
Mereka duduk di koridor Rumah Sakit, menunggu jenazah Alan di urus. Allea terus menangis tanpa henti, sementara Ellea berkali-kali menyeka air matanya, sambil tetap menghibur saudara kembarnya itu. Ia terus mengelus punggung Allea lembut, mencoba memberikan dukungan, walau sebenarnya dirinya juga terluka. Tentu semua merasakan kehilangan atas kematian Alan, walau Ellea baru bertemu kakeknya, ia tetap merasakan pedih, sama seperti Allea, sama seperti saat kehilangan orang tuanya beberaoa waktu lalu.
Jenazah Alan akan dibersihkan, mengeluarkan peluru yang tadi bersarang di tubuhnya, kemudian memandikan jenazahnya. Setidaknya mereka ingin tubuh pria tua itu bisa dimakamkan dengan layak, dalam keadaan suci dan bersih.
Suara langkah kaki mendekat, langkah yang terdengar terburu-buru karena pemiliknya tengah berlari menuju kamar jenazah. Mereka adalah Abimanyu dan Vin, yang tentunua baru datang, setelah mengobrak abrik San Paz.
Ellea menghubungi Abi saat mengetahui Alan meninggal dunia. Dirinya yang sudah lebih dulu ada di Rumah Sakit karena menunggu Faizal, juga sangat terkejut saat tiba-tiba melihat Allea menangis sambil mendorong kasur pasien di mana kakek mereka sudah meregang nyawa. Ellea tidak menyangka kalau pertemuan tadi adalah yang terakhir diantara mereka.
Allea menceritakan semua kejadian itu, saat Alan tertembak dan semua tentang Ronal dengan tangis air mata, bagaimana tragedi itu dapat menimpa mereka, itu sangat memilukan. Ellea yang sudah bisa merasakan berita buruk ini sejak ia pergi tadi bersama Faizal, hanya mampu memeluk Allea untuk memberikan sedikit kekuatan. Walau dirinya juga butuh diberi kekuatan.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Abi begitu sampai, ia menatap dua gadis yang masih berpelukan dengan penampilan kacau. Vin yang mengikutinya dari belakang hanya diam sambil menunggu penjelasan dua gadis itu. Saat tadi Ellea menghubungi Abi, gadis itu menjelaskan dengan suara yang tidak jelas, menangis dan berteriak. Khas wanita pada umumnya.
Hanya dua informasi yang mereka mampu tangkap. Pertama Alan meninggal, yang kedua mereka diserang. Tapi siapa yang menyerang mereka berdua belum tau.
Abi merapikan rambut Ellea, lalu memeluknya erat. Berusaha menenangkan gadisnya, ia tau kalau Ellea berusaha kuat untuk Allea. Ia terlihat terus berusaha menahan tangis, tidak bisa lepas seperti yang Allea lakukan. Abi juga menggenggam tangan Allea, ia hanya bisa memberikan perhatian seperlunya saja. Ia lantas melirik ke arah Vin yang masih berdiri menatap mereka bergantian. Seolah paham maksud Abi, Vin duduk di samping Allea. Tanpa mengucap apa pun, ia membalik tubuh Allea hingga berhadapan dengannya. Vin langsung memeluknya, dan tanpa mengucap sepatah kata pun juga.
Ia tau, yang dibutuhkan Allea bukan nasehat atau kalimat motivasi sejenisnya, yang dibutuhkan Allea hanya pelukan.
_____________
"Terus Ronal di mana sekarang?" tanya Abi dengan tatapan dingin, tapi tidak ia tunjukan ke siapa pun juga. Sorot matanya penuh kebencian dan dendam. Ia juga sangat cemas jika Ellea kembali terluka. Ia tidak tau siapa yang harus ia percayai, dan siapa sebenarnya musuh mereka, dan apa alasannya.
"Enggak tau, aku tinggalin gitu saja di apartment Faizal," sahut Allea, datar. Air matanya sudah kering, wajahnya juga sudah terlihat segar.
"Pasti masih hidup dia. Kabur. Nggak ada kan tadi di apartement, waktu kita ambil laptop gue?" tanya Faizal, kesal.
Pemakaman berlangsung hikmat. Hanya ada mereka, dan beberapa anggota mafia yang memang memihak Alan. Alan sudah beristirahat dengan tenang. Tapi konflik ini belum selesai tentunya. Masih banyak misteri yang belum terpecahkan.
"Kalian dapetin flash disk itu, kan?" tanya Faizal. Mereka memutuskan tinggal di rumah Vin dulu. Keadaan tempat tinggal Faizal yang kacau balau, tentu tidak dapat ditinggali untuk sementara waktu.
"Dapat!" kata Vin merogok saku kemejanya dan menunjukkan benda kecil berwarna putih. Ia melemparkan ke Faizal yang berada sekitar 2 meter dari dirinya. "Cek, ada rahasia apa sebenarnya di dalamnya. Sampai-sampai mereka rela membunuh orang lain," pinta Vin, jengah.
Faizal mengangguk, lalu membuka laptop miliknya yang sebelumnya sudah ia ambil dari apartmentnya tadi. Benda kecil itu dimasukkan ke lubang yang ada di kanan laptop Faizal. Mereka pun ikut mendekat, rasa penasaran yang membuncah membuat mereka tidak sabar. Tapi beberapa file terkunci, kata Faizal. "Gue buka dulu sandinya, sabar."
5 menit.
10 menit.
__ADS_1
15 menit.
"Aku bikin kopi dulu deh," kata Ellea, beranjak dari duduk, menepuk-nepuk pantatnya yang sudah menjadi kebiasaannya saat duduk, kapan pun dan di mana pun. Allea menyusulnya. Kini tinggal tiga pria itu saja di ruang tamu. Yah, walau tidak ada pembatas di rumah itu.
"Wah gila, susah banget, damn! Sekian lama gue utak atik, dan dari tadi baru ke buka 1 file?" gerutu Faizal pada dirinya sendiri. Ia menjambak rambutnya kesal, menyenderkan punggung di sofa. Merasa tersaingi karena tidak mudah membuka file ini. Di sisi lain, ia juga tertantang.
"Apa yang sudah terbuka?" tanya Abimanyu, penasaran.
"Itu," tunjuk Faizal ke file yang sudah ia buka. Di sana terdapat daftar penjualan senjata api ilegal yang dilakukan beberapa orang kaya, di berbagai negara. Bahkan di Indonesia. Tidak hanya orang-orang kaya, tapi pejabat negara juga ikut andil di dalamnya.
"Waw, mereka pakai senjata itu buat apa sih?" tanya Abimanyu tak habis pikir. Orang-orang yang selama ini mereka lihat di acara tv sebagai orang terpandang dan berwibawa ternyata membeli beberapa senjata api ilegal dan cukup berbahaya. "Mungkin buat tembak hewan peliharaan kali, Bi," tukas Vin asal. Abimanyu melirik Vin tajam, tapi kembali lagi pada folder lain.
"Ini apa, Zal?" tanya Abi.
"Buka saja," kata Faizal, meraih smartphone miliknya dan membalas beberapa pesan yang sempat ia abaikan tadi. Ia masih kesal dan butuh pengalihan.
"Damn! Gila!" pekik Abi menutup mulutnya sendiri. Vin ikut terkejut sama seperti Abi.
"Eh ada videonya!"
"Adventure game?" tanya Abimanyu dengan dahi berkerut, melihat judul video itu. Ia menoleh ke Vin yang juga menatapnya. Tombol di klik, dan video berputar. Durasi yang cukup panjang untuk sebuah rekaman. 1 jam 30 menit.
"Stop!" Sebuah penampakan seorang wanita yang tiba-tiba tertembak di tengah pesta, membuat acara itu berantakan. Semua orang menguar dan mencoba keluar dari tempat itu. Mereka panik dan histeris. Tapi saat sampai di halaman, dan menaiki mobil, ternyata mobil mereka satu per satu meledak secara acak. Alhasil, mereka terpaksa lari ke arah hutan. Tempat itu ada di tengah hutan, tapi sepertinya cukup sering mereka datangi. Karena mereka tidak tertegun dengan pemandangan sekitar yang sebenarnya cukup bagus.
Kini datang beberapa orang yang memakai topeng. Mulai mengejar orang-orang tadi satu persatu. Jeritan dan erangan terdengar riuh. Tak lama beberapa letusan senjata terdengar di antara semak yang rimbun. Video berhenti. Semua gelap. Tapi di menit selanjutnya, kini semua orang sudah ada di dalam satu ruangan dalam keadaan terikat. Tapi luka tembak pasti ditemukan di beberapa bagian tubuh mereka. Tak hanya pria, wanita juga mengalami nasib yang sama. Ada sekitar 20 orang yang kini terkapar di lantai dengan darah yang terus mengucur dari tubuh mereka.
5 orang bertopeng kini mengelilingi mereka dengan senjata api yang ... tadi mereka lihat di daftar penjualan senjata api ilegal.
"Jangan bilang kalau ...." Belum selesai Abi berucap, lima pria yang tadi memakai topeng dan mengejar 20 orang itu membuka topeng dan memperlihatkan wajahnya. "Gila!" pekik Abimanyu saat mengetahui kalau pembeli senjata ilegal yang tadi mereka lihat, adalah pelaku penembakan itu sendiri. Vin hanya melongo sambil menutup mulutnya. "Astaga Kapten Nicho?!" kata Vin dengan suara pelan.
"Elu kenal?" tanya Faizal.
"Iya pasti kenal. Dia salah satu atasan gue."
Lalu dalam 20 menit terakhir, semua orang di ruangan itu ditembak mati dengan brutal. Bahkan saat orang itu sudah mati, mereka masih menembaknya hingga tubuh mereka hancur lebur.
"Mereka gila, ya?" umpat Abi. Lalu dua orang gadis itu ikut bergabung dengan nampan yang berisi 3 kopi dan 2 cokelat hangat. Mereka diam, dan terus menonton adegan sadis ini lagi. Sebuah permainan gila yang benar-benar nyata di depan mereka. Entah apa niatan mereka membuat video ini dan melakukan hal itu.
__ADS_1
"Gue pernah denger soal permainan ini. Tapi kirain cuma isapan jempol belaka. Ternyata beneran ada, ya?" ujar Vin yang masih tak percaya. Ia berharap kalau apa yang mereka lihat hanya sebuah film fiksi yang tidak benar-benar terjadi di dunia ini.
"Gue juga tau soal ini. Cuma baru tau kalau pelakunya orang-orang ini," kata Vin meneguk kopi yang dibuat Ellea dan Allea tadi.
"Apa yang lu tau, Zal?" tanya Ellea penasaran.
Faizal membetulkan posisi duduknya, dan menatap mereka bergantian dengan tatapan serius. "Ini bukan hal aneh lagi, kalau orang-orang kaya punya pola pemikiran dan hobi aneh. Mereka sengaja bikin game ini, untuk mengejar mangsanya, yang benar-benar manusia, bukan lagi hewan buruan. Yah, untuk mereka buru. Katanya kalau yang mereka buru adalah manusia, maka adrenaline yang didapatkan akan 5x lipat lebih dahsyat daripada memburu hewan," jelas Vin sambil bergidik ngeri, meneguk kembali kopi miliknya yang masih hangat.
"Dan orang-orang yang mereka bunuh adalah pesaing bisnis mereka juga, kan?" tebak Vin.
"Tunggu, siapa pencetus ide gila ini? Gue yakin, ada orang yang koordinir mereka, dan menyiapkan semuanya untuk para orang kaya gila itu," tukas Abimanyu, masuk akal.
Mereka menoleh ke Allea. Allea yang merasa tatapan itu aneh, lantas melotot. "Apa maksud kalian? Kakek nggak pernah melakukan pekerjaan hina macam itu. Kakek memang mafia, tapi masih punya nurani!" bentak Allea tidak terima.
Ellea lantas memegang tangan Allea, mendesis dan mencoba menenangkannya.
"Bukan gitu maksud gue, All. Tapi apa mungkin pelakunya Austin?! Karena dia yang paling ngotot buat ambil flash disk ini, kan?" ujar Faizal menjelaskan dari sudut padangnya sendiri. Ia juga yakin kalau Alan bukan tipe manusia berdarah dingin.
"Itu bener. Dan itu bisa menjadi alasan kuat mereka buat ambil benda ini. Pasti bukan cuma karena jual beli senjata api ilegal saja, kan? Pasti banyak hal lain yang tersembunyi di dalamnya. Zal, lu harus bisa buka semua file ini," suruh Abi dengan menunjuk beberapa kolom yang masih terkunci dengan sandi yang rumit.
"Iya, sabar kali. Kan gue bilang tadi, susah!" omel Faizal.
"Mau makan dulu?" tanya Allea.
"Oh, mau dong. Masakin aku yang enak, ya. Aku lapar," kata Vin dengan sikap dan nada manja. Allea tersenyum, dan segera beranjak ke dapur. Sementara Vin mendapat tatapan jijik dari Abi dan Faizal. "Cowok kok lembek!" sindir Faizal.
"Ya begitu itu kalau udah jatuh cinta!" tambah Abimanyu.
"Oh, mereka pacaran? Bagus dong. Biar ini laki kerja ada gunanya. Kerja nganter nyawa tapi nggak punya bini. Kasian amat hidupnya, heran!" Faizal terlihat kompak dengan Abi dalam mem-bully Vin.
"Heh! Bi! E lu juga, sama Ellea! Dipikir kagak apa?"
"Eh, Biyu nggak pernah bersikap begitu ke aku, ya." Bela Ellea dan menyusul Allea ke dapur.
"Tuh, kan! Cuma elu doang! Budak cinta!" kelakar Abimanyu.
Malam ini, hujan mengguyur San Polo. Semua kejadian buruk yang menimpa mereka, seolah hanyut bersama turunnya air hujan saat ini. Suasana duka masih terasa, tapi Allea sudah berusaha baik-baik saja. Ia merasa beruntung ada di antara mereka semua. Allea menjadi tidak kesepian. Bahkan terkadang celotehan dan aksi saling hina yang tiga pria itu lakukan, dapat menciptakan senyum di bibirnya.
__ADS_1
Ia begitu banyak kehilangan, dan kini, waktunya menjaga apa yang masih tersisa. Ellea, dan sahabat-sahabatnya. Mereka belum selesai. Perjuangan belum berakhir. Perlahan tabir misteri ini akan terungkap satu demi satu. Mengungkapkan siapa penjahat yang sebenarnya, dan keadilan harus ditegakkan. Bahkan kalau Austin benar-benar melakukan kejahatan yang fatal, mereka tidak segan-segan membunuh orang itu. Orang yang bahkan belum pernah mereka lihat sebelumnya. Orang yang sudah menjadi musuh mereka, padahal mereka belum bertemu dengannya.