
[**Halo ... Saya kembali. Wahahaha. Setelah mengalami kegalauan yang hakiki, antara meneruskan atau stop. Akhirnya saya kembali. Kalian masih stay di sana atau tidak? Semoga masih, ya.
Yuk, yang kangen sama Nabila dan Rayi. Lanjutkan ke-baperan kalian, genks**!]
Bel pulang baru saja berdering nyaring. Sejak istirahat siang tadi hingga akhirnya pulang sekolah, pikiranku tidak berada di sini. Aku banyak melamun dengan mata bengkak. Zidan beberapa kali melirik padaku. Dia pasti sadar ada yang terjadi padaku. Tapi setiap Zidan bertanya, aku selalu mengelak dan mengatakan kalau aku baik-baik saja.
"Bil!" panggil Zidan saat kami keluar dari kelas. Aku berjalan santai tanpa menanggapinya serius. "Lu kenapa sih?" tanyanya lagi.
"Kan udah dibilang, nggak apa-apa," sahutku santai.
"Bohong! Cerita dong, Bil. Ada apa sih? Ada masalah sama siapa?"
Zidan terus saja mengejar ku hingga kami turun ke tangga. Dia juga terus menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, sekaligus segala kemungkinan atas sikapku sekarang.
"Kak Rayi, ya? Iya? Hey, Bil!" Zidan bahkan sampai memegang tanganku, dan menahan langkahku untuk terus turun ke bawah melewati tangga ini. Padahal sudah setengah jalan, dan kini kami berdiri di tengah-tengah. Beberapa teman menerobos di antara kami, ada yang mengomel karena merasa langkah mereka terhalang oleh kami, ada yang hanya menatap sinis, dan masih banyak lagi reaksi mereka.
__ADS_1
Aku makin mempercepat langkah, menghindari segala pertanyaan beruntun dari Zidan. Rasanya aku sedang malas berbincang atau bahkan membahas tentang perasaanku sekarang. Ingin segera pulang dan tidur di kasurku yang empuk. Aku melewati gedung ruang kelas 2. Melirik sekilas ke arah pintu kelas Kak Rayi. Beberapa siswa keluar dari ruang kelas itu, tapi sepertinya kelas kak Rayi sudah lebih dahulu pulang. Alhasil aku tidak melihat keberadaannya. Dalam hati kecilku, aku berpikir kalau dia masih di UKS bersama Sabrina. Huh, membuat hatiku kembali nyeri saja.
Beberapa kali teman sekelas menyapa saat menyalipku dengan kendaraan mereka. Aku hanya melambaikan tangan melepas kepergian mereka. Namun saat melihat ke arah pelataran parkir, Kak Rayi ternyata ada di sana, sedang mengeluarkan motornya. Namun di sana juga ada Sabrina yang sedang memegangi tas milik Kak Rayi di pelukannya. Pemandangan itu berakhir dengan Sabrina naik ke jok belakang motor Kak Rayi.
"Damn it!" umpatku, lalu berjalan pergi meninggalkan sekolah. Berusaha agar keberadaanku tidak terlihat oleh Kak Rayi. Hatiku sangat sakit melihat dia pergi tak menoleh padaku, bahkan dia seolah tidak mencariku setelah kejadian di UKS tadi. Ditambah dengan Sabrina yang kini tengah memeluknya erat. Seharusnya aku bisa menghadang mereka dan menarik Sabrina agar turun dari motor kekasihku, tetapi rasanya aku belum siap untuk melakukan hal itu.
Kak Rayi melajukan motornya meninggalkan sekolah dengan Sabrina di belakangnya. Mataku mulai basah, aku menarik nafas dalam-dalam dan berusaha melihat ke arah lain. Berharap air mata yang hendak tumpah bisa kembali masuk ke dalam rongga dalam mataku. Aku tidak boleh menangis. Tidak boleh.
"Bil?!" panggil seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang dan mensejajariku.
"Apa?" tanyaku dingin, tak mau menatapnya. Sementara dia menatap ke arah pintu gerbang sekolah, di mana suara motor Kak Rayi masih terdengar dari tempatku berdiri.
"Nggak usah. Bisa pulang sendiri kok. Lagian arah rumah kita beda, Dan!" Aku kembali berjalan, tak menghiraukan panggilan Zidan walau dia terus mengejarku.
Kini aku berjalan seorang diri melewati trotoar. Jalanan ini masih banyak pohon Tabebuya yang kini mekar dengan warna bunga kuning. Aku mendongak untuk menatap keindahan barisan pohon yang di tanam rapi di pinggir jalan ini. Aku bahkan tidak memperhatikan jalan, entah ke mana langkah kaki ini akan membawaku, aku terus saja melangkah mengikuti barisan pohon Tabebuya ini.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku mendengar langkah kaki beberapa orang yang ada di sekitarku. "Mau ke mana, Neng?" tanya salah satu dari mereka.
Aku lantas berhenti, menoleh ke sekitar dan rupanya ada beberapa pria yang mengelilingiku dengan penampilan yang berantakan. Mereka mirip sekali dengan berandalan di film-film. Aku terjebak, saat menyadari kalau sudah berada di lingkungan yang sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat, itu pun juga sangat jarang.
"Maaf, jangan ganggu saya!" kataku tegas. Mencoba menerobos mereka yang makin memperkuat lingkaran di sekitarku.
"Mau ke mana sih? Buru-buru sekali?" tanya salah satu dari mereka dengan nada menggoda sambil mencoba meraih tanganku. Buru-buru aku menepisnya dan memberikan tatapan tajam padanya.
"Jangan sentuh saya!" bentakku dengan kedua bola mata yang melebar.
"Wow, garang sekali ya," ujar yang lain. Kini aku seolah menjadi bulan-bulanan mereka. Tetapi aku tidak takut, apalagi di saat suasana hatiku yang kacau seperti sekarang, aku membutuhkan pelampiasan atas amarahku.
Mereka mulai mendekat, aku langsung menginjak kaki salah satu dari mereka kuat-kuat. Dia mengerang kesakitan dan membuat teman-temannya yang lain melotot melihatku. "Kurang ajar!" umpat salah satu dari mereka.
Aku lantas mulai melakukan perlawanan terhadap lima orang ini. Walau ada beberapa tubuh mereka yang cukup tambun, aku merasa itu bukan hal sulit. Satu persatu dari mereka mulai aku lumpuhkan. Namun aku yang merasa di atas angin, lengah, sehingga ada seseorang yang memukulku dari belakang hingga aku jatuh ke jalan beraspal ini. Aku segera menoleh dan berusaha untuk bangkit, kini tanpa persiapan, aku kembali terkena pukulan di pipi dan perut.
__ADS_1
Tiba-tiba datang sebuah mobil yang plat nomornya sangat kukenal. Keluarlah dua orang dari dalam sana, dan mulai menyerang orang-orang yang mengeroyokku. Aku hanya duduk di aspal begitu saja, aku lelah. Bahkan aku merebahkan tubuhku begitu saja di sana. "Bil, lu nggak apa-apa?" tanya Kak Roger panik. Aku hanya mengangguk pelan, dan Kak Roger membantu Kak Bintang melawan mereka semua.
Langit begitu indah dengan warna biru cerah, hamparan awan terlihat bagai seseorang yang kurindukan sekaligus orang yang kubenci sekarang. Kak Rayi. Sore ini aku menikmati suasana langit, dengan burung-burung yang lewat di atasku yang akan kembali ke peraduan, diiringi suara perkelahian mereka yang berada tak jauh dari tempatku. Aku menarik kedua sudut bibirku dengan derai air mata yang melewati pelipis mata. Bahkan aku kini tak malu dengan tangisan ini, yang sampai menimbulkan suara, tergugu dengan kencang. Begini, kah, rasanya patah hati?