
"Kita harus cari ke mana, ya?" tanya Adi, mengedarkan pandangan ke sekitar. Mereka berdiri di tengah jalan depan cafe Pancasona. Gio yang melihat gelagat Abimanyu dan Adi lantas mendekat. "Pada ngapain?"
Dua orang itu saling pandang seolah berdiskusi siapa orang yang harus menjelaskan pada Gio sekarang. "Paman saja. Aku ambil mobil," tukas Abimanyu, berlari kecil ke halaman.
"Jadi gini, ada kemungkinan kalau Feliz diculik Bisma," bisik Adi dengan matanya yang liar waspada pada sekitar. Gio melotot. "Hah?!" Seketika mulutnya dibekap oleh Adi sambil berdesis.
"Diem, ****!" Adi melepaskan tangannya setelah yakin Gio sudah bisa meredam reaksinya. Sebenarnya itu adalah reaksi yang wajar, karena tidak ada yang akan menyangka kalau pelaku sebenarnya justru orang terdekat mereka sendiri. Padahal mereka sudah mencari ke penjuru desa, tapi rupanya Feliz masih ada di cafe sejak tadi. Itu adalah hal bodoh yang mereka lakukan hari ini.
"Kenapa kalian bisa beranggapan begitu? Ada bukti?" tanya Gio dengan berbisik.
"Yah, baru dugaan, Gi. Tapi tetesan darah di toilet tadi bisa jadi bukti. Coba elu suruh teman lu siapa itu ? Si ... eum, Akbar! Iya Si Akbar suruh ke sini dan cek TKP. Ada tetesan darah di sana. Siapa tau bisa jadi bukti."
"Oke." Gio segera mengambil benda pipih di saku celananya, dan melakukan panggilan telepon. Ia memang agak menjauh dari Adi agar lebih nyaman mengobrol dengan Akbar.
Mobil sudah siap. Mereka bertiga kini naik dan segera pergi dari cafe.
"Kita cari ke mana?"
"Ke rumah Bisma dulu. Kita cari bukti apa saja. Aku yakin kita bakal nemuin sesuatu di sana," kata Abimanyu yakin. Mobil melesat menembus jalanan yang agak ramai. Beberapa orang nampak sudah pulang dari rutinitas masing- masing. Mereka bertiga diam, dengan pikiran masing- masing.Hanya saja satu yang menjadi pokok pemikiran mereka selama beberapa hari ini. Kasus pembunuhan berantai di desa ini.
Desa yang awalnya tenang dan damai, mendadak ramai dan membuat warganya ketakutan setiap saat. Ketenangan desanya sudah tidak nampak lagi sekarang. Tempat yang nyaman bagi Abimanyu, berubah bagai neraka.
Abimanyu menginjak rem dalam-dalam. Hingga bunyi ban berdecit membuat perhatian semua orang beralih padanya. Hampir saja Abi menabrak seseorang di depan. Hanya tinggal beberapa inchi lagi, maka orang itu pasti sudah terpental jauh karena Abi sejak tadi mengendarai mobilnya dengan cepat.
"Astaga! Jantungan gue! Hampir saja. Kalau gue mati gimana coba?" omel gadis yang ada di depan mobil Abimanyu sambil menunjuk nunjuk ke arah mobil. Tiga pria di dalam mobil itu hanya diam.
"Ngapain dia di situ?" tanya Gio lalu membuka kaca mobil sampingnya. Kepalanya menyembul keluar dan membuat gadis itu terkejut.
"Oh jadi kalian?!" Ia segera mendekat dan langsung membuka pintu belakang, samping Adi. "Mau pada ke mana ini? ikut, ya."
Tiga pria itu hanya mendengus sebal dan mengiyakan saja permintaan Nabila. Karena walau mereka larang sekalipun, ia tidak akan mendengarkan dan tetap akan ikut. Jadi percuma saja. Sepanjang jalan Nabila terus mengoceh, menceritakan pasca pembunuhan Eliza. Semua perisitwa yang ia temui di sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat.
"Jadi ... kita mau ke mana?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut gadis itu setelah topik pembicaraannya habis.
"Ke rumah Bisma."
"Ngapain?"
"Ada kemungkinan Feliz diculik Bisma!"
"What?! Feliz? Loh bukannya dia ... salah satu target, ya. Kok bisa di sini?"
"Ada yang undang. "
"Gilaa!"
Mereka sampai di rumah Bisma. Satu persatu turun dari mobil dan mencoba setenang mungkin saat seorang wanita dengan rambut yang beruban keluar dari dalam diiringi senyuman yang khas.
__ADS_1
"Loh ada tamu," sapa nya.
"Iya, Bu. Eum, Bisma di mana, ya?"
'Bisma? Lah belum pulang, Mas Abi. Baru juga jam segini," sahutnya, menoleh ke ruang tamu dengan jam dinding yang memang terlihat di tempatnya berdiri. "Ada apa, ya?"
"Eh, gini Bu. Bisma kemarin mau bantu saya bikin laporan data penduduk sama murid murid yang sekolah di sini. Apa saya boleh ambil?" Nabila bertindak di luar dugaan. Namun tiga pria itu hanya diam, berharap usahanya berhasil.
"Oh begitu. Ya sudah ke kamarnya saja. Ibu nggak tau yang mana."
Nabila menyeringai lalu mengerdipkan sebelah matanya dan mengikuti ibu itu. Sementara para pria hanya diam menunggu di halaman, dengan harap-harap cemas.
"Kalian yakin, dia bisa diandelin?" tanya Gio. Adi mengerdikan kedua bahunya menanggapi, sementara Abimanyu hanya diam sambil menatap jendela kamar lantai dua di hadapannya. Ia melihat sosok Gibran di sana. Hanya diam, menatapnya di atas sana.
Nabila terus berjalan ke kamar Bisma yang letaknya di lantai dua rumah ini. Sang ibunda Bisma penuh semangat menceritakan putra semata wayangnya. Hal ini membuat Nabila mampu mengorek informasi lebih banyak. "Oh jadi Bisma itu juga bantuin Pak Marwan ngurus home stay, ya, bu? Wah dia anak yang rajin, ya. Pekerja keras sekali," kata Nabila dengan ekspresi kagum.
"Iya, Bu Guru. Dia anak yang rajin. Nggak ada capeknya. Setelah dari cafe selalu ke sana."
Mereka sampai di depan pintu kamar Bisma, ibu Bisma membukakan pintu dan mempersilakan Nabila masuk. Sementara ia menunggu di luar.
Kamarnya cukup rapi dan tertata dengan apik. Ada satu rak novel yang disusun dengan urutannya.
"Abjad?! Novelnya nggak disusun secara urutan tahun keluarnya. Tapi sesuai abjad judulnya. Gila!"
Netra Nabila liar mencari kemungkinan keanehan Bisma yang lain. Ada satu setel pakaian serba hitam yang tersampir di stand hanger. Ada masker hitam, topi, dan jaket hitam. Nabila mendekat dan memeriksa tiap saku jaket itu. "Ugh! Bau apa sih ini?" hardiknya mengibas ngibaskan tangan di depan wajahnya. Mengusir bau menyengat dari pakaian di depan. Saat Nabila merogok kantung jaket, ia menemukan benda kecil.
Saat benda itu di masukan ke dalam telinga, terdengar bunyi seolah benda ini diaktifkan. Nabila terus diam sambil menajamkan pendengaran nya. Bunyi berisik terdengar di ujung sana. Tapi tiba-tiba tidak ada suara sama sekali. Ia melepaskan lagi benda itu, lalu memasukan ke dalam saku bajunya.
"Gimana, Bu? Ketemu?" tanya ibu Bisma yang kini masuk ke dalam kamar.
"Oh sudah, Bu. Ketemu," kata Nabila sambil meraih tumpukan kertas di dekatnya dan menggulungnya.
Mereka lalu keluar kamar dan ibu Bisma mengantar Nabila keluar rumah menemui tiga pria yang tadi datang bersamanya.
"Terima kasih, Bu." Tangan Nabila melambai dengan laju mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumah Bisma.
"Gimana?" tanya Abimanyu sambil fokus menyetir.
"Ketemu! Mereka ada di salah satu home stay Pak Hermawan."
"Letak pastinya?"
"Eum, nggak tau. Ibu Bisma tadi cuma bilang, kalau Bisma sering bantu di sana. Eh satu lagi!" Ia bersemangat sekali mengeluarkan benda kecil yang ia ambil dari jaket Bisma.
"Apa ini?" tanya Adi sambil mengambil benda kecil itu.
"Coba liat!" sambar Gio dan menatap benda itu dari jarak dekat. "Oh ini alat komunikasi."
__ADS_1
"Hah? Serius?"
"Tapi ... ini, kan, alat komunikasi dua arah."
"Maksudnya?"
"Ada orang lain dibalik ini semua selain Bisma!" sahut Gio menatap tajam mereka satu persatu.
Jalur menuju kawasan home stay terlihat sepi. Beberapa hari ini memang sudah tidak ada pengunjung karena isolasi desa ini sejak kasus kasus yang menimpa beberapa pekan terakhir.
"Terus kita harus cari ke mana?" tanya Nabila sambil fokus menatap jalanan sekitar. Hampir semua rumah terlihat sepi. Tidak ada satu pun orang yang menghuninya. "Coba kita berhenti dan periksa satu persatu!" kata Adi. Abimanyu lantas memberhentikan mobil di pinggir jalan, di antara bangunan bangunan kosong itu. Semua orang turun dan memeriksa tiap rumah di sekitar mereka. Tidak terlihat ada tanda tanda kehidupan di sana. Hingga saat mereka berkumpul kembali, Abi melihat ke jalanan beraspal yang kini mereka injak. "Ini?" gumamnya menunjuk bekas ban yang hanya ada satu saja di jalur ini. Ia lalu mengikuti ke arah perginya jejak ban mobil itu.
"Pasti dia ke sana!" kata Abimanyu menunjuk ujung jalan yang akan membawa mereka ke air terjun. Semua orang kembali naik mobil dan melanjutkan perjalanan. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat ada mobil milik Abi terparkir di salah satu rumah. Mereka langsung yakin kalau Bisma ada di rumah tersebut.
Gio yang sampai terlebih daahulu lantas berusaha membuka pintu. Terkunci. Ia menatap yang lain dan meminta persetujuan. "Apa?" tanya Abi yang tidak paham maksud Gio. Gio hanya mendengus sebal lalu menendang pintu itu kuat-kuat. "Ini maksud gue!" kata Gio yang ditanggapi dengan wajah melongo mereka semua.
"Ayo masuk. Anggap aja rumah sendiri," kata Adi yang ngeloyor masuk begitu saja. Di belakangnya ada Nabila yang juga antusias mengikuti yang lain. Abimanyu hanya garuk garuk kepala. "Terus siapa yang harus ganti rugi kerusakan ini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Mereka masuk dan memeriksa setiap bagian ruangan. Tapi sejauh ini, tidak ada apa pun yang mereka temukan di sini. Padahal sudah jelas kalau mobil yang dibawa Bisma tadi ada di depan rumah ini. Tapi kenapa tetap mereka tidak menemukan apa pun di sini. Bahkan seolah tempat ini sudah lama tidak dimasuki manusia.
"Aneh! Kenapa nggak ada orang, ya?"
"Eum, mungkin ada ruang rahasia! Biasanya hal seperti ini sering terjadi, kan?" Nabila berasumsi dan memang apa yang ia katakan sangat wajar.
"Kalau gitu, cari ruangan rahasia itu!"
Mereka berpencar. Menelusuri tiap sudut ruangan. Mencari kemungkinan di mana ada celah yang dapat menuntun mereka menuju ruangan rahasia sesuai anggapan tadi. Kamar bahkan sudah berantakan. Banyak furniture mereka pindah dari tempat asalnya. Tapi tidak ada satu pun yang mereka temukan. Dan ruangan rahasia itu seakan benar-benar rahasia.
Mereka duduk di dapur, meneguk air mineral yang tersedia di lemari pendingin. Mereka sudah lelah. Dan hari sudah gelap. Rasanya kembali ke rumah adalah hal yang sangat diidamkan, tapi nyatanya tugas mereka belum selesai. Sekalipun ini sebenarnya bukanlah tugas mereka, tapi setidaknya mereka masih memiliki jiwa kemanusiaan. Dan lagi agar kondisi desa aman seperti sedia kala.
"Nggak ada makanan di sini, ya?" tanya Gio sambil mencari bahan makanan yang mungkin bisa mereka konsumsi. Nabila ikut mencari di lemari. "Eh ini ada mie instant. Mau?" tanya gadis itu pada mereka semua. Mereka mengangguk, ah bukan mereka, hanya Gio saja. Alhasil, Nabila mulai menyalakan kompor untuk membuat makan malam ala kadarnya. Adi beranjak mendekati Abimanyu yang tengah menatap sebuah lukisan di depannya.
"Kenapa?"
"Aneh. Kenapa lukisan sebagus ini malah ditaruh di dapur, ya. Padahal di ruang tamu lebih cocok. Di sana juga nggak ada pajangan apa apa." Pertanyaan Abimanyu barusan membuat pikiran Adi juga terbuka. Ia pun berpikir kalau hal ini aneh. Adi lantas mendekat ke lukisan wanita yang terkenal seantero dunia ini. Lalu terpaku pada matanya. "Bi, matanya aneh." Abimanyu ikut mendekat dan setuju dengan perkataan Adi barusan. Mereka saling pandang, lalu jari telunjuk Adi menyentuh gambaran mata aneh itu. Adi melotot karena yang ia sentuh justru bukan permukaan yang rata dan halus, melainkan seperti sebuah bulatan kelereng yang menyembul. Adi lantas menekan mata itu.
Pintu rahasia yang mereka cari kini terbuka. Semua orang terkejut dan sempat mundur dari pintu itu. Rasa cemas langsung ada pikiran mereka. Takut kalau ada seseorang yang menyerang tiba-tiba dari dalam ruangan gelap di sana. Setelah ditunggu beberapa saat, mereka akhirnya memutuskan masuk ke dalam.
Satu demi satu anak tangga mereka tapaki. Lampu menyala tiap kaki mereka menginjak tiap anak tangga yang terus membawa mereka ke bawah. Mereka tetap waspada, mengingat ini adalah tempat yang misterius. Kini sebuah ruangan besar terpampang di depan mereka. Tapi tidak ada satu orang pun yang ada di dalamnya. Kembali mereka mencari. Hingga salah satu dari mereka berseru. "Mereka kabur, lagi," kata Abimanyu sambil menunjuk sebuah lorong lain.
Lampu flash dinyalakan. Lorong gelap mulai mereka masuki. Perlahan namun pasti, mereka terus masuk makin dalam. Beruntung hanya ada satu jalur jalan yang ada di sini, mereka tidak perlu menentukan pilihan ataupun takut salah jalan. Ada sebuah pintu dengan sinar di pinggirnya. Pintu ini sangat mudah di tarik dari dalam. dan kini mereka ada di tengah hutan desa.
"Ini jalan rahasia juga rupanya?"
"Tempat ini kan dulu pernah jadi markas prajurit jaman dulu. Jadi wajar aja kalau ada dan bahkan banyak tempat dan lorong rahasia," ujar Adi.
"Tapi mana Feliz? Apa kita gagal lagi nyari dia?" tanya Nabila.
__ADS_1
"Ini sudah malam. mendingan kita pulang saja. Percuma juga kita cari, nggak akan ketemu." Abi mengakhiri hari ini dan kembali mencari jalan pulang.