pancasona

pancasona
Part 27 Dagon


__ADS_3

Hawa dingin membuat tubuhku makin nyaman bergelung dengan selimut. Dari atas kepalaku terasa angin yang berembus cukup kencang. Membuat rasa dingin ini makin gencar kurasakan. Sinar matahari perlahan mulai mengganggu acara tidurku. Apalagi dengan suara obrolan Tante Rani dan Tante Jean, aku sadar kalau ini sudah pagi. Tapi aku masih mengantuk.


"Bil ... Nabila. Ponsel kamu bunyi tuh." Suara Tante Jean membuat aku kembali dari alam mimpi dan mengerjap. Perlahan membuka mata dan berusaha meraih benda pipih yang sejak tadi bergetar di atas meja nakas samping ku.


Kak Rayi!


"Ya halo?"


"Pagi, sayang," sapa sebuah suara dari seberang.


"Pagi banget sih nelpon nya," gerutu. ku sebal. 


"Eh, pagi banget? Hei sayang, ini udah jam berapa coba? Lihat tuh! Ish, pasti belum bangun, dan masih bau iler nih!"


Aku lantas menatap layar ponsel ini dan membelalak. "Astaga! Jam 8!" setuju, langsung duduk di kasur dengan rambut acak-acakan. Lantas menyapu pandang sekitar. Tante Jean dan Tante Rani terkekeh menatapku. Mereka terlihat sudah segar dengan rambut yang basah habis keramas.


"Tante ... Kok aku nggak dibangunin?" tanyaku sedikit merajuk.


"Habisnya kamu tidurnya nyenyak banget, Bil. Jadi kami nggak tega banguninnya. Apalagi semalem kamu banyak mengigau."


"...."


"Halo? Nabila? Sayang?" Jeritan Kak Rayi membuatku tersadar kalau ada seseorang di seberang sana yang sedang aku lupakan keberadaannya.


"Eh. Iya, kak. Gimana?" Kembali layar pipih ini kudekatkan ke telinga.


"Buruan mandi. Sarapan. Aku sekolah dulu."


"Eh, iya. Udah di sekolah ini, kan?"


"Udah, tapi Bu Helina belum datang."


"Oh, oke. Ya udah, aku mau mandi dulu ya. Bye, Kak Rayi."


"Iya, bye Nabila sayang."


Telepon diakhiri. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sungguh menyegarkan udara pagi hari di tempat ini. Jendela kamar seolah menjadi magnet dan membuat tubuhku otomatis berjalan ke sumber cahaya di kamar ini. Angin dingin menerpa kulit wajahku, segar dan menyejukkan. Aku memejamkan mata, merasakan tiap sensasi dingin yang ditawarkan semesta.

__ADS_1


"Ih, anak gadis malah diem aja di depan jendela. Mandi, gih!" kata Tante Rani.


"Dingin ah, tante. Pasti airnya kayak es!" elakku malah memeluk tubuhku sendiri. Rasanya udara seperti ini lebih cocok untuk menikmati secangkir teh hangat sambil memandang suasana hutan di sana. Yah, suasana hutan di depan. Kini senyumku justru pudar saat mengingat bagaimana mencekamnya kehidupan di luar sana semalam. "Eum, Papa di mana, Tante?" tanyaku menatap kedua wanita dewasa yang sedang membahas perihal kematian Om Dewa kemarin.


"Ada itu di teras." Tante Jean menunjuk ke arah luar dengan dagunya. Karena kedua tangannya tengah memegang cangkir berisi teh hangat. Aroma melatinya terasa begitu pekat.


"Kita pulang kapan, tante?" tanyaku lagi.


"Eum, kalau nggak salah kita harus di sini tiga harian, Bil. Opa Hans ingin di sini dulu, selagi acara tahlilan untuk Om Dewa digelar. Jadi minimal tiga hari lagi kita pulang," jelas Tante Jean. " Kasihan juga Tante Rani, kalau nggak ada teman di sini, kan?" Dan kalimat terakhir itu membuatku maklum. Memang sepanjang aku melihat, posisi tante Rani seperti tidak ada apa-apanya di sini. Padahal dia adalah istri sah Om Dewa.


"Aku cari Papa dulu." Telapak kakiku mulai menginjak lantai kayu, dingin seperti berembun. Begitu keluar kamar, suasana di koridor tampak ramai, beberapa sanak saudara Om Dewa lalu lalang. Dari ibu-ibu paruh baya, anak kecil sampai orang tua. Aku terus mencari di mana keberadaan Papa. Suaranya mulai terdengar saat aku berjalan menuju ruang tengah. Rupanya mereka ada di halaman depan.


Asap rokok seolah menyamarkan keberadaan mereka, namun begitu aku muncul dari balik pintu, Papa segera mematikan rokok di tangannya lalu mendekat. "Pagi, sayang. Udah bangun?" tanya Papa lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku hanya pasrah sambil menikmati momen yang jarang sekali terjadi. Aroma parfum Papa yang bercampur asap rokok nya, justru membuatku merasakan kedamaian.


"Pagi, Pa. Baru saja." Pelukan dilepaskan, aku lantas menatap Om Gio dan Opa Hans yang sedang berdiskusi serius. "Lagi bahas apa? Serius banget?" tanyaku segera.


"Eum, kami lagi bahas soal kematian Om Dewa."


"Memangnya kenapa, Pa? Ada yang nggak beres?"


"Aku ...."


"Nggak boleh ikut. Kamu harus di sini sama Tante Jean dan Tante Rani. Mereka butuh bantuan kamu di sini. Karena selama satu minggu, akan ada acara berdoa bersama untuk Om Dewa."


Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar. "Oke?" tanya Papa menegaskan.


"Yeah, Oke," aku menyahut pasrah namun rasanya tidak rela jika pembagian tugasnya seperti ini. Apa karena aku perempuan? Ah, tindakan diskriminasi sekali.


___________________


Kini aku berada di ruangan yang telah berhasil memberikan mimpi buruk nyata semalam. Dapur. Yah, memang tugas wanita adalah berkutat di dapur. Akan banyak makanan yang dimasak untuk acara nanti malam. Di sini hampir semua wanita berperan dengan tugas masing-masing. Mengupas bawah, memotong, memilih sayuran, atau bagian potong memotong daging atau ayam. Aku hanya diam sambil menyaksikan para wanita dewasa itu meracik makanan dengan obrolan khas wanita seumuran mereka.


"Bil, kamu ikut Zahra saja cuci perkakas untuk nanti malam," tunjuk Tante Rani ke sebuah kotak berisi piring dan gelas melamin yang cukup banyak. "Ke sungai aja, airnya jernih. Tempatnya luas, kamu pasti suka." Tante Rani menatap seorang gadis yang seumuran denganku yang baru aku tau namanya Zahra. Kepala terangguk dengan otomatis. Rasanya pekerjaan yang diberikan Papa tidak menyenangkan. Aku lebih suka jika pergi bersama mereka bertiga tadi.


Zahra mulai berjalan lebih dulu, sambil membawa kotak tersebut. Memang tidak berat karena bukan terbuat dari barang pecah belah. Rupanya sungai yang dimaksud Tante Rani cukup jauh dari rumah. Di sepanjang perjalanan hanya barisan pepohonan yang aku lihat. Zahra selaku tour guide memberikan penjelasan serta pengalamannya selama tinggal di tempat ini. Rupanya dia cukup ramah, dan baik.


Suara riak air terdengar. Aku mulai antusias karena ingin melihat bagaimana pemandangan sungai seperti apa yang dijelaskan oleh Zahra tadi. "Nah itu dia!" tunjuk Zahra ke bawah kami. Satu kata yang mampu aku deskripsikan saat melihat barisan air jernih di bawah kami. "Wow."

__ADS_1


Zahra segera berlari kecil ke bawah, melewati jalanan berbatu dengan lincah. Aku mengikuti dengan rasa bahagia yang sudah membuncah. Sampai di tepi sungai, aku segera mengikutinya. Alhasil kami bermain air, saling siram dan berpegangan tangan melawan derasnya arus.


"Ra, bagaimana tinggal di desa? Seru, ya?" tanyaku saat kami sedang mulai mencuci perabotan tadi.


"Yah, gini lah, Bil. Seru sih. Tapi setiap tempat, entah desa atau kota pasti ada plus dan minusnya."


"Emangnya minusnya tinggal di desa apa, Ra? Perasaan sinyal hand phone masih bisa masuk," sahutku menebak dengan sok tau.


"Iya. Justru kami nggak begitu tertarik sama gadget, kadang aku ingin ke kota itu buat nonton bioskop atau jalan-jalan ke mall. Di sini jauh, Bil."


"Oh iya juga. Tapi kalau aku tinggal di desa kayaknya betah deh. Bisa main air di sungai gini, seru banget!" kataku antusias.


"Iya kalau matahari muncul mah, seru. Tapi kalau matahari udah tenggelam ya ... serem," kata Zahra berbisik.


Kalimatnya langsung menarik perhatianku. Rasanya ini saat yang tepat membahas kejadian semalam yang aku alami. "Eum, Ra. Memangnya kamu sering mengalami hal serem?" tanyaku ragu.


"Iya lumayan, Bil. Apalagi di desa kami ini kan cukup jauh dari jalan, banyak pohon dan tempat yang memang angker. Sebulan lalu aja, ada kuyang yang melintas. Huh. seram!"


"Eh, kalau mariaban? Pernah lihat?" tanyaku.


"Oh, belum sih, cuma memang kata Ibuku kadang suka muncul di malam tertentu, makanya kami nggak boleh keluar malam-malam."


Aku diam dan mencoba mencerna kalimatnya. Berarti sosok semalam memang sudah biasa berkeliaran di sini. Jadi aku tidak perlu membesar-besarkan masalah ini.


"Eh, kata bapak ... semalam kamu diganggu?" tanya Zahra antusias. Aku menatapnya lalu mengangguk pelan. "Kayak gimana sosoknya?" tanyanya antusias.


"Nenek nenek. Mirip manusia biasa sih. Aku pikir saudara kalian. Jadi ngga berpikir kalau itu hantu."


"Oh, jangan-jangan Nek Sanja."


'Nek Sanja siapa?"


"Dia itu leluhur kami. Memang sering menampakkan diri, kadang justru dia muncul karena mau melindungi anggota keluarga. Mungkin semalam ada yang mau ganggu kamu, jadi Nek Sanja datang."


"Hm, mungkin sih."


Bunyi kepakan sayap di atas mengalihkan perhatianku. Aku mendongak dan mendapat sesuatu melintas di atas kami. Sesuatu yang besar, dan rasanya sama seperti yang aku lihat sebelumnya. "Dagon!" sebuah suara terdengar nyaring di telingaku. Suara wanita yang sudah berumur. Aku lantas menyapu pandang sekitar, di salah satu pohon besar tak jauh dari kami, ada seseorang yang sedang bersembunyi. Wanita tua, seperti ... Nek Sanja?!

__ADS_1


__ADS_2