
Jenazah Faizal dan keluarganya baru saja dikuburkan. Makam mereka berdekatan satu sama lain. Berita kematian mereka sudah membuat geger warga satu desa. Kasusnya masih diusut polisi. Karena banyak keganjilan dalam kematian keluarga itu. Terlebih dengan terbakarnya rumah Faizal.
Suasana duka masih terasa. Pemakaman masih ramai oleh peziarah. Menebar bunga atau mendoakan jenazah, masih kerap dilakukan dengan bergantian. Desas desus adanya balas dendam dan isu pembunuhan berantai membuat warga cemas. Mereka saling berbisik dan membahas masalah ini, bahkan saat masih ada di makam.
"Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Vin, menatap Abimanyu, Adi, dan Gio bergantian.
"Hm, kita harus mulai menyerang mereka. Jangan terus-menerus pasrah dengan semua serangan dari mereka," sahut Adi dengan wajah dingin dan datar.
"Gue yakin, mereka udah dapetin flash disk itu, kan?" Abi menanggapi.
"Terus kita nggak punya bukti lagi dong?" Gio sedikit cemas.
Abi mengelus liontin kalung yang ia pakai. "Aman, Paman. Kita biarkan saja mereka ambil benda itu. Karena Abi punya salinannya," ucapnya dan membuat mereka terkejut.
"Woho! Pantesan elu santai," pekik Vin dengan wajah sumringah.
"Kita harus balas apa yang udah mereka lakukan selama ini, iya, kan?" tanya Abimanyu meminta persetujuan mereka semua.
"Yah. Pasti!"
Dua gadis dengan setelan hitam dan selendang sebagai penutup kepala nampak berjalan mendekat. Mereka baru saja mengobrol dengan sanak saudara Faizal yang lain.
"Udah?" tanya Abimanyu ke Ellea. Ia membetulkan letak selendang di kepala Ellea. Gadis itu mengangguk, lalu meraih tangan Abi. "Pulang," rengeknya. Setelah memberikan beberapa santunan untuk acara pemakaman, mereka pulang. Keluarga Faizal berada jauh dari tempat tinggal Faizal, bantuan dari mereka memang tidak seberapa, setidaknya bisa membantu acara pemakaman dan biaya untuk hal lain. Paling tidak, ini adalah bentuk penghormatan terakhir yang dapat mereka lakukan.
_______
Langit sudah gelap saat mereka sudah memasuki desa Amethys. Karena tubuh sudah letih, mereka segera menuju ke rumah. Beberapa kali mobil berpapasan dengan mobil ambulance dan polisi. Hal ini membuat mereka penasaran.
"Coba berhenti sebentar. Tanya ada apa sebenarnya," suruh Adi ke Abi yang kini bergantian mengemudi. Mobil akhirnya menepi, mendekat kerumunan warga dengan polisi yang ada di sekitarnya. Setelah mematikan mesin mobil, Abi menyuruh Ellea tetap di mobil. Gadis itu juga sudah mengantuk, maka ia lebih memilih bersandar di kaca sampingnya dengan memeluk bantal yang sengaja ia bawa agar nyaman saat diperjalanan.
Abi dan Adi turun dari mobil, mendekat ke kerumunan di sana. Sementara di mobil lain, Gio dan Vin juga menyusul.
"Ada apa, Pak?" tanya Adi ke salah satu warga desa yang berdiri paling belakang.
"Itu rumah Pak Jumri Habi dimasuki hewan buas, Mas," kata pria setengah baya itu, berbisik dengan wajah serius dan tegang.
"Hah? Hewan buas? Maksudnya gimana, Pak?"
"Pak Jumri meninggal dengan luka cakaran di dada. Di dekat pintu juga ada cakaran besar."
Kalimat tadi membuat 4 pria ini mendadak pucat. Mereka mengamati keadaan selama beberapa menit. Adi dan Gio memutuskan mendekat agar lebih mudah dan banyak mendapat informasi.
"Bener. Ada bekas cakaran di pintu. Jenazahnya juga sama," jelas Gio.
"Waw. Jangan-jangan ... Yang kemarin gue lihat itu memang binatang ini, Bi!" kata Adi, yakin.
"Paman yakin?"
"Yakin! Suaranya khas. Dan jelas."
"Loh kalian pernah ketemu hewan ini? Eh ini hewan apa sih? Macan? Beruang?" tanya Vin.
"Jadi, malam kalian datang itu, gue menangkap ada pergerakan aneh di luar rumah. Akhirnya gue keluar buat cek. Di situ sih nggak ada penampakan apa pun yang keliatan, cuma suaranya."
"Suara apa, Di?"
"Geraman!"
"Waw. Ngeri juga. Kok bisa ada hewan gitu di desa ini? Perasaan dulu aman-aman aja, kan?" tanya Vin.
"Eh, kita jangan bilang dulu ke Ellea sama Allea. Takutnya mereka panik."
"Bener. Ya udah kita balik, yuk. Kasian mereka. Pasti udah ngantuk."
__ADS_1
______
Pagi ini cafe sudah siap untuk kembali beroperasi. Tulisan "open" sudah menghiasi pintu masuk cafe. Meja dan kursi sudah di lap dan dibersihkan. Semua pegawai memakai seragam cafe dan bersiap menerima pengunjung.
Selalu ada pelanggan setia setiap paginya. Menikmati kopi dan sarapan di cafe tercinta mereka. Tidak hanya sajiannya yang lezat dan enak, tapi pelayanannya juga memuaskan. Semua orang di cafe itu ramah, dan memberikan customer services terbaik. Hari ini para gadis ikut membantu mengelola cafe. Karena baik Abi maupun Vin juga tidak mungkin membiarkan Ellea dan Allea di rumah hanya berdua saja. Vin berencana akan pergi ke ibukota bersama Abimanyu. Mereka harus menemui seseorang guna menyelidiki masalah Adventure game yang masih dilakukan oleh beberapa oknum pejabat dan orang kaya.
"Salinan flash disk itu sama elu disimpen di mana, Bi?" tanya Vin.
"Di sini," kata Abi sambil mengelus dadanya.
Plak! Sebuah tamparan yang tepat mengenai lengan tangan Abi membuat pemuda itu meringis menahan sakit. "Sakit ih!" omelnya pada Vin yang duduk di belakang kemudi mobil. Mereka sudah siap akan pergi ke ibukota, sesuai rencana.
"Lagian gue tanya serius."
"Gue juga jawabnya serius, Vin. Ini! Di sini!" kata Abi dengan menunjukkan liontinnya. Vin memincingkan mata dan baru sadar maksud dari perkataan temanmu itu. "Oh di situ? Astaga! Pinter juga lu!"
Liontin itu memiliki sebuah ruang kecil yang sangat muat untuk memasukan kartu memori yang ukurannya kecil. Aman dan tidak ada yang akan mencurigainya.
Mobil mulai dinyalakan, Ellea dan Allea melambaikan tangan melepas kepergian mereka berdua. "Jangan terlalu lama," kata Ellea.
"Hati-hati di jalan," cetus Allea.
Perjalanan ke ibukota tidak begitu jauh dan lama. Kira-kira sama seperti saat mereka ke rumah Faizal kemarin. Mereka berencana menemui Nabila dan Rizal. Hanya mereka berdua orang-orang dari pemerintahan yang mereka kenal dan bisa dipercaya. Mereka tentu tidak bisa bertindak sendiri, dan butuh orang dalam di pemerintahan. Kasus ini harus segera diungkap. Karena ada beberapa orang berpengaruh yang terlibat. Mereka tidak berhadapan dengan sembarangan orang yang mudah ditaklukan, tapi orang besar dan yakin akan banyak kendala dan banyak orang yang mungkin akan menutupi hal ini, jika sampai mereka salah strategi.
"Jadi elu udah move on, Vin? Sekarang lancar, kan, sama Allea?" tanya Abi sambil fokus mengemudi.
"Entahlah, Bi. Gue masih masa penjajakan. Masih harus saling berusaha mengenal satu sama lain." Pandangan mata Vin terus memperhatikan jendela. Pemandangan di luar hanya sebagai kamuflase, untuk menutupi kegundahan hatinya. Matanya memang menatap ke arah luar, tapi pikirannya terus ada di cafe, tempat terakhir Vin bertemu Allea.
"Tapi kalian cocok. Gue juga lihat Allea tertarik sama elu. Elu juga kan, ada perasaan spesial ke dia?" tanya Abi menegaskan.
"Gue akui, iya. Tapi ... Gue masih takut." Ia mendengus teringat mantan istrinya yang kini sudah tiada.
"Jangan terus menerus menghindar dari takdir, Vin. Elu harus hadapi. Hiduplah normal. Menikah, lagi. Jangan terus-terusan menyetor nyawa. Gue yakin, istri lu pengen lu hidup bahagia di sini."
"Yah, gue coba nanti."
______
Tak terasa mereka sudah sampai ibukota. Mencari alamat kantor Nabila dan akhirnya sampai di kompleks BIN.
Kesan pertama ketika memasuki Komplek BIN, terpateri bahwa masalah keamanan menjadi perhatian utama. Kantor ini dikelilingi pagar besi yang membatasi jalan umum dengan jalan lingkungan kantor. Dari Jalan Seno Raya yang sejajar dengan rel kereta api lintasan Pasar Minggu-Kalibata, terlihat pagar tinggi yang ditutup oleh rimbunnya pohon bambu, seolah menyembunyikan gedung-gedung perkantoran BIN. Dari Jalan Seno Raya, juga terlihat menjulang keberadaan patung Soekarno-Hatta, tepat di depan gerbang utama masuk komplek perkantoran BIN. Patung itu seolah mempermudah dalam mengenal intelligence compound yang menjadi "Headquarter" BIN.
Lalu-lintas keluar masuk Komplek BIN hanya melalui satu pintu gerbang, yaitu pintu gerbang sebelah selatan, meskipun di sebelah utara juga terdapat pintu gerbang. Pintu gerbang sebelah utara, yang berdampingan dengan Komplek Perumahan semata-mata hanya menjadi akses menuju Masjid Baitul Akbar dan kolam renang BIN, fasilitas yang diperuntukkan bagi masyarakat umum.
Mereka mulai masuk ke pos penjagaan pertama yang biasanya disebut Garda. Setiap tamu atau siapa pun yang akan masuk, harus melalui pemeriksaan. Identitas dan barang bawaan. Kecuali pegawai BIN sendiri.
Tepat di sudut jalan masuk antara komplek pemukiman anggota BIN dan komplek perkantoran yang dibatasi pagar besi dengan kerimbunan pohon bambu, terdapat tulisan di papan besi permanen yang bunyinya : "For Your Eyes Only".
Komplek BIN yang luasnya kurang lebih 26 hektar, terbagi dalam 2 (dua) blok. Pertama, blok perumahan anggota seluas 17 hektar. Kedua, blok perkantoran dengan luas 9 hektar. Blok pemukiman lokasinya "Letter U" di sisi-sisi blok perkantoran. Fasilitas pada blok pemukiman meliputi perumahan dan mess pegawai serta sarana olah raga.
Mereka berbelok ke gedung perkantoran. Setelah sebelumnya sudah menghubungi Nabila untuk janji temu, sampai di dekat gedung itu, Abi meraih telepon genggamnya dan kembali mengirim pesan.
"Ellea nggak cemburu? Elu ketemu Nabila lagi?" tanya Vin sembarin menunggu Nabila keluar dari kantornya.
Abi menggeleng, sedikit tersenyum. "Yah, wajar sih. Dia cemburu. Tapi bukan yang over posesif sampai nggak ngebolehin gue ketemu Nabila. Dia ngerti kok."
"Bagus lah. Takutnya abis ini kalian perang dunia lagi." Vin memundurkan jok yang ia duduki. Matanya yang terpejam, tak terlihat karena memakai kacamata hitam.
Pintu kantor dibuka, menampilkan seorang gadis yang melambaikan tangan ke arah mobil Abi. Abi lantas menyenggol Vin dan menyuruhnya keluar sesuai instruksi Nabila.
"Hai! Apa kabar?" tanya Nabila ramah, menyalami dua pria itu bergantian.
"Baik. Elu gimana?"
__ADS_1
"Yah, gini lah. Biasa aja. Ini?" tanya Nabila menunjuk Vin yang memang mereka baru saja bertemu.
"Oh iya, ini Vin. Temen gue."
"Oh, ya udah yuk, masuk aja. Ada Rizal juga di dalam. Ngobrol di dalam aja, ya," ajak Nabila lalu berjalan masuk ke dalam.
Vin menarik tangan Abimanyu dan berbisik. "Pantesan Ellea cemburu. Lah cantik begini," bisik Vin ke Abi.
"Ck. Berisik!" kata Abi lalu ikut masuk menyusul Nabila.
"Eh, Bi. Nabila sama Allea pernah ketemu emangnya?" tanyanya masih dengan nada pelan, agar yang sedang mereka bicarakan tidak mendengarnya. Nabila terlihat menyapa beberapa teman kerjanya yang berpapasan sepanjang jalan. Kadang terlibat obrolan basa basi, dan juga mengenalkan dua tamunya itu.
"Belum."
"Tapi kenapa Ellea bisa seposesif itu?"
"Hah? Posesif gimana sih? Kan gue bilang, Ellea nggak gimana-gimana. Cuma cemburu. Simple."
Nabila menoleh dan menunjuk sofa panjang. "Duduk dulu, ya. Gue panggil Rizal sebentar."
"Oke, Bil. Thanks," sahut Abi mencoba bersikap ramah.
"Udah deh. Nggak usah dibahas." Abi duduk di sebuah sofa panjang dengan warna brown. Ada dispenser di sampingnya, lengkap dengan gelasnya.
Suasana tempat ini sepi tapi tidak sunyi. Dalam artian, banyak orang lalu lalang, entah membawa beberapa tumpukan kertas, atau berjalan dengan mengobrol tentang kasus yang sedang dihadapi bersama rekannya, bahkan tak jarang ada yang mondar mandir mengambil minum, melirik mereka berdua tentunya dengan tatapan tidak bersahabat.
Suara langkah terdengar menggema di sepanjang ruangan. Keadaan lobi ini yang sepi, membuat sedikit saja suara langsung terdengar nyaring.
Nampak Nabila dan Rizal yang keluar dari koridor tempat Nabila tadi pergi. Rizal tersenyum ke Abimanyu.
"Wah, lama nggak ketemu nih!" sapa Rizal, langsung menjabat tangan pemuda itu. Abi menyambutnya dan berakhir dengan pelukan salam pertemuan mereka.
"Vin, temen seperjuangan gue juga," kata Abi menunjuk pemuda di samping.
"Hai, Vin. Rizal."
"Hai, Zal."
"Ada hal penting apa, Bi?" tanya Nabila begitu mereka duduk di sofa.
"Gini, kita mau minta bantuan kalian," kata Abi serius. Abi lantas menyuruh Vin mengeluarkan laptop yang ada di tasnya.
"Kalian harus lihat ini!" kata Vin yang mulai menyalakan laptopnya. "Sim cardnya, dodol!" pinta Vin ke Abi.
Abi lantas mengeluarkan benda kecil itu dari liontinnya. Rizal dan Nabila hanya diam dan menyimak. Mereka juga penasaran pada apa yang akan dibicarakan oleh Abi. Ini pasti sesuatu yang penting karena jarang-jarang seorang Abimanyu akan keluar dari kandangnya. Jika bukan masalah serius, dia pasti tidak akan mau repot-repot menemui Nabila dan Rizal jauh-jauh ke sini.
"Gue beberapa bulan lalu pergi ke Venesia. Nyari Ellea, pacar gue, breng Vin. Kebetulan dia ini lagi liburan di sana. Vin ini seorang militer. Nah, ternyata di sana, kami mengalami hal-hal yang cukup hampir membuat Vin mau mati," jelas Abi. Vin melirik dan mendengus sebal.
"Kok bisa? Kalian ngacak-ngacak San Pas?" tanya Rizal.
Mendengar tempat tersebut di ucapkan Rizal, Vin dan Abi lantas menatapnya heran. "Kok elu tau San Paz?" tanya Vin.
"Ya taulah. Di sana kan memang tempat gangster nya di sana. Kalau sampai kalian bilang, kalian hampir mati saat di sana, berarti kalian macam-macam ke salah satu orang di San Paz. Bener, kan?"
"Yah, bener. Elu liat dulu semua video dan foto ini!" suruh Abi.
Nabila dan Rizal melihat semua file di dalam laptop itu. Foto dan video terus membuat mereka tercengang.
"Waw. Ini temuan besar, dan ... Berbahaya sekali," kata Rizal geleng-geleng kepala.
"Makanya kita minta tolong kalian. Karena mereka masih ngejar kita, dan kemarin salah satu temen kami, meninggal. Gue yakin itu ulah mereka karena dia mang menyimpan flash disk itu."
"Jadi kalian bikin salinannya?" tanya Nabila. Abi dan Vin mengangguk.
__ADS_1
"Pinter."