pancasona

pancasona
Part 117 Murano


__ADS_3

Selimut menutupi tubuh Abimanyu, di dalamnya ada tubuh lain. Ellea. Mereka masih terlelap dengan posisi berhadapan. Abi memeluk Ellea begitu juga Ellea yang terlihat sangat nyaman ada di dekapan Abimanyu. Sinar mentari sudah mulai tampak di ufuk timur. Semilir angin masuk melalui celah-celah jendela dan lubang angin. Jendela kaca yang tidak tertutup korden sepenuhnya, mulai kedatangan mentari pagi yang menghangatkan.


Suara ketukan di pintu membuat Abimanyu mengerjapkan matanya, ia mencium bau wangi dari pucuk kepala Ellea, hal itu membuat Abi makin menenggelamkan tubuh mungil Ellea ke dalam dekapannya. "Bi? Udah bangun lu?" Suara dari luar terdengar samar, tapi Abi yakin kalau itu suara Vin.


"Sebentar!" kata Abi sambil terus memperhatikan wajah Ellea yang masih terlelap. Ia melepaskan dekapannya sendiri dan perlahan menjauh, turun dari ranjang. Abi mengecup kening Ellea lebih dulu, sebelum menyusul Vin di luar.


Pintu dibuka, Abi menoleh terus ke gadis yang kini ada di atas ranjangnya. "Apa?"


"Ellea belum bangun? Itu dipanggil sarapan. Bangunkan sana, suruh sarapan dulu. Habis itu tidur lagi nggak apa-apa." kata Vin lalu pergi begitu saja.


Abi mengacak-acak rambutnya yang memang berantakan karena bangun tidur. Menatap tubuh mungil gadis di ujung sana, masih terlelap dengan suara dengkuran tipis. Kejadian semalam masih terngiang jelas di ingatannya. Tatkala Ellea menjerit saat tertidur, Abi dan Vin yang belum terlelap saat itu sontak terkejut dan mendapati Ellea sedang menangis di atas tempat tidurnya. Abi mendekat dan segera memeluk gadis itu. Ellea membuka matanya dan mencurahkan kegelisahannya selama ini. Mimpi buruk yang terus mengganggunya membuat Ellea tidak bisa tidur dengan nyenyak.


"Ya sudah, ajak saja dia tidur sama elu, Bi. Mungkin bisa lebih tenang nantinya," kata Vin.


Sepanjang malam, Abi tidak lagi mendengar Ellea menjerit karena mimpi buruk. Bahkan gadis itu benar-benar terlelap sampai pagi. Justru Abi mendengar dengkuran halus dari mulut Ellea. Hal itu membuatnya tersenyum lega. Ia putuskan untuk tidak membangunkan Ellea dulu. Mungkin satu atau dua jam lagi dari sekarang baru ia bangunkan. Ia lantas keluar kamar untuk sarapan.


"Loh Ellea mana?" tanya Allea yang sedang menata meja makan.


"Masih tidur. Biarkan saja dulu. Kayaknya dia lama nggak bisa tidur senyenyak itu," sahut Abi yang ditanggapi anggukan Allea. Ia lantas mengambilkan piring dan menyiapkan sarapan untuk pemuda itu.


"Ronal mana?"


"Sudah berangkat ke coffe shop."


"Oh. Kupikir dia libur. Terus soal orang yang ingin ketemu kalian berdua bagaimana?" tanya Abi menatap Allea."


Gadis itu yang sedang meneguk susu hangat miliknya, lantas menatap dingin ke arah Abi, "Entah lah. Sebenarnya aku ragu. Tapi juga penasaran. Bagaimana kalau ternyata dia salah satu orang yang ingin bunuh aku, dan Ellea?"


"Tapi bagaimana juga kalau ternyata justru dia tau ada misteri apa di balik semua ini. Gue yakin ada rahasia besar di sini. Dari cerita Ellea, dia dikejar sejak di California, dan sampai di sini pun juga sama. Kau juga. Mereka ingin membunuh kalian, dan mereka tau kalau kalian kembar," tegas Vin mencoba menganalisis dari pemikirannya sendiri.


"Hey! Alamat itu! Yang di foto!" seru Abimanyu.


"Exactly!" ucap Vin, dengan mata berbinar.


"'So ... are you ready?" tanya Abi seolah memimpin perang.


"Eh tunggu. Ellea?" tanya Allea yang berpikir bahwa mereka akan pergi sekarang dan meninggalkan Ellea yang masih tertidur.


"Ya tunggu Ellea bangun nanti. Sarapan dulu," suruh Abi pada dua orang di depannya sekarang. Langkah kaki pelan terdengar karena sendal bulu yang dikenakan Ellea, bunyi berdecit yang terjadi antara sendal karet dan lantai itu saling bersinggungan dan membuat mereka menoleh. "Ell? udah bangun?" tanya Abi lalu beranjak mendekati gadis itu. Wajahnya khas orang bangun tidur. Rambut Ellea berantakan, kemudian dirapikan oleh jemari tangan Abi. "Kebetulan. Kita sarapan dulu, ya," ajak Abi menggandeng Ellea ke meja makan.


"Pagi semua," sapa Ellea dengan senyum tipis pada Vin dan Allea.


"Pagi, Ell," sahut mereka bersamaan.


"Nyenyak?" tanya Vin sambil mengoles roti tawar. Gadis itu menanggapi dengan anggukan, matanya masih setengah terpejam, menandakan rasa kantuknya masih tertinggal di kedua kelopak mata.


"Ell, are you oke? Katanya kamu mimpi buruk semalam?" tanya Allea, cemas.


Ellea tak langsung menjawab, ia tersenyum, lalu mengulurkan tangan kanannya, dan menggenggam tangan Allea, "Aku nggak apa-apa kok. Jujur, tadi malam, malam terbaik yang pernah aku rasakan. Selama ini aku nggak bisa tidur nyenyak. Sejak mereka mulai datang, aku nggak bisa tidur sebagaimana mestinya. Tapi ... tadi malam, aku merasa aman, karena ada kalian."

__ADS_1


Allea membalas genggaman tangan Ellea dengan menangkupkan tangan kanannya dan menggenggam tangan Ellea, erat. "Kamu sekarang nggak sendiri lagi."


Suasana yang sungguh haru, Vin sampai-sampai menyentuh ujung ekor matanya karena takut ketahuan menangis. Abi lantas mencairkan suasana dengan mengambilkan piring Ellea, "Sarapan dulu. Nanti habis ini kita ke rumah itu."


"Rumah yang mana?" tanya Ellea tidak mengerti.


"Yang ada di alamat foto bayi kita, Ell," jelas Allea.


_________


"Murano?" tanya Vin saat kembali membaca alamat di foto itu.


"Kenapa, Vin?" tanya Abi yang kini duduk di samping Vin. Mereka bersiap untuk pergi dengan mengendarai mobil Vin.


"Ini lumayan jauh, Bro. Ini mah di luar San Marco, Murano itu ...."


"Pulau," sahut Allea dengan tatapan datar. Abi dan Vin menoleh ke gadis yang duduk di jok belakang mobilnya.


"Kok tau?"


"Entah kenapa, ada bayangan tempat itu. Namanya Murano, papan di depan bangunan itu," sahut Allea, menelusuri ingatan yang tiba-tiba muncul begitu saja.


"Fine. Seenggaknya ada sedikit petunjuk. Mungkin kalau kita sampai sana, ingatan lu bisa balik, All," kata Vin, bersemangat.


Selama perjalanan mereka banyak membahas hal-hal yang tidak mereka alami bersama. Dari kejadian kasus di desa Abi, yang membuatnya hampir berkali-kali mati, walau Vin dan Ellea tau dia tidak akan mati, pengalaman Vin di beberapa negara konflik, dan Ellea dengan segala kisah menegangkannya. Allea hanya tersenyum menyimak semua kisah itu. Ia tidak bisa menceritakan apa pun karena tidak ada hal bisa ia ingat.


Setelah bertanya-tanya pada warga sekitar, kini mereka sampai di sebuah bangunan yang cukup jauh dari pusat kota Murano. Rumah dengan design klasik. Bahkan termasuk bangunan tua di tempat ini. Mereka melewati gang dengan deretan rumah dengan batu bata tanpa cat. Natural namun indah dipandang mata.


"Murano," gumam Allea menatap papan dengan tulisan nama tempat ini. Sama seperti yang ada di ingatannya beberapa saat lalu. Dan mereka yakin kalau ini adalah tempat yang tepat. Allea melangkah lebih dulu. Bangunan ini cukup besar, dengan beberapa jendela yang terlihat dari luar.


Ia mengetuk pintu itu dengan besi yang menempel di tengah pintu. Mungkin memang fungsinya untuk mengetuk pintu kayu tebal ini. Beberapa kali pintu ini diketuk, tak membuat suara atau pergerakan apa pun di dalam. "Sepi," ucap Allea menoleh ke tiga orang di belakangnya.


Vin maju, kini ia tidak sabaran, dan menggedor-gedor pintu itu keras-keras. Abi menarik nafas panjang dan memperhatikan sekitarnya. Tempat ini di kelilingi bangunan lama. Entah kosong atau memang masih berpenghuni, ia hanya merasa tempat ini aneh. Firasatnya mendadak berubah menjadi kecemasan. Tempat ini bahkan terlalu sunyi untuk sebuah tempat ramai seperti Murano. Murano yang ia tau, juga salah satu tempat wisata di Venesia. Beberapa kali mereka berpapasan dengan wisatawan dari berbagai negara, bahkan banyak orang Asia yang berkunjung ke tempat ini.


Jangankan manusia, angin saja terasa takut untuk menyusup ke daerah ini. Abi melihat titik aneh di tubuh Vin. Titik merah yang pernah ia lihat sebelumnya. "Penembak runduk!" seru Abi mendorong Vin dan Ellea maju. Allea yang berada di depan pintu lantas malah membuat pintu ini terbuka karena dorongan tadi. "Masuk!" seru Vin.


Mereka masuk ke bangunan itu. Gelap. Ruangan ini gelap dan hanya ada beberapa lampu remang di titik sudut saja. Tak mampu membuat tempat ini terang seperti keadaan di luar. Lampu di sini kuning, mirip bohlam jika di Indonesia. Tapi bentuknya indah dan terkesan mewah. Mereka baru sadar kalau tempat ini unik. Banyak benda yang memiliki nilai ekstektika tinggi. Penuh dengan seni dan pasti mahal. Beberapa lukisan terkenal menempel di dinding.


"Gaes," seru Vin saat melihat sebuah foto keluarga. Mereka mendekat dan ikut terkejut melihat apa yang ada di sana.


Sebuah keluarga dengan formasi yang lengkap. Kakek, Nenek, sepasang suami istri dengan dua bayi yang memakai pakaian sama, alias kembar.


"Apa itu kalian?" tanya Abi menunjuk dua bayi yang ada di foto.


"Mungkin," sahut Allea.


"Tapi mereka bukan Papah dan Mamahku. Siapa mereka?"


Allea diam. Beberapa siluet tergambar samar diingatannya. Suaranya saat masih kecil, nyaring dan cerewet, tengah bermain dengan seorang kakek. Mereka ada di sebuah tempat lapang dengan keduanya yang sedang memegang senapan. Allea bertanya ada kakek itu, bagaimana cara menembak dengan tepat. Karena baru saja sang kakek menembak burung yang terbang dilangit dengan tepat, tapi kakek hanya menembak satu sayapnya saja. Allea yang tidak percaya lantas berlari mengambil burung yang jatuh di tengah arena menembak itu. Ia bersorak dan tidak percaya kalau kakek itu benar-benar menembak satu sayap burung itu dengan tepat. "Kakek hebat, Allea ingin belajar menembak seperti itu," seru Allea bersemangat.

__ADS_1


"Kakek," gumam Allea, ia menjauh dan pergi dari ruangan itu. Seolah tau seluk beluk tempat ini, Allea terus berjalan menyusuri koridor ruangan demi ruangan. Tempat ini luas, hingga Ellea dan yang lain harus berlari kecil untuk bisa menyusul Allea. "Tunggu, All," jerit Ellea diikuti Abi.


Allea sampai ke sebuah tanah lapang, tempat ini adalah arena tembak seperti yang ada di ingatannya. Dan perlahan ingatan itu pulih satu persatu. Kepala Allea berdenyut, saat memaksakan mengingat lebih banyak kejadian di rumah ini. "Kamu nggak apa-apa, All?" tanya Ellea memegangi lengan Allea yang terhuyung hampir jatuh. Allea memegangi kepalanya. "Duduk dulu," ajak Ellea membawa Allea duduk di kursi dekat arena tembak.


"Aku mulai ingat beberapa potongan memoriku di sini. Tapi saat aku coba buat mengingat lebih banyak, kepalaku sakit, Ell." Ellea memeluk saudaranya, mengelus punggung Allea dengan lembut.


"Pelan-pelan saja, ya, All. Jangan terlalu dipaksakan," ujar Ellea.


Suara langkah seseorang yang tengah berlari di koridor, membuat perhatian Abi teralihkan. Ia menyipitkan mata untuk melihat dan meyakinkan dirinya sendiri kalau orang itu adalah Vin yang memang sejak tadi masih ada di ruangan awal mereka masuk.


"Huh. Gila gue ditinggalin!" sergah Vin, nafasnya ngos-ngosan, kedua tangannya bertumpu di lutut, mirip posisi ruku dalam salat.


"Lah bengong aja sih elu. Si Allea juga tiba-tiba ke sini, takut ada apa-apa makanya gue sama Ellea nyusulin," kata Abimanyu, santai. Melipat kedua tangannya di depan dada.


"Terus nggak mikirin kalau gue yang kenapa-napa gimana?" protes Vin.


"Yaelah, prajurit tempur masa takut ngadepin penjahat?" ejek Abi dengan mengikuti posisi seperti Vin.


"Heh, prajurit juga kalau kena peluru mati! Emang elu!" sindir Vin. Ia lalu menatap Allea yang masih memegangi kepalanya. "Kenapa?" tanya Vin menunjuk Allea dengan dagunya.


"Pusing. Kayaknya ingatan dia mulai dateng," sahut Abi.


"Gue tau sesuatu!" kata Vin yang membuat mereka semua menatapnya penuh harap.


"Apaan?" tanya Abi penasaran.


"Gue tau siapa orang yang ada di foto keluarga itu," tunjuk Vin ke arah ruangan tadi.


"Siapa?"


"Alan Cha! Ketua gangster Wah Ching!"


Dahi Abimanyu berkerut, " Elu yakin, Vin?"


"Yakin banget. Gue pernah ketemu dia pas di Yordania. Dia gengster berbahaya. Dia sama Austin ribut besar. Tim gue sampai ada yang meninggal buat menghentikan perkelahian antar geng itu," terang Vin.


"Elu bilang siapa? Austin? " tanya Ellea yang sangat familiar dengan nama itu. Vin mengangguk.


"Austin, kan, yang culik gue kemarin! Dia yang ingin bunuh gue!"


"Ini jelas. Austin dan Alan Cha adalah musuh bebuyutan, Austin mau bunuh semua anggota keluarga Alan Cha, makanya kamu diincar mereka, Ell," analisis Abimanyu terdengar masuk akal. "Jadi itu menjelaskan satu hal juga," kata Abi, melanjutkan perkataannya.


"...."


"Kamu bukan anak kandung Pak Adrian dan Ibu Ruth," kata Abi menatap Ellea nanar.


Jantung Ellea berdesir mendengar kalimat itu. Ia tidak menyangka jika kalimat Abi benar-benar kenyataan pahit yang harus ia terima. Orang tua yang selama ini Ellea yakini adalah orang tua kandungnya, ternyata adalah orang lain. Ellea menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Nggak mungkin," ucapnya pelan.


Abi mendekat. Menggenggam kedua tangan Ellea yang sedang meremas ujung bajunya sendiri di atas lutut. "Ell, ini baru kemungkinan. Karena nggak mungkin foto kamu ada di sini, dan alasan apa yang lebih masuk akal, tentang Austin yang bersikeras mau membunuh kamu selama ini?" tanya Abi, mencoba menguatkan hati Ellea dan membukakan pikiran gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2