
Semua mahasiswa mulai masuk satu persatu ke dalam. Sebentar lagi kelas akan dimulai. Ada 5 baris meja yang memanjang ke belakang. Tetapi meja yang ada di depan hampir kosong di beberapa kursinya. Namun Arya dan Nayla yang duduk di baris ke dua, kini mendapat teman baru. Seorang pemuda duduk di baris pertama meja, sendirian. Wira.
Nayla yang baru saja masuk bersama Arya dan Retno, lantas menatap heran ke pemuda yang sudah duduk di kursi. "Loh, kamu di sini?" tanya Nayla sambil mendekat ke Wira. Wira tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.
"Iya, Nay. Ternyata kita satu kelas?" Wira menatap dua orang yang bersama Nayla. Dan menatap dalam ke Arya.
"Oh bagus dong. Oh iya, kenalin, ini Arya ... ini Retno. Gaes, dia ini ... siapa nama kamu tadi? Sorry, lupa," cetus Nayla sambil garuk-garuk kepala.
"Wira." Tangannya terulur ke Retno dan disambut hangat oleh gadis itu. Saling memperkenalkan diri. Lalu beralih ke Arya. "Wira," katanya lagi. menatap dalam manik mata Arya yang sejak tadi menatapnya dingin. Arya sempat diam beberapa detik, sampai akhirnya Nayla menyikut pemuda itu dan berhasil membuatnya tersadar. "Eum, Arya." Kedua tangan mereka bersalaman. Saling menggenggam erat dengan sorot mata saling menatap lekat-lekat. Bagaimana pun juga, Arya pernah memiliki posisi yang penting di kehidupan Wira. Ingatan Wira akan semua yang pernah ia alami masih terekam jelas diingatannya. Hanya nafsu duniawinya saja yang sudah direnggut dari dirinya. Saat ia melihat Nayla, semua kenangan mereka berdua kembali muncul di pikiran Wira, tetapi tidak perasaannya. Dan begitu pula saat bertemu Arya, mereka dulu adalah sepasang sahabat yang sangat hebat. Saling menggenggam, walau Arya adalah prajurit Wira, bahkan bisa disebut prajurit berani matinya Wira, tetapi kedekatan mereka sudah seperti saudara.
"Arya," ucapnya dingin.
"Wira."
Seorang wanita berumur sekitar 50 tahun masuk ke dalam ruangan ini. Otomatis membuat pertemuan ini harus segera diakhiri. Mereka duduk di bangku masing-masing. Dan bersiap menerima materi yang akan disampaikan oleh dosen di depan.
Wira termasuk pandai, karena beberapa kali ia adalah orang yang paling cepat mengerti materi yang sedang diajarkan. Tentu hal ini karena dulunya dia pernah menjadi ASDOS untuk mata kuliah yang sama. Dan entah sudah berapa lama ia mempelajarinya. Nayla beberapa kali menoleh ke arahnya yang duduk di meja sampingnya. Posisi duduk mereka yang berdekatan membuat mereka mudah berinteraksi. Dan Nayla mulai bisa menerima Wira. Ia sering bertanya tentang hal yang belum dia mengerti, dan dengan sabar Wira membimbingnya. Arya beberapa kali melirik sinis pada mereka berdua. Sampai akhirnya materi kuliah selesai, tanpa jeda lama, Arya langsung beranjak dan pergi begitu saja. "Arya!" panggil Nayla, namun tidak dihiraukan oleh pemuda itu.
"Ih itu anak kenapa sih? Katanya mau bareng ke kantin tadi," gumam Nayla dengan bibir yang mengerucut. Wira menatap pintu dan melihat rasa cemburu Arya. Ia hanya tersenyum melihat tingkah Arya sekarang.
"Eum, aku boleh ikut ke kantin?" tanya Wira.
"Ya boleh lah, ayok. Retno, hayuk!" panggil Nayla ke Retno yang duduk di kursi paling ujung. Entahlah, sepertinya Retno alergi jika dekat dengan dosen. Maka ia lebih memilih kursi terjauh dari depan.
Mereka bertiga berjalan ke kantin. Beberapa pasang mata memperhatikan mereka, terutama kaum hawa yang melihat kharisma dari Wira. "Wira, kamu kok bisa pindah ke sini?" tanya Retno.
"Oh, iya, eum memang ada urusan di kota ini. Bisnis keluarga," sahutnya sambil tersenyum menutupi grogi.
"Bisnis apa?" sambung Nayla.
"Eum, perdagangan gitu, Nay. Aku juga nggak paham. Eh, ngomong-ngomong Arya ke mana?" tanya Wira mengalihkan perhatian. Ia menengok ke sana ke mari untuk dapat menemukan Arya.
"Eh, itu si Arya!" tunjuk Retno ke sudut kampus. Mereka semua memicingkan mata untuk melihat lebih jelas ke arah yang Retno tunjuk.
"Iya, bener. Apa Arya di sana?" tanya Nayla keheranan.
"Eh, Nay, itu Joddie!" kata Retno sambil merengek, memegang tangan Nayla.
"Joddie siapa sih?"
"Yang kemarin. Dia orang terakhir yang aku ingat sebelum aku ada di gedung kosong itu, Nay. Dia mungkin yang hipnotis aku."
__ADS_1
Nayla langsung mengerti, "Arya mau tangkap mereka semua, Ret. Dia nggak bisa menghadapi semua sendirian begitu." Saat Nayla hendak menyusul Arya, Wira segera menarik tangannya. "Kenapa? Ada apa?" tanya Wira.
"Retno kemarin hampir diculik sama dia, di gedung itu. Arya pasti mau menangkap mereka."
"Diculik? Untuk?"
"Pemujaan. Mereka pengikut Dewa RA, ANKH!" Tangan Wira, segera terlepas dari lengan Nayla, saat gadis situ memaksa menyusul Arya. Wira mengernyitkan dahi sambil memiringkan kepalanya sedikit. Walau dia malaikat, tetapi tidak semua kejadian di bumi ia ketahui. Apalagi ia baru sampai kemarin.
"Dewa RA? Wow!" Wira segera menyusul Nayla dan Retno mengejar Arya.
Mereka sampai di gedung kampus yang ada di belakang. Sepi dan memang tempat ini jarang disinggahi mahasiswa baik-baik. Dalam artian tempat ini adalah jalur hitam anak-anak bengal yang suka melakukan maksiat. Entah itu berpacaran, merokok, minum minuman keras, atau memakai narkoba.
"Apa maksud kalian menculik Retno kemarin!" jerit Arya sambil mencekik Joddie. Nafas Joddie tercekat, karena apa yang dilakukan Arya. Tetapi dari arah belakang iaa dipukul dengan kencang oleh seseorang. Hingga tangannya terlepas dari Joddie dan tersungkur sambil memegangi kepalanya yang sakit. Matanya samar melihat ke segerombol pria yang ada di depannya. Pukulan tadi membuat penglihatannya sedikit memburam. Tetapi dalam beberapa detik kemudian, Arya kembali dapat melihat dengan jelas.
"Siapa kau? Beraninya dengan kami?!" kata pemukul barusan. Arya memperhatikan satu persatu wajah mereka, dan ternyata mereka adalah yang ada di gedung kemarin, orang-orang yang menculik Retno.
"Kalian pengikut aliran sesat! Sudah sepantasnya mati!" kata Arya lantang, ia berusaha kembali tegak berdiri dengan menahan rasa sakit itu.
"Dasar bodoh!" ejek salah satu dari mereka. Tiga orang itu mendekat, dan langsung memegangi tangan Arya, salah satu dari mereka, memegang Arya dari belakang hingga ia tidak bisa berkutik lagi.
"Kau ini mau jadi pahlawan kesiangan, ya? Sungguh kasihan. Seharusnya kau tidak ikut campur urusan kami!" Arya dipukuli. Perutnya ditendang, wajahnya mulai lebam karena perlakuan Frans. Hingga tiba-tiba seseorang berhasil menendang Frans dan membuatnya jatuh ke samping.
Mereka berlima kini sudah terkapar tak berdaya. Wira dan Arya saling mendekat, begitu juga dengan Nayla dan Retno. "Mereka ini yang kemarin menculikmu, Ret," jelas Arya.
"Yah, dan mereka pemuja Dewa RA," tambah Nayla.
"Apa cuma mereka berlima saja?" Retno bertanya hal yang sebenarnya ada di benak Arya dan Nayla juga.
Wira lantas jongkok, ia memeriksa pergelangan tangan mereka. Lalu menoleh ke teman-teman barunya. "Mereka punya tato yang sama, di tempat yang sama, simbol ANHK. Kalau kita mau tau pengikut mereka yang lain, kita bisa memeriksa pergelangan tangan semua mahasiswa yang kuliah di kampus ini," jelasnya.
"Wow, itu melelahkan sekali, yah," gumam Nayla.
"Lalu kita apakan mereka?" tanya Arya.
"Setauku, kita harus memutus hubungan mereka dengan dewa RA. Dengan menghapus tato ini," jelas Wira, lalu kembali berdiri.
"Kamu tau dari mana, Ra?" Retno bertanya.
" Dari buku."
"Wah, kalian berdua penyuka hal yang sama, ya. Wira sama Nayla." Retno mulai berkomentar, dan membuat suasana tidak enak kembali. Arya langsung pergi.
__ADS_1
"Arya! Mau ke mana sih?" panggil Nayla dan langsung menyusulnya. Arya menoleh, "udah sini aja. Aku mau panggil Bang Ucok. Buat menghapus tato mereka." Ia kembali berjalan cepat, dan membuat Nayla mendengus sebal.
Kelima orang itu masih tak sadarkan diri dengan posisi tangan dan kaki terikat. Sambil menunggu Arya, Wira dan Nayla mulai berbincang tentang apa yang dikatakan Retno tadi. Wira memiliki pengetahuan yang memang disukai Nayla, tentang iblis, angel dan semua hal yang berbau hal aneh bagi Arya. Nayla seolah menemukan orang yang satu frekuensi dengannya. Wira juga termasuk pribadi yang menyenangkan.
Mereka terlihat tertawa satu sama lain saat Arya muncul bersama Bang Ucok. Lalu terdiam saat menyadari kehadiran dua pria itu. "Hai, Neng. Ketemu lagi kita rupanya," sapa Ucok ke Nayla.
"Iya, ini, Bang. Nanti aku mampir ke warung, ya. Lapar."
"Atur saja." Ucok memperhatikan lima orang pemuda yang sedang pingsan dalam kondisi terikat. "Mereka?" tanya Ucok sambil menoleh ke Arya. Arya mengangguk. Ucok mulai mengeluarkan beberapa peralatan yang ia bawa di dalam tas ransel di punggungnya. Baik Nayla, Wira dan Retno tidak tau, apa yang Arya ceritakan pada Ucok. Karena rasanya jika memberitahukan hal sebenarnya, akan dianggap sinting oleh sebagian orang.
Setelah tato terakhir yang dihapus, Ucok lalu menatap mereka bergantian. "Sekte mereka sudah ada sejak lama. Dan bukan hanya mereka berlima saja. Asal kalian tau, kalau mereka memiliki pemimpin yang jauh lebih kuat. Abang yakin, mereka bakal mencari mereka semua, dan kalian harus hati-hati!" tutur Ucok.
"Abang tau tentang ini semua?" tanya Nayla yang cukup terkejut mendengarnya.
"Neng, asal kau tau, aku ini dulu juga kuliah di tempat ini. Kejadian penculikan mahasiswi sudah ada sejak zaman aku berkuliah dulu. Aku juga pernah melakukan hal ini seperti kalian bersama teman-temanku, semua itu berakhir. Tapi ternyata, sekarang mereka memulai lagi."
"Menurut abang kita harus apa sekarang?" tanya Retno.
"Cari pemimpinnya. Akar dari masalah ini. Dan itu tidak mudah. Karena dia bisa menjadi siapa saja."
"Apa mereka memiliki tato yang sama seperti itu?" tunjuk Nayla ke pergelangan tangan 5 orang itu yang sudah dihapus Ucok. Ucok mengangguk yakin. "Satu lagi, mereka punya kalung simbol ANHK."
____________
Mobil Nayla lagi-lagi mogok. Kini gadis itu sedang membuka kap mobilnya di pelataran parkir kampus. "Duh, bagaimana ini. Ada-ada saja sih!" Nayla lalu melakukan panggilan telepon ke sebuah bengkel yang menjadi langganannya. Namun sayangnya teleponnya tidak tersambung, dan itu makin membuatnya frustrasi. Suasana sekitar sudah sunyi, hanya tinggal beberapa mahasiswa saja yang masih ada di lingkungan kampus. Nayla kemudian jongkok di depan mobilnya sambil melipat kedua kakinya untuk menyembunyikan wajahnya yang sedih dan bingung.
"Kenapa lagi?" tanya sebuah suara yang sangat ia kenali. Saat ia mendongak, senja di langit membuatnya mengernyitkan tatapannya pada pria di depan. Ia hafal suara itu, dia Arya. Tetapi saat Nayla melihat pemuda itu dari tempatnya duduk, pesona Arya terlihat berbeda. Ia terlihat bersinar, membentuk sebuah siluet bayangan.
"...."
"Kenapa jongkok di situ? Bangun!" Tangan Arya menjulur ke bawah, Nayla meraihnya dan kini mereka berdiri berhadapan. Keduanya saling menatap dalam. Arya menoleh ke mesin mobil Nayla yang sudah dibuka gadis itu. "Rusak lagi?" Nayla mengangguk tetap menatap Arya dengan wajah mengiba.
"Aku lihat dulu. Siapa tau bisa diperbaiki." Arya segera memeriksa mesin mobil Nayla. Tangannya mulai hitam karena bekas oli dan wajahnya mulai memunculkan bulir-bulir keringat. Nayla mengambil tissue dari dalam mobilnya, lalu menyapu keringat Arya, membuat pemuda itu menoleh padanya dengan tatapan kaget. "Bagaimana? Bisa nggak diperbaiki?" tanya Nayla, mengalihkan perhatian Arya. Ia takut kalau Arya akan melontarkan kalimat menyebalkan khas dirinya.
"Bisa. Tapi ada satu komponen yang harus diganti. Dan kalau cari itu di toko sekarang ... sepertinya udah telat. Semua toko sudah tutup." Ia lantas menutup kap mobil Nayla.
"Duh, jadi harus tunggu sampai besok, ya?" tanyanya sambil terlihat stres dan bingung.
"Aku anter pulang. Mobil di sini aja, nggak apa- apa. Aman. Ada CCTV juga itu!" tunjuk Arya ke sudut kampus terdekat. Nayla menoleh dan mengangguk pasrah.
Mereka sampai di tempat parkir motor mahasiswa. Segera naik ke jok motor itu dan segera pergi dari kampus, karena hari sudah mulai akan gelap. "Pegangan," suruh Arya, menoleh sedikit ke belakang. NAyla yang awalnya ragu, lantas mulai melingkarkan tangannya hingga sampai perut Arya. Tubuh mereka saling menempel, dan kini kepala Nayla justru ada di punggung Arya. Ia tersenyum. Tanpa disadari Nayla, Arya juga menarik kedua sudut bibirnya samar, sambil menunduk melihat tangan gadis situ ada di perutnya.
__ADS_1