pancasona

pancasona
Part 165 Amon


__ADS_3

Sebuah penginapan sederhana menjadi tempat persembunyian mereka berdua. Gio mengambil dua botol bir dan memberikan salah satunya pada Abi. Kini mereka berdua berada di negeri asing. Jauh dari rumah dan hanya berdua saja.


"Gimana kabar Rendra dan Pak Yudis, apa Paman tau?" Gio menggeleng, "gue bahkan belum ke rumah sejak pergi kemarin. Jadi mana gue tau. Memangnya apa saja yang sudah terjadi selama gue nggak ada?"


Abi menghela nafas. Ia merasa sedih jika mengingat hal itu lagi. Terpaksa ia menceritakan semua hal itu, malam saat ia meninggalkan rumah sakit dan membiarkan Rendra dan Yudis menghadapi para iblis itu.


"Semoga mereka baik-baik saja," ujar Gio yang juga terlihat terpukul mendengar kabar ini. Sejak kehilangan Adi, dirinya sudah jarang memiliki teman yang satu frekuensi dengan minat dan tujuan yang sama dengannya. Tapi setelah Yudis dan Rendra hadir di tengah-tengah mereka, Gio merasakan adanya kekuatan baru dengan tim yang baru ini. Walau Rendra bukanlah manusia seperti mereka, setidaknya dia masih memiliki hati manusia.


"Jadi Paman Gio selama ini di sini?" tanya Abi, meneguk botol bir itu langsung. Gio duduk di pinggir ranjang dan menikmati bir di tangannya juga. Ia mengangguk, sampai bir di dalam mulutnya sudah tertelan sempurna. Menatap Abimanyu.


"Gue nyari seseorang yang dirasa bisa membantu masalah ini. Ada hal aneh yang gue lihat sejak Ellea sering bermimpi tentang wanita yang bernama Elisabeth itu."


"Maksud Paman, hal aneh seperti apa?"


"Beberapa kali gue melihat Ellea diikuti bayangan hitam. Bahkan pernah sekali gue lihat bayangan hitam itu jelas, di kamarnya, saat dia tidur. Bayangan hitam itu memegang kepala Ellea. Mungkin itu alasan dia sering mimpi buruk."


"Kenapa Paman nggak pernah cerita ke Abi?"


"Percuma juga gue cerita. Palingan juga elu nggak percaya!" tukasnya lalu berjalan ke arah tas ransel miliknya. "Dan akhirnya gue cari orang yang ngerti masalah ini." Gio mengeluarkan sebuah buku, lebih mirip jurnal dengan tulisan tangan seseorang. Ia menyerahkan ke Abi.


"Pemilik buku ini adalah suami dari seorang perempuan yang ternyata salah satu ras Nephilim," jelas Gio sambil menunjuk buku tersebut. Abi masih membaca isinya, lembar demi lembar, sambil mendengarkan penjelasan Gio.


"Gue kenal Eddie karena dia spesialis supranatural."


"Apa? Spesialis supranatural? Maksudnya?"


"Gue kenal dia dari temen. Sesama hacker. Dulu di rumahnya ada ritual exorcism, karena anaknya dirasuki setan. Dan Eddie yang membantu pengusiran setan itu. Setelah kejadian itu, beberapa kali gue ketemu Eddie secara tidak sengaja. Di situ obrolan tentang Nephilim mengalir dari mulutnya. Ia menceritakan saat dirinya menikah dengan ras Nephilim. Dan saat gue denger soal Nephilim ini dari mereka kemarin, gue langsung nyari Eddie."


"Terus mana Eddie?" tanya Abi sambil tengak tengok ke segala arah. Gio menggeleng sambil menarik napasnya berat. "Dia tewas."


"Maksud Paman? Tewas? Tapi kenapa?"


"Karena dia sama gue berusaha menggagalkan ritual ini. Dia meninggal kemarin malam. Salah satu iblis itu membunuh Eddie. Jantungnya dicabut dari tubuhnya. Dan gue gagal menyelamatkan dia."


"Ellea ... Abi harus selamatkan dia, Paman. Apa ada cara untuk menyelamatkan Ellea?"


"Nggak ada, Bi. Kita harus membunuh Ellea!" kata Gio datar.


"Enggak! Nggak akan Abi biarkan hal itu, Paman. Pasti ada cara lain!"


"Enggak ada cara lain. Karena sampai kapan pun keberadaan Ellea akan menjadi incaran para iblis. Kalau sekarang dia lolos dari Amon, beberapa tahun lagi, pasti dia bakal ditemukan oleh mereka. Itu juga yang dilakukan Eddie ke istrinya. Eddie membunuh istrinya sendiri, hanya untuk mencegah Amon hidup abadi. Miris, kan? Gue pun nggak mau kalau hal yang sama terjadi sama kalian. Gue juga sayang Ellea, dia udah gue anggap kayak anak gue sendiri. Tapi keadaan sekarang nggak memungkinkan untuk dia terus hidup."


"..."


"Bi ...."


"Nggak! Ellea harus tetap hidup, sekali pun kami harus terus menghindari mereka. Atau seumur hidup nanti kami harus terus melarikan diri dari Amon. Abi nggak bisa kehilangan Ellea, Paman. Jangan pernah bilang hal itu lagi. Jangan pernah berniat membunuh Ellea, Paman! Atau Abi juga akan membunuh Paman nantinya!" ancam Abi dengan sorot mata penuh kebencian.


Gio diam, ia paham kalau emosi Abi sedang tinggi. Dan hal ini juga berat baginya. Tidak mudah mengatakan hal ini, bahkan memikirkan membunuh Ellea saja, membuat dia merasa tidak berguna hidup di dunia ini. Tapi tidak ada cara lain. Karena inilah, semua ras Nephilim menjadi incaran para hunter. Karena takdir mereka hanya dua, mati oleh kaumnya sendiri, atau mati sebagai tumbal iblis. Sebagian dari Nephilim justru mengakhiri hidupnya sendiri, mereka tidak mau mati dengan dua cara itu. Semua menyakitkan.


"Ya sudah. Kita coba cari cara lain, Oke? Yang penting kita bawa dulu Ellea pergi dari tempat ini," kata Gio sambil menepuk bahu Abi, berusaha menguatkan nya.


"Tapi di mana Ellea sekarang?"


"Gue udah cari tau, dan mengikuti para iblis itu. Mereka sering datang ke gereja yang ada di pinggir kota sana. Gereja itu terbengkalai, dan nggak pernah lagi dipakai. Malam ini kita ke sana, karena biasanya saat malam tiba, sebagian besar dari mereka bakal pergi keluar. Cari makan mungkin, entah lah. Tapi itu adalah waktu yang tepat. Jadi sekarang kita harus persiapkan semuanya. Lebih baik kau makan terus tidur. Lihat wajahmu itu! Sudah mirip mayat hidup! Bahkan lebih mengerikan dari wajah iblis tadi!" ejek Gio.


Gio sudah mendengkur dalam beberapa menit setelah tubuhnya mendarat mulut di kasur. Sementara Abi justru tidak bisa tidur dengan nyenyak. Baginya tidur di dalam pesawat tadi sudah lebih dari cukup, justru ia sangat penasaran dengan jurnal milik Eddie yang masih ada di tangannya. Abi terus membaca kata demi kata. Dan wawasannya tentang hal supranatural yang memang asing baginya mulai membuka pikirannya sendiri. Ia banyak membaca tentang setan, iblis, malaikat, bahkan makhluk lain yang belum pernah ia temui sebelumnya.


Ada satu hal yang Abi cari dan belum ia temukan dalam buku ini. Tentang dirinya sendiri. Kemampuannya untuk menyembuhkan diri dan tidak mudah mati membuatnya penasaran. Ia merasa tidak pernah mendalami ilmu apa pun. Tetapi sejak lahir, ia sudah mendapatkan kemampuan ini. Dia masih penasaran, walau tidak pernah mengatakan apa pun, tapi dalam lubuk hatinya, Abi sebenarnya ingin tau. Siapa dirinya sebenarnya, dan kenapa dia memiliki semua kemampuan ini. Hal ini bukan sifat bawaan atau watak yang bisa diturunkan dari orang tua ke anaknya secara umum. Ada satu hal yang mengganjal di pikirannya, apakah ia dapat menua dengan semua yang ia punya? Di saat semua orang tidak suka menjadi tua, dan menganggap menjadi tua adalah menyebalkan, Abi justru menginginkan hal itu terjadi padanya. Menjadi normal.


"Huh! Nggak ada juga!" keluhnya, menutup buku tersebut dan memutuskan memejamkan mata sejenak. Tubuh Abi yang sebenarnya cukup lelah, telah membuat matanya benar-benar terpejam sempurna dan akhirnya ia pun tertidur menyusul Gio yang sudah melakukan itu lebih dulu.


"Abimanyu ... Bangun, Nak," sapa suara lembut seorang wanita yang ia kenal sebelumnya. Ia lantas membuka matanya dan sedikit terkejut karena mendapati dirinya berada di rumahnya sendiri. Rumahnya di desa Amethys. Dalam kebingungannya, wajah wanita yang membangunkan tadi muncul. Ia masih memakai celemek dengan spatula di tangannya. Abi yang masih terbaring di ranjang kamarnya terkejut, mendapati ibunya ada di luar kamarnya. "Bangun! Sarapan dulu, nanti kesiangan. Cepat!' katanya sambil melambaikan tangan padanya. Abi masih diam membeku di tempatnya, ia mengerjapkan mata, merasa ini hanya khayalannya belaka.


Nayla mendekat sambil mengerutkan dahinya bingung melihat sikap putranya. Ia kemudian duduk di pinggir ranjang, membelai kepala putra semata wayangnya itu. "Kenapa?" tanyanya sambil terus memperhatikan wajah Abi dari dekat.


"Bu? Aku mimpi?" tanya Abi masih dengan tampang bingung. Nayla tersenyum, dengan tak menghentikan gerakan tangannya di kepala Abimanyu. "Menurutmu?" tanyanya balik.


Abimanyu justru diam, karena dia masih bingung dengan keadaan ini. Ia yakin kalau ini hanya lah halusinasinya saja. "Jika lelah, istirahat, Nak. Kamu manusia, punya rasa lelah."

__ADS_1


"Benar, kah, aku manusia, Bu?"


Pertanyaan itu membuat Nayla mengernyitkan kening dan tersenyum ke Abimanyu. "Kenapa kamu tanya seperti itu?" Ia masih sibuk bermain di sela-sela anak rambut putranya yang lembut.


"Kenapa aku memiliki kemampuan ini, Bu?" Abi mendongak untuk melihat wajah ibundanya. Wajah Nayla begitu teduh dari tempatnya menatap. Dia adalah wanita sempurna dalam hidup Abi.


"Banyak misteri di dunia ini yang tetap menjadi misteri, Bi. Kehidupan keluarga kita tidak seperti manusia normal pada umumnya. Ayahmu adalah orang yang hebat. Dia hidup cukup lama dengan memiliki ilmu Pancasona. Bahkan saat ia ingin meleburnya, agar menjadi normal, seolah ilmu itu tidak pernah pergi dari hidupnya. Kau tau kenapa?" Abimanyu menggeleng.


"Karena banyak orang yang membutuhkannya. Dia memiliki jiwa yang suci. Dia adalah pria baik yang selalu rela berkorban untuk orang lain. Ayahmu sudah menyelamatkan banyak jiwa selama ini. Semua jiwa itu mengucapkan terima kasih dengan cara mereka sendiri. Beberapa kali ayahmu hampir mati, bahkan dia pernah masuk ke dalam neraka. Tapi dia kembali lagi. Ada sesuatu yang kuat menolongnya saat itu. Ilmu pancasona memang sudah ia lebur, tapi ... dia tetap memilikinya, bahkan sampai kamu lahir. Pasti ada tujuan tertentu kamu mengalami semua ini. Percayalah, ayahmu juga tidak menginginkan hidup seperti ini. Dia meninggalkan semua itu karenamu, Anakku. Dia ingin memberikan kehidupan senormal mungkin buatmu. Tapi, kita tidak bisa melawan takdir. Dan maaf, kalau kau juga harus menerima takdir ini, seperti kami. Ibu yakin kau mampu."


"Apa yang harus aku lakukan, Bu? Aku tidak tau harus bagaimana." Nayla tersenyum, ia meletakkan telapak tangannya di dada Abimanyu. "Jawabannya ada di dalam sini. Kau tau apa yang harus dilakukan. Dan, asal kamu tau, kalau hanya kamu lah yang bisa menghentikan semua ini. Ini takdirmu, Abimanyu."


"Hei, Bi! Bangun!" Tubuh Abimanyu digoncang-goncang kan oleh Gio. Sontak ia langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia mirip orang linglung, dengan tatapan kosong menatap Gio. "Kenapa sih? Gue pikir elu udah mati tadi. Tidur lama banget!" cetusnya kesal.


"Aku mimpi?" tanya Abi dan kembali membuat Gio makin kesal.


"Mimpi apa sih lu?"


"Ibu." Raut wajah Gio yang awalnya kesal dan bingung mendadak berubah sedih. Ia menatap Abi nanar, sambil menarik napas dalam-dalam. "Yuk, kita jemput Ellea. Udah waktunya," tukasnya lalu meraih jaket miliknya yang tersampir di stand hanger. Abi yang masih dalam kondisi setengah sadar dan setengah bingung, menuruti Gio. Mereka berdua kemudian keluar penginapan itu dengan segala perlengkapan yang sudah disiapkan sebelumnya.


Malam sudah hampir larut. Saat yang sudah mereka tunggu, karena di jam seperti sekarang, beberapa iblis pergi. Mereka juga perlu makan. Dan makanan mereka adalah jiwa manusia. Gio dan Abi melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Jarak yang ditempuh tidak begitu jauh dari penginapan mereka. Hanya saja di tempat itu sudah tidak ada rumah penduduk atau fasilitas umum lain. Jadi gereja itu termasuk ada di tempat terpencil yang sudah tidak pernah dikunjungi manusia.


"Lihat! Itu tempatnya!" tunjuk Gio ke sebuah bangunan tua yang terlihat mengerikan. Angker dan cocok untuk setting film horor. Beberapa kali mereka berdua melihat iblis yang keluar dari tempat itu.


"Hm, ini seperti de javu, ya, Paman?" bisik Abimanyu yang sedang mengintai dari semak-semak bersama Gio.


"Hm, bener juga. Tapi jangan sampai de javu ini berakhir dengan hal sama seperti dulu!" kata Gio lalu mengendap-endap memasuki gereja itu, Abi mengikutinya terus. Mereka mulai masuk ke dalam dengan hati-hati sekali. Untuk mengantisipasi hal buruk, Gio dan Abi juga menggambar simbol perangkap iblis di beberapa titik keluar dan masuk. Setidaknya hal ini akan menghambat jika mereka kembali dari mencari makan. Mereka juga menyiramkan air suci di jalan keluar mau pun jendela.


Terus dilakukan hingga ke hampir semua ruangan. Sesekali mereka juga harus melawan iblis yang ditemui. Jangan sampai kedatangan mereka terendus iblis yang lain. "Bi, lu cari Ellea, biar gue yang bikin perangkap buat mereka. Buruan." Abimanyu mengangguk dan kembali mencari tempat di mana Ellea disekap.


Sinar nyala obor membuatnya mengikuti terus ke mana ujung dari obor ini. Ia yakin kalau obor yang dipasang di sudut ruangan akan membawanya pada Ellea. Langkahnya pelan menuju ke sebuah ruangan yang ada di tangga menuju ke arah bawah. Gelap dan pengap. Bau ruangan lembab tercium di pangkal hidup Abimanyu. Ia hanya memegang sebuah samurai khusus milik Ediie. Perlahan ia mulai sampai di ruangan itu. Sunyi dan seperti tidak ada tanda kehidupan. Awalnya Abi hendak kembali ke atas, tapi sebuah suara membuatnya kembali menoleh dan mencari wanita yang memanggilnya.


"Ellea!" panggil Abi sambil mencari wanita itu. Suasana gelap ini membuat Abi agak kesulitan melihat. Sampai akhirnya ia menemukan Ellea ada di dalam ruangan yang dikelilingi jeruji besi. Dalam suasana remang-remang Ellea terlihat pucat. Ia tergeletak di lantai yang dilapisi jerami. Abi terlihat sangat marah. Ia berusaha mencari kunci pintu ini. Tapi ia tidak menemukannya.


"Tenang, Ell. Aku bakal bebaskan kamu dari sini. Sabar, ya, sayang." Saat ia mencoba membuka gembok besi yang menempel di pintu, seseorang memukulnya dari belakang hingga pandangan Abimanyu memburam dan akhirnya gelap.


"Kamu nggak apa-apa, Biyu?" tanya Ellea. Abi mengangguk, begitu pandangannya mulai jelas. IA tersenyum karena sudah bisa melihat Ellea lagi, walau dengan kondisi tidak baik. Niatan ingin membebaskan Ellea, malah justru kini mereka berdua harus dibebaskan. Gio belum terlihat sejauh ini. Abi cukup lega, setidaknya ada harapan lain jika Gio belum tertangkap.


Tapi suara berisik dari arah pintu, membuat harapan itu sirna. Gio tengah diseret dengan kasar oleh beberapa orang dengan mata hitam. Wajahnya sudah babak belur, matanya bengkak sehingga kesulitan melihat. "Paman! Paman Gio!" panggil Abi sedikit menjerit. Gio tidak mampu menjawab panggilan Abi, tapi untungnya ia masih bernafas sejauh ini. Setidaknya dia masih hidup. Itu sudah lebih dari cukup.


Kilat terlihat menyambar di langit, jendela besar di sisi timur mampu menampilkan pemandangan di luar gereja. Beberapa manusia dengan mata hitam mulai memasuki ruangan. Tapi hanya satu orang yang menarik perhatian Abimanyu. Pria dengan mata merah itu, terlihat berbeda dari yang lain. Dari situ ia paham, kalau pria itu adalah Amon. Ia memakai jubah hitam dengan wajah pucat. Berjalan terus mendekati mereka bertiga.


"Kau sampai juga di sini, Abimanyu?" tanya Amon, sambil jongkok di depan pemuda itu. Ia mengangkat dagu Abi lebih tinggi agar dapat melihat dengan jelas wajah Abimanyu Maheswara. "Kubunuh kau, Iblis!" ancam Abi dengan sorot mata penuh dendam.


"Wow. Aku ketakutan!" bisik Amin dengan ekspresi ngeri mendengar kalimat itu dari mulut Abimanyu. Tapi setelah itu, ia justru tertawa kencang. Bagaimana bisa Abi membunuh Amon dalam keadaan terikat seperti itu. Itu mustahil bagi Amon. Kilat kembali terlihat di langit, Amon menoleh dan menarik satu sudut bibirnya. "Kau tau? Ini adalah malam spesial. Akhirnya penantianku selama beratus tahun terwujud juga. Menemukan Nephilim muda yang masih suci. Dan sang pangeran yang akan mengantarnya sendiri untukku. Haahaha!"


"Jangan harap!" elak Abi sambil memalingkan wajahnya dari Amon.


"Yakin sekali kamu. Oh, kamu belum melihat hal ini rupanya, ya." Amon mengisyaratkan anak buahnya dengan menunjuk sebuah kain besar yang menggantung di sisi lain ruangan ini. "Kita lihat apa kamu akan berkata demikian setelah melihat ini!"


Kain dibuka, di sana terlihat beberapa orang yang sangat Abi kenal. Rendra, Yudistira, Vin, dan Allea. Mereka sedang duduk di sebuah kursi dengan berderet menyamping, dan posisi yang terikat kuat. Tak hanya tangan dan kaki, tapi juga mulut mereka disumpal. "Bawa ini juga!" tunjuk Amon pada Gio yang sudah tidak berdaya. Seorang iblis menarik Gio dengan kasar, menyeretnya hingga berada di sisi Rendra dan yang lainnya. Kursi disediakan untuk Gio, dan dia diperlakukan sama seperti yang lain.


Mereka semua terlihat babak belur dengan kondisi yang mengenaskan. Rendra dan Allea terlihat lebih sehat dibanding yang lain, sementara Vin terlihat paling lemah. Ia bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri. Sama seperti Gio sekarang. Amon berjalan ke samping Abimanyu. Hati Abi terasa hancur melihat semua orang terdekatnya ada di sini. Ia merasa gagal melindungi mereka semua.


"Lepaskan mereka semua. Kau hanya menginginkan aku bukan?" tanya Ellea membuka suara. IA juga merasakan hal yang sama seperti Abimanyu. Ia tidak ingin semua orang terdekatnya terluka hanya karena melindunginya. Amon menoleh ke Ellea lalu tersenyum sinis, ia kembali menatap Abimanyu. "Kau dengar barusan? Kekasihmu saja sudah pasrah menerima takdirnya. Bagaimana denganmu?"


"Apa yang kau inginkan dariku, Iblis?!" tanya Abi dengan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.


"Aku mau kau yang melakukannya."


"Apa maksudmu!"


"Kau yang mengantar persembahan kekasihmu ini padaku. Itu sungguh dramatis sekali, bukan? Kisah cinta yang selalu berakhir menyedihkan adalah yang paling aku suka. Tenang saja, pasangan Nephilim yang menderita bukan hanya kalian, hampir semua. Kebanyakan dari mereka akan membunuh kekasihnya sendiri, sebelum aku menikmatinya. Ugh, itu sungguh sadis, bukan?" bisik Amon.


"Biadab!" umpat Abi.


"Benar, kah? Baiklah, kita lihat sebiadab apa aku di matamu," kata Amon. IA beranjak dan berjalan mendekati teman-teman Abimanyu. Ia berdiri di tengah-tengah, lalu menunjuk beberapa anak buahnya untuk mendekati lima orang itu. Semua iblis yang mendekat Rendra dan yang lainnya, membawa pisau. Mereka lantas berdiri di belakang tawanan mereka.


"Biyu! Kamu harus lakukan sesuatu! Jangan diam saja! Kumohon!" rengek Ellea, karena panik melihat saudara danteman-temannya dalam bahaya. IA bahkan tidak memikirkan keselamatannya sendiri. Amon menoleh lalu berlari kecil ke Ellea. "Benar itu! Jangan sampai mereka kenapa-napa, Ell. Kasihani mereka! Ah, aku punya kesepakatan yang sama-sama menguntungkan kita berdua," kata Amon dengan sikap kekanak-kanakan.

__ADS_1


"..." Abi mendengus sebal. Ia bahkan tidak mau melihat Amon walau ia terus berada di depannya.


"Begini, kalau kau memberikanku darahmu, maka akan kulepaskan mereka semua. Dengar, aku tidak sejahat itu, kalian tau? Aku akan membiarkan mereka hidup damai tanpa gangguan dari kaumku lagi."


"Kau yakin?" tanya Ellea sepertinya ia mulai tertarik dengan kesepakatan ini.


"Ell, hentikan!" bentak Abimanyu, yang tidak sependapat dengan kekasihnya.


"Biyu, kalau aku mati, akan menyelamatkan lima nyawa manusia, maka pasti akan kulakukan. Kita nggak boleh egois! Mereka nggak salah apa-apa! Mereka begini karena aku! Jadi biar aku lakukan mau iblis ini!" Diskusi mulai membuat Amon bersemangat, mendengar pertengkaran sepasang kekasih ini adalah hal yang menyenangkan. Apalagi mengetahui kalau Elea akan bersedia memberikan nyawanya untuk teman-temannya.


"Biyu!" jerit Ellea yang melihat Abi hanya diam saja tak menanggapi. Abimanyu menarik napas dalam-dalam. "Baiklah. Kalau itu maumu!" cetus Abi pasrah. Mata Amon berbinar. Ia memang membutuhkan tumbal yang mau dengan tulus memberikan seluruh hidupnya untuk Amon, karena jiwa yang seperti itu, yang akan membuatnya makin kuat dan kekal.


"Kalau begitu lepaskan aku. Biar aku yang mengambil darah Ellea dengan kedua tanganku sendiri!" pinta Abimanyu. Amon bersorak. Ia lantas melepas ikatan tangan Abimanyu. "Tapi awas kalau sampai kau berkhianat!" ancam Amon yang tiba-tiba mencekik leher Abimanyu kuat-kuat.


Kekuatan Amon sungguh besar, Abi bahkan sangat yakin kalau tidak bisa menandinginya. Cekikan Amon sudah terlepas dari leher Abimanyu, hingga menyisakan bekas hitam di leher pemuda itu. Abi merasakan panas di lehernya. Seperti sensasi terbakar.


Kilat makin terlihat jelas. Menandakan waktunya sebentar lagi tiba. Abi menerima pisau dari Amon dan sebuah mangkuk besar. Darah Elea bukan satu-satunya syarat, tetapi seluruh tubuhnya bahkan jiwa Ellea memang akan menjadi milik Amon. Darah Ellea hanya sebagai pemersatu dirinya dengan gadis itu, dan setelah darah mereka bersatu, maka tubuh Ellea akan menjadi wadah bagi Amon. Jiwa Ellea perlahan akan mati di dalam tubuhnya sendiri, terhisap oleh jiwa Amon. Saat itu terjadi, Amon yang berada di dalam tubuh Ellea, akan menjadi makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Bahkan malaikat sekali pun tidak akan bisa melawannya.


Abi berdiri di depan Ellea, ia menangkupkan wajah Ellea di kedua telapak tangannya. Abi mencium Ellea dengan penuh perasaan. "Maafin aku, Ell," bisiknya.


"Lakukan saja, Biyu. Satu pesanku, kalau nanti aku sudah nggak ada lagi, kamu harus jaga diri baik-baik. Kamu harus terus hidup."


"Tapi, Ell ...."


"Stt! Kamu nggak boleh melanggar janji itu!"


"Ell ..."


"Wow, benar-benar mengharukan. Sudah cepat lakukan, sudah tidak ada waktu lagi!" paksa Amon.


"Tunggu!" cegah Ellea. Amon mengerutkan kening. "Lepaskan dulu teman-temanku!" pintanya. Amon lantas tertawa dan mengangguk, "Baiklah. Aku bahkan akan memulangkan mereka ke rumah dengan selamat," kata Amon. Ia lalu mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya. Sekali, Rendra hilang. Jentikan kedua, Yudis hilang dan seterusnya sampai tiba giliran Gio.


"Sudah, kan?" tanya Amon.


"Belum. Aku bahkan tidak tau kau mengirim mereka ke mana?!" cetus Abi. Amon menyipitkan matanya, lalu dalam sekali jentik, sebuah ponsel sudah berada di tangannya. " Kau telepon mereka!"


Abi menghubungi ponsel Rendra, mereka mengobrol agak menjauh dari yang lain. Akhirnya ia lega karena semua teman-temannya sudah pulang dengan selamat. "Lekas!" Amon mulai tak sabaran. Karena malam sebentar lagi akan berganti fajar.


Abi menarik napas dalam-dalam. Ia berjalan ke belakang tubuh Ellea. Menyayat pergelangan tangan gadis itu hingga Ellea meringis, menahan sakit. Amon terus melebarkan senyum dan menunggu tumbal untuknya diantarkan sendiri oleh kekasihnya itu. Setelah menunggu beberapa menit, mangkuk itu sudah penuh dengan cairan berwarna merah. Abi lantas berjalan membawa mangkuk itu menuju Amon yang sedang duduk di singgasananya. Mangkuk ia serahkan ke Amon. Dengan senang hati, Amon menerimanya, dan saat sinar terang terlihat di langit, ia langsung meneguknya hingga habis.


Ia menyapu sudut bibirnya karena ada sedikit darah yang menetes di sana. Ia sedikit mengerutkan kening sambil merasakan cairan merah yang baru saja masuk ke dalam perutnya.


"Kau tau, Abimanyu? Ini bukan, lah darah Nephilim pertama yang kuminum." Pernyataan itu membuat Abi mendongak menatap heran ke Amon. "Jangan kaget begitu. Sudah ada 10 Nephilim yang kuminum darahnya. Tetapi tidak ada satu pun dari sembilan orang itu yang berhasil kuambil tubuhnya. Dan tubuh ini," kata Amon sambil merentangkan kedua tangannya ke samping, "Sebentar lagi akan rusak, maka aku harus mendapat tubuh baru untuk ku rasuki. Pria ini seorang Nephilim yang telah tidak suci. Dia bukan lagi perjaka, dan hal ini yang membuat aku tidak bisa bertahan lama di tubuhnya.


"Jadi kau sudah sering mendapat tumbal selama ini?!" raung Abi seolah merasa dibohongi. Amon tertawa. "Yah, sudah kubilang sudah 10 darah Nephilim yang ku minum, tapi tubuh mereka tidak bisa kupakai untuk waktu yang cukup lama. Hanya tubuh suci yang bisa abadi menjadi milikku. Dan rasanya, gadis mu itu masih suci, ya? Kau belum pernah menyentuh nya sekali pun. Hahaha. Pria bodoh," ejek Amon.


Abi mengatupkan rahangnya sambil mengepalkan tangan. Ia sungguh marah pada penjelasan Amon.


Tapi tiba-tiba Amon memegang lehernya. Ia seperti tersiksa. Semua ekspresinya mirip iblis yang waktu itu meminum darah Abimanyu saat ritual di rumah Yudistira.


Abimanyu menyeringai. "Bagaimana? Enak? Meminum darahku?" tanya Abi.


"Kau! Apa yang kau lakukan padaku?" jerit Amon.


"Aku pun tidak tau, tapi iblis terakhir yang meminum darahku ... Meledak. Aku pikir itu tidak akan berlaku pada raja iblis sepertimu. Ternyata sama saja." Abi berjalan menjauh dari Amon dan mulai melepaskan ikatan Ellea. Iblis lain mendekat dan hendak menghalangi Abimanyu.


"Tunggu! Percuma kalian membunuhku, asal kalian tau, kita harus pergi dari tempat ini sekarang juga, kalau tidak, kita semua mati. Karena dia," tunjuk Abi ke Amon yang sedang tersiksa dengan terus menekan lehernya sendiri," sebentar lagi akan meledak! Bagaimana kalau kita pergi dari sini? Kalian masih mau mengabdi pada iblis seperti itu?" tanya Abi dan membuat mereka berpikir ulang. Mereka akhirnya sependapat dengan perkataan nya. Dan satu persatu dari mereka pergi meninggalkan Amon seorang diri.


Abi mulai memapah Ellea, dan membawanya pergi dari tempat ini. Amon terus menjerit dengan suara tertahan. Tubuhnya kaku, tidak bisa bergerak lagi.


Beberapa mayat tergeletak di sepanjang koridor ruangan. Abi lantas membopong Ellea agar mereka lebih cepat pergi dari tempat ini.


Saat mereka sudah sampai di luar, ledakan terdengar nyaring. Bangunan ini runtuh perlahan. Dan semua hancur, binasa. Amon mati, walau iblis pengikutnya banyak yang masih hidup. Tapi bagi Abi itu tidak penting sekarang. Ia bisa melenyapkan mereka suatu hari nanti. yang paling penting, Ellea selamat. Begitu juga kawan-kawannya yang lain.


walau ada sebuah pertanyaan dalam benaknya sendiri. Apa yang ada di dalam darahnya. Bagaimana bisa semua iblis yang meminum darahnya, akan berakhir sama. Meledak, dan tewas dengan mengenaskan. Hal ini yang membuat Abi sempat ragu kalau dirinya bukanlah manusia seperti manusia normal lainnya.


pertanyaan siapa sebenarnya dirinya dan apa yang ada di dalam dirinya, belum ada yang bisa menjawabnya.


[Wah mendekati penyelesaian konflik. Eh udah selesai, ya. Konflik iblis ini. Pancasona bakal terus lanjut, kok. Ditunggu cerita selanjutnya, ya. Terima kasih bagi yang sudah setia membaca cerita ini.]

__ADS_1


__ADS_2