
Saat aku melihat ke atas, tepatnya di lantai atas rumah ini ada satu sosok yang memang terlihat di sana. Bukan manusia melainkan seekor harimau putih dengan loreng hitam. "Wow," gumamku pelan.
"Apaan, Bil?" tanya Kak Roger yang kini ikut berdiri di sampingku, dan menatap ke arah yang kutatap.
"Ngeri," sahutku masih terdengar berbisik.
"Apaan sih?!" tanya Kak Bintang ikut mendekat.
"Heh?! Apa-apaan sih, jauhan-jauhan! Enak aja!" timpal Kak Rayi ke arah kami. Sontak kedua pria tersebut langsung menjauh dariku, diiringi omelan mereka berdua.
"Sok memiliki!"
"Iya, padahal pacaran aja belum."
"Salah. Bukannya belum pacaran, tapi nembak aja belum," sindir Kak Roger. Alhasil sebuah kroket melayang mengenai kepalanya.
"Malah pada berantem! Udah ah!" lerai Mama Kak Rayi.
Aku yang sudah mulai terbiasa dengan tingkah mereka hanya tersenyum menanggapi. Nyatanya mereka sering sekali berdebat atau bahkan bertengkar, tapi justru itulah yang membuat mereka terus kompak. Perkelahian mereka bukan lah hal negatif yang membuat persahabatan itu renggang. Justru di situlah letak kehebatan mereka. Dan, aku cukup iri dengan persahabatan itu.
"Kita pergi aja yuk, biarin mereka berantem sendiri," ajak Mama Kak Rayi padaku. Tanpa sungkan aku di gandeng dan segera di ajak ke taman yang ada di samping rumah mereka.
Pemandangan bunga-bunga terhampar luas di depan mataku. Ada aneka bunga mawar, melati, bugenvil, bahkan petunia. Warnanya yang berbeda-beda membuat mataku terpaku untuk terus menatap bunga tersebut lebih lama. Kami duduk di sebuah kursi kayu yang ada di tengah taman. Suasananya rindang, dan sejuk. Membuatku betah berlama-lama.
"Tante, turut berduka cita, ya. Rayi banyak cerita tentang kamu. Pasti berat, ya?" tanya Mama Kak Rayi dengan nada bicara pelan. Dia juga mengelus punggungku lembut. Aku yakin dia tidak ingin membuat aku kembali mengingat momen kehilangan Mama kemarin. Padahal aku sudah lama kehilangan mama, jadi kepergian mama kemarin memang tidak begitu terasa menyakitkan bagiku.
"Terima kasih, tante."
"Dulu, sewaktu Rayi ditinggal ibunya, tante benar-benar kasihan. Dia bahkan belum pernah ketemu ibu kandungnya. Mama Rayi itu kakak tante, dan tante rela menggantikan mama Rayi, hanya saja, keluarga malah menyuruh tante turun ranjang."
"Terus tante mau?"
"Yah, mau bagaimana lagi? Tante sudah dititipin Rayi sama kakak tante."
"Tapi Kak Rayi beruntung punya tante. Setidaknya walau pun tante bukan ibu kandungnya, tapi tante sayang banget ke Kak Rayi. "
Beliau tersenyum sambil mengelus kedua bahuku. "Eh, yang tadi ... kamu bisa lihat?" tanyanya dengan tatapan serius.
"Hm, harimau tadi?"
"Iya. Jadi dia itu penjaga rumah ini, warisan leluhur keluarga tante. Memang sih, tante juga awalnya nggak begitu suka, karena ini sedikit aneh. Iya, kan? Tapi kami pernah mendapatkan sebuah masalah, dan karena hal itu, dia terus ada di rumah."
Aku mengangguk paham. Dan menoleh ke arah pintu. Makhluk itu bagai kucing rumahan saja, yang bisa berjalan-jalan di semua tempat. Mungkin aku perlu menutup sedikit mata batin ini. Agar terlihat normal. Jujur saja, tatapannya cukup mengerikan.
_________
__ADS_1
Kak Rayi mengantarku pulang. Kali ini aku tidak begitu takut jika Papa memergokiku pulang malam walau dengan seorang pria. Sepertinya Kak Rayi adalah salah satu pria yang bisa membuat Papa mengatakan 'iya' pada beberapa pilihan atau keputusanku. Setidaknya setelah kehadiran Kak Rayi, hubunganku dengan Papa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dan malam ini Kak Rayi juga sempatkan mengobrol dengan Papa yang kebetulan sudah di rumah. Sementara aku lebih memilih masuk ke kamar, karena memang aku sudah lelah. Ingin mengistirahatkan tubuh serta otak. Suara tawa Papa terdengar jelas dari kamarku.
Teras rumah yang memang berada di bawah kamarku tentu membuat suara di sana akan sangat jelas menerobos balkon jendela kamar, walau aku tidak begitu mendengar pembicaraan mereka, tapi setidaknya aku tau kalau mereka terlihat akrab.
Tubuh yang lelah, membuatku kini hanya memilih tiduran saja di ranjang. Selimut kutarik karena udara malam terasa makin dingin. Sudah menjadi kebiasaanku untuk selalu membuka jendela. Bagiku udara di luar jauh lebih menyenangkan, daripada aku harus memakai AC. Perlahan mataku mulai sayu, rasanya aku mulai mengantuk. "Selamat malam, Kak Rayi," gumamku saat mataku mulai menutup sempurna.
__________
Suara riuh berasal dari ruang olahraga. Bukan sorak sorai dari penonton yang sedang menonton pertandingan basket atau bola, melainkan jeritan minta tolong. Aku yang sedang di koridor sekolah, hendak ke toilet, lantai berbalik dan mencoba mencari tau tentang apa yang sedang terjadi.
Sekarang adalah jam olahraga kelas Kak Rayi. Karena saat awal pelajaran tadi, aku melihatnya dari jendela kelasku, kalau kelasnya sudah mulai berganti pakaian olah raga dan turun ke lantai bawah. Yah, kelas Kak Rayi memang terlihat dari jendela kelasku. Karena kami berada di lantai yang sama, dan berhadapan, membuat segala kegiatan kelasnya mampu kulihat dari tempatku duduk. Begitu pun sebaliknya.
Ruang olah raga berdekatan dengan aula. Keadaan di sana ramai sekali. Aku mengintip dari pintu ruang olah raga, dan rupanya keadaan di dalam sedang tidak kondusif. Di mana kulihat ada beberapa siswa yang pingsan. Aku masih diam sambil terus memperhatikan, jika apa yang kulihat memang mereka hanya pingsan. Dan, memang benar, mereka hanya pingsan. Namun anehnya, kenapa acara pingsan tersebut dilakukan secara massal.
Di sana Kak Rayi dan Kak Bintang sedang mencoba memberikan bantuan ke teman-temannya. Dan, tak berapa lama ada salah satu siswa yang tiba-tiba jatuh, padahal tadinya dia hanya sedang melihat keadaan temannya yang pingsan. Dia langsung ditolong temannya yang paling dekat. Jika biasanya kesurupan yang terjadi massal, tapi ini adalah pingsan massal. Aneh. Aku pun yang sejak tadi sudah mencoba melihat dengan mata batin, tidak menemukan hal aneh sejauh ini. Tapi ini justru aneh buatku.
"Heh! Apa coba? Kabur pasti dari kelas?" tanya seseorang yang kini sudah berdiri di sampingku.
"Astaga, Kak Roger! Ngagetin saja!" kataku sambil memukul bahunya. Dia yang sudah mandi keringat hanya tertawa lepas. Aku kembali memperhatikan keadaan di dalam, begitu pun Kak Roger.
"Bil, mereka kenapa sih?"
"Kak, nggak bantuin? Malah ke kantin," sindirku sambil meliriknya sinis. Melihat Kak Rayi dan Kak Bintang yang kewalahan menghadapi teman-temannya yang satu persatu pingsan. Yah, tidak hanya satu dua orang. Kini pingsan bak wabah penyakit menular di ruangan itu. Satu persatu yang pingsan bertambah, jika satu disembuhkan yang lain akan pingsan tiba-tiba. Begitu terus jika kuperhatikan.
"Ah, sudah banyak yang bantuin kok. Lagian gue haus, Bil. Baru lari sebentar sudah pada pingsan, heran."
"Eh, Nabila?" panggil orang lain dari belakang. Rupanya Kak Faza yang kini sudah membawa kantung plastik berisi beberapa botol minuman yang sama seperti Kak Roger.
"Loh, Kak Faza juga ke kantin?"
"Iya. Haus. Kamu sendiri ngapain, bukannya di kelas, malah keluyuran!" tukasnya.
"Kebelet." Aku kembali memperhatikan ke dalam, melihat Kak Rayi dan Kak Bintang yang masih membantu teman-temannya. Kak Rayi tiba-tiba melihat ke arahku, lalu tersenyum. Namun ia kembali menolong temannya lagi. Kulihat dia sudah kelelahan. Berkali-kali mengelap peluh di keningnya sambil menarik nafas panjang. Kasihan.
"Yuk," ajak Kak Faza yang tiba-tiba menggandeng tanganku, masuk ke dalam. Aku yang awalnya bingung, hanya melotot dan mengikuti langkahnya. Kak Roger juga mengikuti kami, dan kini kami bertiga duduk di kursi stadion. Ruang olahraga ini berbentuk lingkaran, dengan deretan kursi di pinggirnya. Dan bagian tengah ruangan adalah tempat untuk bermain basket, voli, dan sepak bola. Kami duduk di deretan tengah, Kak Faza mengulurkan botol minuman dingin tersebut. Anehnya aku malah ikut saja menonton, bukannya kembali ke kelasku sendiri.
Mereka membahas tentang kejadian awal hal ini terjadi. Aku pun penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi. Karena sejauh ini aku sama sekali tidak melihat adanya gangguan hantu dan semacamnya. Atau ... aku tidak melihatnya?
"Bil, kira-kira mereka kenapa, ya?" tanya Kak Roger yang duduk di samping kiriku, Sementara Kak Faza berada di sebelah kananku. Yah, aku diapit oleh dua pria tersebut sekarang. Kami masih diam sambil menatap kejadian aneh tersebut. Kini beberapa petugas kesehatan mulai datang dan ikut membantu. Dan akhirnya Kak Rayi dan Kak Bintang sudah bisa beristirahat sekarang. Karena kejadian ini pelajaran olah raga di liburkan.
"Gila, parah banget orang-orang. Kok bisa sih pingsan berjamaah?" tanya Kak Bintang yang terlihat kelelahan. Ia menyambar botol minum yang tadi dibeli oleh Kak Faza dan langsung meneguknya cukup banyak. Walau mereka gagal olah raga, tapi mereka tetap memproduksi banyak keringat.
"Iya, Bil. Elu nggak lihat hal aneh apa gitu?" tanya Kak Bintang lagi.
__ADS_1
"Hm," gumamku sambil menyapu pandang ke sekitar. Lalu menggeleng pelan.
"Kok aneh, ya. "
Yah, ini memang aneh. Jujur aku yakin ada hal yang tidak beres, tapi aku belum tau apa. Beberapa siswa yang pingsan di bawa ke UKS. Sebagian lainnya yang sudah sadar akan kembali ke kelas dan dipulangkan segera. Wabah pingsan tiba-tiba siswa kelas 2, menjadi perbincangan hangat.
Aku dan Zidan sudah berada di kantin, di sini juga banyak orang yang menjadikan berita tadi sebagai santapan hangat. Rumor kalau sekolah berhantu kembali merebak. Walau setiap sekolah akan di cap angker oleh siswanya sendiri. Dan memang di tiap sekolah pasti memiliki kisah masa lalu yang akan menjadi buah bibir bagi siswanya sendiri. Hanya saja, belum ada satu pun yang dapat mengambil kesimpulan atau bahkan tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Gue yakin, ini kerjaan setan, Bil," bisik Zidan dengan mulut penuh berisi bakso. Aku mundur demi menghindari muncrat dari mulutnya. Ugh, menjijikkan. Netraku mulai memperhatikan ke arah lain, karena pemandangan di depanku sungguh tidak nyaman dilihat. Zidan itu sangat cerewet dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Itu juga yang menjadi alasannya terus menempel padaku. Karena dia tau tentang diriku yang terkadang melihat hal yang tidak semua orang bisa lihat. TApi anehnya, kejadian tadi benar-benar tidak bisa ku ketahui sumbernya.
Aku hanya meminum es jeruk milikku, sesekali memainkan sedotan dan menggigit-gigitinya untuk menghindari ratusan pertanyaan Zidan. Netraku terus menatap beberapa siswa yang sedang berkerumun bersama teman-teman mereka. Terkadang obrolan mereka jauh lebih menarik timbang apa yang diucapkan Zidan sejak tadi.
Tapi tiba-tiba, aku melotot saat melihat ke sebuah sudut sekolah. Di sana aku melihat seseorang. Tersenyum dan hanya berdiri menatapku dari kejauhan. Rio?!
Aku bangkit, dan meninggalkan Zidan dengan dalih akan ke toilet. Yah, ini kesempatanku kabur dari Zidan. Dan tentu aku memang ingin bertemu Rio lagi. Dengan langkah cepat aku mendekat ke tempat Rio berdiri. Dia masih tetap berdiri di tempat kumelihat tadi. Terus melebarkan senyum seolah menyambutku.
"Rio, kamu di sini?" tanyaku sambil sesekali memperhatikan sekitar. Aku yakin mereka tidak melihat Rio sekarang. Dan aku tidak ingin membuat mereka makin panik jika tau kalau aku sedang mengobrol dengan salah satu penghuni sekolah.
"Jangan di sini, ikut aku. Ada yang ingin aku bicarakan," ujarnya, lalu berjalan menjauh dari kantin. Kami terus berjalan ke sisi lain sekolah yang memang tidak terlalu ramai oleh siswa yang sedang istirahat.
Kini kami berdua berada di halaman belakang, dekat mushola sekolah. Rio berhenti dan menatap sekitar kami. Aku sempat heran, atas sikapnya. Seharusnya aku yang melakukan hal tersebut. Karena di sini aku lah yang masih menjadi manusia.
"Kenapa?" tanyaku.
Rio mulai diam, namun sikapnya masih terlihat aneh. Seperti takut dipergoki seseorang. "Bil, ada yang nggak beres sama sekolah kita."
"Maksud kamu, tentang cerita pingsan massal tadi? Iya, itu memang aneh. Kalau itu kesurupan mungkin itu tidak aneh buatku. Jadi apa yang terjadi, Rio?"
"Ini berbahaya. Kalau kalian tidak menolong mereka, maka mereka akan menjadi sepertiku."
"Mereka? Mereka siapa maksud kamu?"
"Anak-anak yang pingsan."
"Oke, menolong mereka yang pingsan? Sudah, Ri. Mereka sudah banyak yang sadar, sebagian di UKS bersama petugas kesehatan."
"Tidak! Mereka belum selamat, Bil."
"Maksud kamu belum selamat, apa?"
"Ada satu makhluk yang diam-diam masuk ke sekolah kita. Dia jahat, dan mau mengambil jiwa teman-teman. Bahkan lebih banyak lagi."
"Makhluk? Makhluk apa?"
"Djin."
__ADS_1