pancasona

pancasona
Part 103 serangan


__ADS_3

Mereka sampai di rumah Mahesa. Tak perlu memakan waktu lama, rumah bercat kuning gading itu kini sudah ada di hadapan mereka. Tapi rumah itu terasa sunyi, bagai rumah kosong tak berpenghuni. Abi, Nabila, dan Rizal turun untuk memastikan keadaan di dalam.


"Sepi," ujar Rizal sambil tengak tengok ke sekitarnya. Nabila melongok ke dalam, jendela yang kordennya tersingkap membuat ia lebih leluasa memeriksa ke dalam. Nabila memutar kenop pintu, tapi ternyata pintu ini terkunci. "Gue cek ke belakang," kata Abimanyu berlalu.


Dan benar saja, rumah Mahesa sepi tak berpenghuni. Tidak ada tanda kehidupan di sana. Akhirnya mereka sepakat pergi.


"Gimana Gio sama Adi? Mereka ada hasil di rumah Yudis?" tanya Nabila ke Abimanyu yang duduk di depan, samping Rizal.


"Belum ada kabar," jawab Abi, menatap benda pipih yang sedang ia genggam.


Ridwan yang bertugas mencari Rama di rumahnya, juga belum ada kabar apa pun. Ia yang menyadari kalau nyawa adiknya juga sedang diincar pembunuh, lantas menawarkan diri menjadi pengikut Abi untuk menemukan orang-orang yang bertanggung jawab atas kasus-kasus yang terjadi selama ini. Kini mereka berkumpul di cafe. Cafe Pancasona menjadi markas mereka sekarang.


"Mereka nggak ada di rumah masing-masing," kata Nabila yang duduk di samping Rizal, tangannya bertumpu di lutut Rizal, dengan postur tubuh menghadap ke teman-temannya. Rizal dan Nabila sudah lama menjalin hubungan. Bahkan sejak mereka masih mengenyam pendidikan polisi beberapa tahun lalu. Nabila yang cuek sangat cocok dengan Rizal yang perhatian. Rizal juga tidak suka mengekang semua keputusan Nabila, dan itu yang membuat Nabila menyukainya. Hanya saja mereka tidak suka memamerkan kemesraan mereka secara terang-terangan. Bahkan kerap kali dua orang itu justru terlihat tengah bertengkar atau beradu mulut. Padahal itu cara mereka menunjukkan kemesraan satu sama lain.


"Itu berarti mereka sudah tau kalau kita mencari mereka," sahut Adi.


"Mereka pasti berkumpul di suatu tempat sama seperti kita," tukas Abimanyu, yakin.


"Kira-kira mereka ke mana?" tanya Ridwan.


"Eh, Wan, Maya di mana?"


"Aman, Bang."


"Jangan aman-aman saja lu," tukas Gio.


"Iya, Bang. Asal aku nggak bilang dia di mana, kan, aman. Makanya cuma aku yang tau, bahkan ibu juga nggak tau."


"Wuih, canggih juga lu. Yah, semoga tempat persembunyian Maya benar-benar aman, Wan."


Ridwan tersenyum. Abimanyu hanya meliriknya sekilas, dalam benaknya ia berharap Ridwan benar-benar menyembunyikan Maya di tempat yang tepat. Karena David sangat berbahaya, target di mana pun masih dapat ia temukan.


"Ada satu tempat yang belum kita cari." Abimanyu menatap satu persatu orang di ruangan ini.


"Mana, Bi?"


"Rumah sakit jiwa Anto Yoseph dan panti asuhannya."


"Bener juga!" seru Gio dengan mata berbinar.


"Ayok kita ke sana!" tutur Gio beranjak, merapikan pakaiannya, dan bersikap sebagai pemimpin tim. Adi yang melihatnya lantas melempar Gio dengan lap yang ada di meja. "Heh! Kurang ajar! Siapa itu yang lempar!"


"Gue. Apa? berani lu?"


"Ah, lagi males berantem gue." Ia pergi begitu saja keluar cafe. Suara tembakan terdengar di luar. Gio yang sudah ada di luar lantas kembali masuk ke dalam. "Damn! serangan!"


"Hah! itu suara tembakan beneran?" tanya Ridwan.


"Gi! Elu punya senjata nggak di cafe?"


"Oh, tenang." Gio yang bersembunyi di bawah pintu, lantas jongkok dan berjalan ke dalam. "Heh. Tahan pintunya. Tutupi jendelanya."

__ADS_1


"Pakai apa, kuyak!"


"Yaelah, gue lagi yang harus mencet tombol? Itu di samping kasir. Lu pikir tombol merah buat apa?"


"Memangnya buat apa?" tanya Ridwan.


"Pencet dulu, bocah. Nanti juga lu tau!" desak Gio yang kini masuk ke kamar mandi. Abimanyu mengikutinya. Ridwan berusaha mendekat ke meja kasir. Adi, sembunyi dan kini mengikuti jejak Gio dan Abimanyu. Sementara Rizal dan Nabila mengeluarkan senjata milik mereka sendiri. Jangan lupa, kalau mereka polisi.


Ridwan menekan tombol merak yang dimaksud Gio. Otomatis jendela menutup, berganti lapisan baja yang kini ditembaki beruntun oleh orang-orang di luar sana. Nabila dan Rizal ikut menembak keluar sampai akhirnya jendela tertutup sempurna.


"Astaga! Siapa mereka?!" tanya Ridwan ketakutan.


"Kau itu masih nggak tau, kalau teman kerjamu musuh?" Pertanyaan yang dilontarkan Rizal itu terkesan menyindir. Ridwan tak menjawab, hanya netranya yang liar menatap jendela. Suara tembakan masih terdengar di luar. Tapi mereka tidak bisa masuk ke dalam.


Gio membuka lantai di kamar mandi. Ada sebuah kotak panjang yang ia taruh di bawah lantai cafe. "Sejak kapan paman menyimpan itu semua di sini?" tanya Abimanyu menyelidik.


"Sejak kamu menyuruh paman meninggalkan semua pekerjaan itu. Mana mungkin paman jual ini semua. Kamu nggak tau susah dapatin senjata ilegal ini. Mahal juga," bela Gio lalu mengeluarkan semua senapan itu.


"Gila lu, Gi. Ginian lu simpen di sini?" tanya Adi.


"Terus gue simpen di mana? Di rumah? Itu bocah tar ngomel mulu," tunjuk Gio dengan dagunya ke Abimanyu yang masih berdiri mematung menatapnya terus.


"Astaga. Banyak bener senjatanya?!" pekik Nabila.


"Pilih deh, satu satu," suruh Gio yang telah mengambil sebuah senjata kesukaannya. AS50. Salah satu senapan jarak jauh yang cukup berbahaya, karena mampu mengenai sasaran berjarak 1.500 meter. Adi segera mengambil AK-47 yang sangat efektif menurutnya. Karena mampu digunakan di pertempuran jarak jauh maupun dekat. Walau Rizal sudah memiliki senjata ia tetap mengambil senapan M4 Carbine. Untuk berjaga-jaga. Masing-masing setidaknya membawa 2 senjata api. Abimanyu menyematkan pistol semi otomatis Glock di pinggangnya, sekaligus meraih HK416.


"Ngomong-ngomong sejak kapan cafe kita ada pelindung tadi?" Abimanyu melirik Gio, karena yakin Gio adalah pelaku pembuatnya.


"Tunggu, rompi anti peluru kita punya, kan, Gi?" tanya Adi.


"Ada. Di ruangan bos," liriknya pada Abimanyu yang memang bos dari cafe ini.


'Apa?!"


"Bos macam apa yang nggak tau apa-apa di dalam cafenya," sindir Nabila yang menyusul Gio ke ruangan yang dimaksud.


"Jangan-jangan kalau Gio menyimpan narkoba di sini, lu nggak tau, ya, Bi?" tanya Rizal meledek.


"Sial!"


"Ah, rompi nya kurang. Jadi nggak semua orang pakai. Kalau begitu kalian berdua saja yang nggak pakai," tunjuk Gio ke Abi dan Adi.


"Eh, jangan, biar Bang Abi pakai rompi punyaku," kata Ridwan menimpali.


"Kagak usah. Kalau dia ketembak, aman. Kalau elu yang ketembak, modar!" Gio menyerahkan ke Ridwan.


Kini semua orang sudah memakai rompi anti peluru untuk perlindungan. Kecuali Abimanyu dan Gio tentunya. Mereka bagai tentara yang ada di tengah negara konflik. Bersiap berperang, Hidup dan mati.


"Terus rencana kita bagaimana?"


"Kita bagi 2 kelompok, satu kelompok ke atas, kelompok kedua di bawah."

__ADS_1


"Hah? Atas bawah mana?" tanya Adi yang tidak mengerti maksud Gio, sama seperti yang lain. Cafe ini tidak memiliki lantai atas dan juga lantai bawah.


"Hadeh, dongo semua." Gio mendekat ke sebuah langit-langit di atas meja kebanggan Abi. Ia menarik sebuah besi yang berbentuk setengah lingkaran, otomatis ada tangga kayu yang menjuntai ke bawah.


"Jadi besi itu untuk membuka pintu ini?" tunjuk Abi pada pegangan besi yang masih Gio pegang.


"Kau pikir untuk apa anak muda?? Hanya untuk hiasan semata?" Abi naik ke atas, diikuti Rizal dan Nabila. "Kalian tembak dari atas. mereka nggak akan bisa liat kalian."


Kini Gio melepas besi yang ia genggam, otomatis hal ini membuat tangga kayu itu menutup. Gio membuka karpet di bawah kakinya, besi yang sama juga ada di sana. Gio lantas menarik besi itu dan jalan ke bawah sudah terbuka. "Kita di sini!" Semua sudah bersiap di tempat masing-masing. Posisi mereka yang tidak diketahui oleh musuh, membuat kemenangan seolah ada dipihak mereka. Tembakan beruntun terus terdengar dari dua belah pihak. Keduanya sama-sama ingin menang dan menaklukkan musuh satu persatu. Sampai ada sebuah rudal yang ditembakan oleh musuh.


"In coming!" jerit Gio saat melihat sebuah rudal mini meluncur ke arah mereka. Ia menarik Adi dan Ridwan bersembunyi ke sebuah lubang di depan mereka. Sementara Abimanyu di atas, segera melompat melewati jendela di atas. Cafe meledak. Abi, Rizal dan Nabila terpental keluar. Dan jatuh di tanah. Mereka batuk batuk dan mengerang kesakitan. Cafe luluh lantah. hancur dan rata menjadi abu. Abimanyu mencemaskan keadaan kedua pamannya dan Ridwan. Saat ia hendak mencari keberadaan mereka bertiga, Nabila menarik Abi agar tetap bersembunyi. Mereka masuk ke dalam semak-semak. Tembakan demi tembakan kembali berusaha mengenai mereka. Akhirnya mereka juga berusaha menyerang. Tembakan Abi, selalu tepat sasaran. IA belajar menembak sejak kecil. Burung adalah salah satu sasaran Abimanyu dulu. Burung yang memakan padi di sawah keluarganya akan habis di tembak Abi. Karena ia penembak jitu. Nabila dan Rizal juga sama hebatnya. Hanya saja, jumlah mereka tidak sebanding dengan musuh.


"Peluru gue abis," jerit Nabila pada dua pria yang bersembunyi di balik batu sama seperti dirinya.


"Aku juga, Bil," sahut Rizal yang menatap dua pistol di dekatnya.


"Biar gue ke mobil itu, dan tembak mereka lebih dekat, terus tabrak mereka."


"Bi?! Jangan gila! Lu bisa mati!" raung Nabila.


"Lupa? apa kata paman Adi?" tanya Abimanyu penuh arti. Nabila hanya melongo tak mampu berbuat apa-apa lagi. Terlebih saat melihat Abi berlari melewati hujanan peluru dari arah lawan.


"Dia itu gila, ya?" tanya Rizal sedikit emosi melihat sikap seenaknya Abimanyu.


"Biar saja, Zal. Dia manusia yang nggak akan bisa mati."


"Apa?!"


Abimanyu mengerang saat sebuah peluru menembus perutnya. Peluru di dalam senapannya sudah habis. Ia tumbang. Hanya saja dirinya masih sadar dan hendak maju lagi ke wilayah lawan. Ia menekan perutnya, lalu berguling ke tanah. Tiap peluru kembali melewati tubuhnya, kadang menyerempet dan mengenai kulit. Begitu ia merasa lebih baik, Abi mempercepat larinya dan masuk ke dalam mobil miliknya. Kunci mobil yang selalu ia letakan di dashboar mobil membuatnya tak perlu susah payah mencari ke dalam cafe yang sudah runtuh itu. Ia menyalakan mesin mobil, sambil menunduk. Entah bagian tubuh mana darinya yang menjadi titik kelemahan Abimanyu. Bagaimana pun juga, ia manusia biasa. Takut mati, adalah kodratnya sebagai manusia. Mobil mendekat ke wilayah lawan. Ia melihat ada sekitar 10 orang yang masih berdiri memegang senjata, 8 orang lainnya sudah tergeletak, tewas. Abi melihat sebuah mobil yang berisi amunisi perbekalan musuh, ia mendekat dengan kecepatan tinggi. Sekali pun musuh terus memberondonginya dengan tembakan, ia terus maju dan menabrak mobil yang berisi banyak amunisi itu. Ledakan terjadi hanya dalam 5 ddetik setelah benturan. Suaranya cukup kencang karena daya ledaknya juga besar.


Abimanyu berhasil keluar mobil sebelum mobil itu menabrak. Ia berguling ke tanah, kepalanya merasakan denyut yang cukup hebat. telinganya berdenging. Ia merasakan darah mengalir dari kepalanya. Rizal dan Nabila kini terlihat di hadapannya. Semua gerakan dua orang itu melambat, bagai slow motion di film yang pernah Abi tonton. Dari tempatnya berbaring, ia melihat Nabila berteriak pada Rizal, Rizal menanggapi dengan urat leher yang menyembul juga. Sambil menarik Abimanyu menjauh, sepasang kekasih ini terlihat adu mulut yang tidak dapat Abi dengar. netranya mulai memburam. Hingga perlahan menutup sempurna. Satu kata yang Abi dengar terlontar dari mulut Nabila. Gadis itu berteriak memanggil namanya. Dan pada akhirnya semua menjadi gelap.


Daari puing bangunan, seseorang keluar dari sana. Gio terlihat berantakan dengan debu dari ujung rambut sampai kakinya. Ia batuk sambil menepuk kepala, baju dan celananya. Di belakangnya ada Ridwan yang berdiri sempoyongan dan berusa mencari pegangan. Kemudian Adi yang mengibas ibaskan tangan kanannya ke depan, menghalau debu yang masih tebal di sekitar mereka.


"Loh, kenapa dia?" jerit Gio yang melihat Abimanyu tengah di bopong Rizal dan masuk ke dalam mobil. "Kena bom," sahut Rizal yang terlihat kerepotan menaikkan tubuh Abi ke mobil.


'Eh mau dibawa ke mana?" tanya Adi, menahan Rizal.


"Rumah sakit lah, ke mana lagi?!" sahut Rizal kesal.


"Nggak perlu. Sudah geletakin saja di tanah,' suruh Adi menunjuk tanah lapang dekat mobil.


'Hah?! Gila, ya? Kalau terlambat dia bakal mati!" Rizal yang masih cemas tak sependapat dengan perkataan Adi tadi.


'Kagak. Percaya deh sama gue. Dia nggak bakal mati walau kena bom sekalipun." Adi masih berusaha santai, lalu menarik tubuh Abi agar kembali keluar dari mobil. "Justru kalau lu bawa naik mobil gini ke rumah sakit, dia bakal mati di jalan," tambah Adi.


Rizal bingung, ia menatap Nabila yang hanya ditanggapi kedua bahu yang dinaikan ke atas. Melihat Rizla masih ragu, Gio akhirnya menarik Rizal agar menjauh dari mobil, kemudian tubuh Abi ia bawa keluar. Dia seret Abimanyu begitu saja. Dan meletakkan nya di tanah. "Balik kagak, Di?" tanya Gio pada Adi yang sedang duduk di dekatnya dengan nafas yang hampir habis.


"Iya, balik dong. Elu saja, capek gue," timpal Adi. Gio mendesis, dengan bibir yang mengerucut, ia tetap menuruti perintah Adi barusan.


Tubuh Abimanyu dibiarkan begitu saja di tanah. Semua orang diam dan terus memperhatikan Abimanyu yang masih tak sadarkan diri. Namun pada menit ke 8, pemuda itu batuk-batuk dan membuat semua orang tercengang, kecuali Gio dan Adi yang tau latar semua belakang Abimanyu Maheswara.

__ADS_1


__ADS_2