
"Apa?! Jadi maksudmu Elisabeth di sini? Kamu ngobrol sama dia, Ell?" tanya Abimanyu. Ia yang baru bangun dari tidur, masih bingung atas kejadian tadi. Rasanya sepertinya nyata, dia keluar dari tubuhnya sendiri dan bertemu Elisabeth.
"Entahlah, aku juga nggak tau sebenarnya ada apa ini," cetusnya Frustasi. Ia menekan kepalanya karena rasa penat yang kini merasuk ke tubuh dan membuat kepalanya berat. Gio dan Rendra lalu muncul. Mereka juga melihat heran ke arah Abi dan Ellea yang sedang memperdebatkan sesuatu. Tidak banyak bertanya, hanya menyimak.
"Dia bilang, mereka sebenarnya mencari aku. Karena aku ini seorang Nephilim. Dan aku harus menutup portal gaib iblis."
"Tunggu! Kamu apa? Nephilim?" tanya Rendra memotong pembicaraan. Alhasil mereka semua berbalik menatapnya. "Iya, kamu tau Nephilim, Ren?" tanya Ellea penasaran.
"Yah ... lumayan. Pernah beberapa kali aku denger soal itu sih. Ras Nephilim itu spesial, punya bakat terpendam. Karena mereka adalah keturunan malaikat yang ada di bumi. Tapi kalau soal portal yang kamu sebut, aku belum pernah denger. Justru malah aku dengar kalau para iblis mencari Ras Nephilim untuk dipersembahkan ke Satan. Darah Nephilim itu murni. Dan bisa membuat Satan lebih kuat. "
"Mungkin karena alasan itu, mereka nyari Ellea. Biar Ellea nggak bisa menutup portal gaib itu. Mungkin cuma Nephilim yang bisa menutupnya? Barangkali," cetus Gio memberi pendapat yang sedikit masuk akal.
"Bukannya itu adalah hal buruk, ya? Kalau sampai mereka memang sengaja mencari Ellea?" tanya Abi dengan menatap mereka semua satu persatu.
"Yah, benar. Karena jika memang teori itu benar, maka Ellea dalam bahaya. Apa pun akan iblis lakukan agar portal itu tidak bisa ditutup. Bahkan membunuh Ellea sekali pun," tegas Rendra.
"...."
"Setahuku Ras Nephilim sudah hampir punah," tambah Rendra lagi.
"Memangnya ada berapa banyak Nephilim di dunia ini, Ren?" tanya Gio sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ras Nephilim ada sudah sejak berratus tahun lalu. Aku bahkan tidak tau ada berapa banyak dan seperti apa mereka. Karena wujud mereka sama seperti manusia pada umumnya. Hanya saja, mereka punya kemampuan khusus, katanya sih. Entahlah."
"Kamu pernah ketemu salah satu dari mereka?"
"Selain Ellea, belum pernah. Atau aku tidak menyadari kalau itu mereka, mungkin saja."
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang, Ell? Apa yang Elisabeth katakan?"
"Aku hanya disuruh bertahan hidup. Jangan sampai mati, sebelum menutup portal itu. Cuma itu yang dia bilang."
"Ya sudah. Kita fokus saja sama apa yang ada di depan kita. Terutama kesehatan Allea, dan mencari keberadaan Vin. Tentu sambil melindungi Ellea. Karena mereka pasti akan datang lagi," kata Abimanyu.
_______________
Yudistira sedang membaca buku di sofa kesayangannya. Ditemani secangkir kopi hangat yang baru ia buat beberapa menit lalu. Ia merasa resah, karena sejak tadi perasaannya terus tidak tenang. Seperti memiliki insting akan keadaan di sekitarnya, Yudis justru menutupi perasaan ini dengan membaca buku yang baru ia beli tadi.
Tiupan angin malam menerobos masuk melalui celah lubang angin. Yudis merasakan ada yang tidak beres di rumahnya sendiri. Hingga suara ketukan pintu terdengar nyaring. Membuat perhatiannya teralihkan. Tapi ia justru merasa was-was. Tidak ada suara mobil di luar, dan sangat jarang ia menerima tamu malam-malam begini. Biasanya hanya Rendra dan gerombolan Abimanyu saja yang sering bolak-balik ke rumahnya. Tapi akhir-akhir ini mereka sedang disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Hingga sudah jarang bertandang ke kediamannya.
Yudis beranjak. Langkahnya pelan mendekat ke pintu. Ia sudah siap dengan berbagai kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Tapi begitu ia membuka sedikit pintu dan mengintip siapa tamu yang datang, Yudis tersenyum lega karena mendapati Vin yang datang.
"Vin? Sendirian?" tanyanya heran sambil menyapu pandang ke halaman rumahnya. Tidak ada orang lain yang bersama Vin, dan juga tidak ada kendaraan yang Vin pakai untuk sampai ke rumahnya. Aneh, batin Yudis.
__ADS_1
"Dari mana?" tanyanya, membuka pintu lebar-lebar. Tidak ada prasangka buruk apa pun dalam benak Yudis sejauh ini. "Yuk, masuk," ajaknya dan mempersilahkan Vin masuk. Vin sejak tadi hanya diam, sambil terus menatap Yudis dingin. Vin mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu. Tapi begitu ia menginjakkan kaki di atas karpet itu, ia justru terpaku. Yudis terus berjalan memasuki ruang lain, tapi saat ia sadar kalau Vin tidak bisa bergerak, Yudis mulai paham.
"Siapa kamu?!" tanya Yudis dingin. Vin menyeringai sambil melihat ke bawah kakinya.
"Kau pintar juga, Pak Tua. Masih waspada seperti dulu." Kalimat itu seolah menunjukkan kalau makhluk yang merasuki tubuh Vin mengenal baik Yudistira. Dan Yudistira langsung mengenalinya.
"Raven?!" ungkap Yudis. Agak terperangah kaget.
Ia tertawa lepas. Entah menertawakan keterkejutan Yudistira atau menertawakan dirinya sendiri karena terjebak dalam lingkaran ini.
"Bagaimana kamu ada di sini?" tanya Yudis heran. Ia masih merasa aman selama Raven masih berada di lingkaran yang ia buat. Rupanya berguna juga lingkaran ini. Karena ia jarang mendapat tamu seorang iblis sejak ia pensiun dan pindah ke desa ini.
"Kenapa? Kamu heran? Kalau aku bisa bebas dari penjara buatanmu itu? Selama pintu neraka terbuka, aku bisa bebas pergi ke mana saja. Karena teman-temanku pasti akan membebaskanku."
"Mau apa kamu ke sini?"
"Tentu aku rindu padamu."
"Cih, omong kosong!" Yudis berjalan ke sebuah bufet yang ada di dekat jendela. Ia mengambil sebuah botol berisi air. Kemudian mendekat lagi di luar lingkaran karpet itu. Raven menatap botol itu dengan gurat kecemasan yang tampak jelas. Tapi ia terus menutupinya. Ia terus menyunggingkan senyum saat tau apa yang akan dilakukan Yudis. Botol itu menjelaskan semua hal. Yah, ritual pengusiran roh.
"Apa yang membuatmu datang ke sini? Aku yakin bukan hanya untuk mencariku, kan?"
"Hahaha. Aku jauh-jauh ke sini memang mencarimu, Pak tua. Aku ingin menuntut balas atas semua yang sudah kamu lakukan padaku dulu. Semua rasa sakitku itu, masih jelas kuingat sampai sekarang. Jadi bagaimana bisa aku tidak akan mencarimu untuk balas dendam?"
"Rupanya kau cerdas, Pak tua. Dan kau juga sudah menyembunyikan dia selama ini. Pasti kau tau betapa pentingnya dia untuk kami, kan?"
"Yah, aku tau. Tak akan kubiarkan dia jatuh ke tangan kalian. "
'Hei, apakah kau yakin masih punya kekuatan untuk melawanku?" tantang Raven.
"Harusnya kau berpikir dua kali sebelum berkata demikian, Dude. Lihat saja, posisi siapa yang sedang terjepit. Terpenjara dalam lingkaran ini," tunjuk Yudis ke bawah, tempat Raven menginjakkan kakinya. Raven mengikuti arah telunjuk Yudis, ia langsung tidak lagi bersuara menunjukkan kesombongannya.
Kini giliran Yudis yang tertawa. Ia merasa di atas angin dengan posisi yang sangat menguntungkan baginya. Sementara Raven diam mematung. Secara harfiah dia memang tidak bisa bergerak. Lingkaran ini tidak kan bisa membuatnya bebas bergerak. Asal semua simbol masih utuh.
"Jadi kalian ingin membawa dia?"
Raven hanya menaikkan satu sudut bibirnya, dan tak mau bersuara lagi. Merasa disepelekan oleh musuhnya, Yudis mulai geram. Ia memercikkan sedikit air suci dari botol itu. Raven mulai berteriak kepanasan. Kulitnya terlihat terbakar Karena percikan air itu. Tapi tak lama kemudian dia kembali tertawa, seolah mengejek. "Terus lakukan, Pak Tua. Sekali pun kau memusnahkan ku, teman-temanku tidak akan berhenti datang ke sini. Jadi silakan."
Yudis kembali ke bufet tadi, lalu mengambil sebuah buku kuno.
"Wow, kau ingin mengirimku kembali ke neraka?" tanya Raven sedikit gentar. Yudis menyeringai puas. Ia mulai membaca sebuah mantra panjang. "Tapi asal kau tau, Pak Tua, aku hanya sebentar saja di sana, dan pasti akan kembali lagi ke sini. Menjemput nyawamu!"
Yudis tak menghiraukan perkataan Raven dan kembali membaca mantra itu lantang.
__ADS_1
"Exorcizamus te, omnis immundus spiritus, omnis satanica potestas, omnis incursio infernalis adversarii, omnis legio, omnis congregatio et secta diabolica. Ergo, omnis legio diabolica, adiuramus te cessa decipere humanas creaturas, eisque æternæ perditionìs venenum propinare Vade, satana, inventor et magister omnis fallaciæ, hostis humanæ salutis Humiliare sub potenti manu Dei; contremisce et effuge, invocato a nobis sancto et terribili nominequem inferi tremuntAb insidiis diaboli, libera nos, Domine. Ut Ecclesiam tuam secura tibi facias libertate servire, te rogamus, audi nos."
Raven berteriak dengan suara kesakitan yang amat sangat. Hingga akhirnya tubuh Vin lunglai dan jatuh begitu saja. Yudis segera mendekat ke Vin, ia lalu memapah pemuda itu menuju sofa di ruang tengah. Vin mengerang kesakitan. Kesadarannya belum pulih benar. Yudis memutuskan menghubungi Abimanyu guna memberitahukan keberadaan Vin di rumahnya.
"Apa? Allea keguguran?!" pekik Yudis di balik telepon genggamnya. Ia melirik ke Vin yang sedang mengerjapkan mata, mulai sadar. Ia juga terus memegangi kepalanya. Denyut di dalam kepalanya sungguh menyiksa. Tetapi percakapan Yudis terdengar jelas di telinganya.
"Apa? Allea kenapa?" tanyanya sambil berusaha duduk.
"Nanti lagi." Yudis mematikan panggilan itu dan melempar asal telepon genggamnya. Ia segera mendekat ke Vin. "Mendingan kamu istirahat dulu, Vin. Kondisimu masih lemah." Yudis membantu Vin membetulkan posisi tidurnya. Ia jelas melarangnya untuk beranjak atau bahkan pulang.
"Pak, Allea kenapa?" tanya Vin. Ia bahkan tidak bisa membuka matanya dengan sempurna. Yudis merasa aneh dengan kondisi tubuh Vin itu. Ia kemudian meringis sambil memegang perutnya. Dari situlah Yudis melihat sebuah perban yang dipasang asal. "Astaga, Vin. Apa yang sudah iblis itu lakukan ke kamu? " Darah tercetak jelas dari perut Vin yang merembes ke perban itu.
"Aku nggak tau, Pak. Aku nggak inget apa-apa," ujar Vin sambil meringis kesakitan.
"Kamu harus ke dokter! Ayok!" Yudis memapahnya lagi ke mobil. Vin terluka cukup parah. Dan sayangnya ia tidak ingat atas apa yang sudah terjadi saat ia dirasuki kemarin. Tentu dia tidak tau kondisi Allea sekarang.
Yudistira mengendarai mobil dengan cukup cepat. Ia khawatir dengan keadaan pemuda di sampingnya. Wajah Vin sudah pucat. Keringat dingin mulai terlihat jelas di wajahnya. Ia juga mulai menggigil.
"Tahan sebentar, Vin," gumam Yudis yang benar-benar khawatir. Tapi dalam perjalanan, tiba-tiba ada beberapa orang menghadang mereka di tengah jalan. Terpaksa Yudis harus menginjak rem dalam-dalam. Ada sekitar 5 orang di depannya dengan wajah yang asing baginya. Tapi satu yang pasti, semua mata pria itu hitam. "Sialan! Mau apa lagi mereka?! Apa benar-benar mau membunuhku?" gumam Yudis dengan pertanyaan untuk dirinya sendiri. Dia melihat Vin sebentar, memastikan kalau pemuda itu masih bernapas.
Langkah selanjutnya ia mengambil sebuah pisau perak dari dash board mobilnya. Yudis melumuri dengan air suci terlebih dahulu. Kemudian keluar dari mobil.
"Kalian mau menyusul pemimpin kalian? Dia sudah ada di neraka! Kalian juga mau aku kirim ke sana? Hah?!" ancam Yudis yakin.
Kelima orang itu hanya tersenyum. Lalu mulai mendekati Yudis satu persatu. Yudis melemparnya dengan air suci yang masih ia punya. Percikan itu membakar kulit mereka hingga terlihat memerah dengan uap panas di sekitarnya. Yudis mulai berkelahi dengan mereka satu persatu. Dengan mudahnya ia menusuk salah satu pria itu hingga wajah pria tadi menyala dan seluruh rongga tubuhnya berwarna gosong. Seperti terbakar. Artinya iblis yang merasukinya juga musnah. Tetapi manusia yang dirasuki juga mati.
Yudis terlempar ke kaca depan mobilnya, ia mengerang kesakitan sambil memegangi bahunya yang terluka.
Tiba-tiba bunyi deru mesin motor memekakkan telinga. Semua orang menatap kedatangan motor itu dengan harap-harap cemas. Yudis butuh bantuan, dan semoga itu adalah bantuan untuknya.
Dari kejauhan seorang pemuda dengan helm yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya datang. Membawa sebilah pedang panjang yang terlihat mengkilap. Bukan kadang sembarangan, pedang khusus itu memang dibuat tidak hanya membunuh manusia. Tapi juga membunuh makhluk lain yang bukan manusia.
Ia langsung menebas kepala salah satu orang yang menghalanginya. Hingga kepala itu terlempar jauh dari tubuhnya. Ia segera berhenti tepat di depan mobil Yudis. Pengendara motor itu membuka kaca helmnya. "Pak pergi saja. Biar saya yang urus di sini," kata Rendra.
Yudistira pun bernapas lega melihat bala bantuan datang. Apalagi dia tau kalau Rendra tidak mudah dikalahkan seperti Abimanyu. Dia memang harus segera sampai rumah sakit, karena kondisi Vin harus cepat ditangani. Lukanya makin parah. Karena kini darah di perutnya mulai menetes membasahi mobil. Yudis segera masuk ke mobilnya dan mulai mengendarainya, meninggalkan tempat itu dan menyerahkan semua pada Rendra.
Yudis kembali mengendarai mobil dengan cepat. Jarak rumah sakit tinggal beberapa kilometer lagi. Tapi suara gemuruh di langit membuat perhatiannya kembali teralih. Ia bahkan sempat mengurangi kecepatan demi melihat apa yang sedang terjadi. Karena suara ini tidak asing dan bukan dari tanda-tanda alam.
Yudis melihat titik hitam di langit yang menyala dengan warna merah terang. Ia mulai meluncur jatuh ke bumi dengan cepat. Yudis melotot saat melihat benda itu akan menuju ke arahnya.
Dan benar aja, dalam hitungan detik sinar merah itu mulai turun dan kini mendarat tepat di depan mobilnya. Yudis mengerem mobil mendadak. Ia juga langsung membanting stir ke kanan, guna menghindari cahaya merah itu. Yudis tak mampu mengendalikan mobilnya sendiri. Ia mulai masuk ke dalam hutan dan menabrak beberapa pohon di sana. Rupanya rem mobil blong. Dan kini ia pasrah untuk menabrak salah satu pohon agar kendaraan itu berhenti.
BRAAK!
__ADS_1
Asap mobil terlihat mengepul membentuk awan hitam tebal di sekitar mobil. Ia berhasil menabrak sebuah pohon tua besar dan membuat mereka terjebak di dalam hutan yang sunyi.