir iblis itu dari tubuh Kak Faza.
Sebuah lingkaran sudah dipersiapkan. Dengan kursi di tengahnya. Kak Faza di tempatkan di kursi tersebut. Bukan kursi biasa, karena itu kursi buatan Om Gio. Siapa pun iblis atau setan yang duduk di sana, maka itu seperti mereka terikat kuat di kursi tersebut. Om Gio sudah memiliki banyak pengalaman dengan para makhluk seperti ini. Kursi itu terbuat dari besi dengan diukir dengan banyak simbol penangkal iblis. Juga bahan dasar besi yang dipakai juga tidak sembarangan.
Penutup kepala masih berada di tempatnya. Kak Faza menggeram dengan suara berat. Sosok asli dalam tubuhnya mulai bereaksi dan menunjukkan kepribadian aslinya. Setelah dia di dudukan di kursi itu.
"Lepas penutup kepalanya!" suruh Om Gio. Pria berumur itu masih terlihat gagah seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya dulu. Tidak ada yang berubah dari dirinya, hanya rambutnya yang mulai menunjukkan uban di mana-mana. Bahkan tubuh Om Gio seperti masih terlihat segar.
Kak Roger melepaskan penutup kepala itu. Kini wajah Kak Faza terlihat jelas. Kulitnya terlihat membiru dan hampir hitam di tempat bekas yang kupukul tadi. Sepertinya lukanya akan membekas lama. Seperti gosong dan membuatnya makin kacau.
"Mau apa kalian?!" tanyanya menatap kami semua satu persatu.
"Heh! Di mana Faza?!" tanya Om Gio.
"Hahaha. Aku saja tidak tau dia di mana. Yang jelas, dia tidak akan bisa kembali ke sini!"
"Apa maksudmu?!"
"Yah, jiwanya sudah habis di tempat itu. Bahkan sepertinya jiwanya sudah menghilang. Jadi kalian tidak perlu repot mencarinya, karena dia sudah tidak ada lagi sekarang."
Aku menatap Om Gio, menunggu reaksinya. Karena jujur, aku tidak tau tentang masalah ini lebih baik darinya.
"Kau berbohong!"
"Aku berkata yang sebenarnya!"
"Aku tidak percaya!" Om Gio mengambil sebuah botol berisi air putih. Kupikir air itu adalah air yang sama seperti yang dia berikan padaku tadi, dan berhasil tumpah karena ketahuan oleh makhluk ini.
Wajah Kak Faza disiram oleh air tersebut. Dan benar saja, dia langsung menjerit kesakitan. Di kulitnya terlihat ada asap mengepul, kulitnya memerah seperti disiram oleh air mendidih. Padahal air itu dingin. "Cepat kasih tau, di mana Faza sekarang!" kata Om Gio tegas.
"Mati," cetusnya seolah meledek kami. Om Gio kesal dan menekan pipinya agar mulutnya terbuka. Air yang masih ada di botol itu segera dituangkan ke mulutnya. Ia kembali menjerit dan mulutnya merah. Bahkan bagian kulit yang terkena air tadi akan melepuh. "Pegangin," kata Om Gio menyerahkan botol itu ke Kak Roger yang berdiri di samping kirinya.
Kak Roger mengangguk dan menatap air tersebut. Dia bahkan menuangkan sedikit air itu ke telapak tangannya. Dahinya berkerut karena ia tidak merasakan sensasi seperti apa yang Kak Faza rasakan. Bahkan Kak Roger meneguk air itu dan mengecapnya, seolah sedang mencari rasa apa yang ada di dalamnya. "Adem perasaan," ujarnya menoleh ke Kak Bintang yang menyiratkan rasa penasaran di wajahnya.
"Masa? Gue cobain," pungkasnya merebut botol itu. Dan Kak Rayi hanya menarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Om Gio terus memberikan penyiksaan yang membuat Kak Faza terus menerus berteriak. Bahkan hampir sebagian besar tubuhnya kini melepuh. Aku bahkan tidak tega melihatnya. Setelah satu jam lamanya, Om Gio berbalik dan mengajak kami berdiskusi. Sementara makhluk itu sudah lemah. Dia hanya menunduk dengan darah yang keluar di beberapa bagian tubuhnya, dan mulutnya.
"Bagaimana, Om?"
"Hm, sepertinya apa yang dia bilang benar. Jiwa Faza memang sudah nggak ada di mana pun. Dia nggak mungkin bisa kembali. Dan kalau pun makhluk itu keluar dari tubuh Faza, Faza akan dinyatakan meninggal dunia," tuturnya dengan menatap kami satu persatu.
Kami semua diam. Rasanya bukan ini yang kami inginkan, melainkan mengembalikan lagi Kak Faza ke tubuhnya. "Nggak bisa kita cari dulu, Om?" tanya Kak Rayi.
"Entahlah."
Tiba-tiba aku merasakan hawa di sekitarku dingin. Angin berembus dari luar yang bahkan aku tidak tau berasal dari mana. Karena semua pintu dan jendela sudah di tutup sejak tadi, malahan sudah kami kunci rapat-rapat. Tapi rupanya kami kedatangan tamu. Abitra.
Aku menyenggol lengan Kak Rayi agar melihat ke sudut yang sedang kutatap. Dan dia pun melihat hal yang sama sepertiku. "Abitra?" gumamnya dan didengar semua orang.
"Hah? Apa?" tanya Kak Bintang.
"Itu!" tunjuk Kak Rayi ke sosok yang baru saja datang.
Rupanya mereka semua melihat Abitra. Terbukti saat Abitra sudah mendekati kami, semua orang takjub melihatnya. Bahkan Kak Roger melongo dan Kak Bintang menyikutnya. "Apa yang dia bilang memang benar. Teman kalian sudah nggak bisa diselamatkan lagi," kata Abitra, berjalan mondar mandir di depan kami. Ekornya bergerak-gerak layaknya kucing peliharaan Kak Bintang. Tapi Abitra adalah ras paling besar. Jika disamakan dengan kucing tentunya.
"Jadi di mana Kak Faza sekarang?"
"Saat kalian membawa Faza pulang, jiwanya masih tertahan di sana. Dan benar kata Bathara Kalla, kalau setiap jiwa yang sudah dia ambil tidak bisa dikembalikan. Dan mereka semua sudah berada di tempat yang jauh. Tidak dapat dijangkau manusia lagi. Dan tidak bisa kembali lagi." Penjelasan itu membuat semua orang merasa terpukul. Hati terasa bagai dihujam oleh batu besar. Berat dan sakit di dalam sana. Tapi begitulah yang sudah terjadi. Bagaimana pun juga kami sudah tidak bisa menyelamatkan jiwa Kak Faza.
"Tunggu! Abitra, tidak bisa, kah, kami bertemu dia untuk terakhir kalinya?" tanya Kak Rayi dengan mata berkaca-kaca. Aku mendekat sambil membelai punggungnya lembut.
Abitra menatap kami bergantian, lalu mengangguk pelan. "Baiklah, tapi hanya sebentar saja," tuturnya.
Abitra menoleh ke tangga, cahaya terang muncul dari atas, dan suara langkah kaki mendekat membuat kami tidak sabar untuk melihat siapa yang datang. Tapi kami sudah yakin kalau dia adalah Kak Faza. Dan, benar saja. Sosok pria yang sedang turun dari tangga tersenyum teduh pada kami. Yah, dia adalah Kak Faza. Wajahnya bersinar terang, dan terlihat bahagia.
Dia berdiri 5 meter dari kami. Menatap kami satu persatu, dengan senyum tipis yang terus menghiasi wajahnya. "Za, kenapa elu nggak bisa balik? Apa nggak ada cara lain lagi, Za?" tanya Kak Rayi dengan suara bergetar. Aku benar-benar melihat rasa sakit di matanya. Rasa sakit kehilangan salah satu sahabatnya.
Kak Faza tersenyum, menunduk dan kembali menatap teman-temannya bergantian. "Kalian harus mengikhlaskan aku. Aku baik-baik saja di sini. Mungkin memang waktuku sudah habis di dunia.Aku harap kalian bisa melanjutkan hidup kalian. Jadilah orang baik dan berguna. Karena di sana," tunjuknya ke atas,"aku masih melihat kalian. Semua yang kalian lakukan. Jadi jangan kecewakan aku."
Kak Rayi berbalik badan, menutup mulutnya dan di saat itulah air matanya menetes deras.
"Lu tega, Za. Lu tinggalin kami begitu saja. Bener-bener keterlaluan!" tampik Kak Bintang dengan menahan emosi sama seperti Kak Rayi.
"Maaf. Aku nggak bermaksud. Sebenarnya aku seharusnya sudah mati sejak beberapa bulan lalu, tapi Nabila menolongku. Dan sekarang aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Aku harap kalian mengerti. Aku yakin, kalian bisa melewati semua ini bersama-sama, karena kalian akan menghadapi banyak hal nanti. Saling berpegangan tangan, gaes. Jangan saling meninggalkan!" nasehatnya dengan tenang.
Kak Roger berjalan mendekat ke Kak Faza, dia memeluknya dan mereka berhasil berpelukan. Kak Bintang menyusulnya. Kak Faza juga memeluk mereka berdua erat. "Yi? Nggak mau peluk aku untuk terakhir kalinya?" tanyanya. Dan kalimat itu berhasil meruntuhkan pertahanan air mataku. Padahal bukan aku yang dia tanya, tapi kenapa itu terasa begitu menyakitkan hatiku. Akhirnya Kak Rayi menyusul teman-temannya. Mereka berpelukan saling mengucapkan perpisahan dengan cara mereka. Aku menutup mulut, dan Om Gio kini memelukku dari samping.
"Persahabatan yang indah, ya, Bil. Om jadi ingat sama sahabat-sahabat Om dulu. Sekarang cuma tinggal Papamu saja. Memang berat rasanya kehilangan sahabat yang selama ini selalu menemani dalam suka dan duka, bahkan saat berjuang bersama."
'Om juga kehilangan sahabat-sahabat Om, kan?"
"Yah, bahkan sampai sekarang rasa sakit itu belum hilang. Ini nggak mudah. Kalian harus terus berpegangan tangan. Bener kata dia, jangan sampai saling meninggalkan, apa pun masalahnya."
Aku menoleh, dan menatap pria tua di sampingku ini. Matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Dan aku tau bagaimana sakit hatinya. Kehilangan sahabat-sahabatnya dulu. Bahkan aku masih mengingat semua memori itu. Saat sahabat Om Gio mengorbankan nyawa untuk kami semua. Sejak saat itu, Om Gio banyak diam. Bahkan aku sering melihatnya melamun dan menangis seorang diri sambil memeluk foto di pigura yang ada di kamarnya. Om Gio sudah mendedikasikan hidupnya untuk para sahabatnya. Bahkan dia tidak berniat untuk menikah.
Kak Faza mulai melambaikan tangan, pertanda dia sudah harus pergi. Mereka bertiga berusaha kuat dengan berkali-kali menghapus air mata yang terus turun dari mata. Kak Faza kembali berjalan ke tangga tadi. Dan Abitra mengikutinya, dan akhirnya mereka menghilang.
Sosok yang ada di dalam tubuh Kak Faza sudah berhasil keluar, bahkan Om Gio sudah membakarnya hingga menjadi debu. Dalam sekejap tubuh Kak Faza mulai membusuk. Kami membawanya ke rumah sakit dan tidak ada satu pun dokter yang bisa menjelaskan hal ini. Mereka bilang, tubuh Kak Faza sudah mati sejak beberapa bulan lalu.
_____________________
Aku masih melingkarkan tangan di pinggang Kak Rayi. Setelah kedua sahabatnya pulang, kini hanya tinggal Kak Rayi saja yang masih ada di teras rumahku. Sementara itu Om Gio sudah masuk ke dalam kamarnya. Malam ini Om Gio tidur di rumah ku. Papa akan kembali besok pagi katanya. Dan aku harus siap dengan omelan Papa tentang surat peringatan yang baru saja kudapat dari sekolah.
Kak Rayi mengecup berkali-kali pucuk kepalaku. Postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi dari padaku membuatnya dengan leluasa menguasai kepalaku. Karena aku memang lebih pendek dari nya.
"Are you oke, Ay?" tanyaku sambil mendongak melihat wajahnya yang terlihat kusut.
"Yeah, Iam oke, sayang," katanya sambil memelukku lagi, seolah tidak ingin melepaskannya.
"Kamu tidur sini saja bagaimana? Kok aku khawatir kalau kamu pulang, apalagi kan sendirian," kataku.
"Enggak ah. Nanti Om Gio ngomel. Aku pulang saja. Nggak apa-apa, kan? Atau jangan-jangan kamu yang kangen, ya?" tanyanya sambil memencet hidungku.
"Ih, nggak gitu, Ay. Tapi ... iya sih, aku kangen," kataku kembali memeluknya.
"Is tumbenan sayangku manja gini. Hayo mau minta apa?"
"Minta apa? Enggak ih. Cuma ... kangen. Aku makin sayang sama kamu," kataku malu-malu.
"Asyik!" Kak Rayi mencubit pipiku. Wajah kami berdekatan, dia bahkan menatap bibirku lama. Perlahan mendekat dan kurasakan embusan nafasnya di wajahku. Kini bibir kami saling menempel. Entah mendapat inspirasi dari mana, aku membalas ciumannya. Cukup lama kami berciuman, dan ini adalah ciuman pertamaku.
Nafas kami mulai tidak beraturan, dan akhirnya aku melepaskan bibirku darinya. "kelamaan, bahaya."
Kak Rayi tertawa. Dan akhirnya satu kecupan terakhir di kening mengakhiri malam ini. Dia lantas pulang menaiki mobilnya. Aku menatap kepergiannya dengan senyum yang tak kunjung habis.
__________________
"Maaf aku belum menerima kesempurnaanmu, tapi dari ketidaksempurnaan mu, aku mulai menyukaimu."
__ADS_1
From - Ay