
Mobil Gio mulai masuk ke halaman rumah yang luas, bergaya klasik yang kini ada di depan mereka. Dengan sebuah mobil limousin terparkir di sana. Tak hanya itu, ada juga sebuah motor harley di salah satu garasi yang berada di sudut halaman. Semua berjejer rapi bersama beberapa mobil mewah lainnya.
Gio keluar dari mobilnya. Melepas kaca mata hitam yang bertenger dihidung. Tak lama sang empunya rumah datang hanya dengan memakai kaus dan celana pendek. Seolah sengaja menyambut kedatangan dua pria itu. Wajahnya masih tampan dan menyebalkan seperti dulu. Di belakangnya ada Adi yang masih bergaya sama. Sangat khas dirinya. Kemeja kotak-kotak dengan kaca mata minus yang cukup tebal menghiasi wajahnya. Dia selalu berpenampilan lugu, padahal Adi termasuk salah satu anggota yang paling pintar bela diri dan juga pandai dalam hal strategi.
"Hey, kau tidak punya waktu luang untuk pergi ke Gym? Lihat perutmu, sungguh menjijikan," sindir Adi menunjuk timbunan lemak di perut Gio.
Gio menatap ke bawah, tak memperdulikan hal itu. Berdecih. Lalu beralih menyalami Elang, menarik pria berwajah sinis itu ke dalam pelukannya. "Kalian licik! Ada hal menarik seperti ini kenapa tidak memberitauku?" Bisik Gio dekat telinga Elang. Memang keberadaan Kalla belum banyak diketahui orang, bahkan Gio sendiri tidak tau menahu.
Elang hanya menarik salah satu sudut bibirnya, menganggap ucapan Gio hanya angin belaka. Ia malah beralih pada pria yang mematung di belakang Gio. Seorang anak kecil yang ia jumpai saat masih kecil dulu, dan kini sudah menjadi pria dewasa.
"Bahkan jika Gio tidak memberitauku, aku sudah bisa menebak kalau kau anak Arya. Sikap kalian sama. Terlebih ... sorot matamu! Masih sama sejak pertama kali aku melihatmu dulu." Elang mengulurkan tangan pada Abimanyu yang di sambut ragu oleh pemuda itu. Abimanyu masih sungkan dengan kehadiran orang-orang baru yang sebenarnya cukup dekat dengan kedua orang tuanya. Mungkin karena ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Hanya Gio yang sering berkunjung dan sangat mengenal Abimanyu.
Hanya dalam dua detik Elang juga menarik Abimanyu dalam pelukannya. "Aku turut berduka atas kematian Ayah Ibumu," ucap Elang dengan suara sedikit bergetar. Sekalipun ia manusia yang cukup dingin, tapi begitu mendengar kabar kematian Nayla dan Arya, ia benar-benar kehilangan. Bahkan Elang sempat menyuruh orang mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Salam perkenalan sudah mereka akhiri. Mereka berempat menuju sebuah ruangan yang ada di bawah tangga ruang tengah. Yaitu ruang bawah tanah.
Walau disebut ruang bawah tanah, tapi tempat ini cukup nyaman. Ini adalah tempat persembunyian Elang juga markas rahasianya. Sisi lain dari dirinya yang tidak banyak orang tau. Ia seorang ceo perusahaan bonafit. Tapi dibalik itu ia juga seorang yang spesial, dan terpilih untuk masalah yang tidak banyak orang tau.
Ada beberapa komputer dengan posisi menyala, satu komputer memperlihatkan seluruh tempat di rumah ini bahkan hingga tiap sudut halaman dan luar halaman. Ada sebuah white board di tengah ruangan dengan skema foto-foto mengerikan yang tertempel di sana. Komputer lainnya seperti PETA kota ini lengkap dengan segala jalan di sekitarnya.
Abimanyu langsung mendaratkan dua netranya pada papan besar itu. "Ini apa?" Pertanyaan sama yang sebenarnya ingin dilontarkan Gio, namun sudah terwakili oleh Abimanyu.
Elang dan Adi saling lempar pandang. Seolah saling memberi isyarat, siapa yang bersedia menjelaskan hal itu.
Elang menarik nafas panjang. Berjalan lebih dekat pada papan dengan tempelan foto berikut penjelasan singkat di sampingnya.
"Mereka ... Kalla."
Begitu mendengar kata itu, baik Abi dan Gio langsung memiliki banyak pertanyaan yang langsung ditahan oleh Elang.
"Kalian dengarkan dulu penjelasanku. Aku yakin, kalian berdua sudah tau black demon, bukan?" tanya Elang yang sebenarnya khusus ditujukan untuk Abimanyu. Merasa ditanya seperti itu, Abi mengangguk. Elang kembali menempatkan posisinya berdiri di depan whiteboard.
"Black demon sudah musnah, aku bisa menjamin hal itu. Karena aku dan anak buahku sudah menelusuri suara daerah, dan mereka benar-benar sudah musnah. Awalnya aku mampu bernafas lega, dan hidup tenang. Tapi ternyata ada 1 ras kehidupan yang dulu luput dari perhatian kita. Yaitu Kalla. Pertama kali aku bertemu Kalla adalah ia menjelma menjadi salah satu karyawanku. Aku melihat ia sedang mencekik salah satu OB di perusahaanku, ia menghirup sesuatu dari dalam mulut OB itu, saat aku memergokinya, ia berubah menjadi ... mengerikan. Terserah kalian menyebutnya apa, mungkin kata yang bisa mewakilinya adalah siluman? Karena mereka mampu berubah wujud. Kalian lihat ini?" tanya Elang dengan menunjuk satu foto yang terlihat mengerikan. "Ini wujud asli mereka. Tapi, mereka bisa berubah wujud menjadi seperti manusia. Mereka berbaur dengan kita. Mereka bekerja, bersosialisasi, bahkan aku juga pernah bertemu Kalla yang menjelma menjadi salah satu anggota pemerintahan."
"Sebentar. Apa tujuan mereka?" tanya Gio memotong perkataan Elang.
"Membunuh ras manusia," jawab Adi, membuat mereka menoleh pada pria berkaca mata minus itu.
"Apa? Gila!" Pekik Gio.
"Lalu bagaimana cara mereka membunuh?" Kali ini Abimanyu benar-benar tidak bisa membendung rasa penasarannya.
"Kalian lihat ini?" tunjuk Elang pada sebuah foto manusia yang tergeletak dengan posisi kaku. "Mereka menghirup hawa tubuh manusia. Seperti yang kulihat waktu itu. Mereka menjadikan tubuh manusia yang mereka hisap menjadi kering. Tanpa darah. Hanya saja tidak ada luka gigitan atau semacamnya. Dan Kalla akan merubah wujudnya menjadi orang yang ia hisap hawa murni hidupnya. Banyak kasus sudah terjadi, hanya saja tidak ada yang tau karena kemampuan mereka yang unik itu mampu menyamarkan identitas mereka. Sekalipun ada tubuh yang ditemukan tewas, polisi tidak mau mengusutnya dan hanya menuliskan dalam catatan mereka kalau ini pembunuhan acak. Atau perampokan. Dan tentu kasus ditutup begitu saja."
Selama beberapa detik mereka semua terdiam. Banyak hal yang ada dipikiran mereka. Semua bertanya-tanya dan berusaha menganalisis berbagai kemungkinan yang terjadi. Tentang asal mula makhluk itu, alasan mereka ingin membunuh ras manusia dan bagaimana cara menghabisi mereka tentunya.
"Paman! Apa saja ciri-ciri jelmaan Kalla?"
"Nafas mereka berat, seperti dengkuran dengan suara berat dari tenggorokan, dan itu mudah terdengar saat kita ada di dekatnya. Bahkan saat mereka sedang merubah wujud menjadi manusia. Dan itu salah satu cara kami berdua untuk menemukan Kalla. Saat suara itu terdengar dari telinga kami, maka orang itu akan kami kejar sampai ke mana pun."
__ADS_1
"Apakah mereka berbau khas?" Pertanyaan lain terus dilontarkan Abimanyu. Ia seolah mulai paham dengan masalah mereka sekarang. Tentunya dengan apa yang ia lihat tadi.
"Baunya anyir. Khas darah segar. Kenapa?"
"Jangan-jangan, orang-orang itu ...." Kalimat Abimanyu tertahan. Seolah masih ragu atas analisisnya sendiri.
"Orang-orang apa yang kamu maksud, Bi?" tanya Gio yang penasaran. Karena sejak Abimanyu datang ke kota ini, pemuda itu selalu bersama dengannya. Bagaimana mungkin Gio bisa melewatkan apa yang Abimanyu maksud.
"Paman ingat, sewaktu kita sampai apartment? Kita melewati kerumunan orang-orang yang baru keluar dari lift. Di situlah aku mencium bau anyir yang cukup pekat. Saat aku menoleh, kupikir sekilas tidak ada yang aneh. Diantara mereka semua normal, tidak ada luka atau semacamnya. Jadi amu hanya menganggapnya bukan hal penting. Lalu ... saat perjalanan ke sini, di persimpangan lampu merah aku melihat ... salah satu dari mereka," tunjuk Abi pada salah satu foto Kalla.
Semua mata tertuju pada Abi. Membulat sempurna dan sangat tertarik.
"Kamu yakin? Mencium dan bahkan melihat salah satu dari mereka?" tanya Adi sangat antusias. Abimanyu hanya mengangguk menanggapi.
Adi lantas mendekat pada Elang. Saling berbisik, sesekali melirik pada pemuda bersorot mata tajam itu.
"Kamu yakin? Bisa melihat mereka dengan mata telanjang?" tanya Elang menatap netra hitam di hadapannya. Seolah mencari hal menarik lain yang mungkin tersembunyi dibaliknya.
"Iya. Aku yakin. Aku pikir, tadi aku salah lihat, karena paman Gio terlihat biasa saja. Padahal kami menatap arah yang sama. Tapi setelah melihat foto-foto itu, aku yakin itu makhluk yang sama," tutur Abi menunjuk foto-foto Kalla.
Selama beberapa saar mereka masih diam membisu. "Baiklah. Lebih baik kita mencari makan dahulu. Aku lapar," tukas Gio mengelus perutnya yang tambun dan mengakhiri diskusi serius ini.
_____
Sore ini langit cukup cerah. Dengan semburat merah menghiasinya. Mereka berempat pergi dengan mobil Gio. Menyusuri jalanan guna mencari tempat untuk mengisi kekosongan perut mereka.
Pintu cafe terdengar dibuka. Meja mereka memang dekat dengan pintu, Abi yang duduk membelakangi pintu lantas mengendus. Ia merasakan aroma yang memang ia nanti dan ia cari. Abimanyu tak langsung menoleh, untuk melihat siapa yang datang. Ia hanya menatap para pamannya satu persatu. Mereka bertiga bingung pada reaksi Abi. Gio mengangkat kedua alisnya cepat.
"Aku menciumnya lagi, Paman."
"Apa maksudmu?"
"Bau anyir!"
Seketika kening mereka berkerut. Menatap ke arah dua orang yang baru saja masuk ke dalam cafe.
"Di sudut sana, apa kamu bisa melihat ada yang aneh?" tanya Adi melirik ke meja di mana dua orang tadi datang. Abimanyu lantas menoleh pelan. Mencari meja yang di maksud. Sejauh yang ia lihat, semua orang terlihat normal. Namun saat ia sampai pada seorang pria dengan tuxedo di sudut ruangan, Abi langsung mengarahkan kembali kepalanya ke arah ketiga pamannya. "Yah, di sana! Pria itu! Dia Kalla!" seru Abi yakin.
"Kamu serius?"
"Iya, paman. Aku yakin. Aku melihatnya," bisik Abimanyu, mendekatkan tubuhnya ke tengah meja. Ia benar-benar serius sekarang.
Derit pintu kembali terdengar. Masuk beberapa orang lainnya. Abi kembali bereaksi. Ia menoleh sedikit ke arah belakang. "Ada lagi!" kata Abi.
Ketiga pamannya itu langsung menatap beberapa orang yang baru saja datang. Dan tentu kecurigaan Abi beralasan. Pria bertuxedo tadi menganggukan kepala pada rombongan yang baru datang.
"Baunya makin menyengat!" seru Abimanyu menarik nafas dalam-dalam. Karena aroma yang barusan ia cium lebih pekat dari yang pertama dia cium. Ia lantas menoleh ke arah gerombolan orang-orang yang baru datang. Lalu kembali pada tatapan ketiga pamannya. "Mereka semua, Kalla."
"Baiklah. Gio, ulurkan tanganmu!" Pinta Elang, dengan mengeluarkan sebilah belati dengan ukiran emas yang cukup indah. Tanpa pikir panjang Gio mengulurkan tangan kanannya. "Semua orang yang ditato dengan belati ini akan menjadi anggota Argenis- Pembasmi Kalla. Adi akan menghentikan waktu dan saat waktu berhenti, maka kita harus musnahkan mereka," jelas Elang.
__ADS_1
"Waw," sahut Gio sedikit terpukau pada penjelasan Elang. Ternyata keberadaan black demon tidak seberapa hebat timbang Kalla.
"Kau siap, Gi?"
"Tentu saja. Kamu pikir aku takut melawan mereka? Jangan panggil aku Gio. Ayo lakukan!" Pintanya tak sabar.
"Tunggu! Bagaimana dengan aku?"
"Kau tidak perlu tato ini, karena kau punya bakat sejak lahir sebagai Argenis!" Cetus adi menunjukan tato miliknya sekilas.
Saat tato itu ditorehkan, warna emas menempel dipergelangan tangan dekat urat nadi Gio. Gerombolan Kalla menyadari hal itu. Karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat warna emas menyala dari belati yang Elang miliki. Mereka beranjak. Sejurus dengan hal itu, Adi menegakan tubuhnya, mengambil liontin berbentuk batu saphire dari lehernya. Adi berjalan ke tengah menghadang mereka yang hendak pergi. Sambil menunggu tato Argenis terukir pada pergelangan tangan Gio, Adi mengambil liontin itu lalu menghujamkan pada lantai yang ia pijak. Seketika nyala biru terang terpancar. Membuat liontin itu tertancap kokoh di sana. Dan waktu berhenti.
Semua manusia diam mematung, jarum jam tak bergerak dari tempatnya. Bahkan angin berhenti berhembus. Hal ini terjadi pada radius 2 kilometer di sekitar liontin itu. Semua makhluk selain Kalla dan Argenis akan diam, tidak dapat merasakan atau melihat kejadian yang akan terjadi.
Adi maju perlahan. Menyiapkan kuda-kudanya untuk melawan mereka. Satu Kalla maju menyerang, Adi mampu menepis dan melumpuhkannya dalam sekali pukul. Ia naik ke bahu Kalla, lalu menarik kepalanya dengan rantai yang ia simpan di saku celana hingga kepala itu terlepas. Darah hitam mengucur deras.
Setelah terlepas, Adi melemparkan kepala yang ada di tangannya ke arah Abimanyu. "Bakar, Bi!" jeritnya. Abimmanyu menangkap benda bulat itu dengan ragu. Darah hitam mengotori kedua tangannya, Elang berteriak agar Abimanyu segera kembali pada kesadaran, dan membakar kepala itu seperti yang diperintahkan Adi.
Dengan gugup, Abimanyu mencari sumber api. Ia menemukan perapian yang terbengkalai. Melempar kepala itu dan mengambil korek api di meja salah satu pengunjung.
"Lempar saja korek api itu! Darah Kalla sangat mudah terbakar." Suara nyaring Adi yang terengah-engah membuat Abi segera melempar korek api itu. Dan, Blup! Api dengan cepat membakar kepala Kalla hingga hangus. Melihat Adi kewalahan, Abimanyu segera membantu. Dan disaat itu, Gio sudah siap. Kini mereka berempat mulai bekerja sama membunuh Kalla dengan cara yang sama. Memotong lalu membakarnya.
Lengan Adi terkena cakaran Kalla, ia mundur sambil memegang lengan yang berlumuran darah. Ia melepas kemeja miliknya dan membalut luka itu agar darah tidak makin merembes keluar. Karena Kalla juga suka sekali aroma darah segar.
Beberapa kali tebasan dari Gio mengalirkan darah hitam pekat dari tubuh makhluk-makhluk hitam itu. Tapi jika kepala dan badan Kalla masih menyatu, maka sebanyak apa pun luka yang dibuat, mereka memiliki kemampuan memulihkan diri. Mirip kemampuan pancasona.
"Bi!" teriak Adi yang sudah ada di atas bahu Kalla. Ia tengah memegang kepala Kalla dan mengisyaratkan Abi menebas kepala itu dengan pedang yang ada ditangan Abi. Rupanya pajangan di cafe ini benar-benar samurai asli. Dan sangat berguna. Kepala itu menggelinding dan Abi segera melempar kembali ke arah perapian.
Elang juga tak kalah hebatnya. Bahkan ia adalah yang paling kuat dari yang lain. Dengan mudahnya Elang merobek leher Kalla hanya dengan kedua tangannya. Melempar mereka ke perapian yang kini berkobaran api yang menyala-nyala. Tubuh Kalla bagai kayu bakar yang sangat awet.
Keempat pria itu kini berdiri di depan perapian dengan melempar tubuh terakhir Kalla. Mereka menatap kobaran api yang terus menyala. Peluh terlihat di wajah mereka. Lelah, itu pasti. Namun mereka puas telah membunuh beberapa makhluk mengerikan itu. Setidaknya itulah pekerjaan mereka sekarang.
Api mulai mengecil, Elang berbalik dan berjalan kembali ke meja yang tadi mereka tempati. Gio menyusul. Sementara Adi berjalan ke arah liontin biru saphire yang masih bersinar terang. Saat liontin itu dicabut, waktu kembali berjalan. Detik jam kembali bergerak, dan orang-orang mulai bergerak seperti biasa. Tidak ada yang sadar atas apa yang telah terjadi. Walau ada beberapa orang yang merasa aneh pada perapian yang masih ditatap Abimanyu. Kepulan asap tipis terlihat. "Bi! Ayo makan!" Seru Gio. Makanan sudah tersedia di meja yang baru saja diantar waitres cafe.
Abimanyu kembali ke mejanya. Meneguk air mineral di meja dengan begitu banyak. Ia melirik sekilas pada tato di pergelangan tangan Gio, Elang, dan Adi. Motifnya sama dengan warna yang sama. "Paman, apa guna tato itu?"
Elang yang sedang memasukan sesendok nasi mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya. Meneguk air miliknya. "Untuk terbebas dari pengaruh liontin saphire milik Adi. Jika liontin itu ditancapkan, maka waktu terhenti. Tapi untuk yang punya tato ini, tidak akan berpengaruh sama sekali." Elang menunjukan tato itu pada Abi.
"Tapi, kenapa aku tidak? Aku tidak punya tato, dan aku masih bisa sadar seperti kalian."
"Karena dalam diri kamu mengalir darah suci dan darah dari Arya, ayahmu. Arya adalah orang istimewa, walau ilmu pancasona sudah ia leburkan, tapi ia tetap memiliki kemampuan menyembuhkan diri. Dan itu tidak ada orang yang tau, bahkan ibumu sekalipun. Ia sengaja tidak menceritakan hal itu karena takut Nayla akan terus menerus cemas. Dan kamu tau? Alasan Arya sering datang ke sini mengunjungiku? "
Abi menggeleng pelan. Ia memang tau kalau ayahnya sering pergi ke sini untuk menemui Elang dan Adi. Tapi Abi tidak boleh ikut. Walau ia terus memaksa, Arya tidak pernah membolehkan putranya datang ke kota.
"Arya adalah orang pertama yang sadar tentang kehadiran Kalla. Diam-diam ia mencari tau asal mula makhluk itu. Ada satu hal yang harus kamu tau, Abi. Kalau sebenarnya kematian kedua orang tuamu bukan karena kecelakaan. Melainkan karena makhluk itu."
Netra Abimanyu melebar. Ada debaran kencang dijantungnya. Sakit dan sesak.
"Apa maksud, Paman?"
__ADS_1