pancasona

pancasona
part 113 Ca' Dorin Apartments


__ADS_3

Ca' Dorin Apartments


Terletak di gang yang cukup sempit, bagi orang Indonesia ini bagai tempat pemukiman penduduk kumuh, , tapi di Venesia letak jalan seperti ini kerap di jumpai di beberapa sudut kota. Dengan tatanan tempat yang rapi, bersih dan indah. Cukup nyaman dipandang mata.


Allea mempersilakan mereka berdua masuk ke dalam. Tidak begitu luas apartment miliknya. Pintu masuk langsung dihadapkan pada ranjang luas yang tertata rapi, di sampingnya ada pintu toilet. di bagian depan ranjang adalah dapur mini. Kalau di Indonesia mirip hotel bintang 3 karena tidak begitu luas. "Duduk. Mau minum apa?" tanya Allea, lalu berjalan terus ke dapur.


"Air putih saja," pinta Abimanyu. Vin duduk di ranjang, Abi justru mengamati tiap sudut ruangan ini. Jendela di sini tidak dapat dibuka, tapi dipakai untuk melihat pemandangan gedung di sebelahnya. Abi menyibak korden dan melihat aktifitas orang di bawah mereka. Orang yang lalu lalang membuat Abi sedikit waspada. Karena ia tidak bisa mempercayai siapa kawan siapa lawan. Ia hanya percaya pada Vin seorang.


Allea kembali dengan dua buah gelas dengan air segar di dalamnya. Menyodorkan ke Vin kemudian Abimanyu. Saat gelas itu diberikan ke Abimanyu, kedua tangan mereka bersentuhan, tatapan Abi sedikit lebih lama menatap Allea. Yah, gadis di hadapannya sangat mirip Ellea. Abi sempat berfikir, kalau dia memang benar-benar Ellea yang hilang ingatan.


"Anggap saja rumah sendiri," kata Allea, kemudian masuk ke toilet. Abi meneguk air minum itu, kembali menoleh ke jendela. Jalanan terlihat ramai. Beberapa orang dengan sikap mencurigakan terlihat mendekati gedung ini.


"Vin!" panggil Abi, Vin segera mendekat dan mengamati luar. "Mereka mencurigakan."


"Hm. Iya. Mereka ke sini, Bi. Cabut!"


"Heh! Itu kita tinggalin?" tanya Abi menunjuk ke toilet. Lalu keluarlah orang yang mereka maksud. Ia menatap dua pria itu, bingung. "Kenapa?" tanya Allea.


"Ayok!" Abi segera menarik tangan gadis itu. Vin memimpin di depan, ia mengeluarkan revolver miliknya. Mereka keluar kamar. Saat mereka hendak menuju Lift, Allea menahan tangan Abi yang masih menggengamnya erat. "Jangan lewat sana. Mereka pasti lewat lift, kita lewat tangga darurat saja!" Idenya boleh juga. Vin dan Abi segera mengikutinya yang kini berjalan lebih dulu. Langkah cepat. Bahkan kini mereka mulai berlari menuruni tangga. Entah siapa orang yang kini mengejar mereka, yang pasti mereka harus menghindar lebih dulu.


Mereka sudah sampai di ruas jalan, mobil Vin parkir di seberang jalan, otomatis mereka berlari menyeberangi jalan untuk sampai ke sana. Di saat yang bersamaan, Allea menoleh ke kamarnya, ia melihat orang-orang itu sudah ada di kamarnya. Mereka yang melihat target kabur, panik. Terlihat raut wajah salah satu dari mereka, menjerit sambil menunjuk ke 3 orang yang kini sudah masuk ke dalam mobil.


"Wahaha! ****** lu!" tawa Vin yang dimaksudkan menertawakan orang-orang itu di atas sana. Ia langsung masuk ke mobil dan mereka segera pergi dari sana. Mobil terus melaju, entah ke mana tujuan mereka. Asal pergi dari orang-orang tadi tentunya.


Akhirnya pilihan satu-satunya adalah rumah kediaman Vin. Mirip seperti pencuri, bahkan saat mereka bertiga turun dari mobil, terus mengawasi sekitar. Saat ada orang yang mencurigakan, mereka diam sejenak, sampai orang tersebut benar-benar bukan salah satu dari orang-orang yang sedang mengejar mereka.


Sampai di rumahnya, Vin segera melepas kausnya. Otot tubuhnya terlihat menyembul, membuar Allea sungkan. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, Abi tersenyum melihat sikapnya. "Mau makan?" tawar Abi mencoba membuat dirinya nyaman di tempat ini, yang berpenghuni kan dua pria yang belum ia kenal sebelumnya. Allea hanya menoleh saat Abi menuju dapur. Gadis itu memperhatikan tempat tinggal Vin yang tidak lebih baik darinya. Abi mulai menyalakan kompor dan mencoba membuat makanan untuk mereka. Perutnya memang sudah kelaparan sekarang.


Allea memutuskan mendekat ke Abimanyu. Memperhatikan apa yang sedang dilakukan pemuda itu. "Bikin apa?" tanya Allea. Abi menatap gadis itu, tersenyum. "Apa saja yang bisa dijadikan makanan. Si tuan rumah cuma bisa bikin spagheti," sindir Abi melirik ke Vin yang masih memilih pakaian yang hendak ia pakai. Sepertinya perkataan Abi tidak sampai ke telinganya. Jika sampai Vin mendengarnya, maka sebuah pukulan pasti akan mendarat di kepala Abi. Allea tersenyum. Manis. Abi secara diam-diam mengagumi kecantikan Allea. Namun tangannya tetap bekerja membuat sebuah kudapan yang bisa menyumpal cacing di perutnya.


"Aku bantu," kata Allea, lalu bertanya instruksi apa yang harus ia lakukan sekarang. Mereka membuat sebuah makanan bersama. Membuat Vin tersenyum penuh arti. Ia berdeham sambil berjalan ke meja makan. "Eh, Allea ... Gue Vin, dia Abimanyu," kata Vin memperkenalkan diri. Allea pun baru sadar kalau dia belum tau nama dua pria ini. "Elu di sini kegiatannya apa? Dengan ingatan yang hilang itu?" tanya Vin lagi. Allea yang hendak menghancurkan kentang rebus mendadak diam.


"Aku punya uang."


"Oh. Dari mana?" tanya Vin sedikit menginterogasi. Sementara Abi tetap fokus memasak.

__ADS_1


"Tas. Tas punyaku yang ada di Rumah sakit waktu itu ternyata banyak uang di dalamnya."


"..."


"Aku pakai uang itu buat sewa apartment di sana dan buat makan."


"Elu tau nggak kenapa mereka ngejar-ngejar elu?'


"Enggak," sahut Allea menggeleng, menatap dua orang itu bergantian.


"Allea. Kemarin malam, apa kamu yang lari di kejar-kejar orang dan masuk ke San Paz?"


Gerakan tangannya terhenti. "San Paz?" tanyanya seperti tidak tau di mana letak tempat yang disebutkan Abimanyu.


"Iya. Kamu bukan?"


'Sepertinya bukan aku. Aku kemarin demam, jadi tidur cepat. Mungkin kamu salah lihat?"


Abi menarik nafas panjang. Penjelasan itu seolah menyadarkannya kalau yang ini di hadapan mereka bukanlah Ellea. Dan kemungkinan mereka kembar memang yang paling masuk akal saat ini.Vin yang melihat wajah sedih Abi, menepuk bahunya pelan. "Ellea pasti baik-baik saja." Kini penggorengan mulai diambil alih Vin.


Makanan siap. Mereka pun makan. Ternyata tidak hanya Abi saja yang kelaparan, tapi Vin dan tentu yang paling terlihat lapar adalah Allea. Gadis itu terlihat lahap dengan makanan ini. Entah memang enak atau karena ia lapar.


"Kalau bukan uang terus apa, ya?"


"Dendam? Mungkin?"


Semua mata menatap Abimanyu, mengunyah makanan sambil berpikir kalau kemungkinan ini juga bisa saja terjadi. "Bisa jadi! Ah ingatan elu pakai ilang segala sih, All. Coba kalau elu inget, kita nggak perlu ribet gini. Dan Abi jadi tau, elu itu sebenernya Ellea apa Allea."


"Vin!"


"Tunggu. Sebenernya Ellea itu siapa?" tanyanya penasaran. Meminta penjelasan dari dua pria itu.


"Ellea itu pacar Abi, yang hilang di Venesia. Makanya dia nyari ke sini. Tapi malah ketemunya elu. Mukanya mirip banget elu deh. Makanya tadi kami kira elu Ellea."


"Hm. Tapi kenapa nama kami mirip, ya?" Allea mulai penasaran.

__ADS_1


"Bukan cuma nama, tapi wajah juga, suara. Semua yang ada di kamu, sama seperti Ellea," jelas Abimanyu.


Suara beberapa motor yang ada di depan membuat Vin segera beranjak. Memeriksa keluar. Ia menyibak korden jendela dan melihat ada beberapa gerombolan orang yang membawa senapan. Ia langsung sadar kalau mereka datang untuk mencari mereka. "Mereka datang!" kata Vin. Ia langsung meraih jaketnya, membuka laci yang ada di lemari bajunya. Melempar senjata api ke Abi.


"Kok aku nggak di kasih?" tanya Allea.


"Emangnya lu bisa pakai pistol?"


"Bisa," jawab Allea lantang. Akhirnya Vin memberikan salah satu senjatanya pada Allea. Gadis itu dengan cekatan memeriksa isi peluru dan kondisi pistol yang ia pegang.


"Elu bisa nembak?" tanya Vin lagi.


"Bisa."


Pintu dikunci, lemari nakas yang ada di ruang tamu Abi geser untuk menahan pintu itu. "Sembunyi!"


Masing-masing menempatkan diri di tempat yang mampu menyembunyikan diri mereka. Bersiap menghadapi musuh yang sedang berjalan ke sini. Allea melihat minyak goreng yang ada di meja dapur. Segera ia ambil dan menuangkan di sekitar pintu. "Yah, minyak gue abis dah!" gumam Vin.


Pintu didobrak dari luar. Beberapa kali. Namun karena penghalang yang ditaruh Abi, membuat pintu itu tidak lantas mudah ditembus, dari sela -sela pintu yang terbuka, Allea mulai membidik.


Dor!


Tepat sasaran. Ia berhasil menembak 1 orang tepat dikepalanya. Abi dan Vin melongo dibuatnya. Sementara Allea tersenyum bangga. "Bisa, kan?" tanyanya menjawab keraguan Vin tadi.


handle pintu ditembak, sebuah tendangan membuat pintu ini rusak. Tembakan dari dua kubu kini bagai hujan peluru di sana. Mereka pun masuk, namun tak menyadari akan adanya minyak goreng yang banjir di lantai. Satu orang terpeleset, membuat teman-temannya yang lain ikut terjatuh. Kesempatan ini tidak di sia-sia kan oleh Abi dan kawan-kawannya. Berondongan tembakan menghabisi nyawa mereka secara beruntun. Tapi tamu tak diundang itu mampu memasuki rumah Vin dalam sekejap. Merasa keadaan makin tak aman, Abi melihat jendela belakangnya. Ia memecahkan lalu menyuruh Allea keluar lebih dulu. "Vin! Ayo!" jerit Abi sambil terus menembak.


"Ah, Damn itu!" umpatnya menuruti saran Abimanyu. Allea masih melindungi dua temannya yang masih ada di dalam. Bidikannya selalu tepat sasaran. Bahkan hanya sekali tembak ia mampu melumpuhkan lawannya. Vin sudah berada di luar. Kini Abi menyusul, tapi naas, punggungnya tertembak. Melihat hal itu Vin memberondong penjahat di dalam dengan AK 47 miliknya, Allea membantu Abi keluar dengan menariknya dari jendela.


"Vin, Ayo!" jerit Allea sambil memapah Abimanyu pergi. Mereka berlari di ruas jalan, dengan memegang senjata api masing-masing. Mobil Vin tidak bisa mereka naiki, karena kunci mobil ada di dalam rumah. Jadi tidak mungkin Vin kembali ke dalam untuk mengambil kunci mobil.


Para musuh itu terus mengejar mereka. Lari mereka pun terus makin cepat sambil bersembunyi, jika tembakan dari arah belakang kembali di ledakan. Di saat genting seperti sekarang, sebuah mobil jeep berhenti di dekat mereka. "Perlu bantuan?" tanya seorang pria di belakang kemudinya.


"Ronal?" tanya Abimanyu seolah tidak percaya. Bukan karena Ronal ada di depan nya sekarang, tapi karena Ronal pandai berbahasa Indonesia. "Masuk!" suruh Ronal. Mereka masuk tepat sekali dengan datangnya orang-orang itu. Tembakan terus di ledakan dari musuh dan mobil terus melaju kencang.


"Waw, malam yang panjang, ya?" tanya Ronal dengan terus mengemudi makin cepat.

__ADS_1


"Ron? kau bisa berbahasa Indonesia?" tanya Abi, bingung.


Ronal tersenyum. "Iya. Kejutan." katanya.


__ADS_2