pancasona

pancasona
Part 20 Santet


__ADS_3

Kak Rayi mulai mengerjapkan matanya, dia mengerang lirih sambil memegangi perutnya. Ini memang wajar terjadi, ibaratnya ini adalah efek dari kejadian tadi. Aku sengaja memberikan doa-doa ke minuman Kak Rayi sebelum memberikan padanya. Tak lupa aku tambahkan beberapa tetes kurma cair yang sangat ampuh untuk seseorang yang terkena sihir atau santet. Aku tidak menyangka kalau efeknya sampai seperti itu.


"Kak ... Bagaimana? Masih mual nggak?" tanyaku yang kemudian mendekat, duduk di pinggir ranjang. Kak Rayi lantas membuka matanya dengan dahi yang terus berkerut, dan mata yang terpejam dengan paksa. "Pusing?" tanyaku lagi. Dia lantas mengangguk, lalu berusaha duduk bersandar pada punggung ranjang. Aku membantu dengan memberikan bantal untuk melindungi punggungnya.


"Kok aku di sini? Aku kenapa?" tanyanya sambil memperhatikan sekitar. Dia pasti sudah hafal semua bagian rumahku apalagi ada Papa dan Om Gio di kamar ini.


"Hal apa yang kamu ingat terakhir kali, Yi?" tanya Om Gio.


Kak Rayi diam, sambil mencoba mengingat apa yang ditanyakan Om Gio barusan. Cukup lama untuk dia menjawab pertanyaan semudah itu. Setelah menunggu beberapa menit, dia justru menggeleng. "Aku nggak tau, Om. Karena semua memori terasa acak. Aku bahkan nggak bisa bedakan mana yang sudah terjadi dan yang sedang terjadi," jelasnya.


"Jadi kamu nggak ingat, kalau sudah putus sama Nabila?" tanya Papa tiba-tiba. Sontak aku menoleh dan melotot tajam pada Papa. Papa hanya menatapku sambil menaikkan kedua bahunya, dengan tampang polosnya.


"Apa? Kita putus?! Kok bisa?" tanya Kak Rayi dengan wajah marah. Dia menatapku seolah tatapannya terus merasuk ke bola mataku. Meminta penjelasan, dan kini aku justru menarik nafas panjang dan dalam. Aku malah tersenyum lalu memeluk Kak Rayi erat. Rupanya benar apa yang terjadi kemarin, karena dia dalam pengaruh buruk Sabrina.


Saat pelukan kami terlepas, Kak Rayi kembali menuntut jawaban atas apa yang Papa katakan tadi. Akhirnya Om Gio dan Papa memutuskan keluar dari kamar untuk memberikan kami waktu berdua. "Sebentar lagi kita makan malam, kalian selesaikan dulu masalah kalian," ujar Papa lalu merangkul Om Gio keluar kamar.


Pintu ditutup, Kak Rayi kembali menatapku dalam. "Bil, apa yang sebenarnya terjadi?"

__ADS_1


Aku lantas tersenyum dan menceritakan segalanya. Dia hanya diam dan mendengarkan semua dengan wajah yang tidak bisa kutebak. "Yah, jadi gitu, Kak, yang terjadi kemarin." Kak Rayi langsung memelukku erat. "Maafin aku, sayang, aku benar-benar nggak tau kalau ternyata begini. Aku nggak sadar atas sapa yang aku lakukan selama ini. Kamu pasti menderita banget ya?" tanyanya. Pelukannya mengendur, kami lantas saling berpandangan dengan jarak dekat. Aku mendaratkan Jari telunjuk ke bibir Kak Rayi sambil menggeleng pelan. "Itu nggak penting, Kak. Asal kamu sekarang sudah kembali lagi, itu sudah cukup buat aku."


Kak Rayi tersenyum, wajahnya kian mendekat hingga akhirnya bibir kami bertemu. Aku memejamkan mata dan membalas ciuman darinya.


____________


"Jadi gimana langkah selanjutnya, Gi. Nggak mungkin dong kita membiarkan saja Rayi diperbudak gadis iblis itu?" tanya Papa sambil mengambil nasi. Kali ini bibi memasak cukup banyak makanan, karena ada Om Gio juga Kak Rayi di sini.


"Papa?! Ih, ngomongnya," cetusku merasa kalimat itu terlalu kasar.


"Loh, bener, kan? Dia juga salah satu bagian dari iblis dong, Bil. Mereka sudah bersekutu dengan iblis! Keterlaluan sekali, mempermainkan kehidupan orang seperti itu!" Papa terlihat sangat kesal. Aku lantas menggenggam tangannya, sambil tersenyum. Papa balas tersenyum dan menurunkan emosinya.


"Caranya?"


"Nanti, tunggu hujan. Makan dulu ah, laper!" katanya.


"Tunggu hujan? Mau apa?" tanyaku, tanpa mendapat penjelasan apa pun dari Om Gio.

__ADS_1


Malam ini sesuai instruksi Om Gio, Kak Rayi menginap di rumah kami. Pembersihan untuknya belum total, akan ada beberapa hal yang harus dilakukan Kak Rayi agar pengaruh Sabrina hilang. Karena apa yang Sabrina lakukan cukup besar pengaruhnya dan tidak mudah dihilangkan.


Pukul 23.00 Hujan benar-benar turun, aku bahkan tidak percaya kalau perkataan Om Gio benar-benar terjadi. Berdiri di dekat jendela sambil menatap hujan yang mengguyur deras halaman rumah kami. Om Gio langsung mengajak Kak Rayi keluar, mereka berdua ada di halaman, sementara aku dan Papa hanya memperhatikan dari teras, ditemani kopi dan teh hangat.


"Pah, sejak kapan sih, Om Gio ngerti hal ginian?" tanyaku sambil menyesap teh hangat milikku.


"Eum, Papa juga nggak tau persis kapan, yang jelas sejak dia tinggal sama Abimanyu dulu. Kamu tau sendiri, kan, kalau mereka sudah banyak mengalami hal aneh. Ya wajar saja, kalau Om Gio mu itu lebih banyak pengalamannya daripada Papa."


Kami berdua hanya menyaksikan dari kejauhan, bahkan apa yang dikatakan Om Gio tidak dapat kudengar, karena hujan malam ini yang begitu derasnya. Jujur saja, aku cukup khawatir, kalau Kak Rayi dan Om Gio akan sakit setelahnya. Tengah malam, di bawah hujan lebat? Oh, itu hal yang sungguh nekat.


Om Gio memukul mukul punggung Kak Rayi, sambil menggumamkan kalimat yang tidak aku mengerti. Tiba-tiba Kak Rayi kembali muntah. Aku melotot, saat melihat sebuah bayangan hitam keluar dari tubuhnya, bayangan itu berbentuk lingkaran yang seolah menutupi tubuh Kak Rayi. Dalam sekali hentak, Om Gio membuat lingkaran hitam itu melebar dan hilang dengan cepat. Om Gio mendekati Kak Rayi dan membicarakan sesuatu, tak lama mereka beranjak kembali ke teras. Dengan cepat aku mengambilkan mereka handuk kering, dan mengantar Kak Rayi ke kamar untuk ganti pakaian.


"Jadi gimana, Om?" tanyaku saat menunggu Kak Rayi ganti pakaian di depan kamarnya.


"Aman. Pengaruh itu sudah hilang sepenuhnya. Air hujan adalah obat yang mujarab untuk sihir. Besok kalian lihat bagaimana keadaan perempuan itu setelah kita kembalikan sihirnya."


"Jadi Om kembalikan itu semua ke Sabrina?"

__ADS_1


"Om nggak menyebutkan nama, Om kembalikan apa yang orang itu lakukan ke Rayi, jadi Om nggak tau siapa yang kirim, tapi kalau memang Sabrina yang melakukannya, dia pasti akan terlihat kacau besok."


__ADS_2