pancasona

pancasona
Part 95 Rahasia


__ADS_3

Nabila baru memasuki rumah. Melangkah dengan gontai, lalu menghempaskan tubuhnya kasar ke sofa ruang tengah. Dua orang temannya masih sibuk dengan tugas mereka dengan laptop yang masih menyala. Mereka menatap Nabila heran. "Dari mana saja lu?" tanya Ayashi.


"Ada urusan." Nabila menanggapi dengan malas-malasan.


"Bil, makan dulu sana. Tadi gue masak nasi goreng, itu masih satu piring buat elu di meja makan," tukas Sintia dengan mata yang tak lepas dari layar lebar di depannya.


"Oke, thanks." Nabila beranjak lalu berjalan ke dapur untuk melihat hasil karya Sintia. Ia membuka tudung saji dan menaikan sebelah bibirnya. "Lumayan juga tampilannya. Semoga rasanya tidak mengecewakan, ya, Sin," gumamnya menoleh ke ruang tengah. Seolah- olah Sintia mampu mendengar perkataannya. Padahal gadis di ruang tengah itu sedang memakai earphone dengan menyetel musik keras-keras.


Nabila memutuskan mandi terlebih dahulu. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin pasti akan membuat pikirannya kembali segar. Ia hampir frustasi menghadapi segala masalah pelik yang menimpa desa ini.


Nabila menggulung rambutnya yang basah dengan handuk. Masuk ke kamarnya dengan membawa piring yang berisikan nasi goreng buatan Sintia. Ia sangat ingat, beberapa bulan lalu hampir keracunan karena Sintia salah memasukkan garam yang diganti dengan tawas.


Ia mengunci pintu kamar. Menyalakan laptop dan melakukan sebuah panggilan skipe dengan seseorang.


"Dia lolos."


"Dia pasti tau kalau kalian sudah mengetahui jati dirinya."


"Lalu saya harus bagaimana, ketua?"


"Saya yakin, Feliz sudah tewas dibunuh. Tunggu saja kabarnya. Dan temukan dia sebelum ia bertemu target selanjutnya. Kali ini kau harus berhasil, Rose! Jika tidak kita akan kehilangan jejaknya lagi!"


Panggilan berakhir. Nabila mendengus sebal. Ia segera melahap nasi goreng buatan Sintia dengan lahap. Tak peduli apakah makanan ini beracun atau tidak. Yang jelas, dia serasa ingin mati saja. Nabila menyalakan sebuah fitur yang menampilkan sebuah kamar. Kamar Bisma! Sebelum pergi, dia sudah memasang kamera CCTV di beberapa sudut kamar itu. Memantau keadaan di sana dari laptopnya. Ia sangat yakin, Bisma akan pulang.

__ADS_1


Kepala Nabila sudah mendarat mulus di atas meja, Laptop masih menyala dan belum menampilkan apa pun yang ia tunggu sejak tadi. Hingga Nabila tertidur karena rasa penat selama seharian ini. Ah, tidak. Sejak ia bertugas datang ke desa ini. Tidak ada yang tau jati dirinya yang sebenarnya. Bahkan Ayashi dan Sintia sekalipun.


Ponsel Nabila bergetar. Ia segera meraihnya asal, dan menerima panggilan itu tanpa melihat siapa penelponnya.


"Ya?"


"Gue denger elu ditugasin di desa Amethys?" Suara serak di seberang sana, mampu membuat mata Nabila melotot dan membetulkan posisi duduknya. Rasa kantuknya mendadak lenyap.


"Ehem. Memangnya kenapa?" tanya Nabila, berusaha menormalkan nada bicaranya.


"Elu harus bekerja keras, Bil. Jangan sampai lengah. Atau elu nggak bakal bisa pulang."


"Gue pasti bisa. Liat aja nanti."


"Yah, semoga saja."


"Damn! Untung saja gue sayang. Coba kalau enggak, gue lempar ini hape ke tembok. Dasar cowok angkuh!"


Ia menjambak rambutnya, frustasi. Namun seketika matanya kembali membulat sempurna saat melihat pergerakan di layar laptopnya. Walau keadaan gelap, tapi ia mampu melihat seseorang yang masuk ke kamar Bisma. Nabila belum bisa memastikan siapa orang yang sedang mengendap endap di sana. Ia memakai pakaian hitam dengan masker dan topi hitam. Sontak ia segera meraih jaketnya dan pergi keluar.


"Lah mau ke mana, Bil?" tanya Ayashi yang masih terjaga dengan tontonan bola di TV. Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 malam. Namun Nabila tetap pergi sambil menyambar kunci mobil. "Sebentar doang. Mau ... beli pembalut. Gue dapet!" kata Nabila berbohong.


"Ya udah gue temenin, ya."

__ADS_1


"Eh nggak usah. Kasihan Sintia nanti sendirian. Kalau ada apa-apa bagaimana?"


"Lah tapi elu juga kan ...."


"Gue nggak apa-apa. Percaya deh, Yash. Pergi dulu, ya." Nabila hilang dari balik pintu. Ayashi hanya melongo melepas kepergian Nabila. Dan kembali pada tontonan bola yang sejak tadi ia saksikan.


Nabila mengemudi dengan kecepatan penuh. Ia berusaha secepat mungkin sampai di rumah Bisma. Upaya untuk menangkap pelaku pembunuhan berantai ini harus segera dilakukan. Jangan sampai lepas lagi, karena ia tengah mengemban misi khusus.


Nabila sampai di dekat rumah Bisma. Ia sengaja parkir agak jauh dari rumah itu, agar kehadirannya tidak terendus targetnya. Nabila mulai menyiapkan segala sesuatunya. Ia juga memakai masker untuk menutupi identitasnya. Tak lupa senjata yang ia punya. Sebuah dessert eagle mark XIX buatan Amerika ini memang selalu ia bawa. Setelah mengisi dengan peluru, Nabila lantas berjalan mengendap endap ke rumah Bisma.


Rumah itu sudah gelap. Hanya lampu di teras saja yang masih menyala. Nabila lantas mulai memanjat tembok. Ia cukup cekatan hingga dalam sekejap tubuhnya sudah berada di jendela lantai dua. Ini adalah jendela koridor yang menghubungkan dengan kamar Bisma. Nabila membuka jendela itu pelan. Beruntung tidak di kunci dari dalam. Kaki mulai menapaki lantai yang terbuat dari kayu ini. Perlahan tapi pasti, ia segera menuju kamar Bisma.


Terdengar suara gaduh dari dalam kamar. Nabila langsung membuka pintu dan merangsek masuk ke dalam. Seketika itu juga, seorang pria di dalam menyerang Nabila dengan brutal. Mereka terlibat perkelahian yang cukup sengit. Nabila rupanya pandai bela diri.


"Berhenti!" jerit Nabila sambil mengacungkan senapannya ke atas. Pria yang masih mengenakan masker itu diam saat dirinya akan melompat dari jendela kamar. Ia menoleh sedikit, dan dapat dengan jelas ia lihat kalau di tangan Nabila ada sebuah pistol yang mampu membunuhnya seketika. "Berhenti atau aku tembak!" ancam Nabila serius.


Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menodongkan senjata di kepalanya. Nabila diam, dan melirik untuk mencari tau siapa orang yang ada di belakang. "Letakan pistolmu!" suruh orang yang berpenampilan sama seperti yang ia todongkan pistol di depannya. DI saat yang bersamaan, orang yang dia fikir adalah Bisma, melompat dari jendela ke bawah. Hal itu membuat perhatian mereka teralih pada jendela yang pecah di sana. Kesempatan ini tidak ia lewatkan begitu saja. Nabila berbalik dan kini mereka berdua saling menodongkan pistol. Namun sebuah suara tembakan di luar membuat Nabila menutup telinga, dan membuat orang di depannya kabur begitu saja. "Ah, sial!" umpat Nabila dan berlari ke arah tangga mengejarnya.


Orang itu berlari ke hutan. Nabila terus mengejarnya. Sampai ia melihat dua orang yang sedang berkelahi. Nabila berhenti sebentar, ternyata Abimanyu dan seorang pria bermasker. Abi menoleh ke Nabila. " Kejar yang satunya!" jerit Abimanyu menunjuk ke arah belakangnya. Nabila mengangguk dan melanjutkan berlari mengajar targetnya yang lain.


"Berhenti!" raung Nabila sambil menodongkan pistol. Tak lama bunyi letusan senjata terdengar dan membuat kebisingan di dalam hutan. Lari orang itu justru makin cepat, hingga Nabila akhirnya menembak kaki kanannya. Dan, tepat sasaran. Ia terperosok jatuh. Mengerang namun tetap berlari. Hingga ia sampai di ujung pulau. Pria itu menoleh ke arah Nabila yang makin lama makin dekat. "Hei mau apa lo?! Berhenti!"


Namun ia justru menjatuhkan diri ke jurang yang menghubungkan langsung dengan laut. Nabila kecewa sekali. Ia bahkan meraung sambil merutuki dirinya sendiri, menatap hamparan air laut yang sudah membawa tubuh tadi hilang.

__ADS_1


"Sudah. Jangan disesali. Kita berharap aja kalau dia tewas kena karang di bawah sana," ujar sebuah suara yang sangat familiar di telinganya. Abimanyu masih berdiri di sampingnya, ikut melihat ke bawah tebing. Dengan suara bisik ombak yang memecah batu karang. Yah, semoga dia mati. Walau mereka tidak tau siapa orang tadi. Yang jelas, dia dan Bisma satu komplotan.


______


__ADS_2