pancasona

pancasona
Part 183 Ungkapan perasaan


__ADS_3

"Untuk menemukan Azazil itu adalah hal mudah. Tapi sekarang yang harus kita pikirkan, bagaimana kita harus melenyapkan dia," tutur Wira.


"Jadi bener, kalau para iblis itu sedang membuat pasukan?" tanya Arya.


Suasana taman siang ini cukup sunyi. Beberapa mahasiswa memilih mencari tempat yang menyenangkan. Seperti kantin, halaman depan kampus, atau kedai makanan yang tersebar di sekitar kampus. Namun baik Wira, Arya dan Nayla memilih mencari tempat sunyi, karena apa yang akan mereka diskusikan adalah hal yang tidak boleh ada orang lain yang tau. Tidak ada orang yang bisa mereka percayai sekarang.


"Iya. Mereka berniat menyerang langit. Dan kalian adalah panglima yang mampu memimpin mereka. Dulu kamu adalah Samyaza. Dan Nayla adalah Lilith. Kita harus membunuh Azazil terlebih dahulu," jelas Wira serius.


Kedua manusia yang disebut sebut sebagai panglima para iblis hanya mampu diam membisu. Pikiran mereka berkecamuk. Ini bagai mimpi, atau berharap kalau Wira sedang gila dengan membuat sebuah sandiwara aneh seperti sekarang. Samyaza? Lilith? Bahkan bagi Arya nama nama itu sangat asing di telinganya. Membayangkan kalau dirinya adalah bagian dari malaikat sekaligus iblis dalam satu waktu. Ini sungguh menggelikan.


"Caranya?"


Wira menjentikkan jarinya, lalu di tangannya kini ada sebuah buku tebal, terlihat rapuh, dengan sampul hitam. Terdapat gambar pentagram di sampul bukunya.


"Apa itu?" tanya Nayla sedikit terkejut melihat kemampuan ajaib Wira.


'Buku harian salah satu malaikat!" kata Wita tanpa rasa bersalah.


"Malaikat mana? Bukan punyamu, kan?


"Eum, bukan. Aku baru pinjem tadi. Sstt. Kita baca dulu," bisik Wira yang kini duduk di kursi taman, diapit Arya dan Nayla di kanan dan kirinya. Mereka diam sambil menunggu Wira mengucapkan sesuatu.


"Sebenarnya Azazil sedang terkurung di sebuah makam tua," kata Wira setelah membaca ssatu bait pertama kalimat aneh tersebut.


"Makam tua?"


"Dulu, dia adalah kaki tangan Lucifer. Mereka pernah melakukan pemberontakan dan membuat bumi hampir mengalami bencana besar. Mereka membangkitkan para iblis dan mengeluarkan semua setan dari neraka. Banyak manusia yang menjadi korban. Mereka berdua membuat pasukan perang untuk menghancurkan dunia. Dan kita turut andil dalam hal itu. Wah ini sih aku tau, bukan rahasia umum lagi," gumamnya seolah berbicara sendiri. Nayla dan Arya yang ikut menatap buku tersebut tidak mengerti sama sekali atas rentetan huruf aneh di depan mereka.


"Kita, itu berarti kita bertiga, kan?"


"Iya, kita bertiga." Wira berhenti menatap buku tersebut lalu beralih ke dua orang di sampingnya.


"Dan sekarang, dia akan melakukan hal yang sama. Azazil akan mengumpulkan lagi tentaranya yang dulu. Untuk melakukan hal tersebut lagi."


"Tapi Wira, kami nggak mau melakukan hal itu sekarang. Jadi itu bukan masalah, kan?" potong Nayla. Kalimat Nayl membuat Wira tersenyum sinis. Begitulah yang mereka lakukan dulu, menentang semua rencana jahat Azazil, tapi pada akhirnya mereka tetap membantu Azazil.


"Karena ingatan kalian belum kembali sepenuhnya. Kalian masih berfikir seperti itu sekarang. Karena saat seluruh ingatan itu kembali, maka antara kebaikan dan kejahatan itu hanya sebatas benang tipis, Nay."


"..." Nayla tidak paham, hanya terus menatap Wira dengan seribu pertanyaan di kepalanya.


"Ingat! Azazil bisa melakukan apa saja agar kalian mau memihak padanya. Bahkan rela menjadi budaknya," jelas Wira.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Arya.


"Tato yang ada pada kalian, adalah salah satu penangkal dari mereka dan makhluk jahat lainnya. Mereka tidak akan dengan mudah menemukan kalian. Tapi, aku rasa, sekarang mereka mulai mencium keberadaan kalian."


Arya menatap tato dipergelangan tangannya. Mengusapnya sambil mengingat perkataan Nayla tentang tato tato di tubuhnya. "Archangel? Fallen angel?" gumam Arya dalam hati. Ia bahkan terkekeh jika mengingat hal tersebut. Sesuatu yang ia anggap lelucon malah kini benar benar harus diakui kebenarannya.

__ADS_1


"Walau Azazil terkurung, tapi dia bisa mengendalikan orang orangnya melalui pikiran. Dia akan melakukan perang di bumi, lalu setelah bumi hancur, maka langit akan menjadi sasaran selanjutnya. Dengan begitu, neraka akan menguasai seluruh alam semesta."


"Tunggu sebentar! Ke mana Tuhan? Masa sih, Tuhan membiarkan semua itu terjadi? Aneh!" cetus Nayla.


"Tuhan ada. Di sana," tunjuk Wira ke langit. "Tapi DIA tidak akan ikut campur masalah ini. DIA ingin kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan semua yang kita punya. Dan melihat, siapa yang pantas bertahan dan siapa yang harus kalah dalam pertarungan!"


"Maksudmu, nggak ada dari iblis atau manusia yang DIA pilih? Dan saat kita bertarung, DIA akan diam saja?"


"Kalian nggak sadar, kalau dunia makin tua. Kiamat sudah makin dekat. Mungkin ini salah satu cara-NYA untuk menyeleksi."


"Seleksi alam?"


"Dan kita harus saling bunuh?" tanya Nayla masih tidak habis pikir dengan apa yang sedang ia hadapi kini.


"Terkadang begitulah kehidupan. Kita harus berjuang, kan? Jadi gimana? Kalian bersedia membantuku menemukan Azazil dan melenyapkannya, agar semua kekacauan ini berakhir. Dunia akan kembali aman terkendali. Begitu juga langit," tawar Wira menatap dua orang itu satu persatu.


Nayla dan Arya saling lempar pandangan. Lalu mengangguk pelan bersamaan.


Wira membuka halaman awal buku tersebut. Sebuah buku yang ditulis oleh Enoch. Seorang saksi kunci pertarungan malaikat dan para iblis. Enoch dianggap sebagai salah satu malaikat tertinggi serta kerap bertugas sebagai juru tulis setiap kejadian yang pernah terjadi dan akan terjadi. Dan Wira mencuri buku catatan itu dari Enoch.


"Azazil bersembunyi di sebuah makam tua. Untuk dapat ke tempat tersebut, kita harus menyelesaikan beberapa ujian."


"Ujian?"


Wira mengangguk sambil membaca buku tersebut. Tulisan dengan bahasa enochian tersebut cukup fasih dibaca Wira karena memang itu bahasa yang biasa ia pakai dengan sesama malaikat.


"Di sini disebutkan, kalau Azazil terikat kuat di tempat itu. Tempat yang memiliki sebuah kalimat 'Ketika aku bangkit dari kematian, maka dunia akan bergetar'. Tempat itu jauh dari peradaban manusia. Di kelilingi hutan dan beberapa makhluk buas di sekitarnya." Wira menarik nafas panjang. Ia yang tidak mengetahui letak tempat tersebut mulai berfikir keras mencari jawabannya.


"Wira! Maksudmu kita harus membebaskan Azazil, gitu?" potong Arya dengan pertanyaan lain.


"Untuk membunuhnya, kita harus membebaskan dia dulu, Ya."


"Kamu gila?! Membebaskan iblis dan membunuh dia? Bukannya itu bunuh diri, yah?" tanya Nayla yang memang masuk akal.


"Bukannya itu memang masuk akal? Coba pikir, gimana cara kita bunuh Azazil kalau dia ada di dalam kurungan? Karena kita memang harus membunuhnya, menusuk jantungnya atau menebas kepalanya, walau harus dengan bertarung."


"Tapi... Kita? Melawan Azazil?! Kamu gila, Ra?!" pekik Nayla. Gadis itu tau bagaimana sepak terjang makhluk bernama Azazil, melalui buku buku yang ia baca selama ini. Sehingga dia cemas dan ragu akan rencana tersebut. Azazil adalah makhluk yang cukup kuat dan ditakuti oleh beberapa makhluk.


"Eum, bukan itu bagian tergilanya. Aku yakin kalian akan menganggap ku lebih gila setelah mendengar kelanjutan kalimat ini," tunjuk Wira sambil menatap buku di tangannya.


Arya dan Nayla yang penasaran lalu meminta Wira melanjutkan membaca kalimat aneh tersebut.


"Sayangnya bukan kita yang bisa membunuh Azazil," jelas Wira dengan terlihat ragu menatap dua orang di sampingnya itu.


"Lalu?"


"Seorang putra malaikat terkutuk dan Nephilim terakhir di bumi!" katanya dingin. Mendengar hal itu, kedua manusia tersebut saling pandang, bingung.

__ADS_1


"Siapa mereka? Kamu tau?" tanya Arya penasaran. Wira mengangguk pelan.


"Aku sudah ketemu dua orang itu. Salah satunya ... Adalah putra kalian!"


Arya dan Nayla melotot. Kedua bola mata mereka membulat sempurna mendengar kata "putra kalian." Kejutan lain yang disajikan Wira benar-benar membuat jantung mereka terus berdesir bagai ada di wahana roller coaster.


"Apa?! Putra kami? Maksudmu?!" tanya Arya meminta penjelasan lebih.


"Di kehidupan kalian yang lalu, kalian berhasil memiliki seorang putra. Dia sudah tumbuh dewasa sekarang. Bahkan mirip denganmu, Ya." Wira terkekeh sambil mengingat semua sikap Abimanyu yang ia kenal selama ini.


"..." Dahi Arya berkerut dengan kepala yang berdenyut. Sementara Nayla masih melongo tak percaya.


"Hanya dia satu satunya anak yang kalian punya selama beberapa kehidupan yang sudah kalian jalani selama ini. Yah, aku akui, kemarin adalah kehidupan terbaik yang kalian alami. Karena sebelumnya kisah cinta kalian selalu berakhir tragis. Kalian selalu mati sebelum bersatu. Dan biasanya kita akan menjalani hubungan cinta yang rumit." Sangat lucu bagi Wira jika mengingat persaingan di antara dirinya dan Arya dalam mendapatkan hati Nayla.


"Di mana dia sekarang?" tanya Nayla gugup sekaligus penasaran.


"Ada di sebuah desa. Agak jauh dari sini. Eum, sangat jauh lebih tepatnya. Dia anak laki laki yang tangguh. Keras dan hebat. Dia menjalani kehidupannya dengan baik selama ini, walau banyak cobaan yang selama ini mengintainya. Bahkan dia tidak mudah mati, karena dia adalah anak kalian. Dia ditakdirkan hidup abadi. Namanya ... Abimanyu Maheswara."


_______


Nayla memutuskan pindah tempat kos. Ia cemas jika sewaktu waktu anak buah Azazil akan kembali datang menemuinya. Arya pun juga cemas jika terjadi hal buruk pada gadis itu nanti. Mereka kini berada di sebuah penginapan yang sengaja Nayla sewa untuk beberapa hari ke depan, sampai akhirnya dia mendapatkan tempat tinggal yang aman nanti. Sikap Arya sedikit berubah. Tidak lagi sama seperti Arya yang biasanya Nayla kenal.


Malam ini hujan mengguyur kota dengan cukup deras. Membuat Arya terpaksa harus tinggal lebih lama di penginapan karena tidak mungkin dia pulang dengan kondisi cuaca yang demikian ekstremnya. Nayla baru saja membuat dua cangkir teh hangat untuk menghangatkan tubuh keduanya. Sebelum sampai di penginapan, mereka sudah berbelanja keperluan sederhana agar memudahkan Nayla untuk tidak bolak balik keluar. Karena keadaan di luar juga tidak memungkinkan bagi mereka untuk berkeliaran seperti biasanya. Para iblis pasti sedang mencari mereka berdua. Apalagi Adriel sudah tewas, otomatis kawanannya pasti akan mencari keberadaannya. Dan tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui kematian sesama kaumnya.


"Nay ...," panggil Arya dengan kedua tangan memegang cangkir teh hangat. Mereka tengah duduk di karpet bulu yang ada di depan ranjang berukuran king tersebut. Salah satu fasilitas dalam penginapan karena tidak disediakan kursi atau sofa untuk duduk duduk santai.


"Hm?" sahut Nayla sambil menikmati teh hangat di tangannya.


"Keadaan kamu bagaimana?"


"What? Aku? Maksudnya?" tanya Nayla terkejut dengan pertanyaan Arya barusan. Rasanya seperti tersedak teh yang sedang ia minum. Nayla lantas menatap Arya yang sama sekali tidak melihatnya. Hanya sibuk menghitung tiap rintik hujan yang terlihat dari jendela sampingnya.


"Ya perasaan kamu, setelah tau tentang kita dulu."


"Eum, bagaimana ya. Entahlah, Ya. Aku juga bingung. Semua terasa masih abu abu buatku. Aku ingin menganggap ini cuma mimpi atau khayalan yang selama ini memang ada di pikiranku. Tapi ... Semua terasa makin nyata. Apalagi saat aku mengelak dan menganggap semua omong kosong. Dan satu hal yang paling aku ingin tau," potong Nayla lalu menatap Arya yang kini juga menatapnya.


"Apa?"


"Apakah di kehidupan ini, kita juga akan bersama? Eum, maksudku Wira bilang kalau kita akan terus menjalani kehidupan yang sama. Kita selalu bersama di tiap kehidupan selama ini, kan?" tanya Nayla dengan kalimat yang berputar putar dan hampir membuat tawa Arya meledak. Tapi rasanya momen ini tidak ingin ia rusak dengan mencandai Nayla seperti biasanya. Yang akan berujung membuat gadis di sampingnya kesal sambil menunjukkan bibirnya yang mengerucut seperti biasanya.


"Aku juga nggak tau. Mungkin aja sih. Tapi buatku satu yang pasti," tukas Arya tersenyum lalu menatap lagi gadis itu. Nayla yang masih menunggu kalimat selanjutnya hanya diam dengan ekspresi polosnya. "Kalau aku memang suka sama kamu sejak pertama kita ketemu." Arya tersenyum, menatap cangkir teh yang ada di antara kedua lututnya yang sedang duduk bersila. Nayla diam, bagai mematung, terhipnotis oleh kalimat Arya tadi.


"Mungkin ini akan terus berlanjut di kehidupan kita selanjutnya. Dan aku akui, kalau aku memang setuju sama kata kata Wira yang satu ini. Aku memang jatuh cinta sama kamu. Sejak pertama kali aku melihatmu. "


"..."


"Tapi kamu tau sendiri, kan, kalau aku ini orangnya kaku. Dingin bahkan terkesan menyebalkan. Aku sadar, kalau kamu sering kesel sama aku. Aku memang sengaja bikin kamu marah, aku sengaja mencari perhatian, dan aku sengaja buat terus deket sama kamu, dengan berbagai cara. Aku bahkan nggak rela kalau kamu deket atau dideketin laki laki lain. Siapa pun itu, bakal aku hadang. Rian, senior kita, atau bahkan Wira sekali pun. Aku cemburu, Nay. Aku ...." Kalimat Arya terhenti, saat bibir ranum Nayla mendarat mulus di bibirnya. Hangat dan lembut. Bibir mereka saling berpagutan, Arya yang awalnya diam, kini mulai menyambut ciuman hangat Nayla. Hingga akhirnya beberapa detik kemudian, mereka saling melepas ciuman masing-masing. Keduanya masih menempelkan dahi, yang membuat jarak mereka masih sangat dekat. Membuat nafas mereka terasa berembus mengenai wajah masing-masing.

__ADS_1


"Aku juga sayang kamu, Arya. Kamu memang nyebelin. Banget! Manusia terangkuh dan terdingin yang pernah aku temui. " Nayla terkekeh, membuat Arya juga terhipnotis dengan tawa renyah gadis itu. Arya mengusap lembut wajah Nayla yang masih sangat dekat dengannya.


"Kalau memang ini adalah kutukan buat aku, aku rela menjalaninya seumur hidup. Bahkan sampai kiamat sekali pun."


__ADS_2