
"Eh, kalian nyium bau ini nggak?" tanya Kak Rayi sambil menggerakkan hidungnya. Kami berhenti dan mulai melakukan hal yang sama seperti Kak Rayi.
"Iya, bau lumpur!"
Aku menatap jam di pergelangan tanganku. Bahkan saat ini belum tengah malam. Matahari saja baru tenggelam sekitar dua jam lalu. Aku melirik ke pintu tenda yang memang sudah kami tutup sejak tadi, nyamuk akan merangsek masuk jika tidak kami tutup. Kak Rayi memanggilku, seolah mencegah tindakanku. "Nggak apa-apa, Kak. Aku cuma mau cek aja," sahutku dan meneruskan niatanku.
Mereka bertiga diam di tempat. Aku mulai mengintip dari jendela kecil yang memang ada di depanku sekarang. Keadaan di luar terlihat sunyi. Apalagi kami semua kini diam seribu bahasa. Aku yakin mereka juga mulai takut, sama sepertiku sekarang.
"Bil ...," panggil Kak Bintang. Aku menoleh, sambil melebarkan senyum, agar mereka tidak terlalu cemas. "Aman kok." Namun saat aku kembali menatap keluar tenda, wajah seseorang tiba-tiba sudah ada di depan tenda kami. Sontak aku mundur dan terjatuh ke belakang. Kak Rayi berlari mendekat, begitu juga dengan Kak Bintang dan Kak Roger. "Kenapa, Bil?" tanya Kak Rayi.
Aku masih terpaku dengan jendela kecil di atas, terus menatapnya dengan wajah ketakutan. Kak Roger dan Kak Bintang dengan ragu ikut melihat keluar tenda. Mereka saling berpegangan dan perlahan mendekat ke sana.
"Nggak ada apa-apa, Bil," kata Kak Bintang.
"Iya. Nggak ada apa-apa kok. Memangnya tadi elu lihat apa?" tanya Kak Roger menambahkan.
Aku menelan ludah, sambil berusaha menetralkan napasku yang tidak karuan. "Tadi ... Tadi aku lihat Kak Faza di depan," jelasku pelan.
"Hah! Yang bener! Kok nggak bilang?!" cetus Kak Roger lalu membuka resleting tenda.
"Kak, jangan!" cegahku spontan.
Tangan Kak Roger yang belum sepenuhnya membuka pintu itu, terhenti. Dia menoleh dengan mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Itu bukan Kak Faza!"
"Masa sih?" tanyanya. Ia kembali mengintip dari jendela depannya, dan sontak matanya melotot tajam. Aku yakin dia juga melihat apa yang kulihat tadi. Dengan terburu-buru Kak Roger kembali menutup resleting tadi. Ia terlihat gugup dan ketakutan. Sampai-sampai Kak Bintang kebingungan, dan ikut melihat keluar tenda. "Astaga! Faza!" jeritnya.
Kak Bintang hendak membuka kembali tenda ini, namun Kak Roger mencegahnya. "Gila, lu! Mau cari mati lu, Tang?!"
"Itu Faza, kan?"
"Bukan! Lu nggak lihat mukanya aneh gitu?! Itu bukan Faza, ****!" umpat Kak Roger dan mulai menjauh dari pintu. Kak Bintang yang masih ragu, kembali mengintip dari jendela. Namun tiba-tiba dia terjatuh ke belakang sama seperti aku tadi. Kak Bintang terus mengumpat kesal. Dan kami berempat sudah gemetaran.
"Biar aku cek," kata Kak Rayi beranjak, namun aku tahan tangannya sambil menggeleng. "Nggak apa-apa, Bil. Kita harus tau siapa dan mau apa dia sebenarnya." Tanganku dilepaskan lembut oleh Kak Rayi, dan dia mulai mendekat dengan ragu.
Menunggu reaksi Kak Rayi membuatku tegang, namun dia justru makin mendekatkan kepalanya ke jendela. Kedua matanya juga menyipit seolah sedang melihat sesuatu yang agak jauh dari penglihatannya. "Kak, lihat apa?" tanyaku penasaran.
"Itu Faza bukan, ya?" tunjuknya dengan pertanyaan yang ditujukan pada kami bertiga. Tentu kami penasaran dan ikut mendekat ke Kak Rayi. Kini sosok yang tadi kami takuti justru sedang berada di dekat danau. Berdiri dengan menatap danau yang gelap di sana.
"Duh, bingung gue. Dia Faza bukan, sih? Kalau yang tadi di depan tenda, asli wajahnya serem banget. Iya, kan, Bil?" tanya Kak Roger padaku. Aku hanya mengangguk karena memang apa yang dia katakan benar.
"Terus gimana? Kita samperin apa ngga usah?" tanya Kak Bintang.
Sebelum kami memberikan jawaban, tiba-tiba Kak Faza malah menceburkan dirinya ke dalam danau. Sontak kami pun panik, dan segera membuka pintu. Berlari ke arah danau. Hening. Danau yang gelap membuat kami kesulitan melihat ke dasarnya. "Senter!" pinta Kak Rayi, dan Kak Bintang segera berlari kembali ke danau. Mengambil beberapa senter untuk menerangi tempat itu. Satu persatu kami mendapat senter, dan mulai melakukan pencarian ke dasar danau.
"Nggak kelihatan!" ujar Kak Roger, dan memang perkataannya benar.
"Duh, apa kita harus masuk ke dalam?"
"Gila lu! Nyebur malam-malam begini. Oh, No!"
"Terus gimana?"
Semua diam, aku pun sama bingungnya dengan mereka. Memang terasa aneh, karena aku tidak melihat di mana Kak Faza berada. Tapi tiba-tiba aku teringat perkataan Om Gio. "Kamu itu bisa mengendalikan mata batinmu sendiri, Bil."
Dan saat itulah aku paham, ada yang salah dengan situasi ini. Aku mulai konsentrasi, dan mencoba tenang. Kupejamkan mata untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Yaitu penglihatan. Memang selama ini aku sesekali dapat melihat makhluk halus yang berkeliaran di sekitarku, hanya saja aku lebih sering menolak untuk dapat melihat mereka karena merasa sangat terganggu. Dan selama ini 'mereka' yang mendekat atau muncul hanya lah ruh tersesat yang memang hanya lewat, bukan bermaksud mengganggu atau berniat jahat. Dan apa yang sedang kami hadapi sekarang adalah ruh jahat. Sesuatu yang gelap dan buruk, sedang menguasai tempat ini. Yang membuat beberapa orang menghilang secara misterius, hingga akhirnya tempat ini begitu ditakuti.
Tubuhku terasa mulai menghangat, seperti ada hawa panas yang keluar dari dalam tubuhku sendiri. Sampai akhirnya kuberanikan diri membuka mata. Kini keadaan sekitar terlihat berbeda. Di depanku sekarang malah banyak sekali ruh yang berkeliaran. Mereka kebingungan, putus asa, dan tersesat. Tubuhku limbung, namun Kak RAyi yang memang berada di samping segera memegangiku. "Bil, kamu nggak apa-apa?" tanyanya cemas.
Kepalaku terasa penuh dengan suara. Suara Kak Rayi, dan suara-suara 'mereka' yang sedang meminta pertolongan. Pandanganku mulai memburam, namun aku mencoba untuk terus sadar, jangan sampai pingsan. Aku terus berusaha mencari di mana Kak Faza berada.
"Yi, Rayi! Bintang! Roger!" Suara ini terus terdengar makin jelas. Suara Kak Faza, dia terus memanggil teman-temannya. Aku berusaha mengerjapkan mata agar penglihatanku kembali jelas. Aku berusaha mencari di mana suara Kak Faza berasal. Hingga akhirnya, aku melihatnya. Kak Faza ada di antara ruh-ruh di depan kami. Mereka bertiga tentu tidak dapat melihat apa yang kulihat. Tapi mereka terlihat panik karena melihatku yang tidak berbicara apa pun. Memang mulutku terasa kelu, seolah aku tidak bertenaga bahkan hanya untuk memanggil nama salah satu dari mereka.
"Nabila?!" jerit Kak Rayi yang kini menggoncangkan tubuhku agak keras. Aku seolah tersadar, dan balik menatapnya. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan sorot mata aneh. Aku menunjuk sudut lain, dan menyebut nama Kak Faza.
"Kamu yakin?" tanya Kak Rayi. Aku pun mengangguk, kami berjalan ke arah Kak Faza, dia seolah sedang menunjukkan jalan dan aku pun mengikutinya bersama mereka bertiga. Dengan takut, aku berusaha menerobos kerumunan arwah-arwah penasaran yang berada di sekitar kami. Mungkin bagi Kak Rayi, Kak Roger dan Kak Bintang sikap ku terlihat aneh, padahal jika mereka bisa melihat sosok di sekitar kami, aku yakin pasti mereka akan bersikap sama sepertiku.
__ADS_1
"Bil, ke mana? Masih jauh?" tanya Kak Roger yang terlihat kelelahan.
"Di sana, kak," tunjukku ke arah Kak Faza berhenti. Aku segera berlari dan mendekat ke tempat di mana ruh Kak Faza diam. Dia menatap ke bawah dengan tatapan sedih. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya basah kuyup. Dan saat sampai di tempat itu, kami cukup terkejut, karena melihat ada sebuah lubang gelap. Ada beberapa pijakan dan pegangan yang sepertinya dibuat untuk naik dan turun ke bawah. Ruh Kak Faza hanya diam sambil menatap ke bawah, seolah-olah ini seperti pertanda ada sesuatu di sana.
"Bil, ngapain kita ke sini?" tanya Kak Bintang. Aku masih terpaku pada lubang gelap di bawah kami.
"Ugh! Bau lumpur lagi!" pekik Kak Roger sambil menutup hidungnya.
"Kak Faza ada di sekitar kita, dia terus melihat ke sana," jelasku menunjuk tempat itu. Semua orang diam dengan pikiran masing-masing. Yakin, kalau mereka juga berpikiran sama sepertiku, tetapi aku yakin kalau mereka ragu untuk melakukan itu.
"Ya sudah, Biar aku sama Bintang turun ke bawah." Kalimat Kak Rayi membuat aku dan Kak Roger menatap dua orang itu bergantian. "Serius lu?!" tanya Kak Roger agak terkejut. Kak Rayi mengangguk sambil beralih menatap Kak Bintang meminta persetujuannya. Dan, akhirnya Kak Bintang mengangguk pasrah. Mereka mulai bersiap dan akan segera turun. Tentu menggunakan peralatan yang memadai, senter dan tali.
Sebelum turun, Kak Rayi menoleh kepadaku, "hati-hati ya, Bil. Roger, jagain Nabila. Awas kalau sampai kenapa-napa," katanya sedikit mengancam.
"Iya, bawel banget lu. Aman Nabila sama gue."
Kak Bintang turun terlebih dahulu, sementara Kak Rayi menyusul di belakangnya. Aku kini hanya jongkok di dekat lubang itu. Jujur aku cemas, dan takut terjadi hal buruk pada mereka. Hawa dingin mulai menusuk tulang, wajar saja saat malam datang udara akan semakin menusuk tulang, karena siang hari juga kabut sudah muncul.
"Dingin banget, ya, Bil?" tanya Kak Roger sambil memeluk lengannya sendiri. Padahal dia sudah memakai sweeter tebal. Aku pun merasakan apa yang dia katakan, hanya saja aku terlalu fokus dengan dua orang yang kini sedang berada di bawah sana.
"Tapi aneh nggak sih? Kenapa, ya, di tempat ini bisa sedingin ini. Ini bukan daerah pegunungan loh. Biasanya gue bisa kedinginan gini kalau naik gunung, baru bener-bener dingin kayak gini. Tapi ini dataran rendah. Iya, kan? Masa karena danau? Atau hutannya?"
Aku diam dan membenarkan lagi perkataan Kak Roger. Hal ini membuatku cukup penasaran, akan apa yang terjadi di tempat ini. Kabut? Dingin? Aku makin memfokuskan diri, benar-benar fokus terhadap apa yang ada di sekitarku. Kupejamkan mata, karena dengan begini biasanya aku akan menemukan hal yang mungkin terlewat.
Kini keadaan yang awalnya sunyi, makin ramai. Bahkan terasa sangat berisik. Seolah-olah di sini sangat ramai dengan banyak manusia. Aku beranikan diri membuka mata. Sampai akhirnya aku benar-benar terkejut melihat kondisi tempat ini dalam sudut pandang berbeda.
Di atas danau aku melihat banyak sekali ruh yang bergentayangan. Mereka sama seperti ruh-ruh yang tadi ada di dekat tenda. Namun di danau jauh lebih banyak. Bahkan jika aku perhatikan lagi, kabut tipis yang aku lihat sejak aku datang adalah 'mereka'. Yah, para ruh yang sedang berada di atas danau. Dan aku yakin hawa dingin ini juga berasal dari mereka. Hawa dingin yang tidak biasa dan aneh.
Aku beranjak untuk melihat seberapa jauh dan banyaknya makhluk-makhluk ini. Dan hal ini justru membuatku tercengang karena mereka benar-benar memenuhi seluruh tempat. Bukan hanya di danau, tapi juga hutan sekitar. Hanya saja, danau seperti sebuah magnet. Aura di sana terlihat sangat kuat dan membuat banyak ruh terseret ke atasnya.
"Ya ampun," gumamku sambil menatap seluruh tempat.
"Ya ampun apaan? Bil?" tanya Kak Roger sambil mendekatkan dirinya padaku. Ia ikut melihat ke semua tempat yang kau tatap, tapi terus menampilkan raut wajah kebingungan. "Heh! Elu lihat apa?!" paksanya.
"Kak, apa yang Kakak bilang tadi memang benar."
"Soal keanehan tempat ini. Kenapa di sini sangat dingin dan berkabut, padahal bukan di atas gunung."
"Oke, jadi karena apa?"
"Di sini penuh sama makhluk halus, Kak. Bahkan kabut yang ada di danau, sebenarnya itu karena saking banyaknya mereka di sana. Juga hawa dingin ini, bukan sepenuhnya karena alam. Tapi 'mereka'."
"Hah, Gila! Serius lu?"
"Iya. Di danau seperti ada tarikan kuat, yang membuat makhluk halus mendekat. Tapi yang pasti itu jahat."
"Terus bagaimana, Bil?"
"Sepertinya ada yang mengikat 'mereka' dan bikin semua makhluk ini nggak bisa pergi."
"Apa dong?"
Aku diam, terus mencari hal aneh atau apa pun yang mungkin mengantarkan ku pada sumber masalah ini. Dan tatapan mataku terhenti pada seseorang. Ia berdiri di tengah danau, penampilannya yang lain dari yang lain lah yang membuat aku yakin, kalau dia memang berbeda.
"Kak, kalau 10 menit lagi aku nggak balik, bangunin aku. Terserah bagaimana caranya, pokoknya Kak Roger harus sadarkan aku!" titahku.
"Bentar. Bentar. maksud lu apaan sih? Nggak balik? Mau ke mana memang? Terus bangunin? Hah?! gue nggak ngerti Nabila!"
Aku tidak menjawabnya, karena sudah tidak ada waktu lagi. Kini aku duduk bersila, dan mulai meditasi. Entah apakah ini akan berhasil atau tidak, karena aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Aku hanya sering mendengar dari Pak Dio, supir Papa. Kalau mau menghadapi makhluk halus, tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa. Mereka halus, dan aku harus menghadapi mereka dengan cara yang sama. Aku harus melepaskan ruhku, dan melawannya. Sudah banyak buku yang kubaca tentang meraga sukma. Dan, kini waktunya aku mempraktekkan nya.
Segala perkataan Kak Roger tidak kuhiraukan, karena aku harus melakukannya. Aku mulai memejamkan mata, dan butuh konsentrasi tinggi, hingga perlahan suara Kak Roger terdengar samar. Hal ini membuatku terjaga karena khawatir jika terjadi sesuatu padanya.
Tapi saat aku membuka mata dan berdiri, Kak Roger justru jongkok sambil mengajak orang lain berbicara, saat aku menoleh rupanya itu adalah tubuhku. Dan tandanya kalau aku memang sudah berhasil dengan cara ini. Melepaskan ruh dan memasuki dunia gaib, membuatku kini pusing. Kepalaku berat apalagi dengan banyak suara berisik dari makhluk-makhluk ini. Mereka menjerit dan menangis, bahkan meraung meminta pertolongan. TAngan ku diraih dan aku tersudutkan. MAkin lama aku makin jengah, aku lelah, dan muak dengan perlakuan mereka. Aku menutup kepalaku, dan sontak menjerit keras-keras. Tiba-tiba mereka menghilang dengan sinar yang langsung redup dalam waktu detik.
Keadaan terasa lebih sunyi. Dan kini hanya ada aku dan pria di atas danau itu. Jarak kami cukup jauh, tapi aku mampu melihat kalau dia punya kekuatan yang besar. Jujur, aku tidak tau harus berbuat apa sekarang.
"Kehidupan mereka itu hampir sama seperti kita, itulah kenapa banyak orang bilang kalau kita hidup berdampingan dengan mereka. Jadi jenis mereka pun beragam. Ada yang baik, ada yang jahat. Dan biasanya yang kuat adalah yang umurnya sudah lama, ratusan bahkan ribuan tahun." Aku teringat perkataan Pak Dio saat aku menanyakan hal-hal gaib, dia adalah seorang indigo dan sudah lama terbiasa dengan hal ini. Dan aku sangat suka mengobrol dengannya untuk membahas hal seperti ini.
__ADS_1
"Biasanya yang paling kuat apa, Pak?"
"Banyak, Neng. Salah satunya Bathara kala. Demikian kami menyebutnya. Dalam ajaran agama Hindu, Kala adalah putera Dewa Siwa yang bergi dewa penguasa waktu (kata kala berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya waktu). Dewa Kala sering disimbolkan sebagai rakshasa yang berwajah menyeramkan, hampir tidak menyerupai seorang Dewa. Dalam filsafat Hindu, Kala merupakan simbol bahwa siapa pun tidak dapat melawan hukum karma. Apabila sudah waktunya seseorang meninggalkan dunia fana, maka pada saat itu pula Kala akan datang menjemputnya. Jika ada yang bersikeras ingin hidup lama dengan kemauan sendiri, maka ia akan dibinasakan oleh Kala. Maka dari itu, wajah Kala sangat menakutkan, bersifat memaksa semua orang."
"Jangan-jangan dia ...." batinku.
Seolah mengerti sedang kupikirkan, pria itu mendekat. Dengan jalan melayang. Tidak menyentuh air barang 1 senti sekali pun.
"Mau apa kamu di sini?!" tanyanya dengan suara berat dan menggetarkan tubuhku.
"Maaf, kami cuma mau menjemput teman kami saja. Tidak lebih dari itu."
"Semua orang yang ada di tempat ini, sudah menjadi milikku! Tidak bisa diambil lagi!"
Aku menelan ludah, dan bingung harus berkata apa lagi. Ini kali pertama aku bertemu makhluk sejenis Bathara kala. Makhluk yang menjadi mitos terjadinya gerhana bulan.
"Tapi aku pikir, kamu mengambil jiwa mereka dengan paksa?! Dan rasanya itu tidak boleh, kan?"
Dia diam. Aku juga heran, kenapa aku bisa berkata demikian. Karena yang aku pikir, hilangnya Kak Faza dan yang lain memang aneh. Apalagi melihat banyaknya ruh di tempat ini. Tadi. Ah, iya, tadi sangat banyak dan sekarang ke mana mereka?
Aku menyapu pandang ke sekitar, dan baru menyadari kalau mereka benar benar hilang semua.
"Kenapa? Kamu heran? Bukannya kamu yang mengusir mereka?!"
Aku kembali menatapnya tajam, rupanya dia bisa membaca pikiranku jadi aku harus lebih hati-hati.
"Dan, rasanya mang seharusnya mereka tidak ada di sini, kan? Jadi kenapa anda menahan ruh mereka di tempat ini?!" tanyaku tegas.
"Bukan urusanmu!"
"Tentu saja itu menjadi urusanku. Karena salah satu jiwa uang anda ambil adalah temanku! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Karena mereka semua hilang, maka kau sebagai gantinya!"
"Jangan harap!" Aku berbalik badan, dan mencoba kembali ke tubuhku. Tapi tiba-tiba bahuku ditarik oleh dia. Panas dan sakit. Seperti ada rasa terbakar jika tangannya menyentuh ku. Aku otomatis menjerit dan meronta. Anehnya dia terpental jauh.
"Bil! Nabila! Bangun!" suara Kak Roger terdengar jelas di dekat telingaku.
Dan tanpa aku sadari, aku sudah kembali ke dalam tubuhku. Dengan Kak Roger di samping ku dan melihatku panik.
"Syukurlah!" katanya lalu duduk begitu saja di tanah.
"Kenapa?" pertanyaan itu keluar dari suara yang kami kenal. Kak Rayi. Dia muncul dengan membawa Kak Faza dan Kak Bintang di belakang mereka.
"Faza!" jerit Kak Roger, senang. Dia terlihat sangat bahagia melihat temannya berhasil ditemukan.
Kak Faza hanya diam, tersenyum dengan.wajah pucat. Tapi aku yakin, dia memang Kak Faza yang asli.
"Ketemu di mana?" tanya Kak Roger.
"Jadi di bawah banyak tubuh manusia yang sudah membusuk. Tapi untung kita cepat menemukan Faza. Kalau nggak, mungkin dia bernasib sama seperti yang lain," jelas Kak Bintang.
"Sepertinya kita harus menelpon polisi. Agar mayat mayat itu di makamkan dengan layak."
Keadaan sudah kembali baik baik saja. Dan udara di sekitar kami seolah menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Aku tersenyum saat melihat kondisi tempat ini yang berbeda dari sebelumnya. Walau aku tidak tau ke mana makhluk jahat itu pergi, tapi aku harap dia tidak lagi menahan jiwa jiwa manusia dengan cara jahat lagi.
Kami memutuskan kembali ke tenda. Karena Kak Faza sudah ditemukan, dan tentu kami butuh istirahat. Aku pun merasa sangat lelah.
Ketiga pria itu berjalan terlebih dahulu, Kak Faza hanya tertawa saat Kak Roger dan Kak Bintang mencandainya. Aku dan Kak Rayi berjalan di belakang mereka. Tapi tiba-tiba Kak Faza berhenti lalu menoleh padaku.
"Makasih, ya. Mereka semua sekarang sudah bebas, berkat kamu."
"Hah? Eh, iya," sahutku terkejut dengan kalimatnya yang tiba tiba itu.
Ketiga temannya hanya menatapku dan Kak Faza bergantian. "Duh, gue laper. Ada makanan gak?" tanya Kak Faza dan membuat Kak Roger dan Kak Bintang kembali merangkulnya. Menggiring ke tenda.
"Bil, apa yang kamu lakukan saat aku nggak ada?" tanya Kak Rayi penasaran.
__ADS_1
Aku tersenyum, lalu menggeleng. Kami menyusul mereka bertiga yang sudah sampai tenda. Aku juga lapar, semoga masih ada makanan untukku juga. Ah, lelah sekali hari ini.