
Venesia adalah ibukota Italia. Kota yang memiliki luas wilayah 412 kilometer persegi dengan populasi 217.663 jiwa (sensus 2003) menjadi tujuan Abimanyu saat ini. Sejak ia mengetahui kabar soal Ellea dari Shanum, Abimanyu memutuskan akan mencari gadis itu di negara ini. Kabar terakhir yang ia dapat, dari Shanum tentunya, Ellea kini tinggal di sebuah apartment sempit di sudut kota Venesia.
Ia baru saja menginjakkan kaki di Bandar Udara Marco Polo. Dengan menenteng sebuah tas yang berisikan beberapa potong pakaian, langkahnya mantap mengikuti petunjuk yang menuju pintu keluar. Netranya liar mencari sosok yang beberapa waktu lalu mengatakan akan menjemputnya. Beberapa orang berkerumun dengan papan yang bertuliskan nama penumpang pesawat yang tadi ia naiki. beginilah cara menjemput penumpang dari bandara seperti lazimnya kebanyakan orang.
Bertemu kerabat, saudara, dan sahabat terkasih, nampak jelas ekspresi kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka. Saling berjabat tangan atau berpelukan satu sama lain. Melepas rindu yang mungkin sudah lama tidak berjumpa.
Seorang pria dengan kaca mata hitam bertengger di hidungnya menarik perhatian Abi. Ia memegang sebuah papan nama yang bertuliskan "ABIMANYU" dideretan atas, lalu kalimat "Penumpas kejahatan" di deretan bawahnya. Abi terkekeh melihat polah tingkah sahabatnya, ia berjalan mendekatinya. Mereka lantas tos ala-ala pria pada umumnya. Tangan kanan yang saling menggenggam, lalu berpelukan tanpa melepas genggaman tadi. "Bagaimana kabar?" tanya Abi pada pemuda tampan dengan tonjolan otot di beberapa bagian tubuhnya yang kini ada di depan.
"Sehat. Yah, sama seperti apa yang elu lihat. Bagaimana Indonesia?" tanyanya lalu menuntun Abi berjalan keluar.
"Yah, begitulah. Masih sama kayak pas lu tinggalin. Ngomong-ngomong ini otot makin kenceng saja, Vin?" tanya Abi dengan menekan lengan Vin yang memang makin kekar. Tubuhnya tidak gemuk, tapi lebih 'berbentuk' (berotot). Vin hanya melirik pada tubuhnya, kemudian tersenyum, bangga.
"Yah, kerjaan gue kan angkat beban. Lari. Bantu korban bencana alam. Selebihnya paling di Mes, Gym, jalan-jalan juga jarang." Jalan-jalan di sini dimaksudkan dengan bepergian ke tempat ramai, seperti Mall yang berarti refresing.
Vin. Salah satu teman seperjuangan Abimanyu saat mereka bersama-sama menumpas kejahatan Kalla. Ia sering berpindah tempat karena profesinya sebagai militer, sering membawanya ke daerah konflik. Dia baru saja pulang dari Yerussalem. Dan kini sedang menikmati masa liburnya di Venesia, kota penuh cinta, yang dulu menjadi impian untuk ditinggali bersama istrinya.
Venesia, lebih tepatnya ada di San Polo, mereka mulai naik mobil menuju kediaman Vin. Vin mengendarai mobil sekaligus menjadi tour guide untuk Abi. menjelaskan berbagai sudut kota San Polo itu dengam antusias.
Beberapa kali mereka melihat hamparan air sungai di beberapa ruas jalan. Sebutan kota terapung memang pas di sandang Venesia. Untung saat ini air sedang naik, membuat pemandangan di sini terlihat indah, apalagi beberapa gondola yang dijadikan alat transportasi terasa bagai ada di pedesaan. Pedesaan yang cukup ramai. Pedesaan rasa kota. Mereka sampai di sebuah gedung dengan arsitektur sederhana, dekat dengan Canal Grande.
"Yuk. Masuk, anggap rumah sendiri," ajak Vin begitu ia membuka pintu. Ruangan ini luas, namun tiap ruangan satu dengan lainnya tidak memakai sekat pemisah. Ruang tamu Vin terdapat sofa panjang dan TV layar datar di tembok atas. Tidak ada pajangan apa pun. Di sebelahnya akan ada ruang makan, yang hanya ada meja makan bundar dengan 4 kursi di sekitarnya. Belok ke kanan langsung menembus dapur sekaligus dekat toilet. Dan terakhir adalah sebuah ranjang yang terlihat masih berantakan, dan menandakan kalau Vin baru saja bangun tidur.
"Elu udah mandi belum, Vin?" tanya Abi menatap wajah Vin yang sesekali menguap.
"Belom. Cuci muka doang tadi. Kesiangan gue. Lagian ketemu elu inih, ngapain mandi." Ia lantas berjalan menuju dapur, membuka kulkas, "Mau makan?" tanyanya, melongok isi lemari pendingin itu.
"Nanti saja. Gampang," tolak Abimanyu, meletakkan tas nya di lantai, membuka jaketnya dan melemparnya asal di sofa. "Numpang ke toilet, ya."
"Anggap saja rumah sendiri," sahut Vin dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. Ia berniat membuat pasta dengan bahan yang ada di lemari pendingin. Vin sudah terbiasa mandiri, memasak itu bukan hal tabu baginya. Dia sudah terbiasa melakukan segalanya seorang diri.
"Makan dulu deh, seadanya, ya." Vin sudah menyajikan dua porsi spagheti dengan toping daging cincang di atasnya. Abi menyusul duduk di kursi depan Vin. Mencium aroma spagheti yang khas. Di cafenya makanan ini sudah sangat familiar. Adi cukup piawai membuat makanan western, dan kalau Gio jago dalam membuat steak daging. Dari kematangan yang sangat pas. Mereka cocok menjadi chef di restoran bintang lima, tapi lebih memilih cafe kecil di desa itu. Hiruk pikuk suasana kota bukan hal ingin mereka rasakan di umur yang sudah makin banyak. alias tua. Tapi tidak mau dikatai tua.
"Sayur asem saja nggak ada, ya?" tanya Abi menatap dua piring makanan di hadapannya.
"Ya ampun, jauh-jauh ke Italia, lu nyarinya sayur asem?"
"Yaelah, kalau makan ginian, nggak perlu jauh-jauh ke Italia, di cafe gue saja banyak."
"Nggak bersyukur banget tamu satu ini. Kalau nggak mau biar gue abisin," gerutu Vin memoncongkan bibirnya. Tangannya yang hendak meraih piring yang seharusnya milik Abi, lantas ditepis.
"Eh, pamali kalau diminta lagi. Gitu saja senewen lu, Vin. Kayak cewek PMS saja."
"Jiaah, kayak tau saja bagaimana cewek lagi PMS. Emangnya lu punya cewek?" tanya Vin dengan pertanyaan menyindir. "Sok tau!"
"Diem lu. Makan. Nanti dingin nggak enak," kata Abi mengalihkan pembicaraan. Kalimat tadi membuat Vin makin mengerucutkan bibirnya. Hal itu membuat dirinya tidak ada harganya sebagai pemilik rumah.
_____________
"Elu pernah ketemu Ellea, Vin?" tanya Abi, saat mereka sedang menikmati secangkir kopi saat sore. Menatap matahari yang akan tenggelam, dengan obrolan santai yang sudah lama tidak mereka lakukan. Ini kali pertamanya mereka bertemu lagi. Berbeda dengan Elang dan Shanum, mereka sudah beberapa kali bertemu Vin di sini. Elang yang sering melakukan bisnis ke luar negeri, membuat intensitas pertemuan mereka menjadi lebih sering.
"Pernah," jawab Vin singkat, menghembuskan asap dari rokok yang ia hisap. "Dia nggak pernah hubungin lu?"
Abi menggeleng, menikmati kembali kopinya yang ia bawa langsung dari Indonesia. Kopi luwak asli, bukan ternak, adalah salah satu kopi favorit Vin. "Gue pikir, Ellea sudah punya kehidupan sendiri di sini. Dan sempat ikhlas aja sih, Vin. Tapi pas kemarin Shanum bilang soal kabar itu, gue jadi kepikiran. Sebenernya dia ada masalah apa sih, Vin? Elu tau?"
Vin kembali menggeleng," Sekalipun gue pernah ketemu Ellea, tapi itu bukan berarti kami sering ngobrol, Bi. Gue pertama kali ketemu Ellea itu sekitar setahun lalu, di salah satu gondola yang lewat di situ," tunjuk Vin pada aliran air panjang yang memang tidak jauh dari tempat tinggal Vin.
"...." Abi diam, meneguk kembali kopinya.
"Dia malah yang manggil gue loh. Kan ceritanya gue lagi kayak kita sekarang nih, ngopi, ngerokok, sambil main game. Nah terus ada suara manggil nama gue, samar-samar. Gue tengak-tengok dong. Batin gue bilang 'Ini siapa yang manggil, perasaan di sini nggak ada yang kenal gue', Nah gue liat tu bocah lagi dadah-dadah ke gue gini," terang Vin lalu memperagakan tangannya yang terangkat ke atas, melambai-lambai dengan senyum lebar dan antusias. Dalam bayangan Abi, yang muncul justru ekspresi Ellea, berdiri di atas kapal dengan tangan melambai ke atas, senyumnya khas Ellea. Senyum yang ia rindukan selama beberapa tahun terakhir.
"Terus?" Abi kini bersemangat, namun ia mencoba menahan rasa penasaran yang sebenarnya sudah tidak bisa ia tahan lagi, tapi ia tetap memasang ekspresi cool, khas Abimanyu Maheswara.
"Gue panggil dia dong, 'Ell?! Ngapain lu di situ? Sini! Mampir, ngopi-ngopi.' Nah gue teriak gitu ke dia. Kaget, kan, Bi. Lama banget nggak liat dia, tiba-tiba ketemu di sini, penasaran juga, dia kok bisa di sini bagaimana ceritanya. "
"Terus dia berhenti?"
"Ya kagak. Dia bilang lain kali mampir." Kembali kepulan asap rokok keluar dari mulut Vin.
__ADS_1
"Terus yang kedua?"
"Nah yang kedua malah aneh, Bi," cetus Vin lalu menjentikan puntung rokok yang tinggal sedikit ke pot bunga yang ada di pojok balkon kamarnya. Nampak sudah banyak puntung rokok di sana, dan menandakan berapa lama Vin ada di sini. Ia menempatkan tubuhnya menghadap Abi. Abi tetap pada posisinya, seolah bersikap santai dan acuh. Padahal dalam hatinya sungguh penasaran sekali. Apa maksud Vin dengan kata 'aneh' yang baru saja ia lontarkan.
"Kenapa?"
"Gue ini ketemu dia di pusat kota. Bayangin deh kalau elu jadi gue. Ketemu Ellea di pusat kota, lagi beli kopi di coffeshop pinggir jalan dia, gue juga. Rame, kan, itu. Pas gue sapa,"Vin menarik nafasnya, menatap ke arah jalan sebentar lalu kembali lagi ke arah Abimanyu. Ia menceritakan kejadian beberapa bulan lalu.
"Ell?! Astaga ketemu lagi! Wah, perlu nih ngopi bareng, kemaren lu janji mau mampir tempat gue, kan?" tanya Vin bersemangat, dengan mata berbinar, dan senyum lebar. Gadis yang dia ajak bicara malah menatapnya bingung. "Maaf anda siapa, ya?" tanyanya dengan bahasa inggris. Sontak Vin melongo.
"Jangan becanda deh, Ell. Nggak lucu tau, sudah yuk, kita harus ngopi bareng. Pengen ngobrol banyak gue, kabar Abi bagaimana?" tanya Vin lagi, ngotot, bahkan kini menarik gadis itu ke salah satu meja milik coffeshop itu.
Tapi lagi-lagi, tangan Vin justru dihempaskan. Tatapannya tajam dan benar-benar kesal pada Vin. Ellea benar-benar seolah menunjukkan tidak mengenal Vin. Mereka benar-benar seperti orang asing.
"Itu, kan, bingung gue, Bi. Aneh, kan? Sempet gue mikir si Ellea amnesia apa bagaimana, ya. Masa bener-bener lupa sama gue. Kan aneh."
"...."
"Shanum bagaimana? Pas ketemu Ellea?"
"Ya, biasa aja katanya."
"Kapan itu?"
"Sekitar 5 atau 6 bulan lalu kalau nggak salah."
"Eum, itu berarti udah agak lama, ya. Kalau gue kan baru sebulan laluan deh, Bi. Jadi masih anget banget, Bi, kejadiannya. Gue yakin ada yang nggak beres sama Ellea."
"...."
"Ya sudah, tidur gih. Elu capek, kan? Besok baru kita cari Ellea."
"Cari ke mana, Vin?" tanya Abi meneguk habis kopinya.
"Eum, ke coffe shop waktu itu, coba, kali saja dia ada di sana lagi. Soalnya dia pernah ke sana, pasti tempat tinggalnya nggak begitu jauh dari tempat itu, atau tempat kerjanya mungkin. Iya, kan?"
"Ya sudah tidur sana. Di sofa, ya," kata Vin lalu berlalu masuk ke dalam. Abimanyu tidak menanggapi, hanya diam, memandang aliran sungai di depannya. Tenang tapi masih banyak aktifitas di sana. Padahal hari sudah malam. Abi membuka telepon genggamnya, melihat bagaimana kondisi di San Polo, beserta PETA daerah ini. "Vin, coffe shop itu di mana?" jerit Abimanyu sambil menoleh sedikit ke dalam rumah.
"Namanya King of the Fork. Biasanya disebut KOF," sahut Vin dari dalam, ia melepas kaus yang dipakai lalu masuk ke dalam selimut. Kebiasaannya saat tidur adalah tidak memakai kaus. "Gue tidur duluan. Nanti tutup pintunya. Kunci!!"
"Iya, bawel!"
_________
Abimanyu sudah merebahkan tubuhnya di sofa, mencoba tidur tapi matanya enggan terpejam. Ia terus memikirkan keberadaan Ellea. Jujur saja, Abi sangat cemas, terlebih setelah mendengar penuturan Vin tadi. Ada apa dengan Ellea. Apa yang sudah terjadi padanya? Pertanyaan itu terus merongrong pikiran dan hatinya. Ia terus merutuki dirinya sendiri, seharusnya dia mencari Ellea saat mereka sudah tidak lama saling menghubungi. Harusnya dia terus menunggu kabar Ellea dan mencari kabar gadis itu jika ia lama tak berkabar. Seandainya. Seandainya, dan seandainya. Hanya itu yang terus dia pikirkan. Akhirnya Abi beranjak, meraih jaket yang tersampir di hanger dekat pintu masuk. Menoleh sebentar untuk melihat apakah Vin benar-benar sudah tidur. Ia mirip ABG yang tidak boleh keluar malam, alias melewati jam malam yang ditetapkan orang tuanya.
Abi memakai headset di kedua telinganya. Membuka aplikasi maps dan mencari coffe shop yang dimaksud Vin tadi. Menurut google, jaraknya tidak begitu jauh dan bisa ia jangkau dengan berjalan kaki. Abi memakai jaket hodie dan kini menutup kepalanya dengan penutup kepala yang tersampir dari jaketnya. Kedua tangannya merogoh saku jaket, menyembunyikan dari udara dingin malam.
Beberapa menit kemudian, Abi sampai di cafe yang dimaksud. "You arrive at your destination." Abi menatap tempat itu dari kejauhan. Mengamati pengunjung yang masih ramai di sana. Ia mendekat. Memesan kopi untuk sekedar basa basi. Setelah membayar kopi miliknya, ia tak langsung pergi, meneguk kopinya tanpa pergi dari tempat itu.
"Are you traveler?" tanya pegawai coffe shop itu menggunakan Bahasa Inggris. Abi menoleh sambil mengangguk, tersenyum. Pria dengan rambut pirang itu, mengangguk, mengelap meja dan membereskannya dengan cekatan.
"I just arrived."
"What do you think about Venice? Beautiful place, right?"
"Yes, of course. Very beautiful. But actually i'm here looking for someone."
Perkataan Abi mampu menarik perhatian pemuda itu. Dahinya berkerut. Seolah heran dengan pernyataan itu. Seorang pelancong, jauh-jauh ke Venesia hanya untuk mencari keberadaan seseorang.
"Must be someone spesial, right?" IA seolah mampu menebak isi pikiran Abimanyu. Dan kesempatan ini tidak bisa ia sia-sia kan begitu saja.
"Have you ever seen this woman?" tanya Abi menunjukkan foto Ellea yang ia simpan di ponselnya.
Pemuda tadi menatap foto itu, diam beberapa saat sampai akhirnya dia melotot. "Ah, yes, i've seen it! she comes here often. Buy coffe here."
"Is it true? When does she usually come?" tanya Abi dengan mata berbinar seolah mendapat angin segar. Pemuda itu menatap langit seolah jawabn itu ada di atas sana.
__ADS_1
"Usually she comes in the afternoon."
"Oke, thanks. And your coffe is delicious," kata Abi, mengangkat gelas kopinya.
"Yeah, of course. that's why many people come here. My coffe must be good."
"Oh ya, can you contact me when she comes? Oh ya, my name is Ronald, you?"
"My name Abimanyu. Just call me Abi."
"Of course." Ia mengambil secarik kertas dari mejanya, "Write here your mobile number," suruhnya. Abi segera menuliskan nomor ponselnya dengan bahagia. Ia tak menyangka kalau warga asli Venesia begitu ramah dan baik. Akhirnya Abi meninggalkan tempat itu dengan perasaan lega. Setidaknya ia punya harapan untuk bisa bertemu Ellea.
Abi memutuskan berjalan-jalan sebentar di sekitar tempat itu. Ini adalah pertama kalinya ia datang ke negeri orang. Abi yang lebih menyukai suasana pedesaan yang tenang, mendadak harus datang ke tempat asing. Tapi tempat ini tidak begitu buruk. Pantas saja banyak orang yang menyukai Venesia dan menjadikan tempat ini tempat bulan madu atau hanya sekedar berwisata bagi orang-orang yang memiliki uang berlebih.
Abi berjalan terus sampai ke Rialto Bridge. Ini adalah jembatan besar yang memanjang di ujung sana. Ia berjalan di tengahnya dan menikmati keindahan malam di atasnya. Dari sini Abi dapat langsung melihat Canal Grande, Canal terbesar di Venice. Melihat kota Venice dari tempat ini, membuat Abi sadar kalau ia benar-benar melihat kota Venice ada di atas air, karena gedung-gedung di sekitarnya terlihat seperti mengapung di atas air. Jembatan ini menghubungkan San Polo dan San Marco.
Abi memutuskan naik gondola untuk mengantarnya pulang. Ia ingin menjajal sensasi naik gondola seperti yang Gio katakan. "Elu harus coba naik gondola, Bi. Ke Venice nggak naik gondola, kayak makan nasi tanpa sayur. Kuraang greget." Itu adalah nasihat dari Gio. Gondola dan Venice memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Ia telah menemukan gondola pilihannya. Sambil menunggu penumpang lain, ia terus menikmati pemandangan di sekitar. Gondola ini minimal berpenumpang 4 orang dan maksimal 6 orang. Tak perlu menunggu lama, kini gondola itu sudah mulai berjalan. Mereka sepakat berkeliling tempat itu dan melewati kanal kanal kecil.
30 menit sudah mereka ada di atas gondola, samar namun jelas terlihat Abi menangkap wajah seseorang yang tengah berlari. Wanita itu sangat ia kenal. Di belakangnya ada sekelompok pria yang sedang mengejarnya, meneriakinya dengan berbagai umpatan. Ellea?!
Abi meminta Gondolier itu minggir agar ia bisa turun. Namun posisi mereka yang sulit, membuat gondolier meminta waktu untuk mencari tempat berhenti yang pas. Abi yang tidak sabar, lantas melompat saat gondola dekat dengan pagar pembatas jalan. Penumpang lain menjerit, entah karena khawatir atau takut melihat sikap Abi yang tiba-tiba. Ellea masih terlihat, walau jarak mereka sudah cukup jauh, Abi segera menyusulnya. Berlari sekuat tenaga.
Abi semakin yakin kalau Ellea benar-benar dalam masalah. Kenapa dia dikejar-kejar beberapa orang pria tadi. Apa yang sebenarnya terjadi. Dalam larinya, ia terus memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, yang mungkin menimpa Ellea.
Saat ia berlari belok ke gang sempit, tiba-tiba seseorang menarik jaketnya hingga Abi jatuh terjungkal ke jalan. Ia hampir marah dan hendak memukul orang itu, namun saat tau kalau yang menariknya adalah Vin, ia lantas diam, dan hendak lari lagi.
"Heh! Mau ke mana lu, Bi?! Gila, ya. Malam-malam malah lari-lari kayak orang ngejar maling!" omel Vin. Menahannya sembari meminta penjelasan.
"Ellea, Vin! Itu Ellea! Dia dikejar orang. Dia pasti dalam masalah!"
"Tunggu, Bi. Lu yakin?! Jangan-jangan salah orang!"
"Yaakin banget gue. Dia Ellea. Ayok buruan kita kejar, nanti ketinggalan!"
"Bi! Stop! Lu tau arah yang mau lu datengin?" tanya Vin. Sementara Abi menggeleng. Ia memang tidak tau dan bahkan ia tidak tau sedang ada di mana. Arah pulang juga dia tidak ingat.
"Di sana daerah terlarang, Bi! Nggak ada orang luar yang bisa masuk ke sana. Kalaupun ada, mereka nggak akan bisa keluar lagi. Di sana tempat bandar narkoba, perampok, pembunuh dan pemerkosa berkumpul. Mafia lah isitlahnya."
"Apa?! Di sini ada tempat kayak begitu? Laah terus Ellea ke sana, Vin. Gue beneran harus ke sana sekarang dong kalau begitu!" Mereka berdebat, Vin yang mati-matian menahan Abimanyu masuk ke kawasan itu, harus sabar menghadapi sahabatnya yang memiliki sifat keras kepala dan nekat. Tidak mudah mengubah cara pandang dan keputusan Abimanyu, apalagi ini menyangkut orang penting dalam hidupnya.
"Dengerin gue, Bi. Kita bakal ke sana buat cari Ellea, tapi bukan sekarang. Sekarang kalau lu nekat ke sana, gue jamin, jangan, kan, ketemu Ellea, lu bisa keluar dalam keadaan selamat saja, itu sudah beruntung banget!"
"Tapi, Vin!" Abimanyu masih khawatir, ia menjambak rambutnya sendiri, emosinya belum terkendali.
"Gue tau. Gue tau apa yang lu rasain, tapi jangan sampai lu mati konyol malam ini. Kita ke sana nggak bisa cuma pakai otot, tapi juga pakai otak, Bi. Di sana berbahaya, Abi! Percaya sama gue!" Suara Vin begitu tinggi, membuat orang-orang di sekeliling mereka memperhatikan dua pria itu.
"...."
"Kita balik. Dan gue bakal jelasin seberbahaya apa tempat itu. Bagaimana?"
"...."
Abimanyu pasrah dan ikut Vin pulang.
___________
Jam sudah menunjukkan pukul 03.15 Waktu bagian Venice. Jam tangan Abi yang belum ia set waktunya, baru menunjukkan angka 21.15 yang berarti WIB. Ia baru sadar kalau sudah berjalan-jalan malam begitu lama. Dan hampir pagi. Vin mengulurkan sebotol air mineral kemasan dingin dari kulkas. Abi segera membuka segel, dan meneguknya hingga separuh botol. Vin duduk di sofa sampingnya, terus menatap pemuda itu dingin.
"Elu ke mana saja? Gue kan bilang, kita cari Ellea besok, sekarang tidur. Kenapa sih elu keras kepala banget? Bahaya tau, Bi. Keluyuran malam-malam gini. Ini bukan Indonesia, yang selalu ada orang ronda dan jaga di poskamling. Elu bisa dirampok, bahkan dibunuh!"
Abimanyu tidak sependapat dengan kalimat Vin barusan, " Elu lupa? kalau gue nggak bisa mati gitu aja?"
"Iya juga, ya. Lu kan manusia jadi-jadian?!" gumam Vin yang mulai melunak. "Ah, kagak-kagak. Pokoknya lu harus ikutin aturan gue. Percaya sama gue, Bi. Kita bakal temuin Ellea besok."
"Iya udahlah. terserah elu saja, Vin. Gue capek. Ngantuk." Abi meletakan botol minum itu dan merebahkan diri di sofa. "Hus! Awas, gue mau tidur. Sana lu ke kasur!" usir Abi.
__ADS_1
"God damn it!" umpat Vin dan kemudian menyingkir dari sofa.