pancasona

pancasona
49. kamar mandi horor


__ADS_3

Rea berusaha untuk tidak menganggap hal itu serius. Dia masih beranggapan kalau sosok anak kecil yang ia lihat tadi adalah salah satu anak dari warga desa setempat. Keriuhan teman-teman membuat Rea sedikit melupakan semua hal hal mengerikan yang ia alami selama beberapa hari terakhir kemarin.


"Re, Baru kali ini aku lihat ada desa yang warganya sedikit banget," ujar Leni yang memang memiliki anggapan yang sama seperti Rea. Hanya saja Rea sejak tadi cuma bisa diam. Tidak berani terlalu banyak berkomentar.


" Iya sih memang sedikit aneh. Apalagi dengan posisi Desa ini yang jauh dari kota bahkan dari dunia luar. Pasti nggak akan ada kunjungan dari Bidan atau orang kesehatan lain, kan" tanya Rea.


"Kayaknya sih gitu. Memangnya kenapa?"


"Jadi Ibu-ibu di sini pakai KB apa, ya?"


Leni menoleh ke Rea seakan akan telah mendengar sebuah informasi yang luar biasa. "Bener juga, ya. Nggak mungkin Ibu-ibu di sini udah menopouse semua. Terus kok mereka nggak hamil-hamil, ya, Re?"


"Entahlah. Aku juga bingung. Mungkin mereka memang menjaga sistem reproduksinya dengan baik," ujar Rea agar diskusi ini berakhir tanpa kecemasan dari pihak Leni. Walau Leni sendiri justru masih menyimpan tanda tanya serta rasa penasaran yang cukup besar.


Suasana di Desa tersebut jauh lebih dingin saat sore hari. Saat matahari sudah tidak berada di peraduan. Mereka yang kini bersiap akan mandi mulai bingung karena tidak tahu akan mandi di mana.


"Eh, kata Pak Kades kita suruh pakai kamar mandi di rumah ini," kata Apri menunjuk rumah yang ada di belakang tenda mereka.


Otomatis mereka semua menoleh ke bangunan tua di belakang mereka.


"Ya udah, sana pada mandi," suruh Hana menyenggol Ita yang duduk di sampingnya.


"Hm? Yuk, Di! Mandi. Gerah nih. Kalau nggak mandi nanti aku nggak bisa tidur," ujarnya sambil menggaruk lengan kanan kiri.


"Dingin dingin begini mau mandi? Ckckck. Gue mah ogah. Mending besok aja kalau udah sampai rumah. Berendam deh berjam jam di bathup," tandas Hana.

__ADS_1


"Ayo, Diah! Please," rengek Ita layaknya anak kecil.


Alhasil mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Kebetulan para gadis belum pernah masuk ke rumah itu, berbeda dengan para pria. Mereka sudah pernah masuk karena ingin ke toilet.


Walau ragu Diah dan Ita pun akhirnya masuk ke dalam rumah tersebut. Pintu rumah itu memang tidak dikunci. Karena memang sudah dipersiapkan oleh pak Kades untuk istirahat mereka selama berada di desa.


"Eh, aku ikut!" Cetus Rea yang berlari jecil menyusul mereka. Alhasil kini ada 3 orang yang masuk ke dalam rumah tersebut. Saat memasuki teras, mereka memaklumi saat melihat kondisi teras yang kotor. Beberapa sudut teras tampak sama seperti rumah Pak Wiryo. Ada debu yang menempel di sana, lebih mirip seperti rumah yang tidak terawat.


"Kotor banget, ya," gumam Ita berbisik.


"


Namanya juga rumah kosong, Ta," timpal Diah yang berjalan lebih dulu masuk ke dalam.


"Masa sih semua rumah? Emangnya kamu udah cek semua?"


"Udah, Re. Kan tadi aku jalan-jalan keliling desa. Kamu sih, nggak mau ikut tadi."


" tapi emang bener kok. Buktinya rumah Pak Kades aja kotor. Apa udara di sini kering banget ya, dah jarang turun hujan lebat. Makanya semua rumah di sini kelihatan berdebu," gumam Diah.


"Eh, masa sih? Rumah Pak kades juga? Kok aku gak merhatiin ya?" gumam Rea bertanya pada dirinya sendiri.


"Iya. Coba aja kamu perhatikan nanti."


Sama seperti rumah-rumah kosong pada umumnya, rumah tersebut tidak hanya kotor di bagian teras saja tapi dalam rumahnya pun sama, debu-debu tampak menebal di beberapa sudut ruangan dan juga meja kursi sekitar.

__ADS_1


Mereka lantas berjalan masuk terus ke belakang, di mana posisi kamar mandi berada di dapur yang memang letaknya ada di belakang rumah. Sampai dapur mereka sempat tengak tengok saat melihat kondisi tempat tersebut yang gelap gulita.


" senter," pinta Rea.


Ita dan Diah segera menyalakan senter yang ada di ponsel mereka masing-masing. Salam menyorot ke bagian dapur tersebut, hanya ada tungku api dan juga beberapa peralatan memasak yang tergantung di tembok dan atas meja dekat kayu bakar diletakan. Lantai di dapur tersebut masih berupa tanah. Mereka terus menyapu Padang ke sekitar. Mencari Di mana letak kamar mandi yang dimaksud kan.


"Eh itu di sana!" tunjuk Diah ke sebuah pintu yang ruangannya tampak gelap dari tempat mereka melihat.


Mereka sedikit ragu untuk terus berjalan menuju kamar mandi tersebut. Karena kondisi tempat yang gelap membuat mereka seakan akan sudah tidak ingin lagi menuntaskan hajatnya. Tapi melihat Diah terus maju berjalan menuju ke pintu tersebut, membuat Ita dan Rea Saling pandang, yang akhirnya mereka pun menyusul Diah yang sudah berjalan terlebih dahulu.


Sampai di pintu kamar mandi, Saat berdiri di depan pintu mereka hanya menatap ruangan kecil tersebut dengan ekspresi yang tidak nyaman. Tempat tersebut tidak layak disebut kamar mandi. Apalagi ditambah dengan bau pesing bekas air seni yang tidak disiram dengan baik, membuat mereka akhirnya sepakat untuk menunda acara mandi mereka sore ini.


" nggak jadi mandi deh, balik aja yuk."


"Iya deh."


Merekapun kembali tanpa menoleh lagi belakang. Apalagi ditambah dengan suasana yang terasa mengerikan di tempat tersebut. Mereka sebenarnya sangat takut hanya saja berusaha untuk menjaga image untuk tidak bersikap berlebihan. Saat mereka sampai di pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras. Otomatis mereka bertiga menoleh ke belakang. Pintu kamar mandi yang tadi mereka lihat, kini menutup rapat. Padahal tidak ada angin sekali di tempat tersebut. Hal ini membuat mereka saling pandang, lalu dengan serempak mereka berlari keluar rumah tersebut.


Sampai di luar tentu Mereka mengundang perhatian dari banyak orang. Mereka pun mendekat sambil bertanya apa yang sedang terjadi.


."Ada setan!" jerit Ita menunjuk ke belakang rumah itu.


"Heh! Jangan sembarangan kalau ngomong!" elak Blendoz sambil melirik ke samping kanannya. Di sana ada Pak Kades yang sedang berbincang dengan mereka di halaman rumah. " sumpah ada setan tadi. Masa pintu kamar mandinya nutup sendiri!" Ita masih terlihat panik dan heboh dia juga terus menuju ke belakang rumah tersebut. Dia dan Rea juga sama sama terlihat ketakutan.


Melihat hal itu Dana akhirnya mendekat. Dia bertanya dengan lemah lembut kepada Rea. Akhirnya Rea pun menceritakan apa yang terjadi tadi.

__ADS_1


__ADS_2