pancasona

pancasona
Part 123 Kematian


__ADS_3

Pintu sudah dihalangi dengan kursi. Antisipasi agar musuh tidak dengan mudah masuk, pikir Faizal. Yah, dia cukup menyukai film dengan tema action, dan inilah hasil rasa penasarannya. Ia membeli beberapa senjata api, tentu legal. Tapi belum pernah sekalipun menggunakannya. Dan ini adalah sebuah kesempatan, atau ... kesialan. Ia akan langsung mempraktekannya sendiri.


Meja mereka gulingkan sebagai upaya pertahanan diri. Bersembunyi di baliknya dengan senjata masing-masing. Mereka pun berpencar, mencari tempat yang nyaman dan aman untuk menyerang. Alan yang sudah sering merasakan keadaan ini, tidak merasa cemas, dia sudah terbiasa. Allea juga sering melihat keadaan seperti sekarang di depan matanya, ia juga sudah memiliki kemampuan yang diturunkan sang kakek. Sementara Ellea, dia sudah pernah menjadi pendamping prajurit yang tak bisa mati dulu, ia tidak merasa aneh dengan hal ini lagi. Tentu Faizal, juga sama. Ia sudah terbiasa menyaksikan film perang di tv layar datarnya. Semoga berakhir seperti keinginannya.


Pintu di ketuk, semua saling tatap, seolah mengisyaratkan siapa yang harus membuka pintu, atau pilihan lain, tembak saja pintu itu dengan selongsong yang ada di genggaman mereka. Tapi, mereka tidak boleh gegabah. Jangan sampai tetangga mendengar sambutan malam ini.


Handle pintu dibuka secara kasar, itu menandakan mereka memang harus diam di dalam dan menunggu tamunya masuk sendiri. Suara letusan terdengar nyaring. Tentu saja itu berasal dari pintu kediaman Faizal ini. Kunci rusak karena tembakan tadi, namun pintu tidak lantas terbuka karena ada kursi yang menghalanginya. Dari celah pintu sudah terlihat bagaimana keadaan di luar, walau sedikit, tapi mereka mampu melihat siapa orang yang datang. Ronal. Yah, Ronal benar-benar masih hidup, benar perkiraan Alan, kalau pemuda itu kuat, dan tak mudah menyerah.


Brak!


Pintu di dobrak kasar, membuatnya terbuka lebar dan memudahkan orang-orang di luar masuk. Faizal dengan cepat, menembak dan langsung mengenai lengan seorang pria yang berdiri di samping Ronal. Ronal dan anak buahnya segera menembak beruntun ke segala arah. Dan akhirnya peperangan terjadi, saling tembak dan mencari celah untuk melumpuhkan lawan.


"Argh!" pekik Faizal yang terkena tembakan di lengan kanannya, persembunyiannya mampu diintai dan ia lengah. Ellea yang ada di dekatnya lantas menolongnya, membalut luka itu untuk pertolongan pertama. Faizal terus meringis kesakitan. Bulir keringat terlihat di sekujur wajah dan tubuhnya, tubuhnya bergetar hebat menahan sakit. Yah ini rasa sakit paling mengerikan yang pernah ia dapatkan. Dan peluru masih bersarang di dalam daging.


"Ell, bawa Faizal pergi," suruh Allea melirik ke arah dapur, berharap Allea mengerti maksudnya, ada sebuah jendela dan itu bisa dijadikan jalan keluar dari tempat ini.


"Tapi kamu sama kakek gimana?" tanya Allea ragu.


"Nggak apa-apa, sana kamu pergi. Kasihan Faizal!" jerit Allea, sementara Alan terus menembak dan membuat beberapa anak buah Ronal tumbang. Rumah itu sudah porak poranda, bahkan tidak ada satu pun perabotan yang masih utuh. Bercak darah ada di mana-mana. Dan mayat pun bergelimpangan di beberapa sudut ruangan.


Allea tampak berpikir beberapa saat, ia ragu, namun saat Faizal makin mengerang dengan wajah yang pucat, maka Ellea menyerah, ia menyimpan senjatanya di belakang tubuh, memapah Faizal dan mengendap-endap ke dapur. Tembakan beruntun terus mengarah ke dua orang itu, tapi Alan dan Allea terus melindungi mereka. Alan masih mahir dalam urusan menembak. Selalu tepat sasaran walau umurnya tak lagi muda. Akhirnya Ellea dan Faizal sudah keluar lewat jendela. Mereka yang ada di lantai cukup tinggi, lantas melompat dan terjatuh di bak pembuangan sampah. Yah, cukup empuk dan aman. Walau Faizal makin kesakitan dan mengerang makin kencang.


"Diem, Zal!" omel Ellea, menutup mulut pemuda itu. Ia terus membantu Faizal berdiri. Ellea menatap ke atas, di mana kediaman Faizal berada, ia menatap nanar dan berharap dua orang yang di atas sana bisa selamat dari insiden itu. "Ayo, ke Rumah sakit!" kata Ellea, mengambil kunci mobil yang sudah ia ambil sebelumnya.


Sepanjang jalan Faizal terus mengerang bak anak kecil yang terjatuh saat bermain sepeda. Ellea geram, ia mengambil berlembar-lembar tissu, lalu menyumpal mulut Faizal. Pemuda itu menangis namun tidak membuang sumpalan ciptaan Ellea. "Kalau elu teriak mulu, gue nggak bisa nyetir, gila!" omel Ellea yang sedang ada di belakang kemudi, fokus pada jalanan di depannya.


Di sisi lain, Allea sudah kehabisan amunisi. Sementara itu, Alan terkena tembakan di perutnya. Kakek tua itu terus menekan lukanya agar darah tidak terlalu banyak yang keluar, dengan sweeter milik Allea. "Kakek sini saja," kata Allea, melempar pistol kosong itu dan meraih sebilah pisau. Ia keluar dari persembunyiannya, dan kini berhadapan dengan Ronal. Tersisa 3 orang saja di kubu lawan.

__ADS_1


Ronal turut membuang senjata di tangannya, walau di sana masih ada 3 selongsong peluru yang bisa dengan mudah membunuh dua orang musuh di depannya itu. Tapi karena lawannya adalah seorang wanita, ia rasa ini pengecualian.


"Bagaimana rasanya berkumpul dengan keluargamu, All? Senang? Waw, aku merusak acara bahagia kalian, ya?" tanya Ronal dengan nada sinis.


"Kenapa kamu berbuat seperti ini, Ron? Aku pikir kamu teman, aku menyukaimu sebagai teman yang baik," bujuk Allea mencoba bernegosiasi.


"Cih, teman? Tanyakan pada kakekmu, yang sudah membuatku terpisah dari keluargaku sendiri. Dan sekarang aku akan memisahkan anggota keluarga kalian. Satu persatu," ancam Ronal.


Alan beranjak dengan susah payah, memegangi perutnya yang terus mengucurkan darah segar. "Ronal, maafkan aku. Aku tidak tau kalau kamu masih hidup. Seharusnya kubiarkan Adrian dan Ruth tetap tinggal, dan ...."


"Omong kosong, Pak Tua. Kau itu egois, hanya mementingkan keluargamu sendiri. Kau tidak memikirkan anak buahmu, bahkan kau renggut kehidupan kami. Kau buat ayahku menjadi budakmu sampai mati!"


Tubuh renta Alan cukup kesulitan menahan beban tubuhnya sendiri, dikarenakan ada peluru yang kini bersarang di perutnya. Ia merasa tidak bisa menahannya lebih lama. "Kalau begitu, kau bunuh saja aku. Tapi lepaskan mereka semua, kumohon. Mereka tidak bersalah, semua salahku!" Kedua tangan Alan terbuka lebar, seolah mengizinkan malaikat maut menjemputnya. Yang tidak lain adalah Ronal.


"Kakek, jangan!" jerit Allea yang hendak mendekat, tapi Alan menyuruhnya berhenti di tempatnya. "All, tugas kakek sudah selesai, kalian sudah berkumpul, kakek bisa pergi dengan tenang sekarang," kata Alan dengan mulut yang mulai mengeluarkan darah segar. Allea mulai menangis. Bingung apa yang harus dilakukannya.


Ronal menyeringai, ia mengambil pistol dari salah satu temannya, kini ujung pistol itu ia todongkan ke arah Alan. Tangannya bergetar, semua emosi berkumpul di otak dan hatinya. Ia mulai menggerakkan jarinya, hendak menjemput nyawa pria tua di depannya. "Tidak!" raung Allea, mendorong tubuh Alan hingga mereka berdua sama-sama terjatuh ke lantai. Otomatis tembakan Ronal meleset, tapi ia tidak berhenti sampai di situ. Ronal terus menembak ke tempat persembunyian Allea dan Alan. Allea mengintip dan melempar pisau yang ia simpan sejak tadi.


Dor! Satu lagi, musuhnya tewas. Kini tersisa Ronal dan dirinya.


"Kamu pengecut, Ron!" umpat Allea yang sama-sama menodongkan senjata ke arah pemuda itu.


"Yah, karena kau wanita, kan? Hah, padahal kemampuanmu itu sudah setara dengan seorang sniper pria," kata Ronal, entah kalimatnya ini adalah pujian atau pengalihan. Mengalihkan perhatian Allea dan membuat gadis itu besar kepala, hingga ia akan mudah dikalahkan. Tapi perkataan Ronal tadi bukanlah omong kosong, karena semua tembakan Allea selalu tepat sasaran. Kemampuan menembak Allea memang tak diragukan lagi, bahkan setara seperti kakeknya sendiri.


"Bagaimana kalau kita bertarung dengan tangan kosong?" tanya Allea dengan menantang Ronal. Ronal mengangguk setuju, ia melempar pistolnya jauh-jauh, Allea juga melakukan hal yang sama. Mereka memasang kuda-kuda dan siap menyerang. Hampir 10 menit lamanya, tidak ada yang tumbang dan terkenal pukulan. Ronal tidak tau kalau gadis di hadapannya juga pandai bela diri. Ia terlalu meremehkan rupanya.


Bugh! Allea kini membuat lebam di pipi kanan Ronal, Ronal yang lengah kecolongan. Ia memegang pipinya, sambil mengelap cairan yang terasa menetes di sudut bibirnya. Darah. Bogem dari Allea terasa menyakitkan. Ronal mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan mencoba menendang leher Allea, gadis itu hendak menangkis dengan tangannya, namun ia gagal, karena dengan gerakan memutar, Ronal kini mengapit leher Allea dengan kedua kakinya. Ia membanting wanita itu keras ke lantai. Walau tubuhnya ikut terjatuh, tapi rasa sakit terbanyak dialami Allea.

__ADS_1


Gadis itu mengerang kesakitan, ia berusaha kembali bangkit tapi kaki Ronal terus menindihnya. Allea berusaha membebaskan diri, dengan kesusahan, ia meraih kaki Ronal yang ada di atasnya. Memegang dan menekuknya sekuat tenaga, hingga terdengar bunyi tulang retak. Allea benar-benar mengeluarkan semua energinya, hingga semua urat di wajahnya menyembul keluar. Ronal menjerit kesakitan. Saat kakinya dipatahkan Allea. Ronal terus berguling di lantai, memegang kakinya yang entah bisa ia gunakan berjalan lagi atau tidak.


"Kau gila, All!"


"Terima kasih pujiannya, kau bukan orang pertama yang mengatakan itu!" kata Allea dengan wajah datar. Allea mendekat, menatap musuhnya dari atas yang kini tengah mengerang dan memohon untuk berhenti. "Bunuh aku, All!" pinta Ronal saat kakinya kembali diinjak gadis itu dengan tanpa rasa bersalah. Kalau Faizal melihat adegan ini, pasti ia akan teringat film No Mercy, yang dibintangi aktris Lee Si Young, wanita itu dengan brutal membunuh musuh-musuhnya seorang diri. Seperti yang dilakukan Allea sekarang. Ronal terus memekik kesakitan, diiringi umpatan yang ditujukan untuk Allea. Namun Allea dengan ekspresi dingin terus menyiksa Ronal.


"Allea ... hentikan," pinta suara serak dan renta di sudut lain ruangan itu. Yah, Alan. Allea menoleh ke tempat kakeknya duduk. "Hentikan, Nak. Jangan buat kakek menanggung rasa bersalah ini lagi."


Allea menatap lagi Ronal yang wajahnya sudah pucat, ia menarik nafas panjang, dan mendengus sebal. Kakinya kini mulai ia angkat. " Kakekku, tidak seburuk apa yang kau pikir, Ron. Coba lihat lebih dalam. Pakai hati nuranimu. Kakekku tidak pernah berniat memisahkanmu dengan orang tuamu. Kau tau, kan? Kau cuma sedang diliputi emosi dan rasa bersalah yang kau buat sendiri, dan butuh kambing hitam untuk masalah ini." Allea pergi dari hadapan Ronal.


"Kek, ayo kita pergi." Gadis itu mencoba memapah Alan yang sudah terkulai lemas, ia sudah tidak punya tenaga lagi, hanya mampu membuka matanya dan tersenyum. "Kakek bangga padamu, All. Titip Ellea. Jaga dia seperti kakek menjagamu," kata Alan, dan akhirnya ia mengembuskan nafas terakhirnya.


"Kek! Kakek! Bangun, Kek!" jerit Allea, menggoyang-goyangkan tubuh lemah Alan. Ia sudah kehabisan banyak darah, dan kondisi tubuhnya yang juga sudah lemah, ia bukan Alan yang dulu. Yang tetap kuat walau banyak peluru yang masuk dalam tubuhnya, ia sudah renta. Dan umurnya sudah selesai sekarang. "Kakek!" jerit Allea, menangis dengan meraung sambil memeluk tubuh Alan. Ia benar-bear kehilangan kakeknya sekarang.


____________


Beberapa kotak yang berisi senjata sudah ada di hadapan Abimanyu dan Vin. Mereka sudah melakukan negosiasi dan menyepakati harga yang diinginkan bersama. "Aku ke toilet dulu," kata Vin, memulai aksinya. Abi berusaha mengalihkan perhatian orang-orang di ruangan ini. Mencoba bersikap baik dan menyenangkan agar kedok mereka tidak terbongkar.


Vin mulai mengamati seisi gedung ini, mencoba memastikan tempat yang akan ia datangi untuk mencari benda yang mereka cari. Saat ia melewati sebuah kamar, ia sekilas melihat foto dengan wajah yang ia kenal sebelumnya. Yah, Ronal. "Itu kamar Ronal kayaknya," gumam Vin dalam hati. Ia menyapu pandang ke segala arah, memastikan tidak ada anak Latin Kings yang melihatnya. Saat keadaan terasa memungkinkan, Vin memutar kembali langkahnya dan masuk ke kamar Ronal.


Pintu ia tutup. Beberapa foto Ronal terlihat di sini, ia makin yakin kalau inilah tempat yang ia cari. Vin mulai mencari keberadaan benda terkutuk itu. Benda yang membuat orang-orang di sekitarnya terancam mati. Dan tentu, kini ia juga bisa mati sewaktu-waktu.


Abi makin gelisah karena Vin tak kunjung muncul, karena Jack mulai cemas sebab Vin lama tidak muncul. Ia mulai curiga, dan menyuruh anak buahnya mencari Vin. Tapi, Abi langsung membalik meja hingga membentur orang-orang di depannya.


Senjata yang baru ia beli, kini langsung ia gunakan untuk memberondong orang-orang di depannya. Untungnya Abi tidak takut, karena seberapa banyak peluru yang mereka tembakkan ke dirinya, itu tidak berpengaruh banyak. Apalagi yang ia injak adalah tanah. Luka tembakan mengenai tubuh Abi, tapi ia juga berhasil menembak beberapa anggota Latin Kings, Abi segera keluar untuk mencari keberadaan Vin.


"Vin! Lu di mana?! Buruan, kita diserang!" jerit Abi ke sepenjuru koridor.

__ADS_1


Kepala Vin muncul dari sebuah pintu, ia tersenyum ke arah Abimanyu yang tepat ada di hadapannya. Tangan Kanan Vin menjulur ke atas dan memperlihatkan benda yang mereka cari sudah ditemukan. "Bi! Belakang lu!" jerit Vin, kembali masuk ke dalam karena sebuah peluru sudah mendarat dalam tubuh Abimanyu yang sudah kacau memang. Tubuh besar itu roboh. Tapi hanya beberapa detik, Abi kembali beranjak, dan itu membuat anggota Latin Kings melongo. "Are you a ghost?" tukas seseorang yang kini menurunkan pistol ditangannya dan menatap Abi tak percaya. Mereka diam, dan kini justru takut pada sosok di depan. Manusia yang tidak bisa mati walau sudah ditembak berkali-kali. Itu pemandangan yang jarang terjadi.


"Vin, keluar. Ayo pulang," jerit Abi dengan terus menatap mereka satu persatu. Vin keluar. Dan ajaibnya, Hispernik, nama kelompok Latin Kings, tidak lagi menyerang mereka. Dan mereka berdua keluar dari tempat itu dengan selamat.


__ADS_2