pancasona

pancasona
Part 42 cemburu


__ADS_3

Triiiittt..trrriiiiittt...


Bunyi alarm ponselku menggema memenuhi ruangan.


Segera ku raih dari dalam tas ku lalu ku matikan.


Itu adalah alarm jadwalku berlari setiap harinya.


Ku buka mataku dan kudapati wisnu tengah tertidur di sofa dekatku dengan posisi duduk sambil melipat kedua tangan nya ke depan.


Kuselimuti wisnu yg seperti kelelahan sekali. Setelah itu,aku mendekati ke rani. Dia masih terlelap tidur.


Begitu juga dengan arya. Aku mendekat dan duduk di kursi samping ranjangnya.


Ku pandangi wajah arya dari tempatku duduk. Wajahnya penuh luka memar. Sekujur tubuhnya dipenuhi perban disana sini.


Aku tidak tega melihatnya hingga tak terasa air mataku menetes, saat aku beranjak.


Bug!


Aku menabrak seseorang.


"Wisnu?"


"Kamu gak papa?"


Aku menundukan kepala untuk menyembunyikan kesedihanku sambil ku hapus sisa sisa air mataku.


Wisnu mendekat lalu menaikkan daguku kemudian ikut menghapus air mata dari pipi ku.


"Kamu gak papa kan?" tanyanya.


Aku mengangguk,"aku gak papa kok."


"Temenin aku nyari makanan buat sahur yuk." ajak nya.


Sekarang memang baru pukul 03.00 dini hari. Dan memang saat nya wisnu untuk sahur.


Untuk mendapatkan ilmu pancasona, wisnu menjalani ritual puasa yg tidak sebentar. Butuh waktu berbulan bulan lamanya.


Kebetulan di kamar inap ada dewa juga. Jadi sebelum kami pergi, kami titipkan arya dan rani padanya.


Kami berjalan keluar rumah sakit,wisnu terus menggandeng tanganku erat. Dia agak lain pagi ini. Tidak seperti biasanya.


Seperti ada yg dipikirkan namun aku tidak tau apa.


Sampai di lantai bawah rumah sakit, kami terus berjalan ke kantin yg ada di depan rumah sakit ini.


Kantin disini memang buka 24 jam. Karena rumah sakit ini bagai tidak pernah sepi. Bahkan saat pagi buta seperti ini pun sudah banyak yg beraktifitas dengan kesibukan masing masing.


Wisnu menarik kursi untukku.


"Kamu mau pesen apa,nay?"


"Mm--- Kopi aja."


"Ya udah,bentar ya"


Dia memesan seporsi nasi beserta lauk pauknya dan kopi untukku. Sedangkan Dia lebih suka air putih hangat, daripada minuman lain.


"Nay-- kamu kecapekan deh .. Nanti kamu gak usah masuk kantor ya. Lagian aku udah disini. Aku bisa balik lagi kekantor. Jadi kamu bisa istirahat dirumah. "


"Eum-- bisa gak kalau aku disini aja? Jagain rani sama arya?"pintaku setengah memohon.


"Mending kamu pulang ,nay. Kamu harus tidur. Liat tuh-- mata panda kamu mulai keliatan. Tapi kamu ke apartment ku aja ya. Nanti aku suruh orang buat jagain kamu"


Akhirnya aku pasrah saja dengan saran wisnu. Memang rasanya badanku ringan sekali. Aku memang butuh istirahat.


\=\=\=\=\=\=\=


Selesai sahur dan sholat , kami kembali ke ruangan rani dan arya.


Dan ternyata rani dan arya sudah bangun juga. Perawat sedang memeriksa kondisi mereka dan mengganti kantung infus mereka juga.


Aku mendekat ke rani lalu memeluknya.


"Kamu gak papa kan ,ran?"


"Aku gak papa kok,nay. Untung ada arya. Kalau nggak aku udah-- gak taulah.." kulihat dia masih lemah.


"Nay, kita balik aja yuk." ajak wisnu.


Aku menoleh padanya.


" iya,nu."aku kembali menoleh ke rani," aku balik dulu ya. Nanti aku kesini lagi. Kamu mau aku bawain apa?"


" baju ganti aja, nay. Gerah banget."pintanya manja.


"Iya , nanti aku bawain ya.. Dewa!! Jagain ya.."


" gak perlu kamu suruh kali ,nay. Udah otomatis itu mah. Dengan seluruh jiwa dan ragaku ." ucap dewa semangat.


Aku lalu mendekat ke arya," aku balik duluan ya, ar. Nanti kamu mau aku bawain apa?"


"Samain aja kayak rani." ucap arya datar.


"Ya udah."


Aku pulang dengan wisnu ke apartment nya.


Klek.


" masuk ,nay."


Aku melenggang masuk ke dalam diikuti wisnu juga.


" kamu nanti mau ke rumah sakit jam berapa?" tanya wisnu.


"Eum-- siang kali ya. Aku mau tidur dulu. Semalem susah tidur,selalu kebangun."


"Ya udah. Nanti aku suruh orang buat nemenin kamu ya."


"Eh-- gak usah. Aku sendirian aja gak papa."


"Ish-- gak bisa. Harus ada yg nemenin. Maaf aku gak bisa. Reza udah nelfon mulu. Kerjaan banyak banget dikantor."


"Eum-- kalo adi aja gimana?" saranku.


"Adi ya?" wisnu nampak berfikir sebentar.


" gak papa ya. Adi kan temen arya juga. "


"Hmm. Ya udah deh."


Wisnu segera berganti pakaian kantor. Lalu dia pun pergi bekerja.


Aku berbaring di ranjang sambil menatap langit langit. Pikiranku tidak juga tenang.


Kuraih ponselku dan ku kirimkan pesan ke adi agar datang ke apartement wisnu pukul 13.00 nanti.


Setelah mendapat balasan dari adi. Ku pejamkan mataku mencoba untuk tidur.


\=\=\=\=\=\=


Tok tok tok..


"Nay-- naylaaaaa..." teriak seseorang yg langsung membuatku membuka mata lebar lebar.


Saat ku tengok jam di meja nakas sampingku, ternyata sudah pukul 13.30 ,pasti diluar adi.


Rupanya aku tidur terlalu nyenyak sampai tidak mendengar alarm diponselku.


Aku segera keluar kamar dan membuka pintu untuk adi.

__ADS_1


"Eh-- sorry.. Kelamaan ya. Hehe" ucapku sambil cengengesan diikuti garuk garuk kepala.


"Kamu tidur apa pingsan sih ,nay? Setengah jam tau --- aku pencet bel, gedor- gedor juga " gerutunya sebal.


"Ngantuk banget ,di. Yuk-- masuk dulu"


Adi menunggu di sofa sambil menonton televisi. Sementara aku mandi dan bersiap ke rumah sakit lagi.


"Yuk.. " ajakku ke adi setelah aku selesai berdandan.


"Udah?"


"Iya. Tapi ke rumahku dulu ya. Ambil baju nya rani sama arya"


" iya. Yuk-- buruan."


Kami berjalan keluar apartement menuju motor adi.


Sampailah kami dirumah kontrakan ku.


"Masuk dulu,di. Bentar ya." aku yg hampir melenggang masuk kedalam malah ditahan adi.


Dia terlihat mengamati keadaan disekitar rumah.


"Yuk-- aku ikut masuk" dia berjalan mendahului ku sambil terus memeriksa sekitar kami.


Dia ini mirip banget arya deh.


Rumah masih dalam keadaan berantakan. Wisnu bilang, besok akan datang orang yg akan membereskan nya. Dan memperbaiki kerusakan yg ada.


Sampai di kamar rani, aku segera memilih beberapa potong pakaian untuknya. Lalu aku juga ke kamar arya untuk mengambil pakaian nya juga.


Tanggg..tangg...tang...


Bunyi sesuatu terjatuh dilantai bawah.


Aku menatap adi yg sedari tadi ada dibelakangku.


Dia menaikkan telunjuk nya ke depan bibir,menyuruhku untuk diam.


Dia berjalan keluar dengan perlahan. Akupun segera memasukan pakaian arya kedalam tas dan menyusul adi keluar.


Kami perlahan turun melewati tangga. Samar samar terdengar suara berisik dibawah.


Adi menahanku untuk turun.


"Biar aku aja." katanya.


Akupun menurut saja apa katanya. Aku kembali naik keatas dan sedikit bersembunyi,namun tetap mengintip keadaan dibawah.


Kasian juga kalau adi mengadapi nya seorang diri.


Terdengar perkelahian di bawah. Rupanya ada beberapa orang yg masuk kedalam rumah ini. Entah apa tujuan nya.


Brakk!!


Adi terlempar mengenai kursi kayu didekat tangga.


" ya ampun ,adiiiii!!" teriakku lalu aku berlari turun ke bawah.


"Nay, pergi!!!!" timpal adi. Wajahnya sudah lebam lebam.


Pantas saja dia kalah, lawan kami kali ini berbadan besar besar dan jumlahnya pun banyak.


" kamu gak papa ,di?" tanyaku.


Dia berusaha menahan sakit didadanya." mereka terlalu banyak ,nay. Gak bisa kita tangani berdua aja. Mending kamu pergi. Biar aku yg tahan mereka." bisik adi.


" apaan sih? Kamu pikir aku sekejam itu. Ninggalin kamu disini sendirian? Enggak! Kita hadapi sama sama."


" Mending jangan deh. Kalau kamu kenapa- napa, aku yg bakal di bunuh sama arya."


"Ck. Ngaco!! Bawel deh. "


Beberapa kali aku terkena pukulan, namun masih bisa ku tahan.


Beberapa juga berhasil dilumpuhkan oleh kami berdua.


Tapi tetap saja,aku dan adi kalah jumlah.


"Naaaayyyy!!! Awasss!!!" teriak adi.


Saat aku menoleh ,ada sebilah golok panjang, melayang hampir mengenaiku.


Namun dari sampingku ada kursi kayu melayang dan berhasil menghalangi golok itu yg hampir saja mengenaiku.


Brak!


Saat aku menoleh ke samping, disana sudah ada wisnu yg sedang berkacak pinggang dan menatap tajam black demon didepan kami.


Dia berjalan ke arahku,sambil melepaskan tuxedo yg dia kenakan," kamu gak papa?" tanya nya.


Aku hanya mengangguk saja.


Di lemparnya tuxedo miliknya secara kasar, kali ini dia yg melawan mereka,seorang diri.


Kulihat,wisnu makin jago juga berkelahi. Bahkan dia terlihat makin tenang saat menghadapi mereka. Dan makin lama-- dia makin mirip.... wira.


Dan dalam sekejap, semua anggota black demon berhasil wisnu lumpuhkan.


" kalian gak papa kan?" tanya wisnu pada kami.


Adi mendekat masih sambil menekan dadanya menahan rasa sakit.


" gak papa kok ,pak wisnu"


"Kamu balik aja habis ini. Muka mu ancur." kata wisnu sambil menunjuk wajah adi.


Aku malah sedikit terkekeh mendengarnya.


Adi melirik sebal padaku.


Akhirnya aku ke rumah sakit diantar wisnu , sedangkan adi pulang kerumahnya karena keadaan nya yg lumayan berantakan.


\=\=\=\=\=


"Kok kamu bisa ada dirumah? Kirain kamu sibuk banget hari ini."


"Iya tadinya gitu. Tapi perasaanku gak enak. Jadi aku susulin kamu. Ternyata bener kan?"


"Oh gitu."


Saat sudah masuk ke pelataran parkiran rumah sakit, ponsel wisnu berdering. Dan sepertinya dia harus kembali ke kantor saat ini juga.


"Maaf ya ,sayang. Aku gak bisa nemenin sampai dalem. Reza ngomel- ngomel nih. "Katanya sedikit kesal.


"Iya,, ya udah.. Kamu balik aja gih sana. Aku sendirian aja gak papa kok. "


Dia terdiam sebentar," yakin gak papa?"


"Iya, lagian kan rame nih sekarang. Kalau ada apa- apa aku bisa teriak minta tolong kan?"


Wisnu menyunggingkan senyum simpul nya lalu mengecup keningku.


"Ya udah. Kamu hati- hati ya sayang. Kabarin aku selalu." pintanya agak manja.


"Iya. Pasti. "


Aku lalu turun dari mobil dan segera naik ke kamar rani dan arya.


Klek.


Saat ku buka pintu, kulihat arya langsung menatapku tajam disampingnya ada dewa. Sepertinya mereka ngobrol serius.

__ADS_1


Sementara rani,terlelap tidur.


"Haii--- maaf ya lama. Aku tadi tidur dulu terus........"


Belum selesai aku menjelaskan, arya sudah lebih dulu menarik tanganku,"kamu gak papa kan?" tanyanya serius.


"Eum--- Aku beli makan dulu ya" timpal dewa yg seperti merasa sungkan sekarang.


Arya terus saja menatapku lekat- lekat.


"Kamu kenapa? Kok ngeliatin aku gitu?" tanyaku bingung.


"Kenapa kamu bilang? Kamu pikir aku gak khawatir ,tau kamu habis dikeroyok gitu? Kalau gak ada dewa--- udah aku susulin kerumah tadi!!" ucapnya agak menaikkan nada suaranya.


Aku lalu duduk diranjang sampingnya, sambil tersenyum," aku gak papa kok."


"Muka kamu ,nay!! Biru biru gitu!kamu bilang ,gak papa?" dia masih emosi.


Aku bingung, dia ini marah kenapa ya?


"Kamu tau dari mana? Aku sama adi dikeroyok?"tanya ku ragu- ragu.


Takut salah ngomong malah arya makin marah.


" nih!!" dia menyodorkan laptop di tangan nya.


Saat kuperhatikan, aku baru sadar ,kalau rumah ternyata dipasangi kamera cctv disemua sudutnya.


Selama ini aku tidak tau.bahkan tidak sadar.


"Kapan cctv nya dipasang sih ini?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


" gak usah mengalihkan pembicaraan deh ,nay."


"Kamu kenapa sih? Marah marah gitu? Salahku apa??" aku malah sekarang ikut emosi.


" salah kamu apa? Kamu gak tau?? Kamu sadar??"tanyanya balik.


Aku menggeleng pelan.menunggu jawaban darinya.


"Kenapa--- kamu gak nurutin adi, buat pergi dari sana?? Kenapa coba?? Solidaritas?? Iya? Gitu??"


Glek.


Aku menelan ludah, menyiapkan jawaban yg tepat ,agar arya tidak terus terusan marah seperti ini.


"Ya--- mana bisa sih, diem aja, liat adi babak belur gitu. Lagian selama ini kamu ngajarin aku bela diri tuh buat apa coba?"


"Aku pernah bilang,, pakai itu jika kamu benar benar terdesak. Tapi ,jika kamu masih bisa menghindarinya,lebih baik kamu pergi!! Inget gak, aku pernah bilang gitu?" tanya arya serius.


Aku diam,mengingat kalimat arya barusan," oh iya iya. Aku inget. Tapi kan tadi terdesak. Lagian kalau adi sampai kenapa- napa, gimana?"


" denger ya ,nayla.. Adi gak akan kenapa - napa. Dia sama seperti aku,wira,jen dan hans. Dia paling luka sebentar. Tapi kamu!! Kalau kamu kenapa- napa,, gimana?"


"Aku.. Aku..."


"Kalau kamu sampai kenapa- napa--- apa yg harus lakukan? Apa yg harus aku bilang ke wira? Ke orang tua kamu? Ke wisnu?"


"Iya,maaf arya. Aku masih cerobah, gegabah.. Aku cuma,, takut adi kenapa- napa. Itu aja."


Arya menarik nafas panjang," ya udah. Maaf aku udah marah - marah tadi. Aku khawatir aja sama kamu." katanya lebih melunak sekarang.


"Iya, aku ngerti. Eh, kamu belum makan?" tanyaku saat melihat makanan dari rumah sakit yg masih utuh .


"Belum. "


"Ya udah,aku suapin."


" gak usah. Aku bisa makan sendiri."


"Ck. Bandel deh. Makan sendiri gimana? Liat tuh tangan kanan kamu, udah kayak mummi tau gak? " kuambil piring itu lalu kusuapi arya. Dia yg awalnya terus menolak,akhirnya mau juga makan.


Klek!


Pintu terbuka dan saat kami melihat ke pintu,ternyata wisnu yg datang.


Dia lalu diam mematung di depan pintu saat melihatku sedang menyuapi arya.


Arya langsung merebut piring dari tanganku menggunakan tangan kirinya.


" tuh, temuin dulu. Aku bisa makan sendiri." ucap arya agak sedikit berbisik.


Aku berjalan keluar menemui wisnu yg sudah bermuka masam sekali.


"Lho nu, kenapa? Kok balik lagi. Gak jadi ke kantor?" tanyaku basa basi.


Dia diam,lalu dia pergi begitu saja dari hadapanku.


"Lho,,nu.. Wisnu!!" ku kejar dia yg berjalan agak cepat.


"Kenapa sih??"tanyaku sambil menarik tangan wisnu agar berhenti berjalan.


" kamu tanya kenapa? Kamu punya hati gak sih ,nay?"


Dia menghempaskan tanganku lalu berjalan lagi.


Aku pun mengejarnya lagi.


"Wisnu!! Tunggu!! Maksud kamu apa??"


Wisnu berhenti berjalan lalu menoleh padaku.


"Kamu pikir aku gak cemburu? Liat kedekatan kalian? Dari kemarin, aku udah ngerasain itu. Aku terus berusaha menahan diri buat gak marah sama kamu atau sama arya. Tapi makin hari,aku makin muak liat kalian.!! Maaf aku kasar ,nay. Aku juga punya hati. Aku gini karena sayang sama kamu!!"


Aku diam mematung.


Tidak tau lagi harus mengatakan apa pada wisnu.


"Maaf ,nu. Aku sama arya...sebenernya....."


"Kami gak ada hubungan apa-apa kok,nu!!" tiba tiba suara arya terdengar dari belakangku.


Saat aku menoleh,ternyata benar arya.dia berjalan tertatih sambil memegangi kantung infusnya.


" kamu gak perlu khawatir. Aku gak punya perasaan apa apa ke nayla. Dia milik kamu dan akan tetap seperti itu." kata arya lantang.


Deg!!


Sakit sekali hatiku berada dalam posisi seperti ini.


" apa yg kamu lihat,tidak seperti apa yg kamu fikirkan. Kamu gak usah takut. Aku dari saat nayla sama wira memang udah ditugaskan buat jagain dia. Dan akan selama nya seperti itu.." ucap arya sambil menatapku dalam-dalam.


" aku tau,arya. Maaf aku terbawa emosi. Aku -- entahlah.. Kadang aku mirip anak kecil ya" timpal wisnu malu malu.


"Wajarlah ,nu. Aku ngerti. Itu karena kamu sayang sama nayla."


"Ehhh,,lho.. Pada ngumpul disini??" tiba tiba dewa datang membawa sekantung belanjaan.


"Nah,kebetulan. Yuk ,,anterin ke kamar.. Ternyata kaki masih nyeri nih" pinta arya ke dewa.


Dewa melirik aku ,wisnu dan arya bergantian.


"Oke deh. Yuk. Duluan ya ,nu.. ,nay.." dewa pamit.


Tinggal aku dan wisnu berdua saja.


Wisnu mendekat,lalu meraih tanganku," maafin aku ya,sayang. Aku cemburu buta ke kamu sama arya.."


"Iya, nu. Gak papa. Aku ngerti kok. Eum-- kita pulang aja yuk. Badanku sakit semua" kataku bohong.


Sebenarnya hatiku yg sakit. Bahkan aku menahan air mata yg sebenarnya sudah bermuara di kelopak mataku.


Kami berdua pulang ke apartement wisnu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2